
..."Tidak ada satupun orang yang bisa mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan. Ada kalanya kita akan mereguk suatu canda dan kebahagiaan. Namun ada kalanya juga kita akan bertemu dengan yang namanya kesedihan."...
(Sedikit syair )
Dengan langkah santai Dominic berjalan masuk ke dalam rumahnya. Setelah pergi menjauh dari segala hal yang membuatnya merasa sangat terbebani, Dominic akhirnya memutuskan untuk kembali setelah bertemu dengan seorang bijak. Ya, tanpa di sangka-sangka dalam pelariannya Dominic bertemu dengan seseorang yang mempunyai kisah hidup jauh lebih menyedihkan ketimbang hidupnya sendiri. Dari orang bijak tersebutlah hati dan pikiran Dominic jadi terbuka dan memilih untuk kembali ke keluarganya. Dominic adalah kepala rumah tangga di rumah ini, sudah seharusnya untuk dia merangkul anak dan istrinya ketika keluarga mereka sedang tertimpa masalah, bukan malah pergi melarikan diri seperti ini. Untung saja tadi dia bertemu dengan orang yang tepat. Jika tidak, maka Dominic sangat cocok jika di sebut sebagai seorang pengecut.
"Dom, kau sudah pulang?" tanya Mili yang langsung beranjak dari duduknya. Tadi itu dia sedang melamun sendirian di ruang tamu sambil memikirkan Kanita.
Tanpa menjawab apa-apa Dominic langsung berjalan cepat menghampiri Mili kemudian memeluknya dengan erat. Dia merasa sangat sedih melihat raut lelah di wajah istrinya ini.
"Dom, kau kenapa? Kau baik-baik saja 'kan?" tanya Mili kebingungan melihat tingkah suaminya yang sedikit aneh. Meski begitu, Mili tetap membalas pelukan tersebut sambil mengelus punggung suaminya pelan.
"Mili, aku minta maaf karena sudah membiarkanmu menghadapi masalah ini sendirian. Pikiranku kacau, jadi aku memilih pergi untuk mencari ketenangan di luar rumah," ucap Dominic setelah mengurai pelukannya. Sambil membelai wajah istrinya yang terlihat lelah, Dominic menanyakan tentang keadaan Kanita. "Bagaimana keadaan Kanita hari ini? Apa dia sudah bersedia untuk bicara?"
Dengan berat hati Mili menggelengkan kepala. Lidahnya seperti tercekat saat terkenang dengan ancamannya yang akan menikahkan Kanita dengan sembarang orang.
Sadar kalau telah terjadi sesuatu antara anak dan istrinya, dengan sabar Dominic membimbing Mili agar kembali duduk di sofa. Dia lalu memberikan pelukan hangat yang sudah sangat lama tidak dia lakukan semenjak Kanita mulai membuat masalah dengan keluarganya Mattheo.
__ADS_1
"Mili, apapun keputusan Kanita nanti mari kita menanggung resikonya bersama-sama. Dan juga mari kita rawat dan besarkan calon cucu kita dengan penuh sayang. Tidak apa-apa kalau memang Kanita enggan untuk mengatakan siapa ayah dari cucu kita, itu tidak masalah lagi untukku. Yang terpenting sekarang kandungannya baik-baik saja. Masalah apa pendapat orang tentang keluarga kita, tidak usah di pedulikan lagi. Dan jika kalian merasa tidak nyaman tinggal di Jepang, aku tidak keberatan untuk pindah ke luar negeri dan menetap di sana!" ucap Dominic dengan legowo menerima segala konsekuensi yang akan terjadi pada keluarganya. "Kau dan Kanita adalah harta paling berharga yang aku miliki. Aku tidak mau melihat kalian hidup tidak bahagia."
"Dominic, ke-kenapa kau tiba-tiba bicara seperti ini? Kau ... tidak sedang dalam pikiran yang tidak tenang kan? Kau tidak sedang merencanakan sesuatu yang buruk kan? Kau ... kau....
Mili sangat kaget begitu mendengar perkataan suaminya. Sungguh, tak pernah Mili bayangkan kalau Dominic akan bicara seperti ini. Rasanya aneh, benar-benar sangat aneh karena sebelumnya Dominic begitu marah dan benci akan tindakan Kanita yang terus menolak untuk memberitahu siapa orang yang telah menghamilinya. Tapi setelah menghilang tanpa kabar, tiba-tiba suaminya pulang lalu mengatakan hal seperti ini. Wajar saja kan kalau Mili berpikiran yang tidak-tidak. Mili sangat takut kalau ini adalah bentuk keputus-asaan Dominic dalam menghadapi masalah di keluarganya.
