
Setelah melihat isi rekaman CCTV, Abigail dan Mattheo akhirnya bisa bernafas lega. Beban yang tadinya menekan dada mereka langsung hilang begitu tahu kalau waktu itu Kanita menghabiskan malam dengan seorang pria asing, bukan dengan putra mereka. Fedo yang melihat kelegaan di diri kedua orangtuanya tak kuasa untuk tidak tersenyum. Dia ikut merasa lega karena sekarang tak ada lagi masalah yang perlu mereka khawatirkan.
"Fed, apa kau tahu siapa pria itu? Dari gerak-geriknya sepertinya dia bukan pria sembarangan," tanya Mattheo penasaran.
"Untuk sekarang ini aku masih belum tahu identitas pasti dari pria itu, Ayah. Tadinya aku sempat terfikir untuk menyelidiki, tapi karena Kanita tak pernah menggangguku lagi jadinya aku lupa. Lagipula siapa yang akan menyangka kalau Kanita akan hamil anaknya pria itu. Dan sialnya lagi akulah yang di curigai oleh Kayo dan Ibu. Tahu begini sedari awal aku memberitahu kalian tentang video ini," jawab Fedo sembari mematikan laptop miliknya. Dia lalu meletakkan kedua tangannya sebagai bantalan kepala. "Aku jadi penasaran bagaimana cara Kanita menyembunyikan kehamilannya dari Tuan Dominic dan Nyonya Mili. Masa iya orangtuanya tidak merasa curiga melihat perubahan di dirinya. Mereka kan tinggal dalam satu rumah. Aneh."
"Sejak hari itu Kanita sudah tidak tinggal dengan mereka lagi, Fed. Kayo yang bilang pada Ibu," ucap Abigail. "Teman-temannya bilang Kanita selalu mengurung diri di apartemen baru miliknya. Dia beralasan sedang membutuhkan waktu tenang supaya bisa melupakanmu. Siapa yang tahu kalau alasan sebenarnya adalah karena sedang berusaha menutupi rahasia ini dari keluarga dan teman-temannya. Miris."
Jujur, sebenci apapun Fedo pada Kanita, masih terbersit rasa kasihan di benaknya setelah tahu kalau mantan teman tidurnya itu telah melewati waktu yang cukup sulit. Biar bagaimana pun Fedo memiliki seorang adik perempuan, dia tidak bisa membayangkan jika seandainya Kayo yang ada di posisinya Kanita sekarang. Perasaan Fedo dan kedua orangtuanya pasti akan sangat hancur.
"Sayang sekali. Padahal semua orang mengenal keluarga Dominic sebagai keluarga bahagia yang menjunjung tinggi norma dalam keluarga. Kanita pasti akan menjadi bahan cemoohan semua orang jika kabar kehamilannya sampai bocor keluar. Hmmm, bukannya ingin menyoraki musibah itu. Hanya saja aku merasa beruntung karena Kayo bukanlah gadis murahan seperti Kanita. Tidak apa-apa Kayo di kenal sebagai gadis galak dan juga dingin. Yang terpenting dia bisa menjaga harga dirinya dengan baik!" ucap Mattheo prihatin memikirkan nasib putri dari rekan bisnisnya.
"Kau benar, Matt. Aku jadi kasihan pada Tuan Dominic. Sebagai seorang ayah, hatinya pasti akan sangat hancur jika tahu kalau putri semata wayangnya hamil di luar nikah. Hahhh, pergaulan zaman sekarang benar-benar sangat mengerikan. Akibat pergaulan bebas, sekarang masa depan Kanita yang di pertaruhan. Semoga saja pria itu mau mempertanggungjawabkan perbuatannya, Matt. Sebagai seorang Ibu, rasanya hatiku ikut sakit memikirkan nasib Kanita dan bayinya. Aku harap Tuan Dominic dan Nyonya Mili tidak mengusir Kanita pergi dari rumah setelah mengetahui kabar tidak mengenakkan ini!" timpal Abigail seraya menghela nafas panjang.
