PESONA SI GADIS DESA

PESONA SI GADIS DESA
(FELUR) ~ Menjadi Buah Bibir


__ADS_3

"Nania, kau sedang apa?" tanya Jovan sambil berjalan cepat ke arah Nania yang sedang duduk sendirian di bawah pohon.


Tak langsung menjawab, Nania malah melihat ke arah lain saat Jovan duduk di sebelahnya. Hari ini moodnya sedang tidak baik, di karenakan banyaknya tugas yang harus dia selesaikan sepulang sekolah nanti.


"Hei, aku sedang bertanya padamu. Apa yang sedang kau lakukan di sini?" tanya Jovan lagi.


"Bernafas," jawab Nania sekenanya.


Jovan tergelak. Baru juga datang dia sudah di bungkam dengan kata-kata cetus Nania. Entahlah, sejak Jovan membela Nania di depan Galang, tiba-tiba saja perasaannya menjadi aneh. Jovan jadi memikirkan Nania terus, bahkan pagi tadi dia kembali menunggu di depan pos satpam dengan alasan ingin menunggu kedatangan Luri. Padahal yang sebenarnya sedang dia tunggu adalah gadis beracun ini. Tapi ya sudahlah ya, Jovan terlalu gengsi untuk mengakui itu semua. Dan di sinilah dia sekarang, duduk di samping Nania yang terlihat seperti sedang tidak bersemangat.


"Kau kenapa, Nania. Tidak biasanya kau lesu begini."


"Kenapa kau cerewet sekali sih, Kak. Mau aku lesu atau tidak memang apa urusannya denganmu?" omel Nania mulai kesal saat Jovan tak berhenti bertanya sejak tadi.


"Ya tidak ada urusannya denganku sih. Aku hanya merasa heran karena biasanya kan kau sangat aktif seperti belatung. Wajarlah kalau aku bertanya seperti itu padamu," sahut Jovan santai. Dia kemudian merentangkan tangannya ke belakang punggung Nania.


Aku rasa otakku sudah tidak waras. Bisa-bisanya aku mengarahkan tangan seperti ingin memeluk Nania. Aku ini sebenarnya kenapa sih? batin Jovan berargumen sendiri.


"Kak Jovan, tumben sekali kau tidak membuntuti kakakku dan Kak Galang. Sudah menyerah untuk mendekati Kak Luri ya?" tanya Nania iseng. Dia lalu menatap jahil ke arah Jovan.


"Menyerah sih tidak, aku hanya sedang malas berurusan dengan Galang. Lebih baik aku di sini saja menemanimu. Kau terlihat sedang depresi sekarang," jawab Jovan berkilah.


Lain di mulut, lain juga di dalam hati. Untung saja Nania masih sangat polos, jadi Jovan bisa sedikit tenang karena gadis ini tidak menyadari kalau dirinya sedang melakukan pendekatan. Saat Jovan sedang tersesat dengan pikirannya sendiri, dia tidak sengaja melihat luka memar di lengan Nania. Sontak saja hal itu membuatnya sangat kaget. Dia tanpa sadar memegang tangan Nania kemudian menarik seragamnya ke atas.


Plaakkk


"Yakkkk Kak Jovan, apa-apaan kau? Dasar cabul!" teriak Nania kaget setelah menggeplak kepala Jovan dengan sangat kuat.


"Awww, kenapa kau memukul kepalaku, Nania. Sakit tahu!" teriak Jovan sambil mengaduh kesakitan.


"Kau itu yang kenapa, Kak. Beraninya kau menyentuh tanpa seizinku. Lepas tidak!"


Nafas Nania naik-turun saking kesalnya dia atas kelakuan Jovan. Bisa-bisanya kakak kelasnya ini bersikap cabul ketika mereka sedang berada di sekolah. Sungguh, Nania tidak menyangka kalau Jovan adalah seorang predator. Dia harus menjauhkan laki-laki ini dari samping kakaknya.

__ADS_1


Lebih baik aku dukung Kak Galang saja yang mendekati Kak Luri. Kak Jovan sangat berbahaya, aku takut dia akan menyakiti Kak Luri menggunakan belut listriknya. Hiii, mengerikan. Batin Nania resah.


"Yak Nania, buang pikiran kotormu jauh-jauh. Aku menyentuh tanganmu bukan karena aku ingin berbuat m*sum. Sembarangan!" protes Jovan yang menyadari arti tatapan mata Nania.


"Lalu apa kalau bukan m*sum? Ingin jadi tukang pijit, iya?" sahut Nania seraya menatap sengit ke arah kakak kelasnya.


"Aku ingin memeriksa tanganmu, bodoh. Lihat, ada lebam di sini!" ucap Jovan kemudian menekan kuat bekas keunguan yang ada di lengan gadis ini. Kesal juga dia karena di fitnah ingin berbuat m*sum.


Padahal kan Jovan sedang khawatir. Benar-benar menyebalkan.


Nania meringis menahan sakit saat luka di lengannya di tekan dengan cukup kuat oleh Jovan. Sekarang barulah dia ingat dengan luka yang dia dapatkan ketika sedang belajar bela diri kemarin sore.


"Masih ingin menuduhku yang tidak-tidak, hm?" sindir Jovan sambil melipat tangan di dada. Kasihan juga dia melihat Nania yang terlihat kesakitan.


"Hehe, iya-iya maaf. Begitu saja langsung marah. Dasar tukang merajuk," jawab Nania santai.