"Aku baik-baik saja, Mili. Dan aku memiliki alasan tersendiri kenapa bisa bicara seperti ini padamu," ucap Dominic maklum akan kekhawatiran yang di rasakan oleh istrinya. "Tadi saat aku sedang berada dalam kekalutan, aku tidak sengaja bertemu dengan seorang bijak. Darinya aku mendapat banyak pelajaran berharga tentang arti sebuah keluarga. Kau tahu, Mili. Ternyata di luaran sana ada banyak sekali orang yang nasib keluarganya hampir sama dengan yang sedang kita alami. Anak mereka melahirkan tanpa suami, tapi mereka sama sekali tidak membencinya. Aku malu dengan mereka yang bisa begitu tegar memaafkan kesalahan anak mereka meski harus kehilangan harga diri di hadapan banyak orang. Mereka menghadapi semua hinaan dengan begitu sabar tanpa mengorbankan kebahagiaan keluarga. Tidak sepertiku yang malah putus-asa dan merasa gagal menjadi seorang ayah. Harusnya waktu itu aku tidak bersikap kasar pada Kanita, tapi merangkulnya sambil mengatakan kalau semuanya akan baik-baik saja. Karena sebenarnya penyebab semua ini adalah kita, Mili. Kanita jadi seperti ini karena kita yang gagal membawanya ke jalan yang baik. Dan karena kebodohan kita lah dia jadi salah jalan seperti ini. Bukan dia yang seharusnya di benci, tapi kita. Kita yang harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada hidupnya."
"Apa ini artinya kau akan memaafkan Kanita dan menerima bayi itu sebagai cucu kita?" tanya Mili dengan mata berkaca-kaca.
Tangis Mili langsung pecah begitu mendengar jawaban suaminya. Ini benar-benar keajaiban Tuhan. Entah orang bijak seperti apa yang sudah membalikkan hati suaminya hingga menjadi lembut seperti ini. Sungguh, Mili sangat-sangat berterima kasih pada orang tersebut. Tanpanya masalah ini pasti tidak akan pernah menemukan titik terang.
"Sudah, jangan menangis lagi. Lebih baik sekarang kita pergi menemui Kanita saja. Aku ingin meminta maaf karena kemarin sudah menamparnya," ucap Dominic dengan lembut menyeka air mata yang membasahi wajah istrinya.
"Dom, ini bukan mimpi kan? Kau tidak sedang bercanda kan?" tanya Mili yang masih tak percaya melihat perubahan sikap di diri suaminya. Ini terlalu mengejutkan bagi Mili.
"Tidak, sayang. Aku benar-benar akan memaafkan dan merangkul kesalahan putri kita. Sudah ya, kau jangan khawatir lagi. Ayo kita pergi menemui Kanita. Kasihan dia, dia pasti sangat tertekan beberapa waktu ini. Aku tidak mau kalau tekanan tersebut sampai mempengaruhi tumbuh kembang calon cucu kita. Ayo!" jawab Dominic kemudian berdiri.
__ADS_1
Dengan cepat Mili menahan tangan suaminya yang ingin pergi ke kamar Kanita. Mili ragu, juga sedikit takut saat ingin memberitahu Dominic tentang ancaman yang sudah dia lontarkan pada putri mereka.
"Mili, ada apa?" tanya Dominic bingung.
"Dom, sebenarnya tadi aku sempat mengancam Kanita karena dia masih belum mau memberitahuku tentang siapa ayah dari cucu kita. Aku ... aku mengancam akan menikahkan Kanita dengan sembarang orang jika dalam dua hari ini dia masih belum mengaku juga. Tapi Dom, aku melakukan semua itu karena terpaksa. Aku kesal karena Kanita sangat sulit untuk bicara jujur. Jadi aku rasa sebaiknya kita jangan temui dia dulu. Biarkan Kanita merenung untuk dua hari ini. Ya," jawab Mili pelan.
Dominic terdiam. Namun sedetik kemudian dia tersenyum. Dia sangat bisa memaklumi alasan istrinya mengeluarkan ancaman seperti itu pada putri mereka. Setelah itu Dominic berjongkok di hadapan Mili kemudian menggenggam tangannya dengan erat.
"Aku tahu apa yang kau lakukan adalah demi kebaikan Kanita. Aku mendukungmu, sayang," ucap Dominic sambil tersenyum.
"Kau tidak marah?" tanya Mili memastikan.
"Mau Kanita bicara jujur atau tidak, bagiku kalian tetaplah harta yang paling berharga. Aku sudah tidak peduli dengan tanggapan orang-orang jika mereka tahu kalau Kanita hamil di luar nikah. Persetan dengan semua itu. Karena bagiku sekarang yang terpenting adalah kebahagiaan dan keutuhan keluarga kita. Selain itu, aku tidak peduli. Kalau memang menurutmu ini adalah yang terbaik, maka kita tunggu dua hari lagi baru menemui Kanita. Kau jangan takut, aku sama sekali tidak marah padamu," jawab Dominic dengan lembut. Dia lalu menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan. "Ini sudah malam, sebaiknya kita pergi ke kamar saja. Wajahmu terlihat sangat lelah, kau pasti sangat stres memikirkan aku dan Kanita. Kita istirahat ya?"
"Baiklah," sahut Mili dengan hati yang begitu lega. Rasanya beban berat yang tadi menghimpit dadanya langsung terangkat begitu mendapat perlakuan manis dari suaminya. Malam ini sepertinya Mili akan tertidur dengan sangat nyenyak.
*****
__ADS_1