PESONA SI GADIS DESA

PESONA SI GADIS DESA
(FELUR) ~ Pasangan Gatal


__ADS_3

Galang, Luri dan Nania melangkah cepat menuju ruangan tempat Jovan di rawat. Tak lupa mereka membawa buah dan beberapa makanan yang mereka beli saat di jalan tadi.


Dari kejauhan, Nania memperhatikan pasangan pria dan wanita paruh baya yang sedang berdiri di depan sebuah kamar rawat inap. Keningnya mengerut saat salah satu dari orang itu sekilas melihat ke arahnya.


"Apa mereka orangtuanya Kak Jovan, Kak?" tanya Nania penasaran sembari menunjuk sepasang manusia yang sedang dia perhatikan.


"Iya. Mereka adalah Ayah dan Ibunya Jovan," jawab Galang yang sempat melihat foto orangtua dari mantan rivalnya itu. "Darimana kau tahu kalau mereka adalah orangtua Jovan?"


"Wajah salah satu dari mereka mirip dengan wajahnya Kak Jovan," jawab Nania.


"Iya, benar. Waahhh, matamu jeli juga ya, Nania. Kakak bahkan sama sekali tidak menyadari hal itu," ucap Luri.


"Ya sudah ayo kita sapa mereka dulu. Sekalian meminta izin untuk menemui Jovan!" ucap Galang mengajak Luri dan Nania untuk segera menghampiri ayah dan ibunya Jovan.


Luri dan Nania mengikuti langkah Galang sambil terus memperhatikan sekeliling rumah sakit. Mereka baru sadar kalau rumah sakit ini adalah tempat di mana kakak mereka pernah dirawat sebelum menikah dengan Kak Gleen. Juga tempat yang menjadi awal pertemuan Luri dengan Fedo. Mengingat pertemuan lucu mereka membuat Luri tak kuasa untuk tidak tersenyum.


"Kau sedang tersenyum pada siapa, Kak?" tanya Nania heran.


"Tidak tersenyum pada siapa-siapa, Nania. Hanya sedang teringat dengan kejadian lucu saat di sekolah tadi," jawab Luri berbohong.


"Oh, aku pikir Kakak sudah gila karena tersenyum sendiri. Hufftt, membuat kaget saja."


Luri sedikit kikuk. Namun dia berusaha bersikap biasa saja karena tak ingin membuat Nania merasa curiga. Luri kemudian tersenyum ramah pada orangtua Jovan saat dia, Galang dan Nania sampai di hadapan mereka.

__ADS_1


"Selamat malam, Paman. Selamat malam, Bibi. Perkenalkan, kami adalah teman sekolahnya Jovan. Namaku Galang, ini Luri dan yang itu Nania. Kami bertiga datang ingin menjenguk Jovan!" ucap Galang sopan sembari memperkenalkan diri pada orangtua Jovan.


"Malam. Oh, jadi kalian teman sekolahnya Jovan ya?" sahut ibunya Jovan seraya tersenyum kecil. Matanya terlihat bengkak dan ujung hidungnya memerah. Sepertinya ibunya Jovan baru saja menangis.


"Iya, Bibi. Kami adalah temannya Jovan, tapi tidak satu kelas," ucap Luri pelan. "Kalau boleh tahu keadaan Jovan sekarang bagaimana ya, Bi? Apakah sudah lebih baik?"


Kedua orangtua Jovan saling melempar pandangan. Setelah itu wajah keduanya menyendu, yang mana membuat Luri, Galang dan Nania merasa sedikit cemas. Mereka sangat khawatir telah terjadi hal buruk pada Jovan.


"Apa kalian tahu kenapa Jovan masuk rumah sakit?" tanya ibu Jovan lirih.


"Kami sudah tahu penyebab Jovan di larikan ke rumah sakit, Bi. Pelayan di rumah Bibi yang memberitahukannya padaku sore tadi," jawab Galang jujur.


