
Saat jam istirahat, Luri dan Galang di panggil ke ruangan kepala sekolah. Mereka yang tahu kalau hal tersebut berhubungan dengan keberangkatan mereka ke luar negeri pun segera datang dengan penuh semangat. Ya, Luri sudah tak sabar ingin segera melanjutkan kuliah di sana agar bisa secepatnya menyandang gelar dokter yang dia cita-citakan. Dengan begitu barulah Luri bisa merasa lega karena berhasil membanggakan kedua orangtuanya, juga dengan keinginannya agar bisa terlihat pantas saat menjalin hubungan dengan Fedo. Sementara Galang, dia terlihat begitu sumringah karena sudah tak sabar ingin segera menghabiskan banyak waktu berdua dengan Luri di London. Galang berpikir saat mereka berada di luar negeri nanti, dia akan mencurahkan semua waktunya untuk menarik hati gadis desa ini. Dulu saat cintanya di tolak Luri beralasan dirinya ingin fokus mengejar cita-cita. Dan kemungkinan besar setelah mereka lulus nanti ada harapan untuk Galang memiliki kesempatan tersebut. Karena itulah Galang akan kembali memulai usahanya dengan mengisi semua waktu Luri dengan banyak kenangan tentang mereka berdua.
Tok tok tok
"Selamat siang, Ibu kepala sekolah!" sapa Luri dan Galang bersamaan.
"Selamat siang. Kalian sudah datang ya?" tanya kepala sekolah. "Masuk dan duduklah di sini. Ibu sedang menerima telepon, kalian tunggu dulu ya sebentar?"
"Baiklah," sahut Galang dan Luri yang lagi-lagi kompak menjawab bersamaan.
Sambil menunggu kepala sekolah selesai bicara di telepon, Galang bertanya pada Luri tentang persiapan apa saja yang sudah dia lakukan di rumahnya.
"Luri, apa kau sudah menyiapkan barang-barang yang akan di bawa ke London?" tanya Galang.
"Sebagian sudah ada yang aku kemas, Lang. Tinggal beberapa pakaian musim dingin dan juga berkas dari sekolah saja yang belum," jawab Luri. "Kau sendiri bagaimana?"
"Sama sepertimu. Aku hanya tinggal menyiapkan berkas dari sekolah saja. Dan setelah itu beres."
Luri mengangguk paham. Sebenarnya masih ada hal lain yang belum Luri persiapkan, yaitu hatinya. Ya, Luri masih belum memberitahu Fedo tentang kepergiannya ke luar negeri. Selain karena sibuk mengurus ini dan itu, juga karena Luri yang kebingungan memikirkan cara apa yang harus dia gunakan supaya tidak melukai perasaan pria itu.
__ADS_1
"Oh ya, Luri. Ayahku bilang sebaiknya kita menyewa apartemen saja di sana. Berada di asrama terlalu rawan kasus pembully-an, Ayah dan Ibu khawatir kita berdua kenapa-napa," ucap Galang penuh maksud. "Em, kau mau tidak kalau kita menyewa apartemen di gedung yang sama? Untuk masalah biaya kau tidak perlu khawatir. Ayah mempunyai seorang teman di sana, dia yang akan mengurusnya untuk kita berdua. Kau mau tidak?"
Galang menatap lekat ke arah Luri yang tak kunjung menjawab pertanyaannya. Dia sebenarnya sangat amat berharap kalau gadis ini akan bersedia menerima tawarannya. Bukannya apa, dengan mereka tinggal di apartemen maka Galang jadi memiliki banyak kesempatan untuk menikmati waktu bersama Luri. Karena yang Galang tahu, ada batasan jam malam untuk para mahasiswa pendatang yang tinggal di asrama. Pihak kampus dan pihak asrama tak mau mengambil resiko jika sampai ada salah satu mahasiswinya yang menjadi korban kejahatan saat sedang berada di luar asrama. Dan tentu saja hal ini akan sangat merugikan Galang yang memang sangat ingin memiliki moment-moment indah bersama gadis pujaannya setelah mereka berada di sana.
"Lang, pertama aku ingin mengucapkan terima kasih atas niat baikmu. Tapi maaf, sepertinya aku lebih memilih untuk tinggal di asrama saja. Aku ini bukan berasal dari keluarga berkecukupan sepertimu, Lang. Kau sendiri tahu bukan kalau apa yang kupakai dan kumiliki sekarang adalah kepunyaan kakak iparku? Rumah dan sekolahku, semua kakak iparku yang menanggung. Jadi aku tidak mungkin kembali menambah beban dengan tidak tinggal di tempat yang sudah di siapkan oleh pihak sekolah. Ayah dan Ibuku tidak mempunyai uang sebanyak itu untuk membayar sewa apartemen, dan aku tidak mau membebani mereka lagi. Kau paham kan?" ucap Luri setelah terdiam beberapa saat.
"Iya aku paham. Tapi kalau untuk masalah uang sewa, aku yang akan membayarnya sampai kita lulus. Dan jika kau merasa sungkan, bayarlah kembali setelah kau bekerja nanti," sahut Galang risau.
