
Luri meminta sopir untuk menghentikan mobil saat tidak sengaja melihat Galang yang sedang berdiri di tepi jalan. Dia kemudian keluar, berjalan menghampiri teman sekelasnya yang seperti sedang sibuk menghubungi seseorang.
"Lang, ada apa? Kenapa kau berhenti di sini?"
Galang sedikit kaget melihat Luri yang tiba-tiba sudah berdiri di sebelahnya. Dia yang sedang menghubungi orang bengkel segera memutuskan panggilan ketika orang yang di teleponnya baru saja menjawab.
"Oh, ini Luri. Ban mobilku pecah, dan aku sedang menghubungi nomor bengkel langgananku untuk meminta bantuan mereka. Tapi tidak di angkat-angkat," jawab Galang berkilah. Dia mana mungkin rela melewatkan waktu untuk mengobrol dengan gadis yang di sukainya ini. Terlalu berharga, begitu pikirnya.
Setelah mendengar jawaban tersebut, Luri segera melihat ke arah ban mobilnya Galang. Dan benar saja, salah satu bannya kempes. Mungkin saat berkendara tadi tidak sengaja tertusuk paku atau benda tajam lainnya. Tahu kalau temannya sedang kesusahan, Luri pun berinisiatif untuk menemani Galang di sini. Dia khawatir Galang akan di datangi oleh orang jahat jika di biarkan sendirian.
"Kalau begitu coba kau hubungi lagi orang bengkelnya, Lang. Aku akan menemanimu menunggu di sini."
"Apa? Kau mau menemani aku?" tanya Galang kaget. Dia tidak menyangka kalau Luri akan melakukan hal ini.
"Iya. Kenapa memangnya? Tidak boleh ya?" tanya Luri bingung melihat reaksi di diri Galang.
Galang mengerjapkan mata. Boleh, tentu saja sangat boleh jika Luri ingin menemaninya di sini. Galang malah dengan sangat senang hati akan menerima tawaran baiknya itu. Namun karena tak ingin Luri menyadari betapa dia sedang sangat bahagia, secepat mungkin Galang mencoba bersikap seperti biasa. Tanpa menjawab pertanyaan Luri Galang kembali menghubungi orang bengkel dan meminta mereka agar segera datang.
Semoga saja kendaraan mereka mogok di tengah jalan supaya aku bisa lebih lama berduaan dengan Luri. Hehehe, batin Galang kegirangan.
"Apa tidak merepotkan kalau kau menemaniku menunggu sampai orang bengkel datang?" tanya Galang sembari menyimpan ponsel di dalam saku celana.
__ADS_1
"Tidaklah, Lang. Kau itu kan temanku, aku mana mungkin tega membiarkanmu melewati masalah sendirian. Lagipula setelah ini aku tidak memiliki kegiatan apa-apa selain memasak dan beberes rumah. Jadi tidak masalah kalau aku menemanimu dulu di sini," jawab Luri dengan bijak memberi jawaban. Dia bukannya tidak tahu kalau Galang sebenarnya berharap lebih. Tapi Luri berusaha bersikap senetral mungkin supaya tidak menimbulkan kesan yang melenceng.
Kecewa, Galang di buat sangat kecewa oleh perkataan Luri. Tapi apa mau di kata, gadis ini memang hanya menganggapnya sebatas teman, tidak lebih. Harusnya Galang tidak berharap terlalu banyak tadi. Jadi dia tidak perlu merasa sekecewa ini ketika Luri mengatakan kalau dia bersedia menemaninya atas nama pertemanan. Sungguh menyedihkan bukan?
Untuk menutupi rasa kecewanya, Galang berpura-pura menanyakan keberadaan Nania pada Luri. Dia sangat berharap kalau gadis beracun itu tidak berada di sana.
"Luri, di mana Nania? Tumben sekali dia tidak mengekorimu kemari."
"Nania masih ada les di tempat lain, Lang. Ini aku baru saja kembali setelah mengantarnya ke sana," jawab Luri tanggap akan maksud Galang yang tiba-tiba menanyakan tentang adiknya. "Oh ya Lang, kau tahu tidak kenapa Jovan tidak masuk sekolah?"
"Aku tidak tahu, Luri. Mungkin dia sedang ada masalah atau bagaimana mungkin. Aku kurang tahu juga sih."
"Apa jangan-jangan Jovan sedang sakit ya, Lang. Aku dengar dia jarang sekali membolos sekolah," ucap Luri khawatir akan kesehatan satu temannya lagi.
"Jangan panik. Nanti setelah mobilku selesai di perbaiki aku akan pergi ke rumah Jovan untuk memastikan keadaannya. Kalau memang benar dia sedang sakit, aku akan langsung menghubungimu. Jika perlu sekalian menjemputmu dan Nania untuk menjenguk Jovan," sahut Galang ikut merasa cemas memikirkan nasib dari mantan rivalnya itu.
"Sepertinya itu ide yang bagus, Lang. Ya sudah, aku tunggu kabar darimu saja nanti. Semoga saja Jovan baik-baik saja."
Galang mengangguk. Dia dan Luri terus mengobrol banyak sampai akhirnya orang yang tadi di hubungi oleh Galang datang. Sambil menunggu mereka selesai mengganti ban mobil, Galang mengajak Luri untuk membeli minuman. Cukup haus juga setelah mereka mengobrol kesana kemari.