Luri segera mendekat ke arah ibunya Jovan kemudian mengelus bahunya pelan.Dia terenyuh melihat air mata yang mengalir membasahi pipi wanita ini. Sungguh, sangat di luar dugaan seorang Jovan mampu melakukan hal sebodoh ini dengan menyakiti dirinya sendiri. Meski belum lama saling mengenal, Luri bisa melihat kalau Jovan adalah sosok yang periang. Tapi siapa sangka kalau di balik sikap periangnya itu Jovan ternyata menderita tekanan mental yang di sebabkan oleh keluarganya sendiri.


Galang dan Luri sama-sama menelan ludah saat mendengar celetukan Nania. Yang benar saja. Saat suasana sedang sedih begini Nania malah dengan entengnya berkata sembarangan pada orangtuanya Jovan. Sungguh, ingin rasanya mereka melakban mulut Nania yang suka ceplas-ceplos ini.


"Kenapa kau bicara seperti itu pada kami, Nania? Kami adalah orangtuanya Jovan, sudah sepantasnya kami merasa sedih atas musibah yang terjadi," sahut ayahnya Jovan dengan cetus. Dia tersinggung oleh ucapan gadis yang menjadi teman putranya.


"Sedih? Hah. Paman-Paman, meskipun aku masih kecil, tapi aku bisa melihat kalau Paman dan Bibi itu tidak benar-benar sayang pada Kak Jovan. Buktinya sekarang Kak Jovan nekad melakukan tindakan bodoh yang hampir merenggut nyawanya!" ucap Nania tanpa takut mengomeli ayahnya Jovan. "Paman tahu tidak, Kak Jovan pernah bilang kalau dia ingin sekali mendapatkan kasih sayang dari kalian. Dia sangat berharap kalian bisa membagi waktu untuknya meski hanya sebentar. Hih, orangtua macam apa yang tega membuat anaknya sendiri merasa kesepian sampai seperti itu? Sibuk ya sibuk, tapi kalian jangan lupa kalau kalian itu punya anak yang membutuhkan kasih sayang. Heran, kenapa orang kota egois-egois sekali sih. Kenapa di pikiran mereka hanya ada harta harta, dan harta terus. Memangnya saat kalian mati harta kalian bisa di bawa ke akhirat? Tidak kan?"


"Nania, tolong jaga ucapanmu. Itu tidak sopan. Kau tidak boleh bicara begitu pada Paman dan Bibi!" ucap Luri panik melihat mulut Nania yang terus mengomel tanpa henti. Dia khawatir kalau orangtua Jovan merasa tersinggung karena ucapannya.


"Kenapa tidak boleh, Kak. Biar saja. Kak Jovan itu kan teman kita, aku tidak terima melihatnya di tindas begini oleh orangtuanya sendiri!" sahut Nania sambil menatap tajam ke arah ayahnya Jovan yang sedang tertunduk diam seribu bahasa. Begitu juga dengan ibunya Jovan. Wanita itu kini tengah menangis sesenggukan di pelukan sang kakak.

__ADS_1


"Nania, ini rumah sakit. Tolong kurangi sedikit kebar-baranmu," bisik Galang sambil mengguncang pelan lengan Nania. Dia benar-benar syok melihat kegilaan gadis ini yang berani memarahi orangtuanya Jovan secara terang-terangan.


Kesal karena Galang terus mengguncang lengannya, Nania memelampiaskannya dengan kembali memarahi orangtua Jovan. Jika tadi ayahnya yang mendapat omelan, kini giliran ibunya Jovan. Tak tanggung-tanggung, Nania mengeluarkan semua unek-uneknya dengan lantang, membuat Galang dan Luri sampai tercengang kaget mendengarnya.


