PESONA SI GADIS DESA

PESONA SI GADIS DESA
(FELUR) ~ Mengabsen Bagian Tubuh


__ADS_3

Dengan lesu Kanita melangkah keluar dari dalam kamar. Wajahnya kusut dengan penampilan yang terlihat berantakan. Seharian mengurung diri membuat Kanita seperti kehilangan semangat hidup. Dia bahkan sampai tidak makan saking stresnya memikirkan kemungkinan kalau dia akan hamil anaknya Ando.


"Apapun hasilnya nanti, aku tidak akan membiarkan benihnya Ando hidup di rahimku. Rencanaku bisa hancur kalau aku sampai mengandung anak orang lain. Jika memang nanti aku benar-benar hamil anaknya pria sialan itu, maka aku akan langsung menyingkirkannya. Anak itu tidak boleh sampai terlahir ke dunia, tidak boleh!" ujar Kanita bicara dengan dirinya sendiri.


"Anak siapa yang sedang kau bicarakan, Kanita?"


Tubuh Kanita langsung menegang saat dia mendengar seseorang bertanya padanya. Seketika darah di tubuhnya seperti berhenti mengalir ke otak begitu tahu kalau yang baru saja bertanya adalah ibunya. Kanita panik, itu sudah pasti. Dia sangat takut kalau-kalau ibunya mendengar semua yang dia ucapkan barusan.


"Sayang, kenapa diam saja? Anak siapa yang sedang kau bicarakan tadi, hm?" cecar Mili seraya memperhatikan gelagat putrinya yang terlihat aneh. "Kanita, ada apa? Kenapa kau terlihat seperti sedang ketakutan? Apa saat Ibu pergi tadi, di rumah terjadi sesuatu padamu?"


"T-tidak, Bu. Di rumah tidak terjadi apa-apa kok. Aku seperti ini karena kaget melihat Ibu yang tiba-tiba muncul. Begitu," jawab Kanita berusaha berkilah. Sebisa mungkin Kanita berusaha untuk menormalkan ekpresi di wajahnya ketika sang ibu terus menatapnya lekat. Dia tahu kalau ibunya ini sedang curiga.


"Em Ibu darimana?" tanya Kanita mengalihkan perhatian sang ibu. Jujur saja, dia menjadi sangat gugup di tatap seperti tadi.


"Hemmm, baru juga Ibu lupa dengan kejadian menyebalkan tadi dan sekarang kau malah mengingatkan lagi, Kanita!" sahut Mili sembari mendengus kuat. "Tadi Ibu baru saja pergi ke rumahnya Fedo untuk memberi peringatan melalui ibunya. Keluarga anak kurang ajar itu harus tahu kalau kemarin malam Fedo datang menemuimu di hotel."


Setelah berkata seperti itu Mili berjalan ke arah sofa kemudian mendudukkan bokongnya ke sana. Dia terus menghembuskan nafas dengan kasar saat terkenang dengan kata-kata yang di ucapkan oleh ibunya Fedo. Aneh, benar-benar sangat aneh. Baru kali ini Mili menemukan orangtua yang malah mendukung tindak kekerasan yang dilakukan oleh anaknya. Harusnya sebagai orangtua yang baik Abigail itu menegur Fedo, bukan malah membenarkan apa yang dia lakukan terhadapnya. Dari sini Mili bisa menarik kesimpulan kalau Abigail tidak mungkin terlahir dari keluarga bangsawan. Karena yang dia tahu, anak-anak berdarah bangsawan akan di didik dengan attitude yang sangat luar biasa ketat agar mereka tidak mempermalukan nama baik keluarga masing-masing. Mili yakin sekali kalau apa yang di katakan Abigail saat berada di salon hanyalah bualan belaka. Wanita berlatar belakang rendah itu pasti hanya ingin mencari perhatian dari orang-orang yang ada di sana waktu itu.

__ADS_1


"Bu, harus berapa kali aku katakan agar Ibu jangan mengganggu Bibi Abigail maupun Kayo lagi. Mereka itu tidak ada hubungannya dengan apa yang terjadi antara aku dengan Fedo. Percaya tidak, Bu. Gara-gara kecerobohan yang Ibu lakukan, Ayah pasti akan kembali bersitegang dengan Paman Mattheo. Kenapa sih Ibu bebal sekali. Tolong berhenti mengganggu mereka, Ibu!" ucap Kanita kesal. Dia sungguh tak habis pikir dengan tindakan yang telah dilakukan oleh sang ibu.


"Kanita, Ibu melakukan semua ini adalah untuk melindungimu. Sadar tidak saat pulang kemari kau terlihat seperti orang yang sudah tak ingin hidup lagi. Sikapmu yang seperti ini baru pertama kalinya Ibu lihat, dan itu terjadi setelah Fedo datang berkunjung ke hotel tempat kau menginap. Orangtua mana yang tidak khawatir jika melihat anaknya jadi seperti itu? Wajar kan kalau Ibu mencari pembelaan untuk melindungi kebahagiaan anak Ibu sendiri?" sahut Mili jengkel.


Kanita terdiam untuk beberapa saat. Dia menatap dalam ke arah sang ibu yang terlihat sangat kesal setelah mengeluarkan unek-uneknya. Sebelum melanjutkan pembicaraan, Kanita berjalan mendekat ke arah sang ibu kemudian duduk di sampingnya.


"Aku tahu niat Ibu baik, terima kasih. Tapi dengan Ibu datang ke rumahnya Bibi Abigail itu bukanlah keputusan yang benar. Masalah ini adalah antara aku dengan Fedo, harusnya kalian semua itu tidak perlu terlibat. Aku menghargai kekhawatiran Ibu, aku juga sangat berterima kasih atas kepedulian yang coba Ibu tunjukkan. Tapi aku mohon, tolong berhenti ikut campur dalam masalah ini. Karena apa yang Ibu lakukan, semua itu hanya memperkeruh hubunganku dengan Fedo. Kesalahpahaman di antara kami malah semakin melebar setiap kali Fedo mendengar Ibu yang datang melabrak Bibi Abigail dan juga Kayo. Jadi aku mohon dengan sangat tolong jangan pernah datang menemui mereka lagi. Entah itu di kediaman mereka secara langsung, ataupun saat tidak sengaja bertemu di suatu tempat. Aku sudah lelah, Bu. Jangan menambah bebanku lagi!" ucap Kanita berusaha membujuk sang ibu agar berhenti mendatangi keluarganya Fedo.


"Apa ini artinya kau sudah bisa melepaskan Fedo, Kanita?" tanya Mili dengan raut wajah penasaran. Dia bersumpah akan langsung sujud syukur jika seandainya memang benar putrinya telah melepaskan perasaannya pada anak sialan itu.


"Bu, tolonglah. Tolong jangan mencampuri urusan pribadiku lagi. Aku mencintai Fedo, selamanya akan tetap seperti itu. Hanya dia satu-satunya pria yang aku inginkan. Ibu tahu itu kan?" jawab Kanita mulai emosional.


Dasar kau laki-laki sialan, Ando. Karena kebodohanmu, sekarang hidupku jadi tidak tenang begini. Arghhh Kanita, bagaimana bisa kau seceroboh ini pada keamanan diri? Iya kalau perbuatanmu dan Ando tidak meninggalkan benih di rahimmu. Lalu apa jadinya nanti kalau benih itu sampai tumbuh menjadi seorang janin? batin Kanita risau.


"Kau kenapa, Kanita?" tanya Mili heran melihat putrinya yang terlihat gelisah dan juga panik.


"Ha? Ibu bilang apa barusan?" sahut Kanita balik bertanya. Dia sedang melamun memikirkan kebodohan yang dilakukannya bersama Ando, jadi Kanita menjadi tidak fokus ketika ibunya bertanya.

__ADS_1


"Ibu bertanya kau itu kenapa. Tadi saat pulang Ibu melihatmu sedang melamun sambil menyebut nama anak. Dan sekarang kau tiba-tiba terlihat gelisah dan juga panik seperti sedang menutupi suatu masalah besar. Ada apa? Rahasia apa yang coba kau tutupi dari Ibu?"


Mata Kanita mengerjap-ngerjap. Dia gugup, bingung, dan juga takut. Jika ibunya tahu dia telah melakukan kesalahan fatal di masa suburnya, ibunya pasti akan memerintahkan orang untuk mencari tahu dimana keberadaan Ando. Dan dari yang Kanita lihat, Ando bukanlah pria yang


berasal dari kalangan biasa. Semua barang yang melekat di tubuhnya merupakan barang limited


edition dimana hanya orang-orang kalangan borju saja yang mampu membelinya. Jika hal ini sampai di ketahui oleh ibunya, Kanita pasti akan di nikahkan dengan Ando. Apalagi jika Kanita sampai hamil anaknya pria brengsek itu, semakin lah sang ibu memaksa mereka untuk segera menikah. Bila sudah seperti itu, maka hancurlah harapan Kanita yang ingin menjadi Nyonya Eiji. Dia akan kalah dengan gadis ingusan yang bahkan usianya saja masih belasan.


"Kanita, ayo jawab. Jangan bilang ini ada hubungannya dengan Fedo ya. Awas saja jika Ibu sampai tahu dia telah melakukan hal yang buruk terhadapmu. Ibu tidak hanya akan memberi peringatan pada keluarganya saja, tapi Ibu akan langsung melaporkannya ke pihak berwajib dengan tuduhan pelecehan!" geram Mili saat putrinya tak kunjung menjawab.


"Ibu sudah gila ya. Kenapa semuanya selalu di sangkut-pautkan dengan Fedo. Di kamar hotel dia sama sekali tidak melakukan hal yang salah kepadaku. Kami hanya ... hanya ....


Mili langsung memicingkan mata saat Kanita tak bisa melanjutkan perkataannya. Curiga, itu sudah pasti. Mili kemudian melirik ke arah perut Kanita. Dia jadi berprasangka buruk kalau-kalau putrinya sedang hamil anaknya Fedo. Apalagi tadi Mili juga sempat mendengar Kanita yang menyinggung soal anak. Mungkinkah benar Fedo telah melakukan tindakan tidak senonoh di hotel malam itu?


"Pokoknya Fedo tidak melakukan hal yang salah padaku. Ibu tidak boleh beranggapan yang tidak-tidak tentangnya," ucap Kanita gelagapan.


Tak ingin ibunya semakin mencurigai apa yang sebenarnya terjadi, Kanita memutuskan untuk kembali ke kamar saja. Dia sangat takut ibunya mengetahui tentang Ando, Kanita takut akan di nikahkan dengan pria brengsek itu.

__ADS_1


Kenapa gelagat Kanita aneh sekali ya? Aku jadi semakin yakin kalau malam itu Fedo pasti telah melakukan hal yang salah kepadanya. Tapi apa? Apa mungkin anak itu telah mengabsen setiap bagian tubuh Kanita? Waahhh, ini tidak bisa di biarkan. Secepatnya aku harus segera mengambil tindakan," batin Mili curiga.


*****


__ADS_2