
Setelah acara perayaan di rumahnya selesai, Luri segera masuk ke dalam kamar untuk beristirahat. Sebelum membaringkan tubuhnya ke atas ranjang dia membersihkan diri terlebih dahulu. Luri tersenyum mengingat kegaduhan yang dilakukan oleh Nania saat membalas kejahilan kakak ipar mereka tadi.
"Mungkin nanti setelah aku berangkat ke luar negeri aku akan sangat jarang melihat kenakalan Nania lagi. Hmmm, kenapa jadi tidak rela begini ya," gumam Luri seraya menyisir rambut.
Meski terkadang sering membuat sesak nafas dan sakit kepala, Luri tetaplah sangat menyayangi adik semata wayangnya itu. Nania memang gadis nakal, tapi Nania adalah warna yang sangat berarti di hidup Luri. Kenapa? Karena di balik kenakalan yang Nania lakukan, Nania adalah sosok yang selalu berada di garis paling depan setiap kali ada seseorang yang ingin menyakitinya. Dia adalah pawang dari segala pawang yang memiliki kekuatan tidak terkira.
Mungkin cara Luri mendepskripsikan Nania sedikit berlebihan. Namun itulah yang dia lihat. Dan semua kepedulian tersebut sebentar lagi harus berakhir karena cita-cita mengharuskan mereka untuk berpisah sementara waktu. Jadi siap tidak siap setelah lulus sekolah nanti Luri harus bisa menghadapi semuanya seorang diri tanpa Nania. Dia harus mampu melawan jika ada orang yang ingin membullynya.
"Semoga saja Engkau melancarkan segala urusanku, Tuhan. Aku sangat berharap bisa kembali ke negara ini dengan membawa gelar yang bisa membanggakan Ayah, Ibu, Nania, Kak Lusi dan juga Kak Gleen."
Tepat setelah Luri selesai mengucap doa, ponselnya yang berada di atas nakas berdering. Dia kemudian tersenyum, sudah tahu siapa yang menelpon. Sambil berbaring di ranjang, Luri menerima panggilan tersebut dengan hati yang berbunga-bunga.
"Halo Kak, kau belum tidur?" tanya Luri lembut.
"Aku mana bisa tidur jika belum mendengar suaramu, sayang. Seperti tidak tahu saja kalau aku selalu merindukanmu setiap waktu."
__ADS_1
Andai saja Fedo ada di sini, laki-laki itu pasti akan langsung menggoda Luri begitu melihat pipinya yang memerah. Ya, Luri tersipu malu hanya dengan mendengar kata kalau Fedo merindukannya setiap waktu. Bualan Casanova ini benar-benar tidak ada lawan bukan? Dan sialnya Luri menyukai bualan tersebut.
"Sayang, bagaimana hasil kompetisi hari ini? Aku yakin kau pasti yang menjadi juaranya. Iya kan?"
"Iya, Kak. Aku berhasil mendapatkan nilai tertinggi dari jumlah nilai yang di dapatkan oleh Galang dan satu temanku. Dan nanti setelah lulus sekolah aku dan Galang akan langsung ber ....
Ucapan Luri tiba-tiba terpotong karena dia langsung menutup mulutnya dengan rapat. Hampir saja dia kelepasan bicara. Untung tadi Luri langsung sadar saat dia ingin mengatakan jika dirinya akan berangkat ke luar negeri begitu ujian sekolah selesai dilakukan. Jika tidak, maka bisa di pastikan tengah malam nanti Fedo pasti sudah berada di negara ini.
"Ber apa, sayang? Kenapa kau tidak melanjutkan ucapanmu? Kau dan Galang akan apa, hm? Kalian mau kawin lari ya?"
Luri tergelak mendengar cecaran Fedo yang menuduhnya ingin kawin lari dengan Galang. Setelah itu Luri tertawa terbahak-bahak. Dia bahkan sampai membenamkan wajahnya ke atas bantal agar suara tawanya tidak sampai terdengar keluar.
"Yang menganggap teman itu hanya kau saja, sayang. Aku yakin sekali kalau Galang tidak beranggapan seperti itu padamu. Wajarlah kalau aku sampai berpikiran kau ingin kawin lari dengan Galang. Siapa suruh kau bicara hanya setengah-setengah, aku kan jadi curiga pada kalian berdua. Coba sekarang katakan siapa yang salah, kau atau aku."
"Iya-iya maaf, aku yang salah. Aku salah karena tidak bicara sampai selesai," jawab Luri sambil mengulum senyum. "Maksud ucapanku tadi itu begini, Kak Fedo. Setelah lulus sekolah nanti rencananya aku dan Galang akan melanjutkan pendidikan ke universitas yang sama. Kebetulan juga kami berdua mempunyai cita-cita yang sama, yaitu ingin menjadi dokter. Nah ini yang tadi ingin aku katakan, Kak. Sudah tidak curiga lagi kan?"
__ADS_1
Suasana berubah hening saat Fedo tidak langsung menanggapi penjelasan Luri. Sepertinya pria itu masih belum percaya. Secara, Fedo bukanlah pria bodoh yang mudah untuk di bohongi. Apalagi tadi Luri sempat hampir keceplosan, wajar saja kalau sekarang Fedo bersikap seperti ini. Toh memang benar kalau Luri berkata bohong.