"Wajarlah kalau aku marah. Secara, kau memfitnahku dengan sesuatu yang sangat sensitif. Apa kata siswa-siswi lain jika mereka sampai mendengar teriakanmu tadi? Mereka pasti akan berpikiran buruk terhadapku."


"Apa kau lihat-lihat!" hardik Jovan setengah jengkel.


"Kenapa memangnya? Mata-mataku, kenapa kau sibuk?" sahut Nania tak kalah jengkel.


"Huhhff, bicara denganmu memang harus ektra sabar, Nania. Dasar tidak peka."


"Hei, kau ini sebenarnya kenapa si, Kak. Tadi menarik tanganku tiba-tiba, sekarang malah mengomel tidak jelas. Kau sedang datang bulan ya?"


Jovan menelan ludah. Bukan karena ucapan Nania, melainkan karena Galang dan Luri yang sedang tersenyum sambil menunjuk-nunjuk ke arahnya. Sialan, jangan-jangan Galang membocorkan pada Luri tentang percakapan mereka semalam. Jika iya, bisa gawat semuanya. Jovan mana mungkin mau mengakui kalau hatinya sedikit oleng pada Nania. Dia malu.


"Kak Jovan, kau punya es krim tidak? Aku butuh sesuatu yang menyegarkan untuk menjinakkan otakku yang sedang panas," tanya Nania lesu. Moodnya benar-benar sangat buruk sekarang.


"Kau pikir aku ini bandar es krim apa? Kalau kau mau, kau bisa membelinya di kantin. Kenapa malah bertanya padaku!" sahut Jovan ketar-ketir saat Galang dan Luri masih belum pergi dari sana.


"Iissshhh, jahat sekali. Biasanya kan Kak Jovan yang membelikannya untukku. Tolong lakukan hal itu untukku ya, Kak. Aku malas berjalan, kakiku sedang tidak bisa di ajak kerjasama. Tolonglah, Kak. Ya?" bujuk Nania sembari menggosok-gosokkan kedua tangan di depan wajahnya Jovan.

__ADS_1


Untuk beberapa saat pikiran Jovan seperti melayang. Nania terlihat sangat manis ketika sedang seperti ini. Dia baru tersadar saat Nania memukul pipinya pelan.


"Kalau tidak mau ya bilang saja sih, Kak. Tidak perlu lah memasang wajah bodoh seperti tadi. Membuat orang kasihan saja," celetuk Nania.


"Siapa bilang aku tidak mau? Ayo, aku akan membelikan es krim sebanyak yang kau mau dengan syarat kita bersama-sama pergi ke kantin. Aku tidak mau menjadi bahan gosip siswa-siswi lain jika mereka sampai melihatku yang membeli banyak es krim kemudian membawanya kemari. Mau tidak?" tawar Jovan kemudian berdiri.


Sebelah alis Nania terangkat ke atas saat Jovan tiba-tiba mengulurkan tangan padanya. Ingin menolak, tapi dia sangat tergiur dengan tawaran Jovan yang akan membelikan banyak es krim untuknya. Mau menerima, tapi Nania merasa geli jika harus bergandengan tangan. Seperti sedang menyebrang jalan saja, begitu pikirnya.


"Aku hitung sampai tiga. Satu... tiga!"


"Heh, kau bisa menghitung tidak sih, Kak? Di mana-mana sesudah angka satu itu angka dua, bukan tiga. Bagaimana sih!" protes Nania kemudian menyambut uluran tangan Jovan. Dia patuh-patuh saja saat kakak kelasnya ini menariknya ke arah kantin.


Dalam waktu singkat Nania dan Jovan langsung menjadi buah bibir di seantero sekolah. Para siswa saling berbisik penasaran tentang hubungan mereka berdua. Sedangkan Jovan dan Nania, mereka terlihat biasa-biasa saja meskipun tahu kalau sedang menjadi gosip panas di sekolah.


"Nania, tumben sekali kau tidak kesurupan saat di bicarakan oleh orang lain," tanya Jovan setelah sampai di kantin. Dia lalu memanggil pemilik kantin untuk memesan es krim yang di inginkan oleh gadis ini.


"Aku sedang menghemat tenaga dalamku, Kak. Juga karena aku sedang tidak mood baku hantam dengan mereka. Untuk sekarang sih mereka selamat. Tapi jika besok mulut mereka masih cuap-cuap, maka aku akan memberi mereka obat hangat agar tidak bicara macam-macam lagi," jawab Nania malas-malasan.


"Oh, begitu ya. Idemu keren juga," ucap Jovan. "Ngomong-ngomong tadi itu luka bekas apa, Nania? Kau di bully ya?"


"Di sekolah ini memangnya siapa yang berani membullyku, Kak? Luka ini aku dapatkan dari hasil latihan fisik kemarin sore, bukan karena ada yang menindasku. Yang benar saja kalau mau bicara."


"Yeeee, aku kan hanya menebak saja. Jangan sewotlah."


Nania tak lagi membalas ucapan Jovan. Dia lebih memilih untuk menempelkan kepala di atas meja dengan kedua tangannya yang menjadi bantalan. Hari ini sangat tidak baik, Nania seperti orang yang kehilangan semangat hidup. Dia lemah, letih, lesu, dan juga lunglai. Bahkan mungkin jika saat ini ada angin topan datang, tubuh Nania pasti akan terbawa terbang saking lesunya dia.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


...πŸ’œJangan lupa vote, like dan comment pasangan felur kita ya gengss...


...πŸ’œIg: rifani_nini...


...πŸ’œFb: Rifani...

__ADS_1


__ADS_2