
Pagi ini Luri bangun jauh lebih pagi dari hari biasanya. Hal itu di karenakan kalau hari ini Fedo dan keluarga besarnya akan datang ke Shanghai. Entah kenapa Luri memiliki keinginan untuk sedikit bersiap meskipun tahu kalau Fedo dan keluarganya datang bukan untuk menemuinya.
"Wahhh, anak ayam siapa ini yang sudah bangun di pagi-pagi buta begini?" tanya Nania menyindir sang kakak dengan halus "Sebegini senangnya ya Kak menyambut kedatangan Kak Fedo?"
"Kau ini bicara apa sih, Nania. Bukankah biasanya Kakak memang bangun pagi-pagi ya? Kenapa kau heran," sahut Luri sambil tersenyum kecil. Hatinya sedang bahagia, jadi tak terlalu menggubris ejekan yang di lontarkan oleh sang adik.
"Tentu saja aku heranlah, Kak. Memang iya kalau Kakak selalu bangun pagi untuk membantu para bibi menyiapkan sarapan. Akan tetapi untuk pagi ini sikap dan kebiasaan Kakak sedikit berbeda. Kakak bangun jauh lebih pagi dari hari biasanya, dan Kakak melakukan aktivitas sambil terus tersenyum lebar. Dari sini saja aku sudah sangat yakin kalau Kakak secara tidak langsung sedang bersiap untuk bertemu dengan Kak Fedo. Iya kan?"
Setelah berkata seperti itu Nania mencolek dagu kakaknya. Walaupun dia belum terlalu mengerti tentang hubungan pacaran, tapi Nania ikut merasa senang melihat kakaknya yang terlihat begitu bahagia.
"Nania, nanti malam kau ikut pergi bersama Kakak dan Kak Lusi tidak?" tanya Luri mengalihkan pembicaraan.
"Em, bagaimana ya. Sebenarnya aku sangat ingin pergi ke pesta orang kaya, Kak. Akan tetapi aku malu. Lagipula aku juga masih kecil dan tidak mengenal dekat Nona Levita dan dokter Reinhard. Jadi sepertinya aku tidak akan pergi ke sana," jawab Nania sembari mengusap-usap dagu bawahnya.
Luri membulatkan mulutnya begitu mendengar jawaban Nania. Setelah itu dia kembali asik menyiapkan bahan-bahan sayuran yang akan dia masak untuk sarapan semua orang. Sedangkan Nania, dia juga ikut membantu sambil mencuri-curi pandang ke arah kakaknya.
Ternyata orang yang sedang jatuh cinta itu lucu juga ya. Mereka diam-diam tersenyum tanpa sebab, juga terlihat begitu bahagia saat ingin bertemu orang yang di sukainya. Apa nanti saat aku jatuh cinta aku juga akan merasakan hal yang sama seperti Kak Luri juga ya? Hehehe, ujar Nania membatin.
"Waahhhh, anak-anak Ibu rajin sekali," ucap Nita yang baru saja datang. Dia tersenyum sembari memperhatikan kedua putrinya yang tengah asik memilih sayuran.
"Ibu. Ibu sudah bangun?" tanya Luri.
__ADS_1
Nita mengangguk. Setelah itu dia berjalan menghampiri kedua putrinya kemudian ikut membantu mereka. Sambil membersihkan sayuran yang akan dimasak, Nita menanyakan pada Luri tentang beberapa hal.
"Luri, apa Fedo dan keluarganya sudah berangkat ke Shanghai?"
"Aku tidak tahu, Bu. Kak Fedo tidak memberitahuku jam berapa dia dan keluarganya akan datang kemari" jawab Luri. "Oh ya, Bu. Kak Fedo bilang nanti malam dia akan meminta izin pada Ayah dan Ibu untuk mengajakku pergi bersama ke pestanya dokter Reinhard."
"Jadi kalian akan menghadiri pesta itu bersama-sama?" tanya Nita pelan. Jantungnya tiba-tiba saja berdebar.
Paham kalau sang ibu merasa khawatir, Luri pun segera memberitahu kalau dia dan Fedo tidak akan masuk ke dalam gedung resepsi secara bersamaan. Luri tentu saja mengerti konsekuensi seperti apa yang akan dia terima jika berani muncul dengan salah satu keponakan Nyonya Besar Liona.
"Bu, aku sudah memberitahu Kak Fedo kalau akan sangat beresiko jika kami pergi bersama. Kemudian Kak Fedo memberi saran agar aku masuk bersama Kak Gleen dan Kak Lusi saja. Hanya ketika berangkat dan pulangnya aku dan Kak Fedo baru pergi berdua. Begitu."
"Bu, Ibu tenang saja. Aku jamin Kak Fedo tidak akan berani macam-macam pada Kak Luri. Dan kalau Ibu mengkhawatirkan tentang mulut orang-orang yang suka mencampuri urusan orang lain, maka itu serahkan saja padaku. Aku jamin mereka tidak akan mungkin berani menggunjingkan tentang kedekatan Kak Luri dan Kak Fedo lagi. Percaya padaku!" ucap Nania dengan begitu bersemangat.
