PESONA SI GADIS DESA

PESONA SI GADIS DESA
(FELUR) ~ Like Father, Like Son


__ADS_3

"Matt, sepertinya kita harus segera kembali ke Jepang," ucap Abigail setelah menerima pesan dari bawahannya.


Mattheo yang sedang asik membuka-buka situs tentang otomotif langsung menoleh ke arah istrinya. Keningnya mengerut.


"Kenapa buru-buru sekali, darling?"


"Salah satu tetua masuk rumah sakit. Akan sangat tidak sopan kalau kita tidak datang membesuk," jawab Abigail kemudian duduk di samping suaminya. "Lagipula sekarang Elea sudah tidak kenapa-napa lagi. Aku rasa Liona tidak akan keberatan kalau kita pulang besok pagi."


"Harus besok ya?"


"Tunggu dunia ini kiamat juga tidak masalah, Matt."


Mendengar jawaban sarkas dari mulut istrinya, Mattheo tak kuasa untuk tidak tertawa. Dia lalu menarik tubuh Abigail agar masuk ke dalam pelukannya. Di balik sikapnya yang sangat datar dan dingin, Abigail adalah sosok yang begitu peduli pada semua keluarganya. Ini yang membuat Mattheo semakin dan semakin jatuh cinta setiap harinya.


"Aku ikut apa katamu saja, darling. Yang penting kita sama-sama perginya."


"Lalu Fedo bagaimana? Kau tahu bukan kalau putramu itu sedang tergila-gila pada adiknya Lusi? Aku rasa dia akan sedikit memberontak jika kita mengajaknya pulang besok pagi," ucap Abigail penuh pertimbangan.


Sebagai orangtua, Abigail tentu paham kalau putranya sedang di landa badai bucin. Bahkan si buaya Casanova itu seakan sudah tidak mempedulikan wanita lain lagi setelah mengenal Luri, si gadis desa berwajah manis nan minimalis.


"Masalah itu terserah Fedo saja mau bagaimana. Tapi jika memang dia peduli pada nama baik keluarga kita, dia pasti akan mengesampingkan perasaannya terlebih dahulu. Sebenarnya aku kurang setuju kalau Fedo memiliki hubungan dekat dengan Luri. Gadis itu masih terlalu muda, aku khawatir dia akan mendapat serangan dari wanita-wanita yang pernah menjadi teman one night stand-nya Fedo. Kasihan dia, bagaimana kalau para wanita itu mendatanginya kemudian melakukan hal yang buruk? Hal seperti ini sangat mungkin terjadi mengingat borosnya Fedo dalam melobi ranjang dengan para wanitanya," jawab Mattheo setengah bercanda.


"Pantas saja sejak tadi telingaku tidak berhenti berdenging. Rupanya karena ada seseorang yang sedang membicarakan aku!"


Abigail dan Mattheo terkekeh pelan saat mendapat sindiran dari putra mereka. Entah kapan buaya ini datang, bisa-bisanya muncul tanpa terdengar suara langkah kakinya.


"Apa yang sedang Ayah dan Ibu bicarakan? Sepertinya serius sekali?" tanya Fedo yang kini sudah duduk bergabung bersama dengan kedua orangtuanya.


"Salah satu tetua masuk rumah sakit, Fed. Lalu Ibu mengajak kita semua untuk pulang ke Jepang besok pagi," jawab Mattheo.


"Pulang besok pagi?"

__ADS_1


Fedo memekik kaget begitu mendengar jawaban sang ayah. Dia risau, itu sudah pasti. Saat ini dia tengah dalam misi pendekatan untuk mendapatkan hati adik iparnya Gleen, yaitu Luri. Kalau dia kembali ke Jepang dalam waktu dekat, bisa-bisa misinya akan menggantung begitu saja. Atau bahkan yang lebih buruk Luri bisa di dekati oleh buaya lainnya. Memikirkan hal ini tiba-tiba saja dada Fedo terasa sangat sesak. Dia tidak bisa jika harus melihat Luri jatuh ke pelukan pria lain. Tidak bisa.


"Iya, besok pagi. Kenapa? Apa kau keberatan?" tanya Mattheo pura-pura tidak tahu kalau putranya sedang gusar.


Abigail terus memperhatikan reaksi putranya yang terlihat kecewa. Dia tentu saja tahu kalau buaya ini tidak mau berpisah dari mangsa yang sedang di kejarnya.


"Ayah, kalau Ayah, Ibu, dan Kayo saja yang pulang ke Jepang bagaimana? Aku sedang dalam misi yang sangat penting sekarang," jawab Fedo mencoba membujuk.


"Apa ini berhubungan dengan adiknya Lusi?"


Fedo langsung menganggukkan kepala. Dia tidak menutupi fakta kalau memang dirinya tengah mengejar cinta si gadis desa. Fedo kemudian menatap seksama ke arah orangtuanya, berharap kalau mereka akan sedikit memberikan kelonggaran waktu untuk dia mengejar cintanya Luri.


"Fed, sebenarnya Ayah tidak terlalu suka kalau kau mendekati Luri. Dia itu masih sangat muda, Ayah bahkan yakin kalau pikirannya masih sangat polos. Kau harusnya ingat Fed kalau tidak sedikit wanita yang tergila-gila padamu. Ayah khawatir Luri akan menjadi korban dari kemarahan para wanita itu jika mereka tahu kau sedang mengejarnya. Kau pasti pahamlah seperti apa buasnya kaum betina jika sedang berusaha mempertahankan pejantan yang mereka inginkan!"


"Ekhmm!!"


