
Mood Fedo benar-benar buruk sekembalinya dia dari restoran bersama dengan keluarganya. Kemunculan Kanita dan ibunya membuat amarah Fedo naik ke puncak kepala. Sungguh, Fedo benar-benar tidak mengerti mengapa dulu dia bisa sampai meniduri wanita tidak tahu malu itu. Sepertinya ucapan adiknya memang benar kalau malam itu matanya sudah buta hingga tidak bisa membedakan mana wanita yang bisa membawa kenikmatan dan mana wanita yang hanya memberinya kesengsaraan. Fedo benar-benar merasa sangat sial setelah memiliki hubungan satu malam dengan Kanita.
"Huh, sampai kapan nenek gayung itu akan terus menggangguku! Benar-benar sangat menjengkelkan!" geram Fedo sembari membuka ikatan dasi di lehernya.
Saat Fedo hendak masuk ke dalam kamar mandi, pintu kamarnya diketuk dari luar. Dia dengan malas melangkah menuju pintu kemudian membukanya.
"Kau baik-baik saja?" tanya Abigail seraya memperhatikan wajah putranya yang terlihat sedikit kacau.
"Aku tidak apa-apa, Bu. Hanya sedikit kesal saja," jawab Fedo kemudian mengajak ibunya masuk ke dalam kamar.
Dengan manja Fedo berbaring di pangkuan sang ibu setelah mereka duduk di sofa. Dia lalu memejamkan mata saat kepalanya di belai penuh sayang oleh wanita paling berharga di dalam hidupnya.
"Jangan terlalu kasar pada wanita, Fed. Ibu tahu kau kesal pada Kanita dan ibunya, tapi perlakuanmu pada mereka membuat Ibu merasa sedikit tidak senang," ucap Abigail menasehati putranya.
"Maafkan aku, Bu. Entah mengapa aku selalu hilang kendali setiap bertemu dengan Kanita. Di tambah lagi setelah melihat Nyonya Mili yang ingin merendahkan Ibu dan juga Kayo. Siapalah yang tidak akan marah jika wanita yang di sayanginya di hina oleh orang lain. Begitu pula aku!" sahut Fedo.
Abigail tersenyum. Dia bukannya tidak bisa memahami alasan kenapa Fedo bisa bersikap kasar pada Kanita dan juga ibunya, tapi Abigail tetap tidak bisa membenarkan sikap tersebut. Ini sangat bertolak belakang dengan masa lalunya yang pernah mendapat perlakuan begitu buruk dari para pria yang telah menghancurkan hidupnya dan juga hidup mendiang ibunya. Meskipun sakit di hina, bagi Abigail rasanya akan jauh lebih sakit jika melihat anak ataupun suaminya bersikap kasar pada wanita lain. Itu membuat emosinya sedikit tersulut.
"Fed, apapun alasanmu Ibu bisa memahaminya dengan baik, tapi tetap saja Ibu tidak akan pernah membelamu. Coba lihat betapa sabarnya Ayahmu saat di restoran tadi. Ayahmu begitu tenang dan tidak terprovokasi oleh ucapan ibunya Kanita. Kau harus banyak belajar dari Ayahmu."
Mata Fedo terbuka setelah mendengar ucapan ibunya. Setelah itu dia mendongak sembari menyeringai kecil.
"Ibu yakin Ayah sama sekali tidak terprovokasi?" tanya Fedo penuh maksud.
"Bukannya memang seperti itu ya? Ayahmu bahkan tidak mengucap sepatah katapun saat Nyonya Mili menunjuk wajah adikmu," jawab Abigail bingung.
"Ibu-Ibu, sebenarnya Ibu ini sudah berapa tahun sih menjadi istrinya seorang Mattheo Eiji? Apa Ibu masih belum paham juga kalau di balik sikap mesum dan konyolnya, Ayah itu menyimpan emosi yang cukup mengerikan. Ayah memilih diam itu bukan karena dia tenang, melainkan karena dia sedang menahan emosi. Ayah begitu mencintai Ibu, dia pasti akan lebih mementingkan ketidaksukaan Ibu terhadap laki-laki yang suka bersikap kasar ketimbang emosinya sendiri. Aku bahkan bisa merasakan dengan jelas betapa gelapnya tatapan Ayah ketika menatap Nyonya Mili yang mulai menunjukkan jari ke arah Kayo. Seorang Mattheo Eiji tidak pernah setenang seperti yang Ibu katakan barusan!" ucap Fedo.
Setelah berkata seperti itu Fedo langsung mengambil ponsel di atas meja. Dia lalu menghubungi seseorang sembari menatap wajah ibunya yang terlihat begitu tenang, khas seorang Chelsea Xia, putri bangsawan yang tidak di akui.
"Apa yang sedang dilakukan oleh Ayahku?" tanya Fedo begitu panggilan tersambung.
"Tuan Mattheo saat ini tengah berada di perusahaan milik Tuan Dominic, Tuan Muda. Beliau baru saja tiba beberapa menit yang lalu."
