
"Tidak mungkin! Ini tidak mungkin. Bagaimana ini bisa terjadi?!"
Kanita seperti kehilangan nyawa ketika tak sengaja melihat siaran langsung yang sedang tayang di televisi. Sungguh, tidak terpikir sedikitpun di dalam benak Kanita kalau orang yang begitu dia benci akan muncul ke hadapan publik dan mengakui bahwa dialah ayah dari bayi yang sedang Kanita kandung. Ando, bajingan itu kini dengan santai menceritakan bagaimana mereka bisa saling mengenal dan juga kenapa Kanita bisa menuduh Fedo sebagai orang yang telah menghamilinya. Rasa malu, muak, marah, benci, semua rasa itu bercampur menjadi satu di dalam benak Kanita. Satu yang Kanita pikir. Bagaimana bisa Ando terlihat begitu dekat dengan Bibi Abigail, ibunya Fedo. Apakah mungkin bajingan itu adalah kerabat jauhnya keluarga Eiji? Tapi bagaimana bisa?
"Bagaimana ini? Ayah dan Ibu pasti akan membunuhku jika mereka sampai melihat siaran ini. Apa yang harus aku lakukan sekarang?" gumam Kanita panik saat terkenang dengan kedua orangtuanya. Dia berjalan mondar-mandir di dalam rumah sambil menggigit ujung jari tangannya. "Apa aku kabur saja ya? Tapi kemana? Uang dan semua kartu ada di dalam kamar, sama saja aku masuk ke lubang hitam kalau pergi ke sana. Mau keluar dari rumah juga tidak mungkin. Para wartawan pasti masih ada di luar menikmati jamuan bersama dengan Ayah. Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan?"
Di saat Kanita sedang panik memikirkan jalan agar bisa pergi dari rumah, di saat yang bersamaan pula ayah dan ibunya datang menghampiri. Tanpa mengatakan apapun tiba-tiba saja pipi Kanita di pukul dengan sangat kuat oleh sang ayah. Bahkan ibunya yang biasanya selalu membela, kini tampak menatapnya dengan penuh kebencian. Kanita langsung sadar, dia sudah tak bisa melarikan diri lagi.
"Dasar wanita tidak tahu diri. Apa selama ini Ayah dan Ibu pernah mendidikmu agar berkelakuan hina seperti yang sedang kau lakukan sekarang, hah! Kurang ajar! Berani-beraninya kau mempermainkan kami, Kanita!" teriak Dominic murka.
Tadi setelah konferensi pers selesai, Mili dan Dominic menjamu para wartawan dengan hidangan yang sangat mewah. Hal ini sengaja mereka lakukan karena siang nanti rencananya mereka akan membawa Kanita pergi dari Jepang. Namun sayang, rencana yang awalnya mereka pikir adalah yang paling benar ternyata merupakan awal dari kehancuran yang sebenarnya. Ketika semua orang tengah sibuk menikmati hidangan, mereka semua di kagetkan oleh sebuah siaran langsung di mana ada Nyonya Eiji di dalamnya. Dan yang lebih mengagetkan lagi, seorang pria asing muncul kemudian mengaku sebagai ayah dari bayi yang sedang di kandung oleh Kanita. Pria asing itu dengan jelas mengatakan di hadapan awak media bagaimana awal pertemuannya dengan Kanita yang mana berakhir dengan mereka yang tidur bersama di sebuah hotel. Sungguh, kenyataan ini seakan melemparkan kotoran yang sangat busuk ke wajah Mili dan juga Dominic. Mereka malu dan juga sangat bingung harus berkata apa. Hingga akhirnya mereka memanggil pengacara keluarga untuk menyelesaikan masalah ini ketika wartawan yang tadi mereka undang menginginkan mereka untuk memberikan penjelasan. Para wartawan ini langsung sadar kalau mereka telah menyinggung orang yang salah, jadi sebisa mungkin mereka mencari pembelaan agar nanti keluarga Eiji tidak menjadikan mereka sebagai target.
"Sekarang jawab pertanyaan Ayah dengan jujur. Apa benar pria itu adalah ayah dari bayimu, hah? Dan juga apakah benar kalau cerita yang kau ungkapkan pada media hanyalah cerita karanganmu saja, iya? Jawab Kanita!" sentak Dominic dengan mata berkilat merah.
__ADS_1
"Fedo yang menghamiliku, Ayah. Dan pria itu ... aku tidak mengenalnya," jawab Kanita masih enggan untuk mengakui bahwa memang benar Ando adalah ayah dari bayinya.
"Kalau memang benar pria itu bukan pelakunya, lalu bisakah kau menjelaskan mengapa di malam setelah Fedo mengunjungi kamar hotel tempat kau menginap pria itu bisa datang dan bermalam bersamamu di sana? Apa kau akan beralasan kalau pria itu salah kamar? Memaksamu mungkin?"
Kanita terdiam seribu bahasa. Dia sudah sangat terpojok karena tadi Ando telah menunjukkan semua bukti sejak dari awal mereka bertemu di sebuah club. Padahal sebelumnya Kanita sudah pernah meminta seseorang untuk menghapus semua rekaman yang ada, tapi entah bagaimana ceritanya pria brengsek itu bisa mempunyai rekamannya dengan sangat lengkap. Apakah mungkin ada sesuatu yang tidak biasa tentang jati diri Ando yang sebenarnya? Persetan, Kanita tak peduli apapun tentang pria brengsek itu. Yang jelas sekarang Kanita hanya ingin segera pergi dari negara ini sebelum semua orang menghujatnya habis-habisan.