"Jangan menangis terus, Bi. Air matamu tidak akan bisa menyembuhkan Kak Jovan dari kesedihannya. Harusnya ya, sebagai orangtua kalian itu menjadi orang yang paling menyayangi anak-anak kalian. Tapi kenapa Bibi malah melakukan hal yang sebaliknya? Paman dan Bibi telah menghancurkan mental Kak Jovan sampai di titik terendah dalam hidupnya. Aneh, Paman dan Bibi itu harusnya bersyukur karena Tuhan memberi kehidupan yang sangat baik untuk keluarga kalian. Hidup berkecukupan, pekerjaan yang keren, fisik yang normal, keluarga yang lengkap. Apalagi kurangnya? Dengan hidup selengkap ini kenapa kalian malah ingin bercerai? Astaga. Lihat sekarang, Kak Jovan kan yang menjadi korban. Hatinya pasti hancur sekali saat tahu kalau orangtuanya akan berpisah. Dasar pasangan gatal!" amuk Nania dengan penuh emosi.


Ya Tuhan, Nania kerasukan setan mana sampai bisa bicara seperti itu pada ayah dan ibunya Jovan? Perasaan saat datang kemari tidak lewat kuburan, tapi kenapa Nania jadi seperti ini? Waahh, lidahnya benar-benar sangat beracun. Tapi apa yang dia ucapkan ada benarnya juga sih. Di sini orangtuanya Jovan memang sangat egois, mereka hanya mementingkan perasaan masing-masing. Batin Galang ikut membenarkan.


"Sudah ah, aku sudah capek mengomel. Sekarang aku mau masuk ke dalam menemui Kak Jovan. Akan ku hajar dia sampai babak belur karena sudah berani melakukan hal bodoh seperti ini. Membuat repot saja!"


Orangtua Jovan tidak tahu harus melakukan apa saat Nania memaksa masuk ke kamar rawat Jovan. Jujur, mereka sangat amat tertohok oleh ucapan gadis belia ini. Kata-katanya begitu menusuk jantung yang mana membuat keduanya langsung tersadarkan kalau selama ini mereka telah lalai menjalankan tugas sebagai orangtua.


"Em Paman, Bibi. Tolong maafkan sikap adikku barusan ya. Dia-dia ... mulutnya memang suka asal bicara. Nania ... dia ....


Luri terbata-bata saat bicara dengan orangtua Jovan. Sungguh, Luri tidak pernah menyangka kalau adiknya akan seberani ini pada orang yang baru mereka temui. Malu, takut, tak enak hati, semua perasaan itu bercampur menjadi satu di pikiran Luri. Dia bingung harus bagaimana jika seandainya orangtua Jovan sampai tidak terima dengan kata-kata yang di ucapkan oleh adiknya tadi. Ya meskipun apa yang di ucapkan oleh Nania adalah suatu kebenaran.


"Tidak apa-apa, Luri. Paman dan Bibi sama sekali tidak marah pada Nania. Dia benar dengan menyebut kami sebagai orangtua yang egois untuk Jovan. Semua ini tidak akan mungkin terjadi jika seandainya kami bisa lebih memperhatikan mental Jovan yang ternyata begitu tertekan selama ini. Kau jangan khawatir, ya?" sahut ibunya Jovan bijak.


"Iya, Luri. Nania tidak salah, kami yang salah. Ya sudah, kalian pergi ke dalam saja. Siapa tahu keadaan Jovan bisa segera membaik setelah bertemu dengan kalian. Sejak sadar tadi dia sama sekali tidak mau bertemu dengan siapapun. Mungkin dia marah dan kecewa pada kami," timpal ayahnya Jovan sedih.


Setelah menenangkan pasangan suami istri ini barulah Galang dan Luri masuk ke kamar rawat Jovan. Dan sesampainya mereka di dalam, mereka di buat kaget oleh kelakuan Nania yang sedang menyiksa Jovan. Ya, gadis beracun itu benar-benar melakukan apa yang dia ucapkan sebelum masuk kemari. Sementara Jovan, anak itu hanya diam saja saat rambutnya di tarik sesuka hati oleh gadis yang di sukainya itu. Entah pasrah atau bagaimana, yang jelas Galang dan Luri hanya bisa menghela nafas melihat kelakuan kedua anak tersebut.


*****

__ADS_1


__ADS_2