
Jovan tersenyum senang melihat raut wajah Galang yang terlihat sangat syok. Benar saja, sesuai yang dia perkirakan siang tadi kalau Galang pasti akan sangat kaget jika tahu kalau dirinya juga datang ke rumahnya Luri. Dan ekpresinya kali ini benar-benar membuat Jovan merasa sangat puas.
"Bagaimana bisa?" gumam Galang tak percaya. "Bagaimana bisa kau muncul di sini, Jo! Siapa yang memberitahukan alamat Luri padamu hah?"
"Wee, santai bung. Jangan marah-marah dulu, santai!" jawab Jovan dengan gaya songongnya. "Ekhm, kalau kau mau tahu dari siapa aku mengetahui alamat rumah Luri, jawabannya tentu saja dari Nania. Hebat kan."
"Hebat kepalamu. Woaahh, kali ini kau benar-benar membuatku sangat kesal, Jo. Kau brengsek!"
Dengan wajah merah padam Galang mendudukkan bokongnya di atas sofa. Semua cemilan yang baru saja di belinya di biarkan jatuh berantakan di lantai. Sungguh, malam ini Jovan benar-benar mengacaukan rencananya. Dan Nania ... gadis itu.
"Kenapa? Kaget ya kenapa Nania bisa begitu baik padaku?" tanya Jovan penuh nada mengejek.
"Jangan bicara padaku. Aku malas mendengar bualanmu," jawab Galang dongkol.
Jovan terpingkal-pingkal begitu mendengar jawaban Galang. Rasanya dia puas sekali setelah memberikan kejutan yang sangat istimewa pada rivalnya. Andai saja dia membawa kamera, pasti akan sangat lucu kalau dia mengabadikan moment ini ke dalam sebuah vlog.
"Lho, Kak Galang sudah datang ya?" tanya Nania kaget. Di tangannya terdapat nampan berisi teh panas buatannya untuk Jovan. "Di minum dulu, Kak Jovan. Nanti cemilannya menyusul ya."
Bulu kuduk Jovan dan Galang sama-sama berdiri ketika melihat senyum evil di mulut Nania. Entah kenapa mereka seperti mendapat firasat kalau gadis nakal ini ingin melakukan sesuatu yang jahat pada mereka berdua. Tak ingin menjadi korbannya Nania, Galang dan Jovan sama-sama mawas diri. Mereka terus memperhatikan setiap gerak-gerik dari gadis nakal yang kini tengah sibuk memunguti cemilan di lantai.
"Huuiii, Kak Galang ini rupanya tidak bisa menghargai makanan ya. Kalau tidak mau makan ya jangan di beli, bukan malah di buang seperti ini. Kak Galang tahu tidak kalau di luaran sana ada banyak anak-anak dan lansia yang kelaparan setiap harinya. Bukannya bersyukur bisa menikmati makanan enak ini malah di buang begitu saja. Dasar tidak tahu di untung!" omel Nania.
"Siapa juga yang membuangnya, Nania. Cemilan-cemilan ini hanya keluar dari tempatnya saja. Jadi kau jangan sembarangan menuduh ya, aku juga tahu bagaimana cara mensyukuri pemberian Tuhan!" protes Galang tak terima. Dia lalu melirik sinis ke arah Jovan yang sedang menahan tawa.
"Oh ya? Lalu aku aku harus terpesona dengan pembelaan Kakak begitu? Iyuuhhh."
Setelah semua makanan dia ambil, Nania langsung berkacak pinggang sembari menatap tajam ke arah Galang. Laki-laki ini sepertinya perlu untuk di beri pelajaran.
"Jangan menatap seintens itu, Nania. Aku tahu kau sedang merencanakan niat jahat untuk mengerjaiku," ucap Galang jengah. Mood-nya sudah rusak gara-gara kedatangan Jovan, di tambah lagi sekarang Nania malah mengomel. Membuat suasana hati Galang semakin bertambah buruk saja.
"Tahu darimana kalau aku sedang merencanakan niat jahat, Kak?" tanya Nania penasaran.
"Tertulis jelas di keningmu."
Tangan Nania langsung mengusap keningnya sendiri begitu mendengar jawaban Galang. Dia lalu tertawa saat menyadari kalau dirinya telah di bohongi. Sambil berjalan menuju sofa, Nania melihat-lihat cemilan yang baru saja dia pungut dari lantai. Dia lalu mengernyitkan wajah ketika mendapati sebotol minuman yang berbeda dari botol lainnya.
"Kak Galang, ini minuman jenis apa? Kenapa aku seperti familiar ya?"
Jovan menelan ludah begitu membaca tulisan yang ada di botol tersebut. Pipinya merona. Setelah itu dia langsung menatap Galang sembari menggerakkan bibir yang mengisyaratkan kata umpatan seperti "kau sudah gila ya".