Mattheo dan Fedo sama-sama menelan ludah saat mendengar satu deheman dari wanita yang mereka juluki sebagai dewi perang. Mereka berdua lupa kalau wanita ini sangat tidak suka mendengar hal-hal yang sedikit melantur dari konteks yang sedang di bicarakan.


"Maaf, darling. Sepertinya rem di dalam lidahku rusak!" ucap Mattheo berusaha mencari pembenaran dari kata-katanya barusan.


Kalau wanita yang begitu di takuti oleh Fedo sudah membuka suara, dia mana mungkin berani untuk tidak mematuhi ucapannya. Dengan berat hati akhirnya sang Casanova pun setuju untuk pulang ke Jepang besok pagi. Menomorduakan perasaannya yang sedikit kecewa karena terpaksa harus meninggalkan si pujaan hati di negara ini.


"Sudahlah bung, nanti di Jepang kau juga akan menemukan banyak wanita yang jauh lebih cantik dari Luri. Jadi jangan memasang tampang seperti anak anjing yang sedang kelaparanlah!" ucap Mattheo meledek putranya yang terlihat begitu menyedihkan.


"Ayah, aku sudah tidak tertarik lagi pada wanita lain selain Luri. Pesonanya sudah membuatku tersadar dari jalan yang sesat," sahut Fedo sembari memperlihatkan tampang yang begitu menderita.


Mattheo tergelak.


"Yakin kau sudah sadar?" ejek Abigail sambil menaikan sebelah alisnya.


"Sepertinya sih begitu, Bu. Karena saat aku berpapasan dengan wanita yang memiliki dada besar, juniorku terlihat cuek-cuek saja. Dia dengan santai membuang muka ke arah lain sambil bergumam kalau dia baik-baik saja meski melon di dada wanita itu hampir melompat keluar!"

__ADS_1


Satu buah majalah fashion langsung mendarat di wajah Fedo begitu dia selesai bicara. Dengan tampang mesumnya, dia menatap jahil ke arah sang ibu yang kini tengah menatapnya tajam.


"Jangan marah, Ibuku yang paling cantik. Hal seperti itu wajar terjadi pada pria normal sepertiku. Lagipula aku belajar semua ini dari Ayah. Dia yang selalu mengatakan padaku kalau akan sangat menggelikan jika seorang pria tidak terpancing birahi ketika melihat yang segar-segar!" ucap Fedo berkelakar tanpa merasa malu.


Mattheo yang kaget namanya dibawa-bawa pun segera memberi penjelasan pada Abigail yang kini tengah memelototkan mata ke arahnya. Dia tentu saja tidak mau kalau istrinya sampai salah paham meski apa yang diucapkan oleh Fedo adalah suatu kebenaran.


"Aku tidak pernah mengajarkan sesuatu seperti itu, darling. Fedo bicara fitnah."


"Aku sudah bilang padamu jadilah ayah yang baik untuk anak-anak kita, Mattheo!" geram Abigail kemudian mendengus kesal.


"Iya darling, aku ingat. Jadi tolong jangan percaya ucapan buaya tengik itu ya?"


Fedo berdecih pelan melihat cara ayahnya membujuk sang ibu. Dia sungguh kesal karena ayahnya tidak mau mengakui kalau memang benar selama ini dia yang mengajarinya tentang hal-hal yang berbau kenikmatan.


"Kau dan putramu sama-sama buaya tengik, Mattheo. Kau sudah lupa ya bagaimana caramu dulu saat memaksaku agar mau menjadi kekasihmu? Dari hal ini saja sudah jelas kalau apa yang Fedo lakukan adalah hasil dari berguru pada ayahnya. Jadi kau jangan hanya menyalahkannya saja!"


Setelah mengomel, Abigail langsung pergi meninggalkan suaminya yang sedang panik. Like father, like son. Sikap Mattheo yang mesum rupanya benar-benar menurun pada putra mereka. Untung saja Kayo tidak menuruni sikap tersebut. Jika iya, maka Abigail akan mati dengan cepat.


"Fed, kenapa kau tega sekali menumbalkan Ayah di depan Ibumu? Kau tahu bukan kalau Ibumu sangat sensitif dengan hal-hal seperti ini?" tegur Mattheo seraya berdecak kesal.


"Menumbalkan apanya? Memang benar kan Ayah yang bilang kalau kita akan terlihat sangat menjijikkan jika tidak bisa merasakan ereksi ketika berdekatan dengan wanita berbody aduhai? Bahkan Ayah juga yang mengajariku gaya-gaya keren untuk menaklukkan para wanita di atas ranjang. Aku bisa menjadi Casanova berkat ilmu-ilmu panas yang Ayah turunkan. Bagaimana sih?" gerutu Fedo.


"Benar juga ya. Haissh sudahlah, persetan dengan kemarahan Ibumu. Nanti Ayah akan menjinakkannya saat masuk ke kamar. Sekarang beritahu Ayah gaya apa saja yang sudah kau praktekkan pada para wanitamu."


Fedo dan Mattheo akhirnya larut dalam pembicaraan yang sedikit vulgar. Pantasnya, seorang ayah harusnya sibuk membahas masa depan anak-anaknya. Tapi Mattheo, dia malah asik memberikan les dadakan agar Fedo bisa tumbuh menjadi seorang Casanova idaman kaum hawa. Sungguh ayah yang sangat kurang ajar bukan?


💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜


✅ Hai gengss, kisah PESONA SI GADIS DESA versi lengkapnya ada di yutup emak ya. Nama chanelnya @Mak Rifani, ****part 33 baru aja up****. Jangan lupa mampir dan tinggalkan jejak ya gengss


...💜 Jangan lupa vote, like, dan comment keuwuan mereka ya gengss...

__ADS_1


...💜 Ig: rifani_nini...


...💜 Fb: Rifani...


__ADS_2