
Begitu sampai di dalam kamar, Fedo langsung menghubungi nomor gadisnya. Dia sudah tidak sabar ingin segera memberitahukan bahwa lusa dia dan keluarganya akan bertandang ke Shanghai. Sungguh, kabar ini benar-benar membuat Fedo mengalami euforia yang sangat luar biasa. Dia tak ubahnya seperti anak-anak yang baru saja mendapat hadiah mainan dari orangtua mereka. Menggelikan, tapi juga menggemaskan. Mungkin memang seperti inilah prilaku orang-orang yang sedang di mabuk asmara. Lupa umur, lupa waktu, bahkan lupa segala-galanya. Aneh kan?
"Halo, Kak Fedo. Kau sudah sampai di rumah?" tanya Luri dari seberang telepon.
"Sudah, sayang. Baru saja," jawab Fedo sambil meng*lum senyum. Wajahnya sampai memerah saking bahagianya dia ketika tahu ada alasan yang membuatnya bisa datang berkunjung ke Shanghai.
Sebenarnya bukan hal yang sulit untuk seorang Fedo bepergian sesuka hati ke negara orang. Akan tetapi tuntutan pekerjaan di kantor membuat Fedo tak bisa banyak berkutik untuk sekarang-sekarang ini. Mau bagaimana lagi, ini sudah menjadi tanggung jawabnya sebagai penerus yang menggantikan posisi sang ayah. Jadi mau tidak mau Fedo harus bisa mengesampingkan perasaan pribadinya terlebih dahulu. Kecuali jika keadaannya sudah sangat mendesak. Hujan badai pun tidak akan bisa menghalangi tekad Fedo jika itu sudah berhubungan dengan keselamatan gadis desanya. Karena sejak mengenal Luri, Fedo sudah menjadikannya sebagai prioritas utama setelah keluarganya.
"Sekarang kau sedang apa, Kak? Apa sudah makan malam?"
"Belum, sayang. Aku tidak merasa lapar lagi jika sudah mendengar suaramu. Dan kalau kau mau tahu apa yang sedang aku lakukan sekarang, jawabannya adalah aku sedang merindukanmu," ucap Fedo membual.
Terdengar suara tawa renyah dari dalam telefon saat Fedo mengeluarkan jurus rayuannya. Dan suara tawa tersebut berhasil membuat pikiran Fedo melayang kemana-mana. Dia mulai membayangkan apakah nanti Luri akan tertawa seperti ini ketika Fedo mengabsen titik-titik sensitif yang ada di tubuh seksinya, atau malah gadis desa ini akan merintih keenakan karenanya. Membayangkan hal-hal panas tersebut membuat perasaan Fedo menjadi gelisah. Tubuhnya mendadak terasa begitu gerah dan juga panas.
"Ekhmmm, sayang, ada kabar menggembirakan untukmu. Kau mau dengar tidak?" tanya Fedo setelah berhasil mengendalikan diri dari gairah yang tadi sempat melonjak.
"Kabar menggembirakan apa itu, Kak? Apa kau kembali memenangkan tender dari perusahaan besar?"
__ADS_1
"Bukan, sayang. Kali ini kabar menggembirakan itu bukan datang dari dari kantor, tapi dari kita," sahut Fedo.
"Dari kita? Maksudnya bagaimana ya, Kak. Aku tidak mengerti."
Sebelum menjawab, Fedo berjalan ke arah meja kemudian mengambil bingkai foto di mana ada gambar Luri di dalamnya. Fedo tersenyum, dia lalu mengusap-usap wajah cantik yang telah berhasil memporak-porandakan perasaannya.
"Sayang, sebentar lagi kita akan segera bertemu. Lusa aku beserta Kayo, Ayah dan juga Ibu akan bertandang ke Shanghai. Kami sekeluarga mendapat undangan untuk menghadiri pesta pernikahannya Reinhard dengan Levita. Kau tahu siapa mereka kan?" ucap Fedo dengan kebahagiaan yang meluap-luap.
"Maksudnya dokter Reinhard dan Nona Levita yang seorang model itu ya? Wahhh, kalau mereka sih aku tahu, Kak. Kami juga di undang untuk datang, tapi aku malu. Mereka adalah orang-orang besar, aku tidak berani bergabung dengan mereka, Kak."
Kening Fedo mengerut saat mendengar nada ketidakpercayadirian yang terucap keluar dari mulut Luri. Aneh, tidak biasanya Luri bersikap seperti ini. Biasanya kan dia akan selalu berpikiran positif dengan tidak membandingkan statusnya dengan status orang lain. Sepertinya ada yang tidak beres di sini.
Cukup lama Fedo mendapat jawaban dari pertanyaan tersebut. Dan hal ini semakin menguatkan kecurigaan Fedo bahwa memang benar kalau Luri sedang merahasiakan sesuatu di belakangnya. Mata yang tadinya memancarkan sinar kebahagiaan, kini telah berganti menjadi tatapan mata yang begitu gelap dan dalam. Fedo mulai membayangkan hal yang tidak-tidak, dan kecurigaan tersebut kian menguat saat Luri tak kunjung menjawab.
