PESONA SI GADIS DESA

PESONA SI GADIS DESA
(FELUR) ~ Candu Kehangatan


__ADS_3

Jika di dalam ruangan pesta Gleen dan yang lainnya sedang mengkhawatirkan keadaan Luri, hal berbeda malah di rasakan oleh gadis desa tersebut. Sejak sampai di tempat ini, Luri tak henti-hentinya berdecak kagum. Dia sangat amat terpesona melihat taman yang begitu indah di mana ada banyak sekali hiasan lampu di sana sini. Jujur, ini adalah kali kedua Luri merasakan sesuatu yang begitu romantis meski keindahan tersebut bukan di tujukan khusus untuknya.


"Kau suka?" tanya Fedo sambil terus menatap lekat wajah gadisnya. Dia begitu terpana melihat reaksi Luri begitu mereka sampai di sini.


Padahal ini hanya taman biasa, tapi kenapa ekspresimu terlihat sangat bahagia seperti orang yang mendapat kejutan besar? Astaga, Luri. Kau benar-benar menjungkirbalikkan duniaku. Kau membuatku gila, sayang, batin Fedo.


"Aku sangat suka tempat ini. Sangat indah dan juga sejuk," jawab Luri. "Bagaimana bisa ada hotel yang mempunyai taman seindah ini, Kak? Aku yakin sekali pemiliknya pastilah orang yang sangat kaya."


Fedo terkekeh. Dia kemudian mengelus rambut Luri sembari memberitahukan siapa pemilik dari hotel dan juga taman indah ini.


"Sayang, hotel ini adalah milik sepupuku. Namanya Gabrielle, dia suaminya Elea. Kau tidak mungkin tidak tahu siapa dia kan?"


"Apa? Jadi hotel dan taman ini adalah miliknya Tuan Muda? Pantas saja sangat mewah, ternyata pemiliknya adalah keluarga paling kaya yang ada di Shanghai. Ya ampun, kampungan sekali aku," ucap Luri kaget begitu mengetahui pemilik tempat ini. Dia lalu menyelipkan rambut ke belakang telinga dengan kondisi wajah yang sedikit memerah. Ya, Luri malu.


"Bukan kampungan, tapi karena kau yang tidak tertarik dengan kehidupan orang lain. Makanya kau sampai tidak tahu kalau Reinhard menggelar resepsi di hotelnya Gabrielle. Jangan berkecil hati ya?" ucap Fedo sambil menahan tawa melihat Luri yang malu karena ketidaktahuannya sendiri.


Setelah berkata seperti itu Fedo mengajak Luri untuk duduk di sebuah ayunan yang ada di taman tersebut. Hati Fedo terasa sangat berbunga-bunga karena situasi saat ini terasa begitu spesial. Fedo dan Luri seperti sedang berkencan di tempat yang begitu romantis. Sayangnya hubungan mereka masih harus di rahasiakan. Jika tidak, Fedo pasti akan mengabadikan momen membahagiakan ini dengan cara mengunggah foto dan video mereka ke akun media sosialnya. Tapi ya sudahlah, begini saja Fedo sudah sangat bahagia. Dia hanya perlu menunggu waktu sebentar lagi sampai di mana hubungannya dengan Luri akan segera di ketahui oleh semua orang.


"Sayang, saat menikah nanti kau ingin pesta yang seperti apa?" tanya Fedo sambil merapihkan anak rambut di kening Luri yang beterbangan tertiup angin.


"Menikah?" beo Luri kaget. "Ya ampun, Kak Fedo. Hubungan kita saja masih seumur jagung, kenapa kau sudah kepikiran ke arah sana?"


"Hehee, memangnya kenapa sih. Kan tidak ada salahnya kalau aku menanyakan hal seperti ini padamu. Toh nanti ujung-ujungnya kita berdua juga akan menikah. Iya kan?"

__ADS_1


"Hmmm, memang tidak salah. Tapi aku rasa terlalu dini untuk kita membicarakan pernikahan. Aku masih belum memiliki cukup keberanian untuk menjadi ibu rumah tangga, belum lagi dengan aku yang masih ingin melanjutkan kuliah," jawab Luri sambil tertawa kecil. "Tapi kalau kau sudah tidak tahan ingin segera berumah tangga, aku tidak keberatan kau menikah dengan wanita lain, Kak. Sungguh!"


Mata Fedo langsung membelalak lebar begitu mendengar perkataan Luri. Segera dia menangkup kedua pipi gadis desa tersebut kemudian menatap matanya dengan penuh kepanikan.


"Sayang, apa kau sadar kata apa yang baru saja kau ucapkan, hm?" tanya Fedo.


"Sangat sadar, Kak. Dan yang kau dengar juga tidak salah kalau aku mengizinkanmu menikah dengan wanita selain aku," jawab Luri. "Aku tidak bermaksud apa-apa, Kak Fedo. Hanya tidak mau terlalu mengekang jika seandainya benar kau sudah sangat ingin menikah."


"Astaga, sayang. Bukankah kau sudah tahu ya kalau aku hanya akan menikah denganmu saja? Bagaimana bisa kau memintaku menikah dengan wanita lain? Tidak-tidak, aku tidak mau. Kalaupun aku harus menunggu seribu tahun agar bisa menjadi suamimu, aku pasti akan melakukannya. Aku mencintaimu, Luri. Hanya kau satu-satunya wanita yang akan melahirkan anak-anakku nanti. Hanya kau. Tahu kan?"


