
Gleen melihat ke sana kemari ketika tidak mendapati keberadaan adik iparnya. Dia mulai resah, khawatir kalau-kalau Casanova itu telah membawa Luri pergi ke tempat yang tidak seharusnya.
"Kau kenapa si, Gleen? Aku perhatikan sejak tadi kau terus saja terlihat tidak tenang. Ada apa, hm?" tanya Lusi heran melihat suaminya yang terlihat sangat gelisah.
"Sweety, sepertinya Fedo benar-benar membawa Luri pergi dari pesta ini," jawab Gleen sambil menatap wajah Lusi. "Aku akan membotaki kepalanya kalau sampai Luri pulang dalam kondisi yang tidak utuh. Sampai alam akhirat pun aku tidak akan pernah memaafkannya jika hal itu sampai terjadi."
Lusi terkejut mendengar perkataan suaminya, tapi sedetik kemudian dia tersenyum. Suaminya ini sedang mencemaskan adiknya ternyata.
Hmmm, Gleen-Gleen. Sebegini perhatiannya kau pada keselamatan Luri.Terima kasih ya karena sudah memperlakukan adikku seperti adik kandungmu sendiri, batin Lusi terharu.
"Sebenarnya kemana kalian pergi," gumam Gleen yang semakin bertambah kesal karena masih belum melihat keberadaan Fedo dan adiknya. Dia terus mengedarkan pandangan menyeluruh, berharap kalau kedua orang yang sedang dia cari ada di salah satu pojok ruangan.
"Kau tidak perlu cemas, Gleen. Kakakku tidak akan mungkin melakukan hal yang salah pada Luri."
Kayo berjalan menghampiri Gleen bersama dengan Jackson di sisinya. Di bibirnya tersungging sebuah senyum yang menandakan kalau semuanya baik-baik saja.
"Kau tahu darimana kalau Fedo tidak akan bersikap macam-macam pada Luri, Kay. Dia itu kan mantan Casanova, aku belum sepercaya itu melepas Luri hanya berduaan saja dengannya," tanya Gleen seraya menarik nafas panjang.
"Ketidakpercayaanmu cukup beralasan dan aku memakluminya. Akan tetapi sebejad apapun kelakuan Kak Fedo, aku yakin dia tidak akan melakukan hal yang sama terhadap Luri. Apa kau tahu kenapa?" jawab Kayo tanpa merasa tersinggung ketika Gleen menyinggung tentang kebiasaan kakaknya yang dulu sangat suka sekali bergonta-ganti wanita. Itu fakta, dan Kayo sangat sadar akan hal itu.
__ADS_1
Gleen menggeleng. Sedangkan Lusi, dia hanya diam mendengarkan. Sebagai seorang kakak sudah pasti Lusi merasa khawatir. Akan tetapi dia tidak sampai sepanik Gleen karena Lusi yakin kalau Fedo bukanlah pria seperti itu meski Fedo sendiri mempunyai masa lalu yang kurang baik. Juga karena Lusi yang percaya kalau adiknya adalah gadis yang bisa menjaga kehormatannya sendiri.
"Pertama, karena Kak Fedo hanya akan menyentuh wanita yang memang sama-sama menyukai aktifitas seperti itu. Kedua, karena Luri bukanlah gadis gampangan seperti yang sering Kak Fedo jumpai di club-club malam!" jelas Kayo. "Sejahat-jahatnya seorang pria, dia pasti akan memilih wanita baik-baik yang akan melahirkan keturunannya kelak. Jadi kau tidak perlu merasa cemas karena Kak Fedo pasti akan menjaga Luri sampai waktunya tiba untuk dia menyentuhnya. Tapi kalau kau masih tidak percaya, mari kira bertaruh. Dan aku berani jamin kalau Luri pasti akan kembali dengan kondisi utuh seperti semula!"
"Fedo sangat mencintai Luri, Gleen. Kemanapun dia membawa adik iparmu pergi, Luri pasti akan kembali tanpa kekurangan suatu apapun. Aku bicara begini bukan karena dia kakanya Kayo, tapi karena aku tahu didikan Ibu Abigail tidak akan pernah salah terlepas dari masa lalunya yang memang sedikit buruk. Luri adalah gadis baik-baik, Fedo bisa tamat di tangan Ibu Abigail jika dia sampai berani macam-macam padanya," imbuh Jackson ikut menenangkan Gleen yang sedang mengkhawatirkan adik iparnya.
"Haihh, harusnya Fedo memang seperti yang kalian katakan. Astaga, jadi begini ya rasanya menjaga seorang adik. Aku sampai tidak enak makan sejak tadi," sahut Gleen sembari mengusap wajahnya.
"Sekarang sudah tenang kan?" tanya Lusi lembut.
Gleen menoleh kemudian mengangguk. Dia merangkul pinggang Lusi kemudian mendekapnya mesra di hadapan Kayo dan juga Jackson. Sungguh, baru pertama kali ini Gleen di buat panik hanya gara-gara mengkhawatirkan seorang gadis yang notabennnya hanya berstatus sebagai adik ipar. Gleen adalah seorang yatim piatu sejak dulu, jadi dia tidak pernah merasakan yang namanya memiliki saudara. Selain satu sahabat yang dia punya, keluarga istrinya lah yang sekarang menjadi bagian dari hidupnya. Hal inilah yang membuat Gleen bersikap sedikit posesif pada kedua adiknya Lusi. Dia benar-benar ingin menjaga dan memastikan keselamatan kedua gadis tersebut.
"Boleh, silahkan," jawab Lusi dengan sopan mempersilahkan Kayo untuk bertanya.
"Apa benar Luri baru akan menerima pengumuman kelulusan dua hari lagi?"
Tanpa berpikir lama Lusi langsung mengangguk begitu Kayo selesai bertanya. Sebenarnya sebelum datang kemari Lusi dan Gleen sudah sama-sama sepakat untuk bersikap tenang ketika keluarganya Fedo menyinggung tentang hal ini. Bukannya apa, ini dilakukan demi menghindari kegilaan Fedo yang kemungkinan besar akan langsung melarang Luri jika tahu kalau adik mereka akan kuliah di London.
"Benarkah? Tapi kenapa aku merasa kalau kalian sedang menutupi sesuatu dariku? Apa kalian takut Kak Fedo akan mengetahuinya?" cecar Kayo tanpa mengalihkan tatapannya dari wajah Lusi. Tidak semudah itu Kayo di bohongi meski Gleen dan Lusi sangat pandai beralibi dengan pura-pura bersikap tenang di hadapannya.
__ADS_1
"Kayo, apapun yang kau pikirkan semua ini dilakukan demi kepentingan Luri dan Fedo. Aku dan Gleen tidak ada hak untuk mencampuri urusan mereka, jadi biarlah Luri sendiri yang memutuskan. Kita cukup berdoa saja untuk kebahagiaan mereka berdua," jawab Lusi dengan lugas memberikan alasan.
Jackson tersenyum samar. Dia cukup kagum dengan kehati-hatian Lusi dalam memberi jawaban. Namun harus Jackson akui kalau jawaban tersebut sangatlah bijaksana karena secara tidak langsung Lusi telah membuktikan jika asumsi Jackson adalah benar. Luri sudah menentukan pilihannya, dan hal ini memang sengaja di sembunyikan dari Fedo. Kini Jackson hanya perlu mencari tahu satu hal, yaitu tempat mana yang akan di tuju oleh si gadis desa itu.
"Hmmm, baiklah kalau memang itu yang kau inginkan. Aku hargai keputusan adikmu yang ingin merahasiakan hal ini dari kakakku. Tapi ingat satu hal, Lusi. Jika di kemudian hari terjadi masalah pelik, aku harap kau tidak akan pelit dalam membagi informasi. Luri sudah di tandai oleh Ayah dan Ibuku, itu artinya hanya dia yang akan di akui sebagai wanitanya Kak Fedo. Bisa kan?" tanya Kayo berkata tegas sembari menampilkan senyum manis di bibirnya.
"Ekhmm, Kayo. Kalau untuk masalah itu tergantung apa yang dilakukan oleh kakakmu. Jika masalah pelik yang terjadi di kemudian hari membuat Luri merasa kecewa dan sakit hati, aku tidak akan pernah membiarkan kalian mengetahui kemana dia pergi. Keluargamu boleh saja kaya dan berkuasa, tapi Luri adalah harta kami yang sangat berharga. Kami tidak akan tinggal diam, terutama aku!" sahut Gleen dengan dinginnya menjawab pertanyaan yang dilayangkan pada istrinya. Gleen paham betul kalau pertanyaan tersebut sarat akan nada gertakan.
Kayo menatap Jackson kemudian tersenyum penuh arti begitu menyaksikan keagresifan Gleen dalam menyikapi pertanyaannya. Kayo tidak tersinggung, tapi sikap Gleen membuatnya merasa curiga. Namun karena tak mau menciptakan hubungan yang tidak enak dengan keluarga dari calon kekasih sang kakak, Kayo memutuskan untuk mengalah dan mengakhiri percakapan yang mulai tidak sehat ini.
"Reinhard dan Levita sedang berbahagia dengan pernikahan mereka. Sebaiknya kita tidak merusak acara ini dengan percakapan yang membuat urat leher menjadi tegang," ucap Jackson tanggap akan arti dari senyum di bibir calon istrinya.
"Iya, Kak Jackson benar," sahut Lusi menimpali. "Kak Levita bisa kerasukan iblis jika tahu kalau kita tidak ikut menikmati kebahagiaannya. Dan kau, Gleen. Sudah ya jangan marah-marah lagi. Kayo hanya bertanya saja tadi, dia tidak ada maksud apapun padaku. Iya kan, Kay?"
"Hehe, maaf jika sikapku tadi sudah membuatmu merasa terancam ya Lus, Gleen. Aku seperti ini karena tidak ingin melihat kakak dan calon kakak iparku mengalami masalah yang bisa membuat hubungan mereka menjadi renggang. Sudah, itu saja," jawab Kayo.
Setelah itu Kayo berinisiatif untuk memeluk Lusi. Mungkin wanita hamil ini hanyalah gadis desa biasa, tapi tidak dengan Gleen. Pria ini berada dalam satu frekuensi yang sama seperti calon suaminya, yaitu sama-sama mantan penjahat. Jadi Kayo tidak boleh memandang remeh terhadapnya dan damai adalah cara tercepat untuk menghindari bentrokan emosi yang bisa saja muncul di diri kedua pria yang kini tengah saling menatap dalam diam.
*****
__ADS_1