"Luri, aku tidak tahu apa yang sebenarnya sedang kau tutupi dariku. Tapi aku harap saat aku dan keluargaku datang ke Shanghai, kenyataan yang ada di sana tidak akan membuatku kecewa. Aku mencintaimu, dan aku harap kau bisa jujur dengan apa yang sebenarnya terjadi!" ucap Fedo tegas.
"Kak, aku bukan sedang merahasiakan sesuatu darimu. Tapi aku memang benar-benar tidak percaya diri untuk datang ke acara mereka. Bukankah kau tahu sendiri seperti apa latar belakang keluarga dokter Reinhard dan juga Nona Levita? Tamu-tamu yang akan datang pasti bukan tamu biasa. Aku takut kalau kemunculanku di sana hanya akan membuat Kak Gleen dan Kak Lusi merasa malu. Juga denganmu dan juga keluargamu."
__ADS_1
"Oh, aku pikir kau keberatan karena ada aku di sana, sayang. Hufftt, maaf ya, tadi aku sempat berpikir yang tidak-tidak tentangmu," sahut Fedo seraya menghela nafas lega. Hilang sudah kecurigaannya sekarang.
"Ya ampun kau ini, Kak. Selalu saja berpikiran buruk tentangku."
Fedo terkekeh sambil menggaruk belakang kepalanya. Ternyata cinta ini mampu membuat otaknya tidak bisa berpikiran jernih sampai-sampai mencurigai gadisnya sendiri. Setelah itu Fedo kembali meletakkan bingkai foto ke atas meja, kemudian berjalan ke arah ranjang sebelum akhirnya berbaring di sana. Fedo menatap langit-langit kamar, membayangkan pertemuan indah yang akan segera tiba.
"Kak Fedo, hal-hal seperti tadi menjadi salah satu alasanku ingin memantaskan diri. Setidaknya setelah nanti aku berhasil mencapai cita-citaku, aku tidak akan semalu ini saat akan membaur dengan orang-orang berkelas seperti kalian. Mungkin kau dan keluargamu tidak akan ambil pusing mengenai perbedaan ini, tapi tidak dengan orang lain. Mereka pasti akan mencari tahu siapa aku, latar belakangku, dan juga profesiku. Dan semua itu adalah fakta yang tidak bisa kita ubah. Jadi aku minta padamu tolong beri aku sedikit waktu untuk menyesuaikan diri dengan mereka. Aku janji tidak akan lama. Ya?"
"Sayang, mau selama apapun itu aku akan tetap menunggu. Aku bahkan tidak peduli apakah nanti kau akan berhasil dengan cita-citamu itu atau tidak. Karena bagiku, dengan memilikimu saja itu sudah lebih daripada cukup. Tapi karena kau begitu gigih ingin menjadi seseorang yang bisa membanggakan orangtua, maka aku seratus persen mendukungmu. Aku ada di barisan paling depan jika suatu hari nanti kau mengalami kendala dalam mengejar cita-cita itu. Jangan khawatir, ada aku bersamamu," sahut Fedo dengan sangat tulus.
Andai saja Luri ada di sini, Fedo pasti akan langsung memeluknya dengan sangat erat. Rasanya benar-benar sangat berbeda ketika mengatakan hal manis seperti ini pada gadis yang kita cintai dan pada wanita yang hanya di jadikan sebagai pelampiasan saja. Sungguh, Fedo tidak bohong. Sensasinya membuat hati meledak dan serpihannya melebur mengikuti aliran darah. Sangat luar biasa.
"Terima kasih untuk kebaikan hatimu, Kak. Hmmm, semoga saja Tuhan melancarkan segala keinginan yang kita mau. Dan semoga juga hasil akhirnya tidak mengecewakan. Benar tidak?"
"Tentu saja itu sangat benar, sayang. Dan aku sangat yakin kalau kau pasti akan menjadi pemenangnya. Jangan patah semangat ya?"
Dua insan yang sedang di mabuk asmara ini terus saja saling memberikan dukungan. Baik Fedo maupun Luri, keduanya sama-sama mengharapkan hasil akhir yang memuaskan. Namun, kita tidak pernah tahu takdir seperti apa yang akan terjadi di masa depan. Bisa saja ada aral yang melintang, bisa juga berjalan mulus tanpa ada hambatan. Karena pada dasarnya manusia hanya bisa berencana, tapi Tuhanlah yang menentukan. Seperti sekarang ini. Fedo dan Luri bermain dengan andai-andai mereka sendiri, berdoa dengan penuh ketulusan kalau apa yang di inginkan bisa terlaksana dengan mudah. Tapi sekali lagi kembali pada titik dimana ada seseorang yang jauh lebih berhak memutuskan mana yang terbaik untuk mereka berdua. Dan seseorang tersebut adalah sesuatu yang tidak bisa kita lawan, yaitu garis takdir.
__ADS_1
*****