Abigail langsung tersenyum begitu tahu dimana suaminya berada. Ya, setelah mereka kembali dari restoran, Mattheo memang meminta izin untuk pergi keluar. Namun hendak pergi kemana dan menemui siapa Abigail tidak tahu menahu. Dan dia sama sekali tidak menduga kalau suaminya itu akan pergi memberi peringatan pada Tuan Dominic yang notabenenya adalah ayah Kanita dan suami dari Nyonya Mili. Jujur saja sekarang ini Abigail tengah merasa terkesima dengan tindakan suaminya yang mampu menahan diri sebelum meluapkan emosi di tempat yang tepat.
"Ya sudah kalau begitu kalian awasi saja dari jauh. Pastikan juga Ayahku pulang dengan selamat!"
"Baik, Tuan Muda!"
__ADS_1
"See?? Yang aku pikirkan benar bukan kalau Ayah itu tidak setenang yang Ibu katakan. Seorang Mattheo Eiji yang begitu buta cinta pada istrinya mana mungkin diam saja jika ada seseorang yang berani mengusiknya. Aku bahkan berani bertaruh kalau Ayah lebih rela menjadi gelandangan daripada harus kehilangan Ibu. Ck, benar-benar tingkat kebucinan yang tidak ada obat!" ledek Fedo kemudian duduk di sebelah sang ibu.
"Jangan mengolok Ayahmu seperti itu, Fed. Begitu-begitu dia adalah kepala ganak yang membuatmu bisa terlahir ke dunia ini," sahut Abigail.
"Hehehe, aku terkadang bermimpi ingin menjadi seperti Ayah jika sudah menikah, Bu. Aku ingin menjadi gila ketika jatuh cinta pada istriku," ucap Fedo berandai-andai.
Satu pukulan melayang di bahu Fedo begitu dia selesai bicara. Abigail yang mendengar keinginan putranya pun hanya bisa menggelengkan kepala. Bisa-bisanya kelakuan sesat suaminya ingin di contoh oleh Fedo. Yang benar saja.
"Kenapa memukulku sih, Bu. Aku serius ingin mencintai istriku seperti Ayah yang sangat mencintai Ibu. Memangnya ada yang salah ya dengan semua itu?"
"Sama sekali tidak ada yang salah, Fed. Tapi kalau kau ingin mengikuti cara sesat Ayahmu dalam mencintai Ibu, maaf, Ibu tidak setuju. Bukannya apa, Ibu hanya merasa kasihan pada nasib istrimu nanti. Dia pasti akan mati muda jika mempunyai suami dan ayah mertua yang sama-sama mengidap kelainan mental!" jawab Abigail sambil menahan tawa. "Jadilah dirimu sendiri, dan cintailah istrimu dengan caramu sendiri. Ingat Fed, hati dan perasaan seseorang tidak mungkin sama. Begitu pula dengan Ibu dan calon istrimu kelak. Mungkin Ibu bisa menerima dengan lapang dada semua kegilaan yang Ayahmu lakukan, tapi itu semua belum tentu bisa di terima oleh istrimu. Jadi Ibu sarankan kau sebaiknya menjadi dirimu sendiri. Paham?"
Bukannya meng-iyakan nasehat sang Ibu, Fedo malah dengan sengaja menghubungi nomornya Luri. Dia berniat menelpon gadis desa itu untuk memberitahu sang ibu kalau Luri sama sekali tidak keberatan menerima semua kegilaan yang dia lakukan.
"Halo Kak Fedo, ada apa?"
"Halo sayang, kau sedang apa? Aku merindukanmu," ucap Fedo sambil mengerlingkan mata ke arah sang ibu. Dia ingin pamer kemesraan sekarang.
Satu tangan Abigail menarik bahu Fedo agar berbaring di pangkuannya. Rasanya sungguh lega melihat putranya bisa kembali tersenyum setelah kejadian di restoran tadi. Sambil mengelus kepala putranya, Abigail mendengarkan calon menantunya bicara.
"Aku baru saja selesai menggosok gigiku, Kak. Kau belum tidur?"
"Bagaimana mungkin aku bisa tidur kalau kau saja selalu muncul di mataku, Luri. Tahu tidak kalau kau itu sudah seperti hantu yang meneror malam-malamku!" jawab Fedo mulai kehabisan obat. Otaknya mulai tidak waras.
"Kau ini ada-ada saja sih, Kak. Oh iya, Kakak sudah makan malam belum? Atau sekarang masih ada di kantor?"
"Aku sudah makan malam bersama Ayah, Ibu, dan juga Kayo tadi. Tapi sayangnya makan malam itu jadi terasa tidak enak karena tiba-tiba ada nenek gayung yang datang mengacau. Haihhh, mengingat hal itu aku jadi merasa kesal. Tolong hibur aku, sayang. Hatiku sedang terluka sekarang ini!"