"Luri, kalau seandainya nanti kau tidak memenangkan beasiswa itu ... kau akan melanjutkan kuliah di mana? Di luar negeri atau tetap di negara ini?" tanya Galang sambil menyesap minuman boba di gelasnya.
__ADS_1
"Emmm, kemungkinan besar aku akan tetap di sini, Lang. Ayah dan Ibuku sudah tua, aku tidak tega meninggalkan mereka jika seandainya memang benar aku gagal mendapatkan beasiswa itu," jawab Luri jujur. "Tujuanku mengincar beasiswa itu adalah untuk membuat Ayah dan Ibu merasa bangga. Tapi kalau gagal aku akan membuat mereka bangga dengan cara yang lain. Yaitu merawat mereka sampai tua."
Ya, harapan besar Luri memenangkan beasiswa tersebut adalah untuk membuktikan kesuksesan kecil pada orangtuanya. Selain bertujuan untuk membantu orang lain, Luri sangat ingin orangtuanya melihat usahanya dalam mewujudkan cita-cita. Jikapun tidak menang, itu bukanlah suatu halangan besar bagi Luri. Karena masih ada banyak jalan untuk membahagiakan dan membalas jasa kedua orangtua yang telah merawatnya sejak bayi.
"Hmmm, Paman Luyan benar-benar sangat beruntung mempunyai anak yang sangat berbakti sepertimu, Luri. Andai saja Ayahku sebijak Ayahmu, aku pasti tidak akan semenyedihkan ini," ucap Galang yang sama sekali tidak memiliki rasa simpatik terhadap kedua orangtuanya.
"Lang, bukankah aku sudah pernah bilang untuk tidak berpikiran buruk terhadap ayah dan ibumu? Cobalah untuk mengerti posisi mereka Lang, jangan egois. Ayah dan ibumu bekerja keras demi agar bisa memberikan masa depan yang baik untukmu. Mereka bukan tidak peduli, mereka hanya berpikir dengan cara inilah mereka bisa menunjukkan rasa sayangnya padamu. Renungkan, Lang. Kau bisa bersekolah di sekolah mahal dan bergengsi, memakai mobil mewah, pakaian bagus, dan aku yakin semua kebutuhanmu tidak ada yang tidak tercukupi. Dari siapa kau mendapatkan itu semua jika bukan dari keringat orangtuamu, Lang? Harusnya kau itu bersyukur karena tidak semua orang bisa memiliki nasib baik sepertimu. Contohnya aku. Kalau bukan karena kakak iparku yang mempunyai banyak uang, kami sekeluarga tidak akan bisa hidup nyaman seperti sekarang. Aku dan Nania juga tidak akan mungkin bisa masuk ke sekolah mahal seperti sekolah kita. Jangan begitu, Lang. Itu tidak benar. Sesekali coba pandangi wajah ayah dan ibumu saat mereka sedang tertidur. Lihat dan resapi segala kelelahan yang ada di wajah mereka. Aku jamin kau pasti sadar akan keegoisanmu!" sahut Luri dengan tegas memberikan nasehat pada teman sekelasnya ini.
Galang terdiam. Hari itu Luri juga pernah mengatakan hal yang sama kepadanya. Namun hati Galang masih terlalu keras untuk mengalah terhadap sikap orangtuanya. Jujur saja, Galang sangat mengidamkan figur seorang ayah seperti Paman Luyan, ayahnya Luri dan Nania. Hatinya merasa damai saat mendengarkan nasehatnya yang begitu bermakna. Tapi sayang, semua itu tidak bisa Galang dapatkan dari ayah kandungnya sendiri. Orangtuanya hanya sibuk mencari uang, uang, uang dan uang terus. Membuat Galang jadi merasa seperti anak yang terbuang.
"Maaf ya Lang kalau kata-kataku tadi ada yang menyinggungmu. Aku tidak bermaksud ikut campur masalah di keluargamu, aku hanya tidak ingin kau melakukan sesuatu yang salah. Itu saja," ucap Luri merasa tak enak melihat kebungkaman Galang.
"Hei, kenapa meminta maaf padaku sih. Aku itu tidak marah, aku juga tidak merasa tersinggung. Justru aku senang karena masih ada orang yang peduli padaku. Terima kasih untuk nasehatnya ya," sahut Galang kemudian tertawa.
Luri tersenyum. Dia bersukur dalam hati karena ternyata Galang tidak marah padanya. Setelah itu dia dan Galang kembali ke mobil saat orang bengkel memberitahu kalau mobilnya Galang sudah selesai di perbaiki.
"Kalau begitu aku pulang dulu ya, Lang. Hati-hati saat berkendara di jalan!" pamit Luri sebelum masuk ke dalam mobilnya.
"Siap, bos!" sahut Galang sembari membuat pose seperti sedang hormat pada bendera. Dia lalu melambaikan tangan saat mobilnya Luri bergerak pergi dari sana.
Hmmm, coba saja aku dan Luri adalah pasangan kekasih. Hidupku pasti tidak akan sesepi ini, batin Galang sedih.
__ADS_1
*****