Untuk beberapa saat pandangan mata Luri terkunci oleh ketulusan yang baru saja di ucapkan oleh Fedo. Sebenarnya saat Luri mengatakan bahwa dia mengizinkan Fedo menikah dengan wanita lain hatinya sedikit tergores. Akan tetapi Luri tetap berusaha bersikap tenang agar Fedo tidak merasa bersalah. Luri tahu kalau usia Fedo tidak semuda dirinya yang artinya kalau pria ini sudah sangat matang untuk membina suatu rumah tangga. Alasan inilah yang mendasari perkataan Luri tadi.


"Sayang, tolong jangan bicara yang tidak-tidak lagi ya. Aku janji tidak akan membahas tentang pernikahan lagi," ucap Fedo cemas saat Luri hanya diam tak menanggapi perkataannya.


"Sangat. Apapun yang kau katakan aku pasti akan mempercayainya," jawab Fedo tanpa ragu. "Kenapa kau bertanya seperti itu, sayang? Apa kau masih meragukanku?"


Luri menggeleng. Dia kemudian mengelus tangan Fedo yang masih menempel di pipinya. Tiga hari lagi Luri dan Galang akan segera berangkat ke London. Hal ini membuat Luri sedikit mengalami dilema karena Fedo begitu mencemburui teman sekelasnya itu. Luri takut Fedo akan berpikir macam-macam jika tahu kalau dia dan Galang akan kuliah di tempat yang sama dalam kurun waktu yang lumayan lama.


"Sayang, kenapa diam saja? Ayo lanjutkan lagi perkataanmu!" desak Fedo yang mulai ketar-ketir sendiri.


Aku harap kau tidak mengatakan sesuatu yang bisa membuatku mari berdiri, sayang, ujar Fedo dalam hati.


"Aku tidak ingin mengatakan apa-apa lagi, Kak. Cukup dengan mendengar kalau kau mempercayaiku itu sudah lebih dari yang aku harapkan. Terima kasih ya sudah bersedia untuk percaya padaku," sahut Luri sambil tersenyum manis.

__ADS_1


Kedua alis Fedo saling tertaut melihat senyum di bibir Luri. Entah kenapa dia merasa kalau gadis ini tengah menutupi sesuatu darinya. Namun secepat kilat Fedo menepis prasangka buruk tersebut dari dalam pikirannya. Dia tidak mau memendam rasa curiga meski hatinya sendiri terus mengatakan kalau Luri sedang tidak jujur dalam berkata.


"Oh ya, Kak Fedo. Jangan lupa dua hari lagi kau harus kembali ke Shanghai ya. Aku ingin kau memberiku banyak semangat agar nanti aku tidak lesu saat masuk ke universitas," ucap Luri kembali mengingatkan.


"Eii, apa kau sedang menggodaku sayang, hm?" ledek Fedo kemudian menoel dagu Luri.


"Apa si, Kak," sahut Luri tersipu.


Fedo terkekeh. Dia menarik pelan bahu Luri kemudian memeluknya dengan penuh sayang. Sambil membelai rambut yang tergerai indah di bahunya, Fedo menyanggupi permintaan Luri yang memintanya untuk datang kembali ke negara ini dua hari lagi.


"Kau jangan cemas, sayang. Aku pasti akan menjadi orang pertama yang akan memberikan semangat untukmu. Bahkan jika perlu aku akan membuat yel-yel kemudian menari di depan kampus yang akan kau pilih nanti sebagai bentuk dukungan dariku. Oke?"


Luri tertawa mendengar perkataan konyol yang baru saja di ucapkan oleh Fedo. Entah karena terbawa suasana atau bagaimana, dia tanpa sadar mengeratkan pelukan di tubuh pria yang tengah mendekapnya. Jujur, Luri merasakan kehangatan yang begitu candu setiap kali berdekatan dengan pria ini. Semacam ada bisikan gaib yang terus menekankan pada hatinya kalau Fedo adalah miliknya, dan hanya dia saja yang boleh menyentuhnya.


"Haihh, rasanya aku tidak ingin pergi kemana-mana lagi jika sudah berduaan denganmu, sayang. Seperti ada yang hilang kalau kau tidak ada di sisiku," ucap Fedo mengeluhkan waktu yang entah kenapa begitu cepat berputar. Dia merutuki jarum jam yang terus bergerak tanpa henti.


"Nanti akan ada waktunya untuk kita tidak terpisah lagi, Kak. Sekarang anggap saja kalau kita sedang berjuang. Kan yang merasakan bukan hanya kau sendiri, tapi aku juga," sahut Luri yang tanggap kalau mereka sudah cukup lama meninggalkan ruangan pesta.


Dengan berat hati Fedo mengangguk mengiyakan perkataan Luri. Setelah itu dia melepaskan pelukan, berdiri kemudian mengulurkan tangan pada gadis yang tengah tersenyum sambil menatapnya.


"Kita kembali ke dalam saja ya? Aku yakin kakak iparmu pasti sudah kebakaran jenggot karena tidak menemukan keberadaan kita berdua."


"Baiklah. Ayo!"'sahut Luri sembari menerima uluran tangan Fedo. Setelah itu mereka berdua kembali masuk ke dalam hotel sambil berpegangan tangan.

__ADS_1


*****


__ADS_2