"Kak Fedo, sekalipun aku dan Galang kuliah di universitas yang sama, aku tidak akan pernah tertarik padanya. Oke aku akui kalau Galang itu memiliki karisma yang sangat memukau, itu normal aku rasakan sebagai seorang gadis. Tapi semua itu tidak akan membuat perasaanku terpengaruh karena hati dan cintaku hanya untukmu seorang. Aku menyukaimu, dan sekarang aku sedang berjuang agar aku pantas untuk menjadi pasanganmu. Jadi tolong jangan salah paham pada kedekatan kami ya? Aku benar-benar hanya menyukaimu, Kak. Apalagi sekarang Ayah dan Ibu sudah memberikan restu untuk kita berdua menjalin hubungan, semakin aku bersemangat untuk memperjuangkan hubungan kita. Sudah ya jangan marah-marah. Malam ini adalah malam bahagiaku, jadi kau harus bahagia untukku juga. Oke?" bujuk Luri seraya memberitahu Fedo tentang restu yang di berikan oleh orangtuanya.
"APA??? Jadi Paman Luyan dan Bibi Nita sudah memberikan restu untuk kita berdua? Ini kau tidak sedang bohong kan, sayang? Kau tidak sedang bercanda kan? Ya Tuhan, Ya Tuhan, rejeki macam apa ini? Hahahaha, aku senang sekali mendengarnya. I love you."
Luri terkekeh mendengar Fedo yang sedang berteriak kegirangan dari dalam ponsel. Dia kemudian merubah posisi menjadi tengkurap sambil memangku kepala menggunakan telapak tangan. Luri mengkhayal, membayangkan akan seperti apa kagetnya Fedo jika dia memberitahukan tentang kepergiannya ke luar negeri. Dia mencoba menebak-nebak sikap seperti apa yang akan di ambil oleh pria ini begitu tahu kalau mereka akan berpisah dalam kurun waktu yang cukup lama. Empat tahun. Ya, Luri akan menetap di luar negeri selama empat tahun lamanya. Meskipun begitu, Luri masih belum ingin memberitahukan kabar tersebut untuk sekarang-sekarang ini. Biarlah, dia tidak mau Fedo tahu terlalu cepat.
"Sayang, apa ini artinya kita sudah boleh pacaran terbuka seperti orang-orang? Apa aku sudah boleh memeluk dan menciummu secara terang-terangan? Ah, akhirnya. Aku bahkan belum sempat menyogok Ayah dan Ibumu agar merestui hubungan kita. Siapa yang akan menyangka kalau mereka malah sudah mengizinkan terlebih dahulu. Ini adalah berkah yang sangat besar untuk kemajuan hubungan kita, sayang. Benar tidak?"
"Benar, Kak. Tapi untuk peluk cium aku menyarankan agar kita tidak terlalu mengumbar kemesraan. Ayah dan Ibu memang sudah mengizinkan kita untuk menjalin hubungan, tapi aku masih dengan keputusan yang sama seperti waktu itu. Aku tidak mau berpacaran sebelum aku benar-benar menjadi seorang wanita sukses yang bisa di banggakan oleh semua orang. Aku ingin menjadi seorang dokter, Kak Fedo. Setelah semua itu tercapai, barulah aku akan menerimamu sebagai kekasihku. Apa kau keberatan?" tanya Luri yang tetap konsisten dengan keputusannya.
Hati dan perasaan memang penting, tapi bagi Luri masa depan jauh lebih penting. Apalagi Fedo memiliki status yang tidak biasa, Luri tidak boleh sampai menggampangkan hal tersebut karena bagaimana pun ini akan membawa pengaruh bagi nama baik keluarga Fedo. Dia harus tetap sadar diri tentang siapa dirinya agar nanti tidak membuat malu kedua belah pihak. Namun satu yang pasti, Luri tidak akan melepaskan perasaannya pada Fedo. Dia sangat mencintai pria ini.
"Kalau boleh jujur aku sebenarnya sangat keberatan, sayang. Tapi aku paham, ini adalah caramu menjaga martabat sebagai seorang wanita. Jadi dengan berat hati aku akan menunggu sampai kau benar-benar menjadi seorang dokter kemudian membawamu ke hadapan Ayah dan Ibu. Tidak masalah aku menunggu untuk beberapa tahun lagi. Asalkan bisa bersamamu, aku rela melakukan semuanya. Aku sangat mencintaimu, sayang. Aku akan menjadi orang pertama yang mendukung cita-citamu. Semangat ya."
__ADS_1
Terharu itu sudah pasti. Dukungan yang di berikan oleh Fedo membuat Luri semakin yakin dengan cinta mereka. Mungkin Fedo memang memiliki masa lalu yang kurang baik sebelumnya, tapi semua itu sangat mudah untuk Luri maafkan berkat kesungguhan dan kejujuran pria ini. Luri tentu belum lupa dengan wanita bernama Kanita yang datang memperkenalkan diri sebagai teman ranjangnya Fedo. Namun semua itu bukan lagi masalah bagi Luri karena mulai sekarang Fedo hanya akan mencintainya seorang. Luri hanya akan melepaskan Fedo jika itu sudah menjadi kehendak Tuhan. Tapi jika untuk seorang wanita, Luri tidak akan pernah menyerah karena nama Fedo sudah terlanjur tertulis di dalam rencana masa depannya.
*****