PESONA SI GADIS DESA

PESONA SI GADIS DESA
(FELUR) ~ Bermuka Dua


__ADS_3

Terdengar helaan nafas panjang saat Dominic mendengar laporan dari bawahannya kalau Kanita datang berkunjung ke perusahaan. Sebenarnya sejak kejadian dia di tegur oleh Mattheo, Dominic sedikit enggan untuk berbicara dengan anak dan istrinya. Dia merasa sakit hati pada dua wanita itu karena tidak ada yang menggubris ucapannya. Sebagai seorang suami sekaligus seorang ayah, Dominic merasa sangat malu atas sikap dan prilaku yang dilakukan oleh anak dan istrinya terhadap keluarga Eiji. Harga dirinya merasa tercoreng karena sudah dua kali mendapat teguran dari rekan bisnisnya itu.


"Hmmm Mili-Mili, sebenarnya didikan macam apa yang sudah kau berikan pada putri kita sampai-sampai dia tumbuh menjadi gadis yang tidak memiliki etika seperti ini? Kanita adalah satu-satunya harapan untuk meneruskan keluarga kita, tapi kenapa kau malah membiarkannya berada di jalan yang salah. Aku sungguh tidak habis pikir dengan kelakuan kalian berdua," gumam Dominic sambil memijit pinggiran kepalanya.


Tak lama berselang, Kanita masuk ke dalam ruangan. Dominic nampak acuh, dia tidak peduli meski putrinya melemparkan sapaan kepadanya.


"Ayah, apa kau masih marah padaku?" tanya Kanita sambil berjalan ke sisi sang ayah. "Jangan marah-marah terus, Ayah. Aku ini kan putrimu, aku minta maaf."


"Maaf yang kau ucapkan itu tidak tulus dari dalam hatimu, Kanita. Jadi maaf, Ayah sama sekali tidak merasa tersentuh," sahut Dominic tegas. Dia lalu menyibukkan diri dengan menandatangani berkas yang ada di mejanya.


Sadar kalau akan sulit meredam kemarahan ayahnya, otak Kanita pun segera bekerja memikirkan berbagai macam cara. Kedatangannya kemari adalah untuk membujuk sang ayah agar mau mengembalikan semua fasilitas yang telah di cabut paksa. Ya, sejak kemarin Kanita tidak bisa menggunakan semua kartu kreditnya. Dia terpaksa datang kemari karena tidak mendapat respon yang baik dari ibunya ketika mengadukan hal ini. Jika biasanya sang ibu akan langsung mengambil tindakan, kali ini Kanita harus menerima kenyataan pahit karena ternyata sang ibu setuju dengan tindakan ayahnya dengan alasan agar dirinya tidak bisa lagi mengejar Fedo. Sepertinya ibunya tahu kalau diam-diam Kanita telah meminta seseorang untuk menyelidiki gadis yang bernama Luri. Dan besar kemungkinan kalau ibunya salah menduga dia menghabiskan uang untuk membayar orang guna memata-matai semua aktifitas yang dilakukan oleh Fedo.


"Ayah, sebagai orangtua bukankah Ayah dan Ibu seharusnya mendukungku ya? Aku menyukai seorang pria berstatus tinggi, dan latar belakang keluarganya juga tidak perlu di ragukan lagi. Tapi kenapa Ayah malah begitu keras memberikan penolakan? Apa yang salah dengan Fedo. Apa salah kalau aku menginginkan pria sesempurna dia untuk menjadi suamiku? Tidak kan?" tanya Kanita terang-terangan. Dia sedang malas bersandiwara.


"Semua itu tidak salah. Akan tetapi caramu mendekatinyalah yang salah. Kau harusnya sadar Kanita darimana kau berasal, kau harus ingat kalau di dalam tubuhmu mengalir darah keluarga besar kita. Apa kata orang jika mereka sampai mendengar kalau kau sering bergonta-ganti pria di setiap malamnya? Dimana Ayah akan meletakkan harga diri Ayah? Kau pernah berpikiran ke arah sana tidak? Hah!" bentak Dominic habis kesabaran.


