PESONA SI GADIS DESA

PESONA SI GADIS DESA
(FELUR) ~ Di Abaikan


__ADS_3

Fedo menatap layar ponselnya tanpa berkedip. Setelah hampir seharian dibuat galau gara-gara Luri yang tak merespon panggilannya, akhirnya sepuluh menit yang lalu Fedo bisa bernafas lega. Dia yang tadinya berpikir macam-macam jadi merasa bersalah begitu tahu alasan Luri tidak merespon panggilannya yang ternyata sedang sakit. Ingin rasanya sekarang Fedo pergi ke Shanghai supaya bisa menemani gadisnya yang tengah terlelap dengan wajah pucat.


"Hmm, ternyata menjalin hubungan jarak jauh itu rasanya sangat tidak enak. Padahal saat-saat seperti inilah tugasku sebagai kekasih baik hati di pertaruhkan. Aku jadi merasa bodoh hanya bisa menatapmu lewat layar ponsel, sayang," gumam Fedo pelan.


Meski memiliki mata-mata, nyatanya mata-mata yang Fedo tugaskan untuk menjaga gadisnya tidak berguna. Nania, gadis itu benar-benar mengabaikan kewajiban sebagai mata-mata bayaran. Bahkan Nania sama sekali tidak memberitahunya kalau Luri sedang sakit. Membuat Fedo harus menahan sakit kepala seharian.


"Sayang, kenapa sikapmu dan Nania bisa begitu berbeda sih. Kau begitu lembut, sedangkan adikmu begitu brutal dan tidak berperiperasaan. Aku jadi penasaran makanan apa yang ibumu idamkan ketika tengah mengandung Nania. Apa mungkin ada makanan yang tidak kesampaian di makan sampai-sampai Nania tumbuh menjadi gadis pendendam pada semua orang? Heran sekali!"


"Ekhmm!"


Satu deheman terdengar saat Fedo kembali menggumam. Namun hal itu masih belum menyadarkannya dari layar ponsel. Fedo masih asik memandangi Luri yang terlihat begitu cantik ketika sedang tidur sambil terus mengajaknya bicara. Hingga pada akhirnya dia dibuat kaget saat sebuah pena melayang di kepalanya.


"Awww, apa-apaan ini!" kesal Fedo sambil mengelus bekas lemparan tersebut.


Dan begitu Fedo berteriak, dia langsung dibuat kikuk dengan pemandangan yang ada di depannya. Bagaimana tidak! Fedo lupa kalau sekarang dia tengah mengadakan meeting kecil bersama ayah dan juga para bawahannya. Gara-gara terlalu mencemaskan gadisnya, Fedo sampai lupa tempat seperti ini.


"Masih ingin mengabaikan kami atau tidak hm?" tanya Mattheo jengkel.


Hampir lima belas menit lamanya Mattheo dan para karyawan di sini di anggap makluk tak kasat mata oleh putranya. Fedo sungguh keterlaluan. Bisa-bisanya dia bermesraan dengan Luri di tengah-tengah meeting yang sedang berlangsung. Andai tidak memikirkan reputasi sebagai seorang CEO, Mattheo pasti akan langsung menjitak kepalanya sampai benjol. Sungguh definisi orang yang urat malu sudah terputus.


"Hehe, maaf Ayah. Aku lupa kalau kalian masih ada di sini," jawab Fedo sembari menggaruk tengkuknya.


"Rindu si rindu, Fed. Tapi tolong lihat dimana posisimu berada. Kau tidak malu jika kelakuanmu sampai di contoh oleh anak buahmu?" tegur Mattheo seraya menarik nafas panjang.


"Iya-iya aku salah. Oke, sekarang kita lanjutkan lagi meetingnya!" sahut Fedo mengakhiri pembicaraan.


Para karyawan yang ada di sana nampak menahan tawa mendengar perdebatan antara ayah dan anak ini. Sangat jarang bisa melihat bos mereka ketahuan sedang membucin pada seorang gadis. Karena selama ini yang mereka tahu para gadislah yang tergila-gila pada si Casanova tersebut.


Sambil membahas pekerjaan, sesekali Fedo melirik ke arah ponsel untuk memastikan kalau tidur gadisnya tidak terganggu. Sudahlah, Fedo tak lagi memikirkan image-nya sebagai seorang bos. Biar saja kalau setelah ini dia akan menjadi bahan gosip para karyawannya. Toh kenyataannya memang benar kalau dia sedang terLuri-Luri pada gadis desa ini.


"Oke, meetingnya sampai di sini dulu. Nanti kita akan bahas lagi setelah dua minggu ke depan!" ucap Fedo.


