
Gleen hampir jatuh terjerangkang ke belakang saat pintu kamar adik iparnya terbuka. Dia seperti tidak bisa bernafas ketika melihat sesosok makhluk berwajah hitam muncul dari dalam kamar tersebut.
"Kak Gleen, kau kenapa?" tanya Luri bingung melihat kakak iparnya terlihat seperti orang yang sedang ketakutan.
"Luri? Apa itu kau?"
Luri langsung menganggukkan kepala. Kebingungannya semakin bertambah ketika menyaksikan sang kakak ipar yang terus mengusap dada. Sedetik kemudian barulah Luri tersadar kalau kakak iparnya kaget melihatnya yang muncul dengan memakai masker wajah berwarna hitam. Sebenarnya saat di dalam kamar itu dia dan Nania tengah sibuk merawat diri mengikuti arahan suster yang merawat orangtua mereka. Dan tadi dia lupa membersihkan wajahnya dulu sebelum membuka pintu kamar. Jadi wajar saja kalau kakak iparnya begitu kaget melihat penampilannya.
"Apa yang sedang kau lakukan di dalam kamar? Kenapa kau mengecat wajahmu seperti itu? Membuat kaget saja," tanya Gleen setelah merasa tenang.
"Maaf, Kak. Aku tidak tahu kalau Kakak akan datang kemari. Kebetulan aku dan Nania sedang belajar merawat wajah dari suster. Dan ini bukan cat, Kak. Tapi masker wajah," jawab Luri menjelaskan.
Gleen ber-oh ria. Dia kemudian segera menjelaskan maksud kedatangannya ke kamar tersebut.
"Begini Luri, aku ingin mengajakmu pergi keluar sebentar. Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu. Penting katanya."
"Siapa Kak?" tanya Luri sambil mengernyitkan kening.
"Sudah ikut saja. Nanti kau akan tahu sendiri setelah melihatnya," jawab Gleen sambil menarik tangan sang adik ipar untuk mengikuti langkahnya.
"Tapi nanti kalau Kak Lusi mencari Kakak bagaimana? Nanti aku juga bisa dimarahi oleh Ayah dan Ibu kalau ketahuan keluar malam-malam. Selama ini Ayah tidak pernah mengizinkan aku keluar rumah lewat dari jam delapan malam, Kak."
Gleen sama sekali tak menggubris ucapan Luri. Dia terus saja menariknya keluar tanpa mempedulikan kalau saat ini Luri hanya mengenakan daster rumahan dan juga masih memakai masker wajah.
Setelah Gleen dan Lusi selesai melakukan percintaan panas, tiba-tiba saja ada nomor asing yang menelpon. Khawatir kalau itu adalah telpon penting, Gleen pun segera mengangkatnya. Dia begitu kaget saat di beritahu kalau saat ini Fedo sedang sekarat dan ingin bertemu dengan Luri. Sudah pasti hal ini langsung membuat Gleen dan Lusi panik. Lusi kemudian meminta Gleen agar segera membawa adik mereka ke lokasi dimana Fedo berada. Dan seperti inilah sekarang. Gleen dengan sangat tergesa-gesa meminta Luri agar segera masuk ke dalam mobil.
"Kita mau kemana, Kak?" tanya Luri saat mobil mulai bergerak meninggalkan pekarangan rumah.
"Fedo sedang sekarat. Dan saat ini dia sedang menunggumu kedatanganmu," jawab Gleen sambil terus fokus mengemudi.
Mata Luri membulat lebar begitu di beritahu kalau pria yang selalu gencar mendekatinya tengah sekarat. Luri khawatir, itu sudah pasti. Selain karena dia yang menyimpan rasa, Fedo juga begitu baik pada orangtuanya. Tidak bisa terbayangkan akan seperti apa sedihnya hati ayah dan ibunya nanti jika mereka sampai tahu kalau Fedo sedang sekarat.
__ADS_1
Saat hampir sampai di lokasi yang di tujukan, Gleen mendapat satu pesan dari nomor orang yang tadi menelpon. Ingin rasanya dia menenggelamkan Fedo ke dalam tumpukan kotoran kerbau begitu di beritahu kalau dia bukan sedang sekarat karena terluka. Melainkan sekarat karena akan berpisah dengan Luri. Sungguh, pria itu benar-benar menguji emosinya malam-malam begini.
"Awas saja kau, Fed. Lihat bagaimana nanti aku akan membalasmu!" geram Gleen dongkol.
Tak berselang lama, mobil yang di naiki Gleen dan Luri akhirnya sampai di depan sebuah taman dimana taman yang di penuhi lampu berwarna warni. Luri yang melihat hal itupun merasa heran. Bukankah seharusnya orang yang sedang sekarat itu berada di rumah sakit ya? Tapi kenapa dia malah di bawa ke sebuah taman? Ini sama sekali tidak mencerminkan keadaan yang gawat, melainkan suasana yang romantis layaknya orang yang sedang memadu kasih.
"Kak Gleen, apa kita tidak salah tempat?" tanya Luri memastikan.
"Tidak, bajingan itu memang ada di sini," jawab Gleen sembari melepas seatbelt. "Astaga Luri, kenapa wajahmu masih hitam. Kau tidak mencuci wajah dulu tadi?"
Sambil melepas seatbelt di tubuhnya, Luri menjelaskan kenapa dia bisa datang dengan kondisi wajah seperti ini.