Saking kesalnya, Dominic sampai berdiri dari duduknya. Dia lalu berjalan ke dekat jendela, mengusap wajahnya untuk menormalkan emosi yang sedang menggelegak. Sungguh, Dominic benar-benar tidak habis pikir dengan kelakuan Kanita. Baru kali ini dia merasakan malu yang teramat sangat sejak putrinya ini di lahirkan ke dunia.


"Terserah orang mau bicara apa tentangku, Ayah. Yang jelas aku akan tetap mengejar Fedo, dia harus menjadi suamiku apapun yang terjadi. Sekarang tolong Ayah kembalikan semua milikku yang sudah Ayah ambil. Jika tidak, jangan salahkan aku kalau aku memilih jalan lain untuk mendapatkan uang!" ancam Kanita dengan gilanya.


"Kanita!" teriak Dominic dengan nada suara yang sangat tinggi.


"Jangan membentakku, Ayah. Aku ini putrimu, kau harusnya lebih mementingkan perasaanku daripada omongan orang-orang di luaran sana. Aku mencintai Fedo, selamanya akan terus seperti itu. Aku bisa gila jika tidak bisa bersamanya, Ayah. Aku bisa gila! Ayah dengar tidak!" sahut Kanita balas membentak teriakan sang ayah.


Dominic diam mematung. Sebegini gilakah cara Kanita mencintai Fedo? Bagaimana mungkin putrinya bisa sampai hilang kewarasan hanya gara-gara mencintai seorang pria? Hati Dominic serasa hancur, dia tidak menyangka kalau putrinya akan segila ini setelah terjebak dalam labirin cinta yang tak terbalas.

__ADS_1


Melihat mata putrinya yang berkaca-kaca, timbul rasa kasihan di benak Dominic. Semarah apapun dirinya, Kanita tetaplah putri yang sangat dia sayangi. Dominic berusaha berdamai dengan kemarahannya sendiri sebelum akhirnya mendekat ke arah Kanita untuk memeluknya. Naluri seorang ayah ternyata mampu mengalahkan segala rasa kekecewaan dan juga kemarahan yang sempat menguasai hatinya.


"Aku hanya ingin bersamanya saja, Ayah. Kenapa semua orang tidak ada yang mendukungku. Tidak adakah dari kalian yang bisa memahami betapa sakitnya aku saat di perlakukan hina oleh Fedo? Aku juga punya hati, Ayah. Aku terluka, aku juga kecewa," bisik Kanita sambil menahan tangis.


"Ayah bukannya tidak mau mendungkungmu, sayang. Akan tetapi jalan kau ambil sangat salah. Mungkin benar kalau perasaanmu itu tulus pada Fedo, tapi dia sama sekali tidak memiliki perasaan lebih kepadamu. Dengan kau yang terus memaksakan diri seperti ini, yang ada kau malah akan membuat Fedo semakin membencimu. Mengalahlah, coba buka mata dan hatimu untuk melihat ke arah lain. Di negara ini tidak hanya Fedo saja yang bisa kau cintai, ada banyak pria mapan dan sukses di luaran sana. Jadi Ayah harap kau jangan hanya terfokus padanya saja. Dia tidak mencintaimu, Kanita!" sahut Dominic sembari mengelus rambut putrinya dengan lembut.


Kalau saja bukan demi kartu kreditnya, Kanita pasti akan kembali meradang saat mendengar kata-kata ayahnya. Namun dia mencoba untuk tetap tenang agar sang ayah mau mengembalikan semua fasilitas miliknya. Karena sekarang Kanita sedang membutuhkan banyak uang untuk mencari tahu tentang identitas Luri.


"Aku tidak bisa menjawab iya untuk sekarang. Akan tetapi aku akan mencobanya secara perlahan, Ayah. Mungkin ini akan membutuhkan waktu sedikit lama, dan aku harap Ayah tidak meninggalkan aku sendirian di masa sulit ini!" ucap Kanita menghiba. Dia benar-benar wanita bermuka dua yang sangat pandai bersilat lidah.