"Baik, Tuan Muda!"


"Kalian boleh keluar."

__ADS_1


Fedo merentangkan otot-otot di tubuhnya setelah semua karyawan keluar dari ruangannya. Dia lalu tersenyum lebar ke arah sang ayah yang tengah menatapnya sengit.


"Aku akan mengadukan perbuatanmu pada istriku!" ancam Mattheo.


"Adukan saja, Ayah. Aku tidak takut. Paling-paling Ibu hanya akan menjewer telingaku saja!" jawab Fedo tanpa merasa bersalah.


"Percaya diri sekali kau kalau istriku hanya akan menjewermu. Apa kau pikir Ayah akan semudah itu membiarkanmu lolos dari hukuman?" sahut Mattheo sambil menyeringai licik.


Saat Fedo hendak membalas ucapan sang ayah, dari dalam ponselnya terdengar suara lenguhan pelan. Cepat-cepat Fedo memberi kode pada ayahnya supaya tidak bicara dulu karena sekarang Luri sudah bangun.


"Sayang, wajahmu pucat sekali. Apa tidak sebaiknya pergi ke dokter saja? Atau kau ingin aku memanggilkan Reinhard untuk datang ke rumahmu? Aku khawatir," ucap Fedo cemas.


Mattheo yang mendengar nada kekhawatiran pada suara putranya pun langsung melihat ke arah layar ponsel. Benar saja, calon menantunya terlihat sangat pucat seperti zombie.


"Luri, kau sebaiknya pergi ke rumah sakit saja sebelum calon suamimu menggila di sini!"


Fedo mengangguk setuju saat sang ayah menyebutnya sebagai calon suami. Dia lalu tertawa pelan melihat reaksi Luri yang terlihat malu-malu setelah melihat ayahnya muncul tiba-tiba.


"Halo Paman Mattheo, apa kabar?"


"Paman selalu baik, sayang," jawab Mattheo semringah di sapa oleh gadis cantik.


"Ck, tidak suka sekali kau melihat Ayah senang. Dasar playboy bucin!" sungut Mattheo sedikit takut akan ancaman putranya.


Malas meladeni ocehan sang ayah, Fedo kembali fokus ke layar ponsel. Dia langsung terdiam melihat Luri yang seperti sedang menahan sakit. Harus semenderita inikah para wanita setiap kali tamu bulanan mereka datang? Sungguh kasihan. Untung dia laki-laki, jadi Fedo tak harus merasakan siksaan seperti ini di setiap jatuh temponya.


"Em Kak Fedo, Paman Mattheo, aku matikan dulu ya panggilannya. Aku ingin istirahat."


"Ya ya ya, matikan saja. Jangan lupa minum obat dan istirahat yang cukup ya."


Dan begitu Mattheo selesai bicara, dia langsung mematikan panggilan terlebih dahulu. Tanpa merasa bersalah sama sekali Mattheo kemudian kembali ke tempat duduknya. Dia tidak menghiraukan tatapan Fedo yang sudah berubah seperti induk kerbau galak yang sedang menggembala anak-anaknya.


"Sebenarnya Ayah punya masalah apa denganku, hah! Cemburu karena tidak bisa bermesraan dengan Ibu, iya?" amuk Fedo sangat kesal dengan tindakan sang ayah yang langsung mematikan panggilan sebelum sempat dia berbicara dengan Luri.


"Tutup mulutmu dan mari kita bicara tentang Kanita. Kau pasti sudah tahu kan kalau kemarin malam Ayah pergi menemui Tuan Dominic?" sahut Mattheo dengan raut wajah yang sangat serius.

__ADS_1


Atmosfir di dalam ruangan itu langsung berubah begitu nama Kanita di sebut. Fedo yang tadinya sedang kesal pun langsung memasang wajah dingin sedingin balok es ketika mendengar nama wanita menjijikkan yang sudah beberapa waktu ini terus menguras emosinya.


"Apa yang Ayah bicarakan dengan Tuan Dominic?" tanya Fedo dingin.


"Tidak banyak. Ayah hanya memberi sedikit peringatan saja kalau Ibumu tidak akan tinggal diam jika Kanita terus merusuh. Ayah juga memberitahunya tentang kejadian saat kita berada di restoran kemarin malam. Dan jawaban ayahnya Kanita cukup membuat Ayah merasa sedikit ambigu," jawab Mattheo.


"Ambigu bagaimana, Yah?"


Mattheo menarik nafas. Dia sebenarnya juga merasa bingung dengan respon Dominic yang terkesan tidak peduli pada nasib anak dan istrinya.


