
Sambil bersenandung lagu ceria, Nania menggandeng lengan kakaknya menuju mobil. Hari ini mereka pulang sedikit lebih cepat dari hari biasanya. Dan kebetulan juga sang kakak sedang terburu-buru untuk pulang ke rumah karena ingin memberitahu orangtua mereka tentang jadwal keberangkatannya yang di majukan oleh pihak sekolah.
"Kak Luri, apa semua barang-barang yang akan Kakak bawa sudah cukup? Ada yang mau di beli lagi tidak?" tanya Nania ketika mobil mulai bergerak pergi meninggalkan sekolah.
"Sepertinya semua sudah cukup, Nania. Kalaupun kurang, nanti biar Kakak beli saja setelah sampai di sana," jawab Luri. Dia kemudian teringat dengan pesan yang di sampaikan oleh Fedo. "Oh ya, Nania. Tadi Kak Fedo menelepon. Dia bilang mulai sekarang kau sudah tidak di pekerjakan lagi sebagai mata-mata. Dan Kak Fedo juga bilang kalau kau adalah anak buah yang paling buruk cara bekerjanya."
Nania langsung menunjukkan ekpresi bengis setelah mendengar perkataan kakaknya. Kesal juga dia di anggap sebagai mata-mata dengan kinerja yang sangat buruk. Padahal selama ini Nania sudah berusaha melakukan tugasnya dengan sebaik mungkin. Ya meskipun terkadang Nania memang sedikit mengusili pria genit itu.
"Heh, berani sekali dia menyebut kinerjaku sangat buruk, Kak. Awas saja, kalau nanti aku bertemu Kak Fedo aku akan langsung meninju perutnya sampai bengkak. Enak saja dia memberikan bintang buruk untuk hasil pekerjaanku. Belum tahu dia siapa Nania," ucap Nania jengkel.
Luri dan pak sopir tertawa mendengar ucapan Nania. Reaksi seperti ini sudah tidak mengagetkan mereka lagi karena memang seperti inilah Nania. Terkadang mereka sampai berpikir pria seperti apakah yang akan sanggup menghadapi gadis brutal ini nantinya. Karena jika pria itu tidak bermental baja, mereka yakin kalau pria tersebut tidak mungkin mampu menghalau racun berbisa yang keluar dari mulut Nania.
"Kak Luri, lebam di keningmu masih membekas jelas. Bagaimana kalau kita pergi ke rumah sakit saja untuk membungkusnya? Ayah pasti akan menghukumku jika melihat luka itu. Mau ya?" ajak Nania penuh harap ketika rambut yang menutupi lebam di kening kakaknya tidak sengaja tersibak. Dia benar-benar merasa sangat amat bersalah.
"Tidak usah. Kau jangan takut, nanti Kakak bisa mencari alasan lain supaya Ayah tidak marah padamu," sahut Luri dengan lembut menolak.
"Em Nona Luri, biar nanti saya saja yang mengakui di hadapan Tuan Luyan. Karena sayalah Nona jadi terluka seperti itu. Saya yang lalai, jadi saya yang harus bertanggung jawab," sahut sang sopir kembali mengkhawatirkan keadaan anak majikannya.
__ADS_1
"Ya ampun pak sopir, Nania. Kalian ini kenapa sih. Ini kan hanya luka lebam biasa, bukan luka yang serius. Tidak perlulah kalian sampai sekhawatir ini. Tenang saja, masalah ini akan menjadi rahasia kita bertiga. Oke?"
Luri tak kuasa menahan tawa melihat raut khawatir di wajah kedua orang tersebut. Tapi untunglah pagi tadi bukan Nania yang membawa mobil. Karena jika mobil ini sampai di kendarai oleh adiknya yang brutal itu, Luri tidak yakin kalau sekarang dia masih hidup. Pasti bukan hanya luka lebam saja yang dia terima, melainkan luka-luka lain yang jauh lebih parah daripada ini. Tapi ya sudahlah, yang terpenting mereka bertiga sekarang baik-baik saja.
"Kak, pria genit itu sudah tahu belum kalau Kakak akan pergi bersama Kak Galang? Hehehe, aku yakin Kak Fedo pasti langsung kebakaran jenggot jika tahu kalau gadis pujaannya pergi bersama laki-laki lain. Jadi tidak sabar ingin melihat seperti apa reaksinya nanti," ucap Nania seraya menampilkan senyum aneh di bibirnya. Dia berniat melakukan balas dendam dengan cara memanas-manasi Fedo.
"Tolong jangan berbuat yang tidak-tidak, Nania. Kak Fedo tidak tahu kalau Kakak akan pergi bersama Galang. Dan dia juga masih belum tahu kalau Kakak akan melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Tolong kau jangan membuat masalah dulu ya. Kakak mohon!" sahut Luri langsung panik begitu melihat senyum aneh di bibir adiknya. Dia yakin betul kalau Nania pasti tengah merencanakan sesuatu untuk mengerjai Fedo.
