PESONA SI GADIS DESA

PESONA SI GADIS DESA
(FELUR) ~ Pria Terakhir


__ADS_3

Di saat Kayo tengah berbincang bahagia bersama ibunya, di tempat lain Mili tengah berbicara serius dengan Dominic. Sebagai seorang ibu, Mili bisa merasakan ada sesuatu yang tidak beres di diri putrinya. Instingnya terus mengatakan kalau putri kesayangannya itu memang benar tengah berbadan dua.


"Kau jangan gila, Mili. Kanita itu putri kita satu-satunya, bagaimana bisa kau berpikiran buruk tentangnya?" tanya Dominic dengan nada suara meninggi.


"Ck, kau jangan sembarangan mengataiku gila, Dom. Aku ini ibunya, aku orang yang telah melahirkan dan juga membesarkan Kanita selama ini. Jadi bagaimana mungkin aku bisa sampai salah menebak kalau Kanita memang sedang hamil anak orang lain? Yang benar saja kau!" amuk Mili enggan mengalah.


Dominic mengumpat pelan. Dia lalu berdiri, memijit pinggiran kepalanya sambil berjalan kesana kemari. Petaka, benar-benar petaka jika perkataan istrinya terbukti benar. Mau di taruh kemana wajahnya dan juga wajah keluarga besar ini jika Kanita sampai hamil di luar nikah? Semua orang pasti akan mencomooh keluarganya. Ini benar-benar gila. Dominic sampai merinding di buatnya.


"Dom, aku sudah pernah mengandung dan melahirkan anak untukmu. Sudah pasti aku akan sangat tahu hal apa saja yang berubah di tubuhku ketika sedang mengandung Kanita dulu. Dan perubahan yang aku alami juga terjadi di tubuh putri kita. Aku tidak bohong, Dom. Aku berani jamin kalau Kanita memang sedang hamil!" ucap Mili tetap kekeh akan firasatnya. Dia tidak mungkin salah.


"Apa kau sudah menanyakan hal ini pada Kanita? Bisa saja kan dia seperti itu karena sedang stres atau terlalu banyak memakan cemilan di malam hari?" tanya Dominic meragu. "Ya Tuhan, kenapa bisa jadi begini sih. Kenapa Kanita tega memupuk kotorann ke wajah kita, Mili. Lama-lama aku bisa masuk rumah sakit jiwa karena kelakuannya."


"Kemarin aku sudah menanyakannya langsung pada Kanita, Dom. Akan tetapi dia berhasil berkilah. Kanita bilang bentuk tubuhnya bisa berubah karena semua waktunya habis hanya untuk melupakan Fedo. Dia jarang bisa tidur dan jadwal makannnya jadi berantakan," jawab Mili seraya menarik nafas pelan. "Awalnya sih aku percaya-percaya saja saat mendengarnya bicara seperti itu. Tapi setelah kupikir-pikir kembali, sepertinya ada yang aneh dengan alasan yang dia katakan. Masa iya hanya gara-gara ingin melupakan seorang pria Kanita bisa kehilangan berat badan secara drastis. Belum lagi dengan bagian-bagian tertentu di tubuhnya yang terlihat semakin menonjol. Semua bukti ini membuatku semakin yakin kalau Kanita memang sedang hamil karena aku juga mengalami hal yang sama saat mengandungnya dulu!"


Setelah berkata seperti itu Mili bangkit dari duduknya. Dia lalu berjalan menghampiri Dominic sebelum akhirnya masuk ke dalam pelukannya.


"Dom, apa yang akan terjadi pada Kanita kalau semua ini benar-benar menjadi kenyataan? Kasihan dia, Dom. Dia pasti akan di hujat oleh banyak orang."

__ADS_1


Sadar kalau istrinya sedang gelisah, Dominic dengan lembut membelai punggungnya. Mau seburuk apapun kelakuan istri dan anaknya, Dominic tetaplah sangat menyayangi kedua wanita ini. Dan sebagai seorang kepala keluarga, Dominic harus bisa menemukan jalan keluar dari masalah pelik yang tengah membelit keluarganya. Terlepas apakah Kanita benar-benar hamil atau tidak, dia harus tetap pasang badan. Dan hal pertama yang akan Dominic lakukan adalah mencari tahu siapa laki-laki yang terakhir kali pergi bersama putrinya. Karena besar kemungkinan, laki-laki tersebutlah ayah dari bayi itu.


"Mili, apa kau tahu pria mana yang terakhir kali di temui oleh Kanita?" tanya Dominic mulai menyelidiki.


Mili mengerutkan kening saat mendengar pertanyaan suaminya. Setelah itu dia mendongak, menatap wajah Dominic dengan raut kebingungan.


"Kenapa kau bertanya seperti itu padaku? Apa maksudnya?" ucap Mili balik bertanya.


