PESONA SI GADIS DESA

PESONA SI GADIS DESA
(FELUR) ~ Teman Bicara


__ADS_3

Setelah acara makan malam selesai, Luri tak segan membantu para pelayan membereskan meja. Dia juga memaksa para pelayan untuk makan malam terlebih dahulu sebelum menyelesaikan sisa pekerjaan yang ada.


"Sudah, kalian makan dulu saja. Piring dan gelas kotor ini biar aku yang mencucinya," ucap Luri sambil mendorong pelan punggung salah satu pelayan yang terlihat sungkan padanya.


"Tapi Non, kami ....


"Sudah tidak apa-apa, Bi. Kalian makanlah dengan tenang, jangan memikirkan pekerjaan terus."


Dengan berat hati, para pelayan itu akhirnya menuruti perintah Luri. Sebenarnya ini bukan pertama kalinya si pemilik rumah ikut membantu meringankan pekerjaan mereka. Akan tetapi malam ini mereka sedikit sungkan karena orang yang mempekerjakan mereka ada di rumah ini. Ya, orang itu adalah Tuan Gleen, menantu dari si tuan rumah, Tuan Luyan.


"Hmmm, adikku baik sekali!" puji Lusi yang sejak tadi memperhatikan adiknya dari jauh. Dia kemudian berjalan menghampiri untuk ikut membantunya mencuci piring.


"Tidak usah, Kak. Biar aku saja," cegah Luri.


"Satu pekerjaan jika dilakukan bersama-sama pasti akan jauh lebih ringan, bukan?"


Luri tersenyum. Seperti biasa, kebaikan hati kakaknya ini akan selalu mendatangkan aura positif di sekeliling orang-orang. Luri benar-benar merasa sangat beruntung karena memiliki saudara yang memiliki hati sebaik malaikat.


"Em Luri, apa Kakak boleh bertanya sesuatu padamu?" tanya Lusi sembari menyiram busa sabun yang ada di gelas.


Sebenarnya tujuan Lusi mendatangi sang adik adalah ingin membicarakan tentang hubungannya dengan Fedo. Jujur saja, setelah mendengar pemikiran orangtuanya, Lusi merasa sedikit tidak tenang. Dia khawatir kalau adiknya ini diam-diam merasa tertekan. Luri adalah anak yang paling tidak bisa melawan keinginan orangtua mereka, dia lebih memilih untuk menahan diri daripada harus membuat perasaan orangtua mereka kecewa.


"Boleh, silahkan saja. Memangnya Kakak ingin bertanya apa padaku?" jawab Luri santai. Tanpa harus mendapat jawaban pun Luri sebenarnya sudah bisa menebak hal apa yang ingin di tanyakan oleh sang kakak. Namun dia memilih untuk menunggu karena tak ingin membuat kakaknya merasa canggung.


"Kakak minta maaf kalau nanti pertanyaan Kakak sedikit membuatmu merasa tidak nyaman karena ini menyangkut urusan pribadimu," ucap Lusi pelan. "Kakak dengar Fedo menyukaimu. Apa benar?"

__ADS_1


"Iya, Kak. Sebelum Kak Fedo kembali ke Jepang dia memang sempat mengutarakan perasaannya padaku. Dan aku juga menyukainya," jawab Luri jujur.


Terdengar helaan nafas panjang setelah Lusi mendengar jawaban Luri. Polos sekali gadis ini. Tanpa perlu di cecar dengan berbagai pertanyaan Luri malah sudah lebih dulu mengakui perasaannya. Sungguh kasihan jika ayah mereka sampai melarangnya untuk berhubungan dengan Fedo. Ini pasti akan sangat tidak adil bagi adiknya ini.


"Kak, Kakak jangan khawatir. Meskipun kami saling menyukai, aku sudah berkomitmen dengan diriku sendiri kalau aku tidak akan menjalin hubungan lebih dengan Kak Fedo sebelum aku memantaskan diri. Aku sadar seperti apa keluarga kita dan seperti apa keluarganya Kak Fedo. Logikaku masih sangat jernih untuk membuatku sadar kalau hubungan kami akan terhalang kasta. Jadi Kakak jangan khawatir ya?" ucap Luri sambil tersenyum tenang.


"Bagaimana mungkin Kakak tidak khawatir kalau semua ini tidak cukup adil bagimu, Luri? Kakak tahu kau sedang menahan diri demi menjaga perasaan Ayah dan Ibu. Kakak juga tahu kalau kau sebenarnya ingin sekali menerima Fedo di dalam hidupmu. Benar kan?" cecar Lusi kian merasa iba akan kepasrahan sang adik.


Sebelum menjawab, Luri mengajak sang kakak untuk menyelesaikan pekerjaan terlebih dahulu. Rasanya sedikit tidak sopan jika harus berbincang sambil bekerja. Baru setelah semua piring dan gelas selesai di bersihkan, Luri menarik tangan sang kakak untuk duduk di halaman belakang rumah.


"Kak, cinta itu tidak memandang dimana dia akan berlabuh bukan?" tanya Luri sambil memandangi langit malam. "Untuk pertama kalinya aku jatuh cinta pada seorang pria yang memiliki status tinggi. Dia tampan, kaya raya, sedikit konyol, tapi baik hati. Sebelumnya aku pernah berpikir kalau aku ini seperti pungguk yang merindukan bulan. Aku mengharapkan sesuatu yang sedikit mustahil untuk bisa kumiliki. Akan tetapi perasaan ini setiap detiknya semakin bertambah besar, rasaku kalah oleh kemustahilan yang ada. Menurut Kakak perasaan seperti ini salah atau tidak? Jika salah, bagaimana cara untuk menghentikannya?"


