PESONA SI GADIS DESA

PESONA SI GADIS DESA
(FELUR) ~ Hukuman Manis


__ADS_3

Fedo baru sampai di rumah ketika jam menunjukkan pukul sebelas malam. Dia kemudian bergegas masuk ke dalam kamar untuk menelpon Luri, satu kebiasaan yang selalu Fedo lalukan semenjak mengenal gadis desa itu.


"Kenapa lama sekali? Pergi kemana dia? Apa jangan-jangan sudah tidur ya?" gumam Fedo ketika Luri tak kunjung menjawab panggilan darinya.


Sembari menunggu Luri menjawab, Fedo melepas dasi di lehernya kemudian membuka sepatu. Dia kemudian duduk di sofa, sedikit menyender untuk mengistirahatkan punggungnya yang terasa pegal setelah seharian berkutat dengan berkas-berkas yang tiada habisnya.


"Halo, Kak. Ada apa?"


Fedo yang baru akan tersenyum karena Luri menjawab panggilannya, mendadak tak jadi dia lakukan begitu mendengar nada suaranya yang begitu dingin. Ini aneh, tidak biasanya Luri bersikap seperti ini ketika Fedo menelpon. Sepertinya ada yang tidak beres.


"Sayang, kenapa nada suaramu terdengar sangat dingin? Kenapa? Apa ada sesuatu yang mengganggumu pikiranmu?" tanya Fedo beruntun.


"Tidak ada apa-apa, Kak. Aku tadi tak sengaja tertidur, jadi sekarang kepalaku pusing karena kaget mendengar dering ponsel," jawab Luri dari seberang telepon.


Lagi. Fedo lagi-lagi di buat heran oleh sikap dingin Luri. Jika biasanya gadis ini akan selalu bertanya apakah dia sudah makan malam atau belum, sekarang sedang apa, sekarang semua itu tak di dengar oleh Fedo. Hal ini tentu saja membuat Fedo menjadi tak nyaman. Dia takut Luri telah mendapat hasutan dari seseorang yang ingin menghancurkan hubungan mereka. Fedo kemudian mengingat-ingat apakah dia ada melakukan kesalahan atau tidak. Jikapun ada, maka Fedo akan langsung menjelaskan dan juga meminta maaf padanya. Dia sangat amat tidak suka dengan keadaan mereka sekarang. Bicara, tapi terkesan seperti orang asing. Sangat tidak menyenangkan.


Hari ini aku tidak melakukan sesuatu yang salah pada Luri, tapi kenapa sikapnya jadi berbeda begini? Apa jangan-jangan Galang yang telah menghasutnya? Ah, itu tidak mungkin. Luri bukan gadis yang seperti itu, dia mencintaiku, batin Fedo bermonolog dengan dirinya sendiri.


"Em, sayang. Tumben sekali kau tidak menanyakan apakah aku sudah makan malam atau belum? Ada apa sih? Sepertinya kau sedang dalam situasi hati yang tidak baik. Kenapa? Apa yang terjadi?" tanya Fedo mencoba memancing Luri agar mau bicara.


"Oh, maaf Kak aku lupa. Aku masih mengantuk, jadi lupa untuk bertanya seperti itu padamu."

__ADS_1


"Ya sudah tidak apa-apa. Aku mengerti," sahut Fedo sambil menghela nafas. Jujur, dia sedikit kecewa sekarang. Tapi ya sudahlah, mungkin Luri memang benar-benar sedang mengantuk. Fedo harus bisa mengerti itu.


"Kak Fedo, boleh aku bertanya sesuatu padamu?"


Sebelah alis Fedo terangkat ke atas. Ini baru gadisnya.


"Memangnya kau ingin bertanya tentang apa, sayang?" tanya Fedo sambil memejamkan mata.


"Apa kau benar-benar mencintaiku? Jika iya, maka kau harus bisa melepaskan aku suatu saat nanti."


Jantung Fedo hampir saja terlempar keluar begitu mendengar pertanyaan Luri. Sungguh, dia sangat tidak menyangka kalau Luri akan berkata seperti ini padanya. Aneh sekali.


"Sayang, apa maksudmu bicara seperti ini, hm? Kau harusnya tahu kalau aku tidak akan ada pernah melepaskanmu apapun yang terjadi!" sahut Fedo panik. Matanya sampai terbelalak lebar saking kagetnya dia akan pertanyaan tersebut. "Jujur padaku. Sebenarnya apa yang terjadi sampai kau membahas tentang hal seperti ini denganku. Bukankah tadi siang kita masih baik-baik saja ya?"


"Luri, kalau kau masih tetap bungkam, percaya tidak kalau malam ini aku akan langsung pergi menemuimu ke Shanghai. Tolong kau jangan seperti ini, sayang. Bicaralah dengan jelas supaya aku tidak kepanikan seperti sekarang. Aku mencintaimu, dan kita sudah pernah berjanji untuk saling jujur. Kau tidak lupa itu 'kan?" tanya Fedo sambil mengacak-acak rambutnya.