Ada perasaan lega saat Dominic mendengar kesediaan Kanita untuk melepaskan Fedo. Dia kemudian mengurai pelukan, menangkup kedua pipi putrinya lalu mencium keningnya penuh sayang.


"Ayah sangat menyayangimu, Nak. Ayah hanya ingin yang terbaik untukmu. Jangan khawatir ya, Ayah dan Ibu pasti akan selalu ada bersamamu untuk melewati semua ini. Dan pada akhirnya semua pasti baik-baik saja, termasuk hatimu juga."


Kanita mengangguk sambil tersenyum kecil. Padahal dalam hatinya dia sedang bersorak kegirangan karena telah berhasil meluluhkan hati sang ayah. Saat Kanita sedang berbincang hangat dengan ayahnya, ponsel di dalam tasnya berdering. Dia kemudian pamit untuk mengangkat panggilan tersebut.


"Nona, aku sudah berhasil menemukan keberadaan gadis itu. Dia tinggal di Shanghai, dan saat ini masih bersekolah di salah satu sekolah ternama di negara tersebut."


Sebuah smirk jahat muncul di bibir Kanita begitu keberadaan Luri berhasil di temukan. Hari ini sungguh penuh dengan keberuntungan. Pertama, dia berhasil mendapatkan hati ayahnya. Dan kedua, orang suruhannya juga berhasil menemukan tempat tinggal gadis yang menjadi penghalang hubungannya dengan Fedo. Kanita benar-benar sangat terberkati.


"Nanti malam kita bertemu di tempat biasa. Pastikan kau membawa informasi lengkap tentang gadis itu!"


"Masalah itu gampang, Nona. Lalu bagaimana dengan bayaranku? Kau tidak lupa dengan janjimu waktu itu bukan?"


"Jangan cerewet, datang dan dapatkan uangmu nanti malam. Aa satu lagi, tolong carikan orang yang bisa menjadi penunjuk jalan ke Shanghai. Kemungkinan besar besok aku akan langsung pergi ke sana!" ucap Kanita kemudian memutuskan panggilan tanpa menunggu jawaban dari orang suruhannya.

__ADS_1


Kanita menyimpan kembali ponsel ke dalam tasnya sambil berjalan menghampiri sang ayah. Dia dengan cepat memasang raut menyedihkan untuk kembali membujuk ayahnya ini.


"Ada apa? Kenapa wajahmu begitu menyedihkan?" tanya Dominic heran.


"Ayah, temanku mengajak pergi ke salon dan berbelanja. Akan tetapi semua kartu kreditku sudah di bekukan. Bisakah Ayah membukanya kembali untukku? Aku ingin pergi bersenang-senang dengan mereka untuk mengalihkan perhatianku dari memikirkan Fedo. Bolehkan?" jawab Kanita dengan suara memelas.


Dominic terkekeh. Dia lalu mengacak rambut putrinya, merasa gemas jika melihatnya sedang bermanja seperti ini.


"Pergilah bersenang-senang dengan temanmu itu. Masalah kartu kredit kau tidak perlu khawatir, Ayah akan langsung membukanya begitu kau melangkah keluar dari sini,"


"Benarkah? Ayah tidak bohongkan?"


"Ayah mana mungkin berbohong untuk putri Ayah yang cantik ini. Sudah sana, temanmu pasti sudah menunggu."


"Kau yang terbaik, Ayah. Aku mencintaimu."


Kanita mencium kedua pipi ayahnya sebelum pergi dari sana. Dan raut wajahnya langsung berubah bengis begitu dia berada di luar perusahaan.


"Aku mendapatkanmu, Luri. Lihat saja. Jika Fedo tidak bisa kumiliki, maka aku akan membuat semua gadis pergi meninggalkannya. Aku ingin lihat seberapa kuat cinta mereka setelah aku memberitahu Luri kalau aku adalah salah satu wanita yang pernah tidur dengan Fedo. Aku yakin detik itu juga hubungan mereka pasti akan langsung putus. Heh!"


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


...πŸ’œJangan lupa vote, like dan comment pasangan felur kita ya gengss...


...πŸ’œIg: rifani_nini...

__ADS_1


...πŸ’œFb: Rifani...


__ADS_2