Sadar kalau sang adik tengah membutuhkan teman bicara, Lusi memposisikan diri sebagai seorang sahabat, bukan seorang kakak. Dia dengan penuh sayang membelai rambut Luri seraya memberikan jawaban yang bisa membuatnya merasa tenang.


"Lalu apa yang harus aku lakukan, Kak? Aku tidak mau ada yang kecewa di sini. Usiaku masih muda, aku takut salah mengambil keputusan. Waktu itu Kak Fedo sempat kembali menanyakan kesediaanku untuk menjadi kekasihnya, dan aku menjawab kalau kami cukup menjadi teman yang sedikit mesra saja. Sungguh Kak, hanya jawaban seperti itu yang terlintas di dalam otakku. Aku ingin fokus sekolah untuk membahagiakan Ayah dan Ibu, tapi aku juga tidak mau kehilangan Kak Fedo. Aku egoiskah karena ingin menggenggam dua piala sekaligus?"


Selama ini mungkin Luri berhasil bersikap tenang di hadapan ayah dan ibunya ketika membahas tentang Fedo. Tapi malam ini, entah mengapa hatinya terasa begitu rapuh. Semua ini berawal dari kemenangan yang dia dapatkan. Jika minggu depan dia kembali menang, maka bisa di pastikan kalau dia akan terpisah cukup jauh dari Fedo. Luri ingin hubungan mereka di perjelas, tapi dia tidak tahu harus melakukan apa. Untunglah sang kakak datang kemari dan mengajaknya bicara, jadi dia tidak terjebak oleh perasaan bimbang seorang diri.


"Ikuti apa yang di katakan oleh hatimu, Luri. Kalau kau memang ingin menggeggam kedua piala itu, maka kau harus bersikap adil ketika memperjuangkannya. Kau mencintai Fedo, maka beri dia satu kepastian. Sedangkan untuk Ayah dan Ibu, buktikan pada mereka kalau kau mampu meraih kesuksesan meskipun dalam keadaan tengah menjalin hubungan dengan Fedo. Kakak yakin kau pasti bisa menjadi pemenangnya!" ucap Lusi dengan bijak memberikan semangat.


Malam ini langit begitu indah. Cahaya bintang nampak berkelap-kelip di atas sana yang mana membuat mata yang memandang akan terbius oleh kecantikannya. Luri, hatinya terasa sangat teduh setelah mendapat masukan dari sang kakak. Cintanya pada Fedo bukanlah sesuatu yang salah, dia hanya perlu sedikit berjuang untuk meraihnya. Sambil menyender di bahu sang kakak, Luri kembali meluapkan isi hatinya. Dia lega karena memiliki teman bicara yang bisa memahami apa yang sedang dia rasakan.


"Kak, dulu sewaktu Kak Gleen mendekati Kakak, apakah dia pernah melakukan hal-hal yang sedikit gila?"


"Dia bukan hanya sedikit gila saja, Luri. Akan tetapi urat malunya benar-benar sudah putus. Kakak pernah dibuat sangat malu sampai Kakak menolak untuk bertemu dengannya gara-gara dia yang terus mengirim puluhan buket bunga ke rumahnya Kak Gabrielle. Tapi meskipun Kakak berusaha untuk menghindar, dia terus saja melakukan kegilaan-kegilaan lainnya. Sampai pada akhirnya perasaan Kakak luluh dan bersedia untuk menikah dengan kakak iparmu itu. Gleen, dia adalah pria paling tidak waras yang pernah Kakak kenal," jawab Lusi seraya mengulum senyum ketika membayangkan kelakuan Gleen dulu.

__ADS_1


"Apakah Kakak bahagia menjadi istrinya Kak Gleen?" tanya Luri ingin tahu. Dia sangat mengagumi kisah cinta kakaknya ini.


"Hmmm, selain menjadi anaknya Ayah dan Ibu, kakak rasa menjadi istrinya Gleen adalah hal yang paling membahagiakan di dunia ini. Karena apa? Karena wanita yang beruntung ialah wanita yang bisa menjadi dirinya sendiri di tangan pria yang tepat. Bersama Gleen Kakak tidak harus memakai topeng demi untuk menjaga nama baiknya, karena dia lebih suka Kakak yang apa adanya. Suami Kakak sangat manis bukan?"


Luri menganggukkan kepala. Dia ikut merasa lega karena sekarang sang kakak bisa merasakan kebahagiaannya sendiri setelah bertahun-tahun menjadi penopang keluarga mereka.


"Fedo adalah laki-laki yang paling tepat untukmu, Luri. Kakak yakin itu," ucap Lusi meyakinkan sang adik.


"Haruskah aku menjawab iya jika seandainya nanti Kak Fedo kembali memintaku untuk menjadi kekasihnya?" tanya Luri sedikit malu.


"Kau tahu mana yang terbaik untuk hatimu, sayang. Apapun keputusan yang kau ambil, Kakak pasti akan selalu mendukungmu."


"Terima kasih banyak, Kak. Ayah benar kalau Kakak adalah matahari yang selalu memberi sinar dari setiap masalah yang ada. Kak Gleen sangat beruntung bisa menikahi malaikat tak bersayap seperti Kakak."


Lusi terkekeh mendengar pujian adiknya. Dia kemudian kembali mengajaknya berbincang tentang kegiatan di sekolah. Tak lupa juga dia menceritakan tentang aktifitasnya di kampus bersama dengan Elea.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


...πŸ’œJangan lupa vote, like dan comment...


...ya gengss...


...πŸ’œIg: rifani_nini...


...πŸ’œFb: Rifani...

__ADS_1


__ADS_2