"Hehehe, maafkan aku Kak Fedo. Tadi itu aku hanya ingin mengerjaimu saja. Aku tidak bisa tidur karena terus memikirkanmu, dan begitu kau menelpon aku langsung terpikir untuk menjahilimu. Jangan marah. Ya?"


Untuk beberapa detik otak Fedo seakan bleng setelah tahu kalau dia sedang di kerjai oleh Luri. Lalu setelahnya Fedo menarik nafas kuat-kuat kemudian menghembuskannya perlahan. Sungguh, jantungnya sudah hampir berhenti berdetak dan dengan polosnya Luri mengatakan kalau dia sedang bercanda. Benar-benar ya gadis desa ini. Membuat orang panik saja.


"Kak Fedo, kau marah ya? Maaf, aku tidak sengaja menjahilimu tadi. Jangan marah ya?"

__ADS_1


"Astaga, sayang. Kau tahu tidak kalau tadi aku hampir berhenti bernafas gara-gara mendengar perkataanmu yang gila itu?" sahut Fedo sembari mengusap wajah. "Aku tidak marah, tapi tolong jangan pernah mengucapkan kata-kata seperti itu lagi padaku. Kau tahu bukan kalau aku sangat tidak mau berpisah denganmu? Itu mengerikan dan aku tidak mau mendengar kau menyebut kata melepaskan lagi. Paham?"


Kedua sudut bibir Fedo tertarik ke atas saat dia mendengar Luri yang terus meminta maaf dan berkata menyesal sudah mengerjainya. Sayang mereka jauh. Jika dekat, Fedo pasti akan langsung memberikan hukuman pada gadis ini. Dan tentu saja dengan hukuman yang manis-manis, bukan dengan hukuman kejam seperti yang sedang kalian bayangkan. Hehe.


"Oh ya, Kak Fedo. Jam berapa kau akan berangkat ke Shanghai? Jangan lupa berpenampilan setampan mungkin ya supaya aku terus teringat padamu. Oke?"


"Hei hei hei. Ada apa ini. Kenapa kau jadi genit begini, sayang? Dan sejak kapan kau peduli apakah aku akan terlihat tampan atau tidak? Hmmm, aku jadi curiga. Jangan-jangan tadi itu kau sedang membayangkan yang bukan-bukan tentangku ya? Makanya kau tiba-tiba ingin aku berdandan setampan mungkin sebelum pergi menemuimu. Ada apa, hm? Apa kau begitu merindukan aku?" tanya Fedo sambil meng*lum senyum. Perasannya begitu membuncah mendengar permintaan Luri yang sedikit tidak biasa ini.


"Aku hanya ingin merekam wajah tampanmu sebanyak mungkin di dalam pikiranku, Kak. Selama kita dekat kan aku tidak pernah meminta hal seperti ini padamu. Anggaplah ini sebagai penyemangatku sebelum menjalani hari sebagai seorang mahasiswa. Kenapa? Apa kau merasa keberatan dengan permintaanku, Kak?"


"Ohoo, tentu saja tidak, sayang. Baiklah, seperti yang tuan putri inginkan. Besok pagi aku akan datang dengan penampilan paling tampan yang pernah aku miliki. Tapi tidak adil rasanya kalau hanya aku yang berpenampilan seperti itu. Bagaimana kalau kau juga berdandan secantik mungkin untuk menyambut kedatanganku? Setelah itu nanti aku akan mengajakmu pergi ke pantai yang malam itu menjadi saksi hubungan pertama kita. Mau kan?" jawab Fedo mencoba menawar. Dia senyum-senyum sendiri membayangkan pertemuan mereka besok.


"Terserah kau saja, Kak. Yang penting besok pagi kau harus berpenampilan serapi mungkin. Oh satu lagi. Jangan lupa kirimkan foto Kakak padaku supaya aku bisa menyesuaikan pakaian apa yang akan aku kenakan nanti. Biar serasi."


Dunia Fedo seakan di jungkirbalikkan oleh Luri karena dia menginginkan keserasian mereka dalam berpakaian. Sungguh, malam ini Fedo benar-benar sangat bahagia. Dan kebahagiaan ini terlalu sulit jika hanya di gambarkan dengan kata-kata.


"Kak, ini sudah semakin malam dan mataku mulai mengantuk. Kita sudahi panggilan ini ya? Kerinduanku sudah reda karena sudah mendengar suaramu. Bisakah?"


Meski sedikit tidak rela, Fedo mau tidak mau akhirnya setuju untuk menyudahi obrolannya dengan Luri. Tak lupa dia menutup panggilan dengan sebuah kecupan mesra yang mana di balas Luri dengan satu kecupan yang selama ini belum pernah Fedo dengar.


"Kenapa malam ini Luri sedikit berbeda ya? Apa benar itu hanya karena dia yang terlalu merindukan aku? Aakhh, masa bodo. Yang penting besok aku dan dia bertemu. Hehehehe," gumam Fedo sambil tersenyum lebar.

__ADS_1


***


__ADS_2