"Dengan uang siapa kau akan membayar sewanya, Lang?" tanya Luri. "Kau saja masih belum lulus sekolah dan berkerja. Lalu dengan apa kau ingin menanggung biaya itu? Uang milik Ayahmu?"
Galang tergugu. Dia gelisah antara takut dan juga malu. Benar juga. Luri bukanlah jenis gadis yang menyukai kekayaan seperti para gadis lainnya. Adalah hal bodoh karena Galang mencoba membujuk dengan memakai uang milik kedua orangtuanya.
"Lang, aku tahu kau bermaksud baik. Tapi maaf, aku tidak bisa menerima kebaikanmu itu. Dari awal sebelum aku memenangkan kompetisi ini, aku sudah berniat akan mengejar cita-cita dengan usaha dan kerja kerasku sendiri. Cukup dengan kau membayar jasa seorang penjaga yang akan melindungiku di sana, tidak dengan membayarkan uang sewa apartemen untukku. Kasihan Ayah dan Ibumu jika harus menanggung beban dua kali lipat, Lang. Aku malu!" ucap Luri menegaskan bahwa dia keberatan dengan tawaran yang tadi Galang ucapkan.
Saat Galang hendak memberi penjelasan, kepala sekolah sudah lebih dulu selesai menelepon. Dengan terpaksa Galang harus menunda apa yang ingin dia katakan karena kepala sekolah mengajak mereka untuk bicara.
"Galang, Luri, apa masing-masing dari kalian sudah menyiapkan barang yang akan di bawa ke luar negeri?" tanya kepala sekolah seraya tersenyum ramah ke arah dua siswanya yang sangat membanggakan ini.
"Sudah, Bu. Kami hanya kurang berkas dari sekolah saja," jawab Galang mewakilkan bicara.
__ADS_1
"Oh. Kalau masalah itu nanti pihak sekolah yang akan mengurus. Kalian hanya perlu menjaga kesehatan tubuh dan juga menyiapkan perlengkapan yang lain sebelum berangkat ke sana," sambung kepala sekolah. "Oh ya, Luri. Di luar negeri nanti kau ingin tinggal di asrama atau di apartemen? Tuan Gleen baru saja menghubungi, beliau menanyakan tentang hal ini."
Luri kaget karena ternyata kakak iparnya yang tadi menelpon kepala sekolah. Dia sedikit bimbang saat ingin memberi jawaban. Bukannya tidak mau, Luri hanya merasa tidak enak pada kakak iparnya itu. Dia takut akan memberikan beban berlebih karena kakak iparnya tidak hanya menanggung biaya sekolahnya saja. Masih ada Nania dan juga kedua orangtuanya, belum lagi dengan kakaknya. Semua ini membuat Luri menjadi dilema.
"Luri, kepala sekolah sedang bertanya padamu," bisik Galang saat melihat Luri yang malah diam melamun.
"O-oh iya-iya," sahut Luri tergagap. "Maaf, Ibu kepala sekolah. Kalau boleh tahu kakak saya bertanya apa saja tadi?"
"Tuan Gleen hanya meminta saya untuk bertanya tentang tempat yang akan kau tinggali di sana. Sebenarnya mau di apartemen ataupun di asrama, menurut Ibu itu sama saja. Yang membedakan hanyalah kebebasan karena jika kalian tinggal di asrama, kalian tidak akan bisa seenaknya keluar masuk seperti jika kalian tinggal di apartemen. Apalagi saat malam hari. Petugas asrama sangat ketat, mereka benar-benar ingin menjaga keselamatan para siswa yang sedang menempuh studi di negara mereka. Mungkin alasan inilah yang di maksudkan oleh Tuan Gleen!"
Luri mengangguk-anggukkan kepala saat mendengar penjelasan dari kepala sekolah. Dia kemudian menoleh ke samping saat Galang menyenggol sikunya.
"Pilih apartemen saja, Luri. Selain sekolah, aku ingin kita mempunyai banyak waktu untuk menikmati suasana yang ada di sana. Bersenang-senang sambil menuntut ilmu tidak ada salahnya bukan?" ucap Galang.
"Akan aku pikirkan dulu, Lang. Kalau nanti Ayah, Ibu, kakak dan kakak iparku meminta agar aku tinggal di apartemen, maka aku akan setuju. Kita itu akan tinggal jauh dari keluarga, jadi sebisa mungkin aku tidak mau menjadi beban pikiran mereka. Kau mengerti maksud perkataanku kan, Lang?" sahut Luri seraya tersenyum kecil.
"Terlepas apapun keputusan yang kau ambil, aku akan tetap mendukungmu, Luri," ucap Galang seraya menghela nafas lega. "Semangat. Mari kita songsong bersama kebahagiaan dan keberhasilan di negara orang."
Luri dan kepala sekolah tersenyum lucu melihat bagaimana Galang menjadi begitu bersemangat. Setelah pembicaraan selesai, Luri mengajak Galang pamit ke kepala sekolah kemudian pergi menuju kantin karena perutnya sudah mulai keroncongan.
__ADS_1
*****