PESONA SI GADIS DESA

PESONA SI GADIS DESA
(FELUR) ~ Berduel Di Ranjang


__ADS_3

📢 JANGAN LUPA BOM KOMENTARNYA BESTIE💜


Kayo dan Fedo berjalan sambil melihat-lihat toko baju yang berjejer di sebuah gedung pusat perbelanjaan yang sedang mereka datangi. Sesekali mereka juga terlihat memasuki salah satu toko tersebut lalu keluar dengan tangan kosong.


"Astaga, Kak. Apa kau berniat mengajakku mengelilingi semua toko baju yang ada di tempat ini. Lihat, betisku sudah membengkak sekarang!" protes Kayo yang memang sudah sangat lelah menemani langkah sang kakak. Kakinya sudah kram sejak tadi.


"Sabar dulu lah, Kay. Aku masih belum menemukan pakaian yang cocok untuk kupakai ke pesta nanti," sahut Fedo yang malah dengan tengilnya melirik ke arah betis adiknya. Dia terkekeh. "Kira-kira kalau betismu membengkak sampai sebesar pohon kepala, Jackson masih mau menikah denganmu tidak ya?"


Kalau saja yang mengejek Kayo bukan saudara kandungnya sendiri, orang ini pasti akan berakhir babak belur di tangannya. Kayo sungguh bingung sebenarnya pakaian jenis apa yang sedang di cari oleh kakaknya ini. Sudah hampir tiga jam mereka berkeliling, tapi masih saja belum menemukan apa yang sang kakak inginkan. Lama-lama Kayo jadi merasa seperti sedang menemani wanita berbelanja. Karena sudah tidak umum lagi untuk ukuran pria menghabiskan waktu selama ini hanya untuk mencari sebuah pakaian pesta. Sangat menyebalkan.


"Kak, bukankah kau hanya ingin membeli sepasang pakaian dengan warna senada yang akan di pakai olehmu dan juga oleh Luri besok?" tanya Kayo seraya menarik nafas panjang ketika sang kakak kembali menariknya pergi menuju toko baju yang lain.


"Iya. Ish, kau ini kenapa cerewet sekali sih, Kay. Sudah, lebih baik sekarang kau bantu aku memilih pakaian lagi. Aku sudah lelah karena terus berkeliling sejak tadi," jawab Fedo dengan santainya.


"Oh, jadi kau pikir sejak tadi aku tidak lelah, begitu? Hah, sulit di percaya."


Fedo kembali terkekeh mendengar adiknya tidak berhenti mengomel. Setelah itu dia mengajaknya masuk ke sebuah toko baju yang kebetulan memajang setelan baju dengan warna serupa di tubuh manekin. Ya, Fedo tertarik untuk mencoba baju tersebut.


"Nona, aku ingin mencoba baju yang ada di manekin itu," ucap Fedo seraya mengedipkan mata pada pelayan toko.


"Baik, Tuan. Mohon tunggu sebentar."

__ADS_1


Fedo mengangguk. Dia kemudian meringis ketika pinggangnya di cubit dengan sangat kuat oleh Kayo. Fedo menoleh, dia mengerutkan kening melihat sang adik yang tengah memelototkan matanya dengan begitu galak.


"Kenapa menatapku seperti itu, Kay? Aku tahu kok kalau aku ini tampan dan mempesona," tanya Fedo sambil mengelus-elus bekas cubitan di pinggangnya.


"Bukankah sebelum berangkat ke sini kau mengaku di hadapan Ibu kalau sekarang kau sudah tobat dari dunia perbuayaan? Lalu apa yang barusan kau lakukan pada pelayan toko ini, Kak? Tolonglah, konsisten sedikit dengan kata-katamu itu. Menyebalkan sekali sih!" jawab Kayo tak habis pikir dengan tingkah genit sang kakak yang dengan gilanya main mata dengan pelayan toko.


"Aku memang sudah tobat, Kay. Sungguh."


"Lalu yang tadi itu apa? Kau pikir aku tidak melihatnya apa, Kak?"


"Hehe, tadi itu aku hanya sedang cuci mata saja, Kay. Meski sudah tobat, aku tetaplah pria normal yang suka jika melihat wanita cantik. Dan tolong di garis bawahi, hanya suka, bukan tertarik untuk mengajaknya berduel di ranjang. Coba kau lihat, wajah pelayan tadi sangatlah manis. Membuatku jadi tidak tahan untuk tidak menggodanya."


"Nah, Kay. Sekarang coba kau pakai gaun ini. Ukuran tubuhmu dan juga ukuran tubuh Luri sepertinya tidak jauh beda. Kalau gaun ini pas di tubuhmu, maka artinya Luri bisa mengenakannya nanti," ucap Fedo sembari menarik adiknya menuju ke ruang ganti.