Abigail menahan tawa mendengar Fedo yang merengek seperti anak kecil pada Luri. Kejadian ini mengingatkannya pada Mattheo yang hampir menangis gara-gara dia yang mengundur hari pernikahan mereka karena pada saat itu Liona belum melahirkan. Fedo dan Mattheo benar-benar sama persis. Mereka adalah dua pria garang yang bisa langsung melemah ketika berhadapan dengan wanita yang tepat. Dan sepertinya Luri adalah gadis yang akan menjadi korban selanjutnya dari kebucinan seorang Fedo Eiji.
"Kita ini berada di negara yang berbeda, Kak Fedo. Jadi bagaimana caraku untuk menghiburmu, hm? Lupakan saja, cukup ingat sesuatu yang membuatmu merasa senang. Nanti lama-lama rasa kesalnya pasti menghilang."
"Hmmm, baiklah Tuan Putri, apapun itu aku pasti akan menurut. Oh ya sayang, Nania bilang hari ini kau mengikuti kompetisi di sekolah. Bagaimana hasilnya? Soalnya membuatmu kesulitan tidak?" cecar Fedo yang baru teringat kalau hari ini gadisnya mengikuti sebuah perlombaan di sekolahnya.
"Tidak, Kak. Aku dan teman-teman yang lain berhasil melewati ujiannya dengan lancar. Tiga hari lagi kami baru akan menerima hasilnya. Do'akan aku menang ya Kak."
"Ujian apa, Fed?" bisik Abigail penasaran.
"Nanti aku akan memberitahu Ibu. Sekarang biarkan aku pacaran dulu dengan Luri," sahut Fedo balas berbisik.
__ADS_1
Abigail mengangguk. Dia penasaran kompetisi seperti apa yang di ikuti oleh si gadis desa tersebut.
"Pasti sayang. Aku pasti akan mendoakan yang terbaik untukmu. Emm karena ini sudah malam, sebaiknya kau segera tidur saja. Aku khawatir kau jatuh sakit karena hari ini sudah cukup melelahkan untukmu. Aku calon pacar yang sangat baik dan perhatian bukan?" ucap Fedo dengan bangganya.
"Em, kalau begitu selamat malam Kak Fedo. Jaga kesehatanmu di sana, jangan terlalu malam jika ingin begadang."
Baru saja mulut Fedo terbuka hendak mengucapkan kata i love you, panggilannya sudah lebih dulu di matikan oleh Luri. Sontak saja hal itu membuat wajahnya menjadi sangat masam.
"Tidak ada romantis-romantisnya sih," gerutu Fedo.
"Sabar, Luri masih muda. Mungkin dia malu untuk mengatakannya," hibur Abigail sembari tertawa kecil.
"Hmmm, beginilah Bu jika pacaran dengan anak remaja. Aku harus banyak bersabar untuk memenangkan hatinya."
"Sudah tahu begitu apa ingin tetap melanjutkannya? Tidak berniat mencari pacar yang seusia denganmu saja, hm?"
Fedo menggelengkan kepala. Di hatinya sekarang hanya ada nama Luri seorang. Biarlah meski dia harus banyak mengalah, yang terpenting suatu saat mereka bisa bersama. Syukur-syukur kalau Luri bersedia menjadi istrinya. Maka Fedo rasa penantian dan perjuangan panjang ini cukup setimpal.
"Oh ya Fed, kompetisi apa yang tadi diikuti oleh Luri?" tanya Abigail penasaran.
"Aku juga tidak tahu pasti, Bu. Tapi sepertinya itu semacam lomba untuk mengikuti Olimpiade sekolah. Luri juga tidak menjawabnya dengan pasti saat aku bertanya padanya," jawab Fedo.
"Wahhh, dia gadis yang pintar ternyata. Calon bibit unggul berarti!"
"Ow jelas. Siapa dulu yang memilihnya," sahut Fedo dengan bangganya.
"Dasar," ejek Abigail. "Ini sudah malam, kau segeralah mandi dan istirahat. Ibu ingin pergi ke kamar adikmu untuk mengajaknya bicara tentang Jackson. Entah mengapa Ibu merasa kalau adikmu itu masih ragu untuk menikah dengannya."
Fedo mengangguk. Dia kemudian bangkit dari pangkuan sang ibu lalu mengantarkannya ke depan pintu. Setelah itu Fedo pun bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan badan sebelum akhirnya membaringkan tubuh kekarnya di atas ranjang.
"Ngomong-ngomong tadi kenapa Luri tidak bertanya tentang siapa si nenek gayung itu ya? Aneh," gumam Fedo sembari menatap langit-langit kamar. "Ah, sudahlah. Mungkin Luri tidak terlalu menyimak perkataanku tadi. Lagipula tidak ada untungnya juga aku membahas tentang Kanita, membuang-buang waktu saja. Huh!"
πππππππππππππππππ
β Gengss.. PESONA SI GADIS DESA versi lengkapnya ada di yutub ya. Nama Chanelnya βΆMak Rifani, dan disana baru saja up part. Jangan lupa mampir dan beri dukungan ya
πJangan lupa vote, like, dan comment keuwuan felur kita ya gengss
πIg: rifani_nini
__ADS_1
πFb: Rifani