"Bagaimana mungkin aku sempat mencuci wajah kalau tanganku saja sudah langsung di seret keluar oleh Kakak begitu pintu kamar terbuka. Aku bahkan tidak sempat untuk mengganti baju. Lihat Kak, dasterku sudah sangat jelek. Apa Kakak tidak malu mengajakku bertemu Kak Fedo dengan penampilan seperti ini?"
Gleen langsung menelan ludah begitu mendengar ucapan Luri. Namun sedetik kemudian dia menyeringai. Bagus kali kalau Luri berpenampilan mengerikan seperti ini. Anggap saja kalau hal ini adalah karma nyata untuk Fedo karena sudah berani mengerjainya.
"Sudahlah tidak apa-apa. Ayo kita keluar," ajak Gleen sambil menahan tawa.
"Benar tidak apa-apa aku hanya memakai pakaian seperti ini Kak? Kalau nanti orang-orang pingsan melihat wajahku bagaimana?" tanya Luri.
Tak jauh dari mobilnya Gleen, terlihat Fedo yang sedang menunggu dengan tidak sabar. Di tangannya ada sebuah paperbag kecil yang berisi hadiah untuk gadis pujaan hatinya.
Jangan harap kau bisa tenang setelah membuatku panik setengah mati, Fed. Tunggu saja, aku akan langsung membalas perbuatanmu saat ini juga.
Saat Luri hendak keluar dari dalam mobil, dengan cepat Gleen menutupi kepalanya menggunakan jaket. Dia ingin Fedo benar-benar sekarat saat melihat wajah adik iparnya menghitam karena masker yang belum di bersihkan.
"Kenapa di tutup Kak?"
"Tidak apa-apa, nanti aku baru akan membukanya setelah kita sampai di dekat Fedo. Oke?"
Dalam kebingungannya Luri hanya bisa mengangguk. Jantungnya berdebar-debar membayangkan bagaimana keadaan Fedo saat ini. Mungkinkah Fedo sekarat karena menjadi korban kejahatan perampok? Atau dia sekarat karena di gigit ular berbisa? Entahlah, yang jelas Luri sangat khawatir sekarang. Dia takut kalau Fedo sampai kenapa-napa.
__ADS_1
"Sekarang aku akan meninggalkanmu di sini bersama Fedo. Tapi jangan buka dulu jaketnya ya?" ucap Gleen sembari menatap jengkel ke arah Fedo yang kini sudah berdiri di hadapannya.
Luri mengangguk. Tanpa ada yang tahu, sekarang telapak tangannya sudah di penuhi keringat dingin. Pikirannya sibuk membayangkan seperti apa parahnya keadaan Fedo saat ini. Mungkinkah sedang terkapar bersimbah darah atau malah babak belur karena di hajar seseorang.
"Urusan kita belum selesai, Fed. Beraninya kau membohongiku!" bisik Gleen kemudian mengacungkan jari tengah ke wajah Fedo sebelum akhirnya pergi menuju mobil.
Fedo acuh-acuh saja menanggapi ancaman Gleen. Dia tadi juga sangat kaget saat Kayo memberitahu penyebab Gleen bisa datang membawa Luri ke taman ini. Bayangkan, adiknya yang laknat itu dengan tega menyebut kalau Fedo tengah sekarat dan sangat ingin bertemu dengan Luri. Jikapun ini bukan terjadi pada Gleen, Fedo yakin sekali kalau orang tersebut pasti akan sangat marah begitu tahu kalau ternyata Fedo baik-baik saja.
"Kak Fedo, apa kau baik-baik saja?"
Luri yang merasa sangat penasaran memutuskan untuk bertanya sembari membuka jaket. Dia khawatir kalau-kalau Fedo sudah mati di tempat.
"Aku baik-baik sa....
Ucapan Fedo terhenti begitu Luri membuka jaket yang menutupi wajahnya. Dia diam mematung ketika melihat kemunculan sosok berwajah hitam yang kini tengah berdiri di hadapannya.
"Lho, Kak Fedo tidak jadi sekarat?" tanya Luri kaget melihat pria tersebut baik-baik saja.
"Jadi kok," jawab Fedo setelah tersadar dari kekagetannya. "Aku sekarat setelah melihat penampilanmu, Luri. Kau... membuat jantungku berhenti memompa darah."
Mata Fedo kemudian menelisik penampilan gadis desanya yang datang dengan hanya mengenakan daster rumahan. Meski begitu, penampilan sederhana Luri sama sekali tidak mengurangi kadar kecantikannya. Yang ada Fedo malah semakin kagum karena Luri tidak malu untuk keluar dengan tampilan seperti ini.
Gleen... jadi ini arti dari ancamanmu tadi? Kau tunggu saja Gleen, aku pasti akan membalasmu lagi. Tapi sebelumnya terima kasih karena sudah membawa gadis desaku kemari, batin Fedo senang.
💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜
✅ Hai gengss, kisah PESONA SI GADIS DESA versi lengkapnya ada di yutup emak ya. Nama chanelnya @Mak Rifani, dan part 36 baru saja up. Jangan lupa mampir dan tinggalkan jejak ya
...💜 Jangan lupa vote, like, dan comment keuwuan mereka ya gengss...
__ADS_1
...💜 Ig: rifani_nini...
...💜 Fb: Rifani...