Dengan patuh Kayo menuruti keinginan sang kakak. Dia masuk ke dalam ruang ganti dengan membawa satu buah gaun berwarna hitam yang memiliki belahan lumayan tinggi di bagian paha. Sebelum memakainya, Kayo sedikit mengira-ngira apakah nantinya Luri akan bersedia untuk memakai gaun terbuka seperti ini atau tidak. Karena dari yang Kayo tahu, Luri amatlah menjaga hargi dirinya dengan selalu berpakaian sopan dan sederhana.


Kalau Luri tidak mau memakai gaun ini bagaimana ya? Kak Fedo pasti akan sangat kecewa nanti. Apa aku ganti saja gaun ini dengan model lain yang sedikit lebih sopan supaya Luri tidak merasa terbebani. Astaga, Kak Fedo. Kau yang sedang jatuh cinta kenapa harus aku yang sakit kepala sih, keluh Kayo di dalam hati.


Sementara itu di ruang ganti baju yang lain, Fedo terlihat begitu antusias saat mencoba setelan jas berwarna hitam miliknya. Dia terus saja tersenyum sambil membayangkan betapa Luri akan terlihat sangat cantik dan elegan ketika mengenakan gaun yang sudah di pilihnya tadi. Fedo yakin sekali kalau pesona gadis desa itu pasti akan mengalahkan kecantikan mempelai wanita, si Levita Foster. Membayangkan kebahagiaan tersebut membuat Fedo jadi tidak sabar ingin segera berangkat ke Shanghai saat ini juga.


"Wajah Luri yang teduh dan juga cantik itu pasti akan terlihat sangat seksi jika di padupadankan dengan longdress hitam yang tadi aku pilih. Aku berani jamin kalau semua orang yang ada di sana akan langsung terpana begitu melihat kedatangan kami berdua nanti," ujar Fedo dengan begitu percaya diri.

__ADS_1


Fedo melangkah keluar dari dalam ruang ganti kemudian berjalan menuju ruangan di mana Kayo berada. Dan di saat yang bersamaan adiknya sudah lebih dulu keluar dari ruangan tersebut sebelum sempat Fedo memanggilnya.


"Wow, sempurna!" puji Fedo seraya bertepuk tangan.


"Kak, apa kau yakin akan meminta Luri untuk memakai gaun seperti ini? Lihat, model gaun ini sangat terbuka. Belahan di bagian paha terlalu tinggi, sementara yang di bagian dada cukup rendah," tanya Kayo sambil menunjuk bagian-bagian berbahaya yang tadi dia sebut. "Luri itu bukan gadis yang suka mengumbar bagian tubuhnya. Aku khawatir dia merasa terbebani jika diminta untuk memakai gaun seperti ini, Kak."


"Hmm, kau benar juga ya, Kay. Tapi aku sudah terlanjur berfantasi membayangkan betapa cantiknya Luri saat memakai gaun ini nanti. Bagaimana ya?" sahut Fedo bimbang.


"Begini saja, Kak. Kita cari gaun yang modelnya sama tapi tidak ada belahan di bagian dada dan juga pahanya. Aku yakin Luri pasti bersedia untuk memakainya nanti."


Fedo terdiam sejenak. Dia lalu memandang tak rela ke arah gaun hitam yang sedang di pakai oleh adiknya. Sebenarnya Fedo sangat tidak rela untuk menukar gaun tersebut. Akan tetapi dia juga tidak mungkin membuat Luri merasa tidak nyaman jika memakai gaun terbuka seperti ini. Fedo sadar kalau gadisnya itu sangat sederhana, jadi mau tidak mau Fedo harus mau untuk mengganti gaun tersebut dengan model gaun yang lain.


"Jangan sedihlah, Kak. Sebagai kekasih yang baik hati harusnya kau bisa menjaga harga diri wanitamu dengan tidak membiarkannya memakai pakaian seperti ini di hadapan orang-orang," ucap Kayo paham akan ketidarelaan di diri sang kakak.


"Hmmmm, ya sudah kau tukar saja dengan gaun yang lain, Kay. Walaupun tidak rela aku harus tetap menukarnya demi menjaga nama baik Luri," sahut Fedo pasrah.


Kayo merasa sangat tergelitik melihat raut kecewa di wajah sang kakak. Setelah itu Kayo meminta pelayan toko untuk membawakan gaun terbaik dimana memiliki warna dan juga model yang sama dengan gaun yang sedang di pakainya.


Haih, beginilah jika mempunyai kakak seorang Casanova. Segala sesuatunya harus di ukur dengan kecantikan dan juga keseksian. Tapi untunglah Kak Fedo masih mau mendengar saran dariku. Karena jika tidak, besok dia pasti akan sangat kecewa ketika Luri menolak untuk memakai gaun ini. Hmmm, ujar Kayo membatin.


*****

__ADS_1


__ADS_2