"Astaga, Nania. Kau ini ya," sahut Nita kemudian mengusap puncak kepala putri bungsunya. Dia gemas sendiri saat mendengar perkataannya.
"Aku berkata benar, Bu. Walaupun aku dan Kak Fedo tidak akur, tapi aku tetap mendukungnya bersama Kak Luri. Karena apa?"
Nania tiba-tiba menjeda perkataannya. Setelah itu dia tersenyum aneh, yang mana membuat ibu dan kakaknya saling menautkan kening.
"Karena Kak Fedo tampan dan kaya raya. Bayangkan saja, Bu. Kak Gleen memiliki harta yang tidak akan habis dimakan tujuh turunan. Sedangkan Kak Fedo, dia adalah kerabat Nyonya Liona yang mana harta kekayaannya sangat tidak terhitung jumlahnya. Jika aku mempunyai dua kakak ipar sekaya mereka, hidupku pasti akan sangat makmur, Bu. Aku tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan lagi. Benar kan?" lanjut Nania semringah.
__ADS_1
Luri dan ibunya tertawa mendengar perkataan jujur Nania. Sungguh, entah bagaimana ceritanya Nania mempunyai pemikiran seperti itu demi agar bisa memiliki hidup yang nyaman. Ingin heran, tapi ini adalah Nania dengan segala pemikiran polosnya. Luri dan ibunya hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan gadis belia ini.
"Oh ya, Bu. Ngomong-ngomong Ibu akan pergi ke pesta itu tidak?" tanya Nania ingin tahu.
"Hmmm, keadaan Ibu sudah sakit-sakitan seperti ini, Nania. Jika Ibu nekad datang ke sana, yang ada kakak-kakakmu malah akan sibuk sendiri mengurus Ibu bukannya menikmati pesta. Tidak, Ibu memilih tetap di rumah bersamamu dan juga Ayahmu saja," jawab Nita.
"Bu, aku sama sekali tidak merasa keberatan untuk merawat Ibu kok. Mau itu di rumah, di tempat umum, atau di sebuah pesta sekalipun, bagiku kesehatan Ibu adalah yang paling penting. Jadi Ibu jangan berpikiran seperti itu lagi ya? Aku dan Kak Lusi tidak akan mungkin merasa terbebani jika memang Ibu berkeinginan untuk datang ke pestanya dokter Reinhard dan Nona Levita. Sungguh!" timpal Luri yang merasa sedih mendengar perkataan sang ibu.
Nita merasa sangat terharu mendengar betapa Luri sangat menyayanginya. Sungguh, dia sangat amat bersyukur atas kebaikan Tuhan karena telah mengirimkan putri-putri yang begitu tulus dan baik hati di dalam kehidupannya. Andai bisa meminta, ingin rasanya Nita memohon pada Tuhan agar di kehidupan keduanya nanti dia masih di izinkan untuk menjadi ibu dari Lusi, Luri, dan juga Nania. Nita tak ingin kehilangan ketiga putrinya ini. Dia tidak bisa.
"Bu, ikut pergi saja ya?" bujuk Luri.
"Iya, Bu. Jangan di tahan-tahan, nanti Ibu malah tidak tenang hidupnya. Selagi ada kesempatan, maka jangan di sia-siakan. Ayah pernah bilang padaku dan pada Kak Luri kalau kesempatan itu tidak akan datang dua kali. Jadi ya sudah sebaiknya Ibu pergi bersama Kak Lusi dan Kak Luri ke pesta itu. Sekalian cuci mata, Bu. Aku jamin di sana pasti akan ada banyak brondong kaya raya dan juga tampan. Iya kan, Kak Luri?" tanya Nania seraya tersenyum lebar. Dia semangat sekali jika sudah membicarakan pria-pria tampan yang berbau uang.
"Astaga, Nania. Kau ini sebenarnya belajar dari mana sih sampai-sampai mengenal kata brondong ber-uang. Itu tidak sopan, Nania. Ayahmu pasti akan sangat marah jika mendengar kata-kata seperti itu. Kau kan masih kecil, jadi tidak boleh mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya kau bicarakan. Tahu tidak?" tegur Nita yang lagi-lagi di buat kaget oleh perkataan putrinya.
"Maka dari itu Ibu jangan sampai memberitahu Ayah supaya aku tidak di marahi. Oke?" sahut Nania kemudian mengacungkan jari kelingking ke arah ibunya. Dia bermaksud mengajak sang ibu untuk berdamai secara baik-baik.
Melihat senyum di bibir putrinya membuat Nita tak bisa menolak ajakan damai tersebut. Setelah itu dia dan kedua putrinya sama-sama tertawa. Mungkin ini adalah definisi kebahagiaan kecil yang datang dari sebuah candaan sederhana, karena mereka tak perlu harta dan juga barang-barang mahal. Sungguh suatu kebahagiaan yang tidak semua orang bisa merasakan.
*****
__ADS_1