"Dominic bilang pada Ayah kalau dia tidak akan ikut campur jika seandainya Ibumu benar-benar melakukan sesuatu pada Kanita dan Nyonya Mili. Dia juga bilang kalau sudah lelah mengingatkan anak dan istrinya agar tidak mencari masalah. Tapi Fed, menurut Ayah ini sedikit tidak benar. Masa iya ada seorang suami dan juga ayah yang tega membiarkan anak dan istrinya di bully oleh orang lain. Terlebih lagi mereka berasal dari keluarga terpandang. Rasanya sungguh janggal kalau Dominic menunjukkan sikap seperti ini!"


"Ayah benar, situasi ini memang terasa sedikit janggal. Tapi melihat pribadi Tuan Dominic yang tidak suka mencampur-adukkan urusan pribadi dengan pekerjaan, tidak mustahil juga kalau dia memberi jawaban seperti itu. Dia yang sebagai ayahnya Kanita saja bisa sampai mengeluh, hal ini menandakan kalau Kanita dan ibunya memiliki sikap yang sama-sama arogan dan keras kepala. Benar tidak?"


"Yang kau katakan tidak salah, Fed. Tapi tetap saja Ayah merasa ragu. Karena jujur jika Ayah yang berada di posisinya Dominic, Ayah pasti akan membela mati-matian anak dan istri Ayah. Ayah akan langsung pasang badan jika sampai ada orang yang berani membully Kayo dan Ibumu. Ayah tidak rela!" ucap Mattheo dengan pasti.


Fedo mendengus. Ayahnya ini benar-benar. Lagipula di negara ini siapa yang berani membully adik dan ibunya? Selain pemerintah, tidak ada satupun orang yang mampu menekan posisi ibunya sebagai Nyonya Eiji yang di kenal dingin dan juga kejam. Juga dengan adiknya, Kayo Eiji. Hanya Jackson seorang lah yang mampu menjinakkan adiknya itu. Laki-laki lain, jangan harap. Apalagi yang tidak memiliki mental sekuat baja, akan jauh lebih baik jika mereka menyingkir sejauh mungkin sebelum Kayo mengeluarkan taringnya.


"Kalau mau bicara tolong lihatlah dulu siapa Abigail dan Kayo Eiji. Ayah mana boleh membandingkan mereka berdua dengan Kanita dan Nyonya Mili. Itu ibarat langit dan bumi, sama-sama ciptaan Tuhan tapi berada dalam posisi yang berbeda. Kanita dan ibunya bisa menjadi rujak jika Ibu dan Kayo benar-benar sudah lepas kendali. Lupa ya kalau mereka adalah singa-singa betina yang meresahkan? Jadi aku rasa Ayah tidak perlu berlagak seperti pahlawan kesiangan di depanku. Karena aku adalah salah satu saksi hidup betapa meresahkannya kedua wanita tersebut!"


Mattheo meringis sambil menggaruk pinggiran kepalanya yang tidak gatal. Benar juga, istri dan anaknya mana boleh di bandingkan dengan anak dan istrinya Dominic yang jelas-jelas hanya bisa membuat masalah. Abigail dan Kayo terlalu berharga untuk di sejajarkan dengan kedua wanita tersebut.


"Sudahlah, sebaiknya Ayah pergi saja dari sini. Masih ada beberapa pekerjaan yang harus segera di tanda tangani!" usir Fedo dengan santainya.


"Kalau kau bukan anaknya Abigail Ayah pasti akan langsung menggantungmu di atas gedung ini, Fed. Berani-beraninya kau mengusir seorang Mattheo Eiji. Tidak punya akhlak!" omel Mattheo sambil berjalan keluar dari ruangan putranya.


Fedo terkikik lirih saat ayahnya mengacungkan jari tengah sebelum pintu tertutup. Rasanya puas sekali jika bisa membuat pria tua yang posesif itu merajuk.


"Haaahhh, ayo semangat Fedo. Kau harus giat bekerja agar bisa membangun istana berlian untuk gadis desamu itu. Ayo bekerja!" ucap Fedo menyemangati dirinya sebelum tenggelam dalam tumpukan berkas yang tertata dengan begitu mempesona di atas meja kerjanya.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


βœ…Gengss.. PESONA SI GADIS DESA versi lengkapnya ada di yutub. Nama Chanelnya β–ΆMak Rifani, jangan lupa mampir dan tinggalkan jejak ya


...πŸ’œJangan lupa vote, like, dan comment keuwuan felur kita ya gengss...

__ADS_1


...πŸ’œIg: rifani_nini...


...πŸ’œFb: Rifani...


__ADS_2