Suasana menjadi hening setelah Abigail dan Mattheo mengungkap keprihatinan mereka. Entahlah, zaman sudah semakin tua. Ada banyak orang yang suka melakukan sesuatu hal tanpa memikirkan dampak belakangnya. Salah satu contohnya adalah kehamilan Kanita. Meski berasal dari keluarga yang sangat terpandang, nyatanya wanita ini sama sekali tak peduli akan hal tersebut. Kanita dengan bangganya berganti-ganti pria di setiap malam. Mungkin Kanita lupa akan bunyi dari salah satu pepatah yang menyebutkan kalau sepandai-pandai tupai melompat, suatu saat pasti akan terjatuh juga. Dan sekarang Kanita sedang berada di titik terbawah dalam hidupnya. Ibarat kata, dia tengah menuai hasil dari benih yang di tanamnya selama ini. Karena kebiasaannya yang suka menghabiskan malam bersama para pria, kini Tuhan memberi teguran dengan mengirim seorang janin ke dalam rahimnya. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya, Abigail dan Mattheo hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk wanita yang selama ini terus mengejar cinta putra mereka.
__ADS_1
"Oh ya Fed, sekarang sudah kelulusan sekolah kan? Kalau boleh tahu Luri akan melanjutkan pendidikan ke universitas mana?" tanya Abigail yang tiba-tiba terkenang dengan Luri.
"Emm, aku tidak tahu, Bu. Luri bilang dia belum mengambil keputusan akan lanjut ke universitas yang mana. Tapi kemungkinan besar dia akan kuliah di Shanghai," jawab Fedo sambil mengusap-usap dagu bawahnya. Ada sedikit keraguan di hati Fedo saat mengatakan kalau Luri akan tetap lanjut kuliah di negaranya.
Semoga saja firasatku ini tidak benar. Luri selalu berkilah setiap kali aku menyinggung tentang kuliahnya. Kalau sampai dia berani kabur dariku, aku bersumpah akan menikahinya detik itu juga, ujar Fedo membatin.
"Kenapa Ayah merasa kau sedang menutupi sesuatu ya, Fed? Tatapan matamu tidak seirama dengan ucapanmu. Ada apa? Apa ada sesuatu yang menggangu pikiranmu?" tanya Mattheo curiga.
"Entahlah, Ayah. Aku bingung memikirkan Luri. Dia selalu saja mengalihkan pembicaraan setiap kali aku bertanya tentang sekolahnya. Apa mungkin dia akan menikah muda dengan Galang secara diam-diam? Makanya dia tidak mau bicara jujur padaku," jawab Fedo bicara dengan raut wajah yang begitu masam.
"Ayahmu benar, Fed. Kau itu tidak boleh berpikiran negatif pada Luri. Ibu saja percaya kalau dia tidak akan mengkhianatimu. Masa kau yang sebagai kekasihnya tidak bisa berfikir positif seperti Ibu?" timpal Abigail seraya menggelengkan kepala. Putranya ini benar-benar ya.
Fedo meringis pelan sambil menggaruk keningnya yang tak gatal. Bukannya apa, Fedo berkata seperti itu karena merasa bingung dengan dirinya sendiri. Dia tentu saja sangat percaya pada Luri, dan akan menjadi orang pertama yang mendukung kesuksesan karirnya. Akan tetapi Fedo merasa seperti ada yang sengaja di tutupi oleh gadis desanya itu. Dan hal inilah yang membuatnya menyasar menyalahkan Galang.
"Daripada terus berprasangka buruk seperti ini apa tidak sebaiknya aku pergi melamar Luri saja ya Bu, Ayah? Kalau dia ada bersamaku, aku pasti tidak akan berpikiran yang tidak-tidak seperti tadi. Rasanya sungguh tidak enak berjauhan seperti ini," keluh Fedo.
__ADS_1
"Ya sudah sana lamar Luri pada orangtuanya. Lalu setelah itu bersiaplah menangis bombai di tinggal pergi oleh gadis desa itu!" sahut Mattheo dengan kejam. "Sudah tahu Luri ingin menjadi dokter, tapi kenapa kau tidak sabaran sekali sih, Fed? Apa karena burungmu sudah kegatalan ingin di garuk? Nah darling, tolong ambilkan garpu di dapur untukku. Aku ingin membantu Fedo menggaruk burungnya yang tidak punya perasaan itu!"
"Jaga kata-katamu, Matt. Aku kan sudah bilang jangan bicara kotor di depan anak-anak kita. Kau ini Ayah yang bagaimana sih!" tegur Abigail jengkