PESONA SI GADIS DESA

PESONA SI GADIS DESA
(FELUR) ~ Memutuskan Untuk Menikah


__ADS_3

"Cepat minta maaf pada keluarga Fedo!" teriak Dominic sambil mendorong tubuh Kanita ke arah depan.


Sadar kalau keselamatan calon penerusnya terancam, Andero dengan sigap menangkap tubuh Kanita yang hampir saja tersungkur di dekat kaki meja. Dia lalu melayangkan tatapan tak suka pada ayah Kanita yang sudah berlaku kasar pada calon anak dan juga calon istrinya.


"Tuan Dominic, Kanita memang melakukan kesalahan. Tapi bukan berarti kau bisa bersikap semena-mena padanya. Dia calon istriku, dan sedang hamil anakku!" tegur Andero dengan dinginnya.


Jijik mendengar Ando yang menyebutnya sebagai calon istri, dengan marah Kanita menampar wajahnya. Gara-gara pria ini dia harus menanggung rasa malu yang begitu besar. Sungguh, Kanita sangat amat membencinya, dia muak melihat wajah bajingan ini.


"Puas kau sekarang, hah? Puas kau setelah menghancurkan hidupku?" tanya Kanita berteriak tepat di depan wajah Ando. "Kau bajingan, Ando. Kau adalah laki-laki terbrengsek yang pernah aku temui di dunia ini. Kau bajingan!"


"Aku bajingan?"


Andero terkekeh. Dia lalu mengusap pelan pipinya yang baru saja ditampar oleh Kanita. Tanpa merasa tersinggung sedikitpun Andero dengan sepenuh hati menyentuh perut Kanita kemudian mengelusnya pelan.


"Hai, Nak. Nama Ayahmu bukan Ando, tapi Andero. Sengaja Ayah memperkenalkan diri seperti itu agar tidak mudah di kenali oleh orang lain. Ayah sangat keren bukan?" ucap Andero tanpa mempedulikan raut wajah Kanita yang merah padam karena menahan malu dan juga kesal.


"Jaga mulutmu baik-baik, sialan. Bayi ini bukan anakmu. Dia anaknya Fedo!" teriak Kanita frustasi.


"Oh ya?" ledek Andero seraya menatap lekat wajah Kanita. Dia suka melihat ketidak-berdayaan di diri wanita ini. "Kalau begitu bagaimana kalau kita melakukan tes DNA saja untuk membuktikan siapa ayah dari bayi ini. Apa kau setuju?"


Awalnya Mili sedikit takjub saat melihat pria bernama Andero ini. Akan tetapi setelah dia menyadari kalau Andero sepertinya mempunyai niat jahat pada Kanita, Mili merubah keinginannya yang berniat menyerahkan Kanita pada pria ini. Sebagai seorang ibu, semarah apapun Mili sekarang Kanita tetaplah anaknya. Jadi Mili tidak mungkin membiarkan anak semata wayangnya jatuh untuk yang kedua kalinya. Firasatnya mengatakan kalau Andero bukanlah suami yang baik untuk anak dan juga calon cucunya.


"Wow wow wow ... drama ini sungguh sangat menarik, Kanita. Aku akui nyalimu cukup besar dengan mengatakan kalau bayi yang sedang kau kandung adalah anak kakakku. Hmmm, tidak kusangka ternyata kau adalah seorang pemanipulasi yang sangat handal. Aku salut padamu!" ucap Kayo seraya tersenyum tipis menyaksikan drama yang sedang berlangsung di hadapannya.


"Diam kau. Jangan ikut campur!" teriak Kanita penuh emosi.


"Bagaimana bisa kau memintaku untuk jangan ikut campur di saat kau sendiri mencari gara-gara dengan kakakku? Kau lupa ya kalau aku dan kakakku menyandang gelar yang sama sebagai keluarga Eiji? Ayolah, Kanita. Kau jangan bercanda!" sahut Kayo santai.

__ADS_1


Kanita keki. Tepat di sampingnya ada Andero, si pria bajingan yang telah menghancurkan hidupnya. Sedang di hadapannya ada keluarga Fedo yang memegang kartu as akan kebohongan yang telah dia lakukan. Belum lagi dengan kedua orangtuanya, membuat Kanita merasa di kepung dari semua sisi. Dia terjepit.


"Dominic, jujur aku sangat kecewa akan tindakanmu yang langsung menggelar konferensi pers tanpa bertanya dulu padaku. Kalau saja kau sedikit memandang pertemanan kita, harusnya kau tidak bersikap gegabah. Dan lihat sekarang, semuanya hancur karena kebodohanmu sendiri. Aku turut prihatin," ucap Mattheo antara menegur dan juga menyindir kecerobohan sahabatnya. Dia bicara masih dengan posisi memeluk Abigail, istrinya yang selalu tampil memukau dengan ide-ide briliannya. Hehe.


"Matt, aku akui aku telah melakukan kesalahan yang sangat besar dengan meragukan kedekatan kita selama ini. Aku minta maaf, aku salah!" sahut Dominic dengan tatapan penuh sesal. "Terlepas dari semua itu aku hanyalah seorang Ayah yang merasa sakit hati menyaksikan masa depan anaknya hancur tepat di depan mata. Semua ini tidak mudah untuk kulewati, Matt. Sangat sulit, hingga membuatku seperti tidak bisa bernafas. Tapi kembali lagi kalau aku hanyalah seorang manusia biasa. Seorang Ayah yang ingin menuntut keadilan atas hidup putrinya. Kau bisa paham itu 'kan?"


"Kami sangat memahami seperti apa perasaanmu sekarang, Tuan Dominic. Karena jika kami tidak memahamimu, kami tidak akan mungkin membuat Andero datang ke negara ini. Namun aku harap kau dan keluargamu tidak lupa kalau tindakan kalian tadi pagi telah mencoreng nama besar keluarga kami. Maka dari itu kalianlah yang harusnya memahami keputusan kami, bukan malah kami yang kau minta untuk mengerti!" timpal Abigail ikut berkomentar. "Kanita menuduh Fedo yang telah menghamilinya. Namun tuduhan tersebut tidak terbukti karena ayah biologis dari bayi itu ada di sini. Jadi Tuan Dominic dan Nyonya Mili, kami minta kalian segera menikahkan Andero dengan Kanita. Dengan begitu kami dan Andero bisa bekerja sama membereskan kekacauan yang di buat olehmu dan juga Kanita. Bagaimana? Apa kalian setuju?"


Wajah Kanita langsung pucat pasi saat Bibi Abigail meminta pada kedua orangtuanya agar dia dinikahkan dengan Andero. Segera Kanita mendorong Andero menjauh kemudian memeluk erat kaki ayah dan ibunya. Dia ketakutan.


"Ayah, Ibu. Aku tidak mau menikah dengan bajingan itu, aku tidak mau. Tolong jangan lakukan ini padaku Ayah, Ibu. Aku mohon!"


"Jangan membuat kegaduhan, Kanita. Toh tidak ada yang salah kalau kau menikah dengan Andero, dia itu kan ayah dari bayi yang sedang kau kandung. Harusnya kau itu merasa beruntung karena Andero masih bersedia untuk bertanggung jawab padamu. Jadi kau jangan malah merengek seperti ini!" sahut Dominic benar-benar mati rasa meskipun Kanita memohon sambil menangis di bawah kakinya.


"Tapi Ayah, aku tidak mencintainya. Aku mencintai Fedo, hanya dia yang aku mau!" ucap Kanita masih berusaha membujuk sang ayah.


Mili yang tak tega melihat Kanita seperti itu pun segera membantunya berdiri. Dia lalu memeluknya, tidak mengerti mengapa nasib anak kesayangannya bisa berakhir seperti ini.


"Ini bukan tentang orang asing ataupun kalian yang tidak saling mengenal dengan Andero. Akan tetapi ini lebih ke masa depan calon cucumu, Nyonya Mili!" jawab Abigail. Dia kemudian berjalan mendekat ke arah anak dan istrinya Tuan Dominic, setelah itu Abigail melirik Andero. "Aku berani jamin kalau orang asing ini akan memperlakukan Kanita dengan sangat baik. Percaya padaku!"


Kayo dan Mattheo hanya senyum-senyum saja melihat bagaimana Nyonya Eiji memberikan tekanan yang cukup besar pada Andero. Mereka rasa itu cukup sepadan dengan keserakahan yang Andero inginkan dari keluarganya Kanita.


"Bibi Abigail, aku mencintai Fedo. Aku tidak mau menikah dengan pria selain dia. Tolong aku, Bibi. Aku mohon?" ucap Kanita menghiba.


"Kanita, Bibi bisa saja menikahkanmu dengan Fedo. Akan tetapi apa kau siap menjadi istri yang tak akan pernah di anggap keberadaannya? Kau juga tidak akan bisa memiliki hakmu sebagai Nyonya Eiji karena Andero telah mengumumkan kalau bayi yang kau kandung adalah anaknya. Percaya pada Bibi, para tetua keluarga kami pasti akan sangat menentang kehadiranmu di rumah ini. Lagipula Fedo sudah menandai Luri sebagai calon istrinya, jadi mustahil untukmu bisa menjadi bagian dari keluarga kami. Apa kau mengerti?"


"Tapi Bi, aku ....

__ADS_1


"Berhenti merengek pada Nyonya Abigail, Kanita. Membuat malu saja!" sentak Dominic tak tahan. Dia lalu melihat ke arah Andero, pria asing yang akan segera menjadi menantunya.


"Apa ada sesuatu yang ingin Paman bicarakan denganku?" tanya Andero santai. Dia sedikit bosan melihat drama mengharu-biru yang sedang terjadi di hadapannya.


"Benar kau akan bertanggung jawab pada putriku?" sahut Dominic balik bertanya.


"Seharusnya tidak ada penolakan dari Kanita. Karena kedatanganku kemari memang untuk menjemput dan membawanya pulang ke keluargaku," jawab Andero.


"Lalu berita yang muncul hari ini ... apa kau bisa menjamin kalau keluargamu tidak akan memperlakukan Kanita secara tidak layak?"


"Dia istriku, juga sedang mengandung calon penerus keluarga kami. Jadi tidak ada alasan untuk keluargaku menyakiti Kanita. Jika pun ada, mereka akan berhadapan denganku. Benar begitu, Nyonya Abigail?" ucap Andero penuh maksud ketika menyebut nama sang nyonya rumah.


"Tentu saja," sahut Abigail dingin.


Dominic menghela nafas. Mungkin begini lebih baik daripada dia harus melihat Kanita yang tidak berhenti mengejar-ngejar Fedo. Setelah memantapkan hati, Dominic akhirnya meminta agar Andero segera mempersiapkan acara pernikahannya dengan Kanita.


"Kau uruslah apa saja yang perlu di urus. Semakin cepat itu akan semakin baik!"


"Baiklah, Ayah mertua," sahut Andero sambil tersenyum penuh kemenangan. Dia lalu meminta anak buahnya untuk mempersiapkan pernikahannya, juga mengabari keluarganya kalau dia akan segera melepas masa lajang bersama dengan wanita yang kini tengah mengandung calon penerusnya.


Kanita hanya bisa menangis tersedu-sedu di pelukan sang ibu. Rasanya dia ingin mati saja menyadari kalau sebentar lagi dia akan segera menikah dengan pria yang tidak pernah dia cintai.


"Maafkan Ibu, Kanita. Kali ini Ibu benar-benar tidak bisa menolongmu. Ibu hanya bisa mendoakan semoga kau hidup bahagia bersama dengan Andero," bisik Mili yang juga ikut menangis setelah mendengar keputusan suaminya.


Iba, itu yang Abigail rasakan melihat ibu dan anak ini menangis sambil berpelukan. Setelah itu Abigail memutuskan untuk memberitahu Nyonya Mili kalau dia sendiri yang akan menjamin kebahagiaan Kanita saat dia tidak sengaja melihat gurat keraguan di mata Nyonya Mili. Abigail tahu ibunya Kanita tidak mempercayai calon menantunya sendiri.


"Nyonya Mili, aku tahu apa yang sedang kau pikirkan tentang Andero. Itu benar, dia memang bukan pria baik-baik. Akan tetapi kau tenang saja. Dia tidak akan pernah bisa menyakiti Kanita karena jika hal itu sampai terjadi, aku sendiri yang akan menghabisinya. Jadi kau tenanglah, semua aman di bawah kendaliku!" bisik Abigail sesaat sebelum kembali duduk di samping Mattheo.

__ADS_1


Apa? Ini ... ini aku tidak salah dengarkan? Nyonya Abigail berjanji akan melindungi Kanita dari kekejaman Andero? Ini aku tidak sedang bermimpi bukan? kaget Mili dalam hati. Dia seakan tak percaya pada kenyataan di mana wanita yang selalu dia musuhi sekarang malah melindungi putrinya. Luar biasa, kejadian ini benar-benar sangat langka.


****


__ADS_2