
Di Jepang, terlihat Kanita sedang berdiri di depan jendela kamar sambil menggenggam ponselnya dengan sangat erat. Setelah siang tadi Kanita melihat berita yang menayangkan Fedo dan Luri, hati dan perasaannya menjadi sangat kacau. Perasaan yang baru saja tenang kembali bergejolak begitu mengetahui kalau Fedo akan menyongsong kebahagiaannya bersama wanita lain. Sakit, itu sudah pasti. Jadi Kanita memutuskan untuk memberitahu Luri tentang kehamilannya dan mengatakan kalau bayi yang dia kandung adalah anaknya Fedo. Selama ini Kanita selalu mengatakan kalau dia tidak akan pernah rela melihat Fedo bersama dengan wanita lain. Jadi kalau Fedo tidak bisa menjadi miliknya, maka Kanita tidak akan pernah membiarkan wanita lain bisa memilikinya. Dan inilah hasil akhir dari drama cinta mereka bertiga. Kanita yakin kalau setelah ini Luri pasti akan pergi meninggalkan Fedo, terlebih lagi besok gadis ingusan itu akan pergi ke luar negeri. Hal ini semakin membuat Kanita percaya bahwa hubungan mereka benar-benar akan berakhir.
"Maafkan aku, Fedo. Hanya ini satu-satunya jalan terbaik yang bisa aku lakukan untuk menjauhkanmu dari Luri. Aku tahu setelah ini kau pasti akan sangat marah, tapi aku tidak peduli. Aku tidak mau menderita sendirian, jadi kita bertiga harus hancur bersama-sama," ucap Kanita dengan tatapan lurus ke depan.
tok tok tok
Pandangan Kanita beralih ke arah pintu kamarnya yang terbuka. Dia lalu menatap datar pada kedua orangtuanya yang sedang berjalan mendekat ke arahnya.
"Kanita, apa kau baik-baik saja?" tanya Dominic cemas.
"Seperti yang Ayah lihat sekarang, aku dan bayiku baik-baik saja. Tidak ada sesuatu yang terjadi pada kami berdua," jawab Kanita dengan santai. Kanita berusaha menutupi perihal dia menghubungi Luri dan memberitahu tentang kehamilannya. Dia tidak ingin orangtuanya marah.
"Syukurlah jika kalian baik-baik saja. Ayah sangat khawatir setelah kau melihat berita itu, Kanita. Ayah takut kau akan kembali merasa terlukai."
"Ayah jangan khawatir. Semuanya baik-baik saja."
Dominic menatap heran ke arah Kanita yang terkesan tenang ketika menjawab pertanyaannya. Padahal sepulang dari mall tadi Dominic melihat dengan sangat jelas betapa putrinya ini sangat amat terluka setelah melihat berita tentang Fedo yang kedapatan sedang bersama seorang gadis. Ini aneh, dan Dominic yakin putrinya telah menutupi sesuatu hal.
"Ayah, Ibu. Jika seandainya aku mau memberitahu kalian tentang siapa ayah dari bayi ini, apa yang akan kalian lakukan?" tanya Kanita tiba-tiba. Sudah kepalang tanggung. Sekalian saja Kanita hancurkan nama baik Fedo di mata semua orang. Mendadak Kanita merasa cemas kalau Fedo akan kembali mengejar Luri mengingat kekuasan pria itu yang bisa melakukan apa saja demi tujuannya.
__ADS_1
"Apa? Jadi kau bersedia memberitahu Ayah dan Ibu tentang siapa laki-laki yang telah menghamilimu?" sahut Mili antara kaget dan juga senang. Kaget karena tiba-tiba putrinya bersedia membuka mulut tanpa ada paksaan, dan senang karena putrinya tak harus melahirkan tanpa seorang suami.
Kanita mengangguk. Dia kemudian menunduk, mengelus penuh sayang ke arah perut di mana calon bayinya berada.
"Ya, aku akan memberitahu Ayah dan Ibu. Akan tetapi sebelum itu aku harus tahu dulu apa yang akan kalian lakukan nanti setelah aku mengatakan siapa ayah dari anakku," ucap Kanita.
"Ayah akan melakukan apapun agar kau bisa mendapatkan hakmu, sayang," sahut Dominic tanpa ragu.
"Kalau Ibu, Ibu akan langsung mengumumkan pada media bahwa kau akan segera menikah," imbuh Mili.
"Tapi jika aku menginginkan Ayah dan Ibu melakukan konferensi pers untuk mengumumkan keadaanku yang sudah hamil lebih dulu, apa kalian akan bersedia?"
"Kanita, kalau kita mengumumkan tentang kehamilanmu di hadapan media bukankah itu sama saja dengan kita mempermalukan diri kita sendiri? Apa yang sebenarnya kau mau, hm? Siapa laki-laki itu? Kenapa Ayah merasa kalau kau begitu ingin menghancurkan nama baiknya? Siapa dia?" cecar Dominic penuh rasa ingin tahu.