Nania mengerutkan keningnya kaget. Dia tidak menyangka kalau Fedo masih belum tahu kakaknya mau pergi jauh. Meski jarang sekali akur, jauh di dalam lubuk hati Nania terbersit rasa kasihan pada pria genit itu. Nania kemudian menyenderkan tubuhnya ke kursi mobil dengan menjadikan kedua tangannya sebagai tumpuan kepala. Dia sedang berpikir keras.
"Hmm. Ada apa?" sahut Luri sembari menoleh ke samping. Dia menatap lekat wajah adiknya.
"Apa tidak keterlaluan kalau Kakak mengecualikan Kak Fedo dalam hal ini? Meskipun hubungan kami seperti anjing dan kucing, tapi aku tetap merasa kasihan padanya kalau Kakak tiba-tiba pergi meninggalkannya tanpa kabar. Begitu-begitu Kak Fedo adalah sugar daddyku. Aku tidak tega jika harus melihatnya bersedih dan menangis seperti anak kecil yang di tinggal mandi oleh ibunya. Kak Fedo pasti akan terlihat sangat jelek nanti!"
Tadinya Luri sempat berfikir kalau Nania akan mengatakan sesuatu yang membuatnya terharu. Akan tetapi ... Nania tetaplah Nania dengan cara berpikirnya yang aneh. Untung saja ucapannya itu tidak di dengar langsung oleh Fedo. Luri yakin sekali kalau wajah Fedo pasti akan langsung berubah masam karenanya. Gemas mendengar perkataan tersebut, Luri dengan kuat menarik hidung mancung milik adiknya. Hal tersebut terus dia lakukan sampai ujung hidung Nania berubah warna menjadi merah.
"Iissshhh, Kak Luri, hentikan. Memangnya aku ini Pinokio apa?" protes Nania sambil mengusap hidungnya yang terasa kebas. Dia lalu menatap kesal ke arah kakaknya yang malah tertawa-tawa setelah melakukan kekerasan penuh cinta di hidungnya. Menyebalkan.
__ADS_1
"Nania-Nania. Kenapa kau menggemaskan sekali sih. Bagaimana nanti jika Kakak merindukanmu setelah sampai di sana? Kakak pasti akan merasa sangat kesepian. Hmmm," ucap Luri sembari mendesah pelan. Dia memandang wajah adiknya penuh sayang.
Mendengar kata-kata sedih yang terucap dari mulut sang kakak membuat Nania menjadi tidak tega. Dia segera memberikan pelukan hangat sembari mengusap-usap rambut panjang milik kakaknya.
"Kakak jangan sedih ya. Tenang saja, aku pasti akan sering-sering datang berkunjung ke sana. Kak Luri lupa ya kalau aku mempunyai seorang sugar daddy yang kaya raya? Kak Fedo tidak mungkin menolak jika aku mengajaknya untuk pergi menjenguk Kakak ke luar negeri. Jadi jangan sedih. Oke?" bujuk Nania dengan penuh percaya diri mengklaim kalau harta milik Fedo adalah harta miliknya juga. Sungguh sebuah pemikiran yang sangat luar biasa bukan?
"Nania, tidak baik menganggap sesuatu milik orang lain sebagai hak milik kita. Mau seperti apapun hubungan Kakak dengan Kak Fedo nanti, kau tetap tidak boleh seenaknya memakai ataupun meminta sesuatu darinya. Bukankah Ayah, Ibu, dan Kak Lusi selalu mengajarkan pada kita berdua untuk mensyukuri apa yang kita miliki dan juga harus berusaha keras jika menginginkan sesuatu? Kakak tidak suka ya kalau kau sampai menggampangkan fasilitas milik Kak Fedo hanya demi untuk mengunjungi Kakak saja. Ingat, Nania. Jangan pernah memanfaatkan siapapun saat Kakak sudah tidak ada di sini. Paham?" sahut Luri dengan tegas menegur adiknya agar tidak melakukan tindakan yang salah.
Sopir yang mendengar perkataan bijak Luri nampak tersenyum kecil. Dia sangat amat mengagumi kerendahan hati gadis remaja ini yang tidak mau memanfaatkan orang lain meski memiliki kakak ipar dan juga kekasih yang bergelimang harta. Sungguh sudah sangat jarang di temui ada remaja yang mempunyai pemikiran seperti ini. Dan mungkin Luri adalah satu dari sekianratus gadis remaja dengan tingkat kedewasaan yang sangat mengagumkan.
"Jadi apa yang harus aku lakukan jika ingin pergi ke luar negeri, Kak? Aku kan tidak punya uang. Masa iya aku harus merampok bank dulu," tanya Nania sedih.
"Aih, kau ini ya. Sudah, masalah ini kita bahas di rumah saja" jawab Luri. Dia kemudian melepaskan pelukan Nania lalu memintanya agar duduk dengan benar.
"Baik, Kak Luri!"
*****
__ADS_1