"Ini hanya untuk jaga-jaga saja, Mili. Kalau memang benar Kanita hamil, maka kita harus segera mencari tahu siapa ayah dari bayi itu sebelum kabar buruk ini menyebar keluar. Kanita selalu berganti-ganti pasangan setiap malam, aku khawatir laki-laki itu menolak untuk bertanggung jawab!" jawab Dominic.


"Astaga, kenapa sejak kemarin aku tidak terpikir ke arah sana? Ya Tuhaannn, bodoh sekali aku!" pekik Mili kaget begitu mendengar jawaban Dominic.


"Pria yang terakhir kali bersama Kanita. Siapa ya? Setahuku ada banyak sekali pria yang dekat dengan putri kita, Dom. Aku tidak tahu yang mana dari mereka!" ucap Mili risau.


"Coba kau ingat-ingat dulu. Siapa tahu Kanita pernah mengatakannya padamu."


Dominic ikut berjalan mondar-mandir seperti yang tengah dilakukan oleh istrinya. Resah, hati dan perasaannya benar-benar sangat resah sekarang. Harga diri keluarga besarnya sedang di pertaruhkan, juga dengan masa depan putrinya yang kini sedang berada di ujung tanduk.

__ADS_1


"Oh, aku ingat, Dom!" teriak Mili begitu teringat siapa orang yang terakhir kali bertemu dengan putrinya. "Fedo. Ya, dia orangnya."


"Fedo?" beo Dominic kaget. "Jangan mengada-ngada, Mili. Fedo sangat membenci Kanita, untuk apa dia pergi menemuinya? Aku tahu kau tidak menyukainya, tapi bukan berarti kau boleh sembarangan menuduhnya tanpa ada bukti yang kuat. Kau bisa di tuntut pencemaran nama baik olehnya nanti!"


Mili berdecak kesal mendengar perkataan Dominic. Dia lalu menceritakan alasan kenapa bisa menuduh Fedo sebagai laki-laki yang terakhir kali bertemu dengan Kanita.


"Dom, kau ingat tidak dengan kejadian di mana aku di serang oleh Fedo? Saat itu aku sedang menemui Kanita di hotel di mana dia baru saja kembali dari Shanghai. Malamnya Fedo tiba-tiba datang, dia mendorong dan mencekik leherku sambil mengucapkan kata-kata yang sangat kasar. Setelah itu Kanita memintaku untuk pergi dari sana karena Fedo ingin bicara empat mata dengannya. Dan sampai detik ini aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan mereka karena setelah kedatangan Fedo ke hotel, sikap Kanita jadi berubah!"


"Fedo menemui Kanita di hotel? Apa mereka tidur bersama?" tanya Dominic memastikan.


Dominic cukup kaget mengetahui hal ini. Tapi jika memang benar Fedo adalah ayah dari bayi yang di kandung putrinya, maka Dominic akan tetap menuntut pertanggungjawaban darinya. Entah dia akan bermusuhan dengan Mattheo atau tidak, yang jelas hal ini akan tetap dia lakukan demi menyelamatkan harga diri putrinya dan juga nama baik keluarga besarnya.


"Kalau masalah itu aku tidak tahu, Dom," jawab Mili. "Dom, apa jangan-jangan Fedo adalah ayah dari anak yang di kandung Kanita? Jika benar begitu, maka artinya kita harus segera meminta Fedo untuk bertanggung jawab. Fedo harus mau menikah dengan Kanita tak peduli meski selama ini dia sangat membencinya. Sekarang ayo kita pergi menemui Abigail dan Mattheo. Mereka harus tahu kalau putra yang selalu mereka bangga-banggakan telah merusak masa depan putri orang lain. Ayo, Dom. Jangan membuang waktu lagi!"


"Tenang dulu, kita tidak bisa langsung menuntutnya untuk bertanggung jawab, Mili. Ingat, masih belum ada kepastian apakah Kanita benar-benar sedang hamil atau tidak. Kita juga perlu menemukan bukti falid terlebih dahulu yang nantinya akan kita bawa saat menemui Mattheo dan Nyonya Abigail. Mereka bisa menuntut kita berdua jika kita datang hanya dengan tangan kosong!" sahut Dominic mengingatkan. "Jangan khawatir. Jika Fedo memang terbukti sebagai ayah dari bayi yang di kandung oleh Kanita, maka aku pastikan dia akan menikahi putri kita. Tak peduli apakah nanti Mattheo akan memusuhiku atau tidak, yang jelas Kanita berhak untuk mendapatkan keadilan. Fedo harus mau mempertanggungjawabkan perbuatannya!"


Setelah berkata seperti itu Dominic langsung pergi dari rumah. Dia berjalan menuju mobil sembari menghubungi nomor seseorang yang bisa membantunya menyelidiki kebenaran, juga membantu mencari bukti-bukti yang bisa menguatkan dugaan kalau Fedo adalah pria di balik kehamilan putrinya.

__ADS_1


*****


__ADS_2