"Fedo Eiji. Dia adalah pria yang harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi padaku sekarang, Ayah. Dua bulan lalu dia datang ke kamar hotel tempat aku menginap kemudian memaksaku untuk melakukannya. Setelah itu Fedo mengancam jika aku berani membuka mulut, dia akan membuat keluarga kita menjadi hancur. Itulah alasan kenapa aku terus diam selama ini. Tapi setelah aku melihatnya bermesraan dengan seorang gadis, aku langsung sadar kalau aku sangatlah bodoh. Di sini aku harus menanggung malu karena kehadiran bayi yang tidak di akuinya, tapi di tempat lain Fedo bisa bersenang-senang dengan bebas. Aku tidak terima itu, Ayah, Ibu. Kalau aku hancur, maka Fedo harus ikut hancur bersamaku. Bayi ini ada karena perbuatan kami, jadi aku tidak mau menanggungnya seorang diri!" jawab Kanita mendustai kebenaran yang ada. Biarlah dia berkata bohong. Asalkan bisa membuat Fedo tidak bersama Luri lagi, maka Kanita rela melakukannya.
"Apa?? Jadi benar kalau Fedo yang telah menghamilimu?" pekik Mili syok.
"Bukankah Ibu belum lupa dengan kejadian di mana Ibu di serang oleh Fedo dua bulan lalu?" sahut Kanita.
__ADS_1
"Tentu saja Ibu belum lupa, Kanita. Bahkan Ibu masih bisa mengingat dengan jelas bagaimana Fedo mencekik dan mendorong tubuh Ibu dengan sangat kasar," ucap Mili dengan raut wajah penuh kemarahan. "Dasar anak kurang ajar. Berani-beraninya ya dia ingin kabur dari tanggung jawab. Ini tidak boleh di biarkan!"
Dominic tidak tahu harus bersikap seperti apa sekarang. Jujur, dia sangat syok saat Kanita mengatakan kalau Fedo-lah yang telah menghamilinya. Di pikiran Dominic, kenyataan ini sedikit sulit untuk di percaya mengingat kalau anak dari sahabatnya itu sangat amat membenci putrinya. Namun kebenaran tentang kedatangan Fedo di kamar hotel tempat Kanita menginap itu tidak bisa di sangkal lagi. Sepertinya ucapan Kanita memang benar kalau Fedo adalah ayah dari calon cucunya.
"Dom, kau jangan diam saja. Cepat pikirkan sesuatu agar anak kurang ajar itu bersedia untuk menikahi Kanita. Aku tidak mau ya kalau kau sampai berpihak pada mereka. Kanita itu putrimu, kita harus mencarikan keadilan untuknya!" desak Mili sambil mengguncang lengan suaminya yang hanya diam tak berkomentar.
"Kanita, kau ingin Ayah melakukan apa untuk hal ini? Apa kau ingin Ayah pergi ke rumahnya Fedo kemudian memintanya untuk bertanggung jawab?" tanya Dominic.
Kanita menggeleng. Bukan ini yang Kanita harapkan karena dia tahu dengan sangat jelas kalau Fedo pasti akan langsung menolaknya. Terlebih lagi pria itu mengetahui siapa ayah kandung dari bayinya. Rencana ini pasti gagal jika sang ayah sampai pergi menyambangi kediaman keluarga Eiji.
"Aku sudah tidak peduli apakah Fedo bersedia untuk menikahiku atau tidak, Ayah. Hatiku sudah terlanjur sakit setelah melihatnya begitu bahagia bersama wanita lain di saat aku sendiri sedang dalam kondisi seperti ini. Jadi sekarang yang aku inginkan hanyalah kehancurannya saja. Aku ingin Ayah dan Ibu memberitahu semua orang kalau Fedo telah menelantarkan dan menolak untuk bertanggung jawab pada bayi yang sedang aku kandung. Dengan begitu dia baru akan merasakan penderitaan yang sudah aku tanggung selama dua bulan ini," jawab Kanita pura-pura menghiba.
"Kau yakin tidak ingin Fedo menikahimu? Kau mencintainya 'kan?"
"Sangat, Ayah. Aku sangat sangat mencintai Fedo. Tapi setelah melihatnya tertawa bersama gadis lain aku menjadi sadar kalau selama ini aku sudah sangat bodoh mencintai pria pengecut sepertinya. Biarlah, mungkin memang sudah menjadi nasibku harus seperti ini. Yang penting Ayah dan Ibu mendukung dan tidak meninggalkan aku sendirian. Itu sudah lebih dari pada cukup!"
Setelah memastikan jawaban putrinya, tanpa membuang waktu lagi Dominic langsung menghubungi salah seorang wartawan kenalannya. Dia meminta agar besok pagi kenalannya itu datang ke rumah dengan membawa teman-teman wartawan lain guna mengungkap keburukkan dari pewaris keluarga Eiji.
Maafkan aku, Matt. Kanita adalah putriku, jadi aku harus mencarikan keadilan untuknya. Aku tidak tahu apakah besok pagi hubungan kita akan berubah menjadi musuh atau tidak setelah berita di rilis. Akan tetapi satu hal yang harus kau pahami kalau aku melakukan ini demi kebahagiaan putriku yang telah dirusak oleh putramu, batin Dominic tegas.
__ADS_1
***