"Dom, kita seret saja Kanita ke hadapan laki-laki itu. Dan mari kita lihat apakah benar Kanita tidak mengenalnya, atau hanya berpura-pura tidak mengenalnya saja!" ucap Mili. "Kau benar-benar manusia berhati jahat, Kanita. Dengan teganya kau membuat Ayah dan Ibu melayangkan sebuah fitnah pada satu keluarga yang sama sekali tidak bersalah. Apa kau tahu. Gara-gara ketidak-warasanmu ini, sekarang semua orang membenci dan menjauhi Ibu. Mereka semua bilang kalau Ibu adalah orangtua paling buruk yang pernah mereka kenal. Kau membuat Ayah dan Ibu kehilangan muka dalam sekejap mata, Kanita. Ibu kecewa padamu, benar-benar sangat kecewa. Ibu malu mempunyai anak berhati busuk sepertimu. Ibu kecewa!"
"Mengertimu? Hahahaa!"
Mili tertawa dengan sangat kencang ketika diminta untuk mengerti alasan putrinya melakukan ini semua. Setelah itu dia menangis, merasa sangat amat hina setelah di permalukan oleh putrinya sendiri.
"Selama ini apa yang tidak Ibu berikan padamu, Kanita. Di saat semua orang mendikte kekuranganmu, mati-matian Ibu membelamu di hadapan mereka semua. Di saat kau merasa tidak adil akan sikap keras ayahmu, Ibulah yang selalu ada untuk memberikan dukungan. Lalu apa yang kau berikan pada Ibu sekarang, hah? Kau dengan mudahnya menghancurkan semua kasih sayang yang telah Ibu beri dengan mencoreng wajah Ibu menggunakan kotoran binatang yang sangat menjijikkan. Kau hamil, lalu meminta kami untuk melakukan konferensi pers dengan tujuan memberi efek jera karena laki-laki yang telah menghamilimu menolak bertanggung jawab. Namun begitu kabar tersebut menyebar, kenyataan bahwa Fedo tak pernah melakukan semua yang kami tuduhkan muncul di permukaan. Ibu malu, Kanita. Ibu malu. Bagaimana bisa kau meminta Ayah dan Ibu melakukan fitnah secara terang-terangan seperti ini? Apakah sebelum memintanya kau tidak terkenang dengan wajah kami jika seandainya kebenaran itu terbongkar? Kami harus bagaimana sekarang, Kanita? Jawab!" teriak Mili histeris.
__ADS_1
Hancur sudah. Semuanya kini benar-benar sangat hancur. Sungguh, Mili tak pernah menyangka akan ada boomerang yang sangat besar menghantam keluarganya. Andai saja Mili tahu kalau Kanita telah mengatakan sesuatu yang bohong, tak akan pernah dia berani menghina dan merendahkan keluarga Eiji seperti yang telah dia katakan ketika konferensi pers berlangsung. Mili menyesal, benar-benar sangat menyesal karena dia tak sengaja memperlihatkan dirinya yang seperti badut di hadapan banyak orang. Miris, tapi nasi sudah menjadi bubur. Semua orang di negara ini sudah terlanjur tahu kalau Mili dan Dominic adalah sepasang badut yang menjadi mainan putri kandung mereka sendiri.
"Dom, hari ini kita benar-benar melakukan kesalahan yang sangat fatal pada keluarganya Tuan Mattheo. Kita harus segera pergi ke sana dan meminta maaf pada mereka. Walaupun fitnah yang kita umbar sudah terlanjur di ketahui oleh banyak orang, setidaknya kita masih memiliki niat baik untuk mengakui kesalahan yang telah kita lakukan. Dan juga aku ingin sekali bertemu dengan pria yang bernama Ando itu. Aku ingin tahu pasti alasan kenapa dia baru muncul setelah kita membuat konferensi pers ini. Jika memang benar dia adalah ayah biologis dari bayi itu, maka akan lebih baik kalau dia bersedia membawa Kanita serta bersamanya. Aku sudah tidak kuat lagi melihat wajah Kanita yang dengan begitu tega mempermalukan kita di hadapan seluruh penduduk Jepang. Aku sangat malu, Dom!" ucap Mili mengajak suaminya pergi ke kediaman keluarga Eiji guna untuk meminta maaf atas kesalahan yang sudah mereka buat pagi tadi.
"Ibu, aku tidak mau pergi ke sana. Kalian tidak boleh bertemu dengan Ando. Tidak boleh!" jerit Kanita panik ketika sang ibu ingin membawanya pergi menemui keluarganya Fedo dan juga menemui Ando.
"Penjaga!" teriak Dominic dengan lantang. Hatinya sama sekali tak merasa iba melihat putrinya menangis ketakutan sambil bersujud di hadapannya.
"Ayah, jangan Ayah, jangan. Aku mohon ... tolong jangan pergi ke rumahnya Fedo. Tolong, Ayah. Aku mohon!"
"Seret wanita memalukan ini ke dalam mobil kemudian ikat tangan dan juga kakinya. Setelah itu antarkan kami ke rumah keluarga Eiji. Sekarang!" perintah Dominic sambil memeluk Mili yang sedang menangis. Dia lalu mengajaknya keluar menuju mobil, mengabaikan Kanita yang masih menjerit histeris di tangan para penjaga.
*****
__ADS_1