
"Langitnya sangat indah, sama seperti cinta kita. Benar tidak, Kak?" tanya Luri sambil menatap langit malam melalui sela-sela jari tangannya.
Fedo menoleh. Dia kemudian tersenyum sambil menyelipkan rambut milik Luri yang beterbangan tertiup angin. Seminggu setelah kepulangan Luri dari London, mereka langsung menggelar pesta pernikahan secara besar-besaran di Shanghai dan di Jepang. Dulu Fedo pernah berjanji pada Luri kalau dia akan memberikan pernikahan yang seribu kali lebih mewah dan meriah dari pernikahannya Levita dan Reinhard. Dan janji tersebut benar-benar di kabulkannya demi agar bisa meratukan gadis desa ini. Sebenarnya malam ini Fedo dan Luri harusnya berada di hotel yang telah di sewa untuk menggelar resepsi pernikahan mereka. Akan tetapi Fedo dengan sengaja mengajak Luri pergi ke pantai yang menjadi saksi awal hubungan mereka sebagai teman tapi mesra. Bukan tanpa alasan mengapa Fedo mengajak Luri kembali ke Shanghai. Fedo ingin agar pantai ini kembali menjadi saksi kalau hubungan mereka telah berubah dari seorang teman tapi mesra, menjadi pasangan suami istri yang sah di mata hukum dan negara. Indah bukan? Tentu saja cinta mereka sangat indah seindah langit malam dan suasana pantai di malam ini.
"Kak, terima kasih ya sudah memberiku sebuah pernikahan yang sangat amat berkesan. Bersamamu aku jadi bisa merasakan kalau hidup ini akan terasa sangat indah jika kita bersama orang yang tepat," ucap Luri dengan tulus.
"Tidak perlu berterima kasih padaku, sayang. Itu memang sudah seharusnya aku lakukan. Jadi kau jangan merasa sungkan," sahut Fedo sambil terus menatap wajah cantik istrinya dari arah samping. "Kau tahu, dari semua wanita yang pernah aku kenal hanya kau satu-satunya wanita yang bisa merubah pandanganku tentang arti sebuah cinta. Darimu aku belajar kalau mencintai itu bukan tentang siapa dia dan darimana dia berasal. Akan tetapi cinta itu dilihat dari seberapa gigih dan percayanya kita terhadap orang yang kita sayang. Mungkin waktu itu kau pernah kecewa padaku, dan aku akui secara tidak langsung aku memang terikat dengan apa yang menimpa Kanita. Namun, pada kenyataannya kau masih tetap mempercayaiku dengan tidak memberikan hatimu pada laki-laki lain. Jujur, ini adalah sesuatu paling hebat yang pernah aku rasakan selama hidup di dunia ini. Aku takjub akan caramu menghargai perasaan kita."
Mendengar kata-kata Fedo yang begitu manis, Luri tak tahan untuk tidak menoleh melihatnya. Dia kemudian membelai wajah pria yang kini telah resmi menjadi suaminya. Sangat tampan.
"Apa kau pernah berpikir kalau kisah kita akan berakhir happy ending?" tanya Fedo.
"Hemm, sejujurnya itu tidak pernah terlintas di dalam pikiranku, Kak. Akan tetapi aku meyakini satu hal kalau kita pasti akan terus bersama jika berhasil melewati badai kala itu. Aku sebenarnya sedikit takut karena bagaimana pun kau adalah pria yang terbiasa di kelilingi banyak wanita cantik. Tapi aku berusaha untuk mempermainkan waktu dengan berkata kalau hubungan kita pasti akan baik-baik saja. Dan mungkin happy ending ini adalah ******* dari apa yang selama ini kita jalani," jawab Luri. "Tapi ngomong-ngomong bagaimana kabar Kanita sekarang, Kak. Dia dan bayinya baik-baik saja 'kan?"
"Dia cukup bahagia dengan rumah tangganya bersama Andero. Dan beberapa bulan lalu kami pernah tidak sengaja bertemu. Awalnya dia terlihat canggung, tapi setelah melihatku bermain dengan putranya Kanita akhirnya mau bicara padaku. Dia juga menitipkan kata maaf untukmu, Kanita bilang dia menyesal karena hampir merusak hubungan kita. Dia khilaf," sahut Fedo menceritakan tentang pertemuannya dengan Kanita.
__ADS_1
"Aku kasihan padanya, Kak. Karena cinta dia jadi buta hati dan mengabaikan kehormatan serta kebahagiaannya sendiri. Tapi syukurlah kalau sekarang dia sudah bahagia dengan keluarga barunya. Aku turut senang mendengarnya,"
"Sayang, kau perlu tahu satu hal tentang Kanita dan Andero. Kau salah jika berpikir kalau Kanita benar-benar bahagia dengan rumah tangganya. Karena kenyataan yang sebenarnya tidak lah seperti itu," ucap Fedo dengan raut wajah sedikit sendu.
Luri mengerutkan keningnya. Dia bingung mendengar ucapan Fedo barusan, terlebih lagi setelah melihat ekpresi di wajahnya yang seolah menggambarkan tentang sesuatu yang buruk.
"Suami Kanita hanya menginginkan harta miliknya saja. Andero tidak benar-benar mencintainya," lanjut Fedo seraya menghela nafas. "Tapi kau tidak perlu risau. Ibu tidak akan membiarkan Andero menyakiti Kanita maupun anaknya. Mereka akan tetap aman meski tidak mendapat cinta yang tulus dari pria itu."
Luri menghela nafas. "Terkadang apa yang kita alami adalah buah dari apa yang telah kita perbuat sebelumnya. Dari Kanita aku belajar bahwa yang paling utama dalam hidup ini adalah mencintai diri kita sendiri. Karena pada akhirnya kita sendiri pula yang akan merasakan pahit dan manisnya hidup. Terlepas apakah Kanita di cintai atau tidak oleh suaminya, itu bisa terjadi karena dia yang kurang mengerti dirinya. Basic keluarganya sangatlah terpandang, tapi sayang dia melawan arus yang telah di tentukan. Andai saja Kanita lebih memikirkan perasaan kedua orangtuanya, nasib hidupnya pasti tidak akan berakhir seperti ini. Ya setidaknya dia bisa menemukan pria yang benar-benar mencintainya. Seperti kau yang begitu tulus mencintaiku," ucap Luri sembari menyentuh kelopak mata Fedo.
"Kak, kapan kita kembali ke Jepang? Sebentar lagi hari sudah akan pagi, semua orang pasti kebingungan karena tidak menemukan keberadaan kita di sana," tanya Luri.
"Kita tidak akan kembali ke Jepang, sayang," jawab Fedo masih dengan mata terpejam. "Dari sini kita akan langsung pergi bulan madu ke luar negeri. Kau tenang saja, Ibu dan yang lainnya tidak akan mungkin mencari keberadaan kita karena aku sudah berpesan pada Nania kalau kita akan menghabiskan waktu bersama untuk menebus saat-saat yang telah hilang lima tahun lalu. Aku yakin mereka semua pasti akan mengerti."
"Kau bicara seperti itu pada Nania?" kaget Luri.
__ADS_1
Fedo mengangguk kemudian membuka mata. Posisi mereka yang sedang berbaring miring di atas kap mobil membuat Fedo bisa dengan mudah mendorong Luri hingga membuatnya berbaring telentang di sana. Sambil tersenyum evil, Fedo merangkak naik ke atas tubuh Luri kemudian menyatukan kening mereka.
"Hai istriku yang cantik. Terima kasih ya untuk segala kebahagiaan yang telah kau beri. Dan aku ingin meminta maaf jika dalam perjalanan cinta kita aku pernah menyakiti perasaanmu. Aku tidak sengaja melakukannya" bisik Fedo sambil menggesek-gesekkan ujung hidungnya dengan ujung hidung milik Luri.
"Hai juga suamiku yang tampan. Sama sepertimu, aku juga ingin meminta maaf atas sikapku yang kadang masih kekanakan. Tolong jangan lelah mencintaiku ya," sahut Luri sambil tersenyum.
Setelah itu Fedo dan Luri berciuman, sesuatu yang baru pertama kali mereka lakukan setelah sekian lama saling menahan keinginan. Sungguh, tak pernah mereka sangka kalau ending dari cerita cinta mereka akan berakhir sebahagia sekarang. Usaha, n*fsu, patah hati, kecewa, juga salah saham. Semua itu berhasil mereka lalui berkat kuatnya rasa percaya di antara mereka meski perjalanan yang mereka lalui tidak semulus yang kalian pikir. Biarlah. Biar Tuhan menjadikan kisah mereka dalam bentuk tulisan indah yang bisa dirasakan oleh orang lain juga. Karena pada dasarnya, cinta akan terasa jauh lebih tulus ketika kita mampu menahan diri dari desakan n*fsu yang menyesatkan.
TAMAT.
ASSALAMUALAIKUM
"Halo para bestie.. Bagaimana? Apa kesan kalian setelah mengikuti cerita Luri dan Fedo yang terkemas dalam novel Pesona Si Gadis Desa? Kalian pasti pada kesal kan pada karakter Luri yang terkesan plin-plan dan lemah? Hohoho. Bukan tidak mau membuatkan karakter yang menarik untuk Luri, tapi itu memang sengaja di sesuaikan dengan umur Luri yang masih di bawah dua puluh tahun. Kalian pasti tahu sendiri lah ya gimana watak para remaja seusia Luri?
Oke. Pertama-tama emak mau ngucapin banyak terima kasih untuk kalian semua yang udah setia ngikutin novel ini dari mulai awal meletek sampai akhir penutupan. Jujur, emak merasa sangat terhura dan bahagia banget. Kalian yang terbaik. I lope yu pull 💜💜💜💜💜💜
__ADS_1
ASSALAMUALAIKUM,,