__ADS_1
"Minuman itu sengaja aku beli untuk Luri, Nania. Itu adalah semacam obat yang bisa meredakan nyeri ketika datang bulan," jelas Galang dengan santai.
"Owhh, pantas saja aku merasa tidak asing," sahut Nania seraya mengangguk-anggukkan kepala. "Kak Galang perhatian juga ternyata. Kau bahkan tidak malu untuk membeli obat seperti ini untuk kakakku. Calon-calon suami idaman."
Daun telinga Galang seperti mengeluarkan sayap ketika mendapat pujian dari Nania. Dia tidak menduga kalau gadis ini ternyata bisa berkata manis juga. Sambil tersenyum penuh kemenangan, Galang mengacungkan jari jempol ke arah Jovan kemudian membaliknya ke bawah. Mengejek rivalnya itu karena lagi-lagi dia yang berhasil memenangkan hati Nania. Tadinya Galang sama sekali tidak terpikir untuk membeli minuman seperti itu. Akan tetapi saat dia tengah membeli cemilan di supermarket, dia tidak sengaja mendengar pembicaraan beberapa anak perempuan yang sedang membahas tentang tamu bulanan mereka. Lalu tercetuslah ide untuk membeli minuman tersebut dengan harapan kalau Luri bisa segera sembuh lalu kembali masuk sekolah. Sehari tanpa ada Luri di sampingnya membuat waktu Galang terasa sangat membosankan. Sungguh, dia tidak bohong.
"Galang, Jovan, kalian di sini?"
"Aduuh Kakak, kenapa keluar dari kamar sih? Kalau pingsan bagaimana?" pekik Nania kaget melihat kemunculan sang kakak di ruang tamu.
Galang dan Jovan buru-buru menghampiri Luri yang terlihat lemah saat sedang berjalan. Mereka sangat khawatir padanya.
"Hati-hati!" ucap Galang.
"Pelan-pelan!" imbuh Jovan.
Luri tersenyum sambil menggelengkan kepala melihat kelakuan dua temannya ini. Dia kemudian duduk di samping adiknya yang tengah sibuk mengabsen berbagai macam jenis cemilan di tangannya.
"Nania, kenapa hanya ada satu teh saja di sini? Kan tamunya ada dua. Tolong buatkan satu lagi ya?" ucap Luri tak enak karena adiknya hanya membuatkan satu minuman.
"Tadi itu yang datang pertama kali Kak Jovan, Kak. Lalu saat aku kembali sambil membawakan teh untuknya tiba-tiba saja Kak Galang sudah duduk di sini. Jadi ya sudah, aku hanya membawa satu minuman saja," jawab Nania sambil mengunyah biji kuaci.
Galang dan Jovan sama sekali tidak mempedulikan ucapan Nania. Pandangan mereka terfokus ke wajah Luri yang tetap saja cantik dan mempesona meskipun dalam keadaan pucat dan sedikit berantakan. Sungguh, pesona Luri benar-benar tidak ada matinya. Kalau sedang sakit saja dia bisa secantik ini, lalu apa kabar jika Luri sampai berdandan? Mungkin Galang dan Jovan bisa langsung mimisan nantinya. Akan tetapi khayalan mereka sepertinya tidak akan pernah menjadi kenyataan karena Luri tidak pernah memakai make-up. Gadis desa ini memiliki kecantikan yang natural. Suatu keindahan yang sudah jarang sekali bisa di temui di era modern dimana hampir semua wanita cantik karena make-up.
"Aku sudah makan sebelum datang kemari, Luri. Kau sendiri sudah makan belum? Bagaimana keadaanmu sekarang. Perlu pergi ke dokter tidak?" cecar Galang khawatir.
"Iya Luri. Wajahmu masih sangat pucat, kau juga terlihat sangat lemas. Kita pergi ke dokter saja ya?" bujuk Jovan yang juga merasa khawatir.
"Tidak usah. Sekarang aku sudah tidak apa-apa, hanya perlu banyak istirahat saja. Hal seperti ini sudah sangat wajar terjadi pada wanita, jadi kalian jangan khawatir."
Nania diam menyimak pembicaraan kakaknya dengan kedua tamu ini sambil terus menikmati biji kuaci. Sesekali dia juga ikut bicara ketika di tanya oleh salah satu dari mereka.
"Ngomong-ngomong kalian datang kemari dalam rangka apa ya? Dan semua makanan di tangan Nania pasti kalian yang membelinya kan?" tanya Luri seraya memperhatikan pegunungan cemilan yang di kuasai oleh dua tangan adiknya.
Galang dan Jovan kompak mengangguk. Barulah mereka mengalihkan pandangan ke arah Nania yang sedang begitu asik menikmati cemilan seorang diri. Dalam hati mereka berdua sangat bersyukur karena setidaknya gadis nakal ini bisa diam dengan cemilan-cemilan tersebut yang membuat mereka bisa memiliki waktu untuk mengobrol dengan Luri.
"Aku kemari juga karena ingin menjengukmu, Luri. Temanku sedang sakit, tidak mungkin kan aku tidak datang membesuk?" ucap Galang seraya tersenyum kecut. Lidahnya seperti di tumbuhi duri ketika menyebut kata temanku.
"Bohong, Kak. Kak Galang tidak bilang begitu saat di sekolah tadi. Dia bilang ingin mengajakku menonton film bersama. Kau jangan mengada-ada, Kak Galang. Dosa itu!" celetuk Nania.
__ADS_1
Astaga, kenapa anak ini malah membongkar kedokku di depan Luri, sih. Tidak berperasaan sekali, keluh Galang dalam hati.
"Kalau aku bagaimana, Nania?" tanya Jovan cari aman. Lebih baik dia mendengar Nania bicara lebih dulu daripada harus menanggung malu seperti Galang. Rasanya pasti sangat tidak enak di permalukan di depan gadis yang kita sukai. Nania benar-benar sangat sehati dengannya.
"Em, kalau Kak Jovan sih tidak mengatakan apapun saat di sekolah tadi. Dia hanya bilang ingin ikut menonton bersama aku dan Kak Galang. Benar kan?"
"Ya, kau benar sekali Nania. Memang sejak awal tujuanku datang kemari adalah untuk menonton film. Juga sekalian ingin menjengukmu, Luri. Sesama teman wajar bukan jika saling mengkhawatirkan?"
Luri mengangguk. Dia bukannya tidak bisa melihat kalau Galang dan Jovan tengah memperebutkan hatinya. Tapi Luri mencoba menyikapi hal tersebut dengan tenang dan netral. Dia tidak mau salah satu dari mereka sampai merasa di kecewakan ataupun di abaikan.
"Jo, kau belum menjawab pertanyaanku tadi. Kau sudah makan malam belum?" tanya Luri memastikan.
Jovan menggelengkan kepala. Dia memang belum makan apapun setelah pulang dari sekolah sore tadi. Sebenarnya Jovan merasa lapar, tapi dia tidak berselera makan di rumahnya karena tidak ada siapapun di sana. Ayah dan ibunya sedang pergi ke luar kota untuk menyelesaikan urusan pekerjaan. Dia merasa kesepian.
"Sama Kak Jovan, aku juga belum makan. Bagaimana kalau kita berdua makan malam bersama saja sebelum menonton. Mau tidak?" tawar Nania.
"Em, apa tidak apa-apa kalau aku makan di sini?" tanya Jovan merasa sungkan.
"Sudah, ayo ikut aku ke ruang makan. Kebetulan tadi Bibi memasak makanan kesukaan Kak Luri. Kak Jovan pasti akan ketagihan setelah mencobanya."
Dengan tidak manusiawi Nania menyeret tangan Jovan untuk masuk ke ruang makan. Mereka membiarkan Galang menemani Luri duduk di ruang tamu. Agak aneh memang karena sekarang Jovan malah jauh lebih dekat dengan Nania ketimbang dengan kakaknya. Sangat berbanding terbalik dengan tujuan awalnya yang ingin bersaing untuk mendekati Luri.
"Lang, siang tadi guru memberi tugas rumahan untuk para murid tidak?" tanya Luri memecah keheningan.
"Tidak. Kebetulan tadi siang kelas kosong karena para guru sedang rapat dengan kepala sekolah. Jadi kita bisa bebas dari kejaran tugas rumahan, Luri," jawab Galang.
"Oh, begitu ya. Kalau besok aku masih belum bisa masuk tolong beritahu aku ya jika ada pengumuman penting di sekolah."
"Siap, Nona cantik. Aku pasti akan langsung memberitahumu," jawab Galang seraya tersenyum manis.
Sambil menunggu Nania dan Jovan selesai makan, Luri mengajak Galang untuk masuk ke ruang tengah. Meskipun perutnya terus berdenyut nyeri, Luri tetap menemani Galang menonton. Hingga pada akhirnya dia terlelap bahkan sebelum Nania dan Jovan menyelesaikan makan malam mereka.
πππππππππππππππππ
β Gengss.. PESONA SI GADIS DESA versi lengkapnya ada di yutub. Nama Chanelnya βΆMak Rifani. Jangan lupa mampir dan tinggalkan jejak ya
πJangan lupa vote, like, dan comment
ya gengss
__ADS_1
πIg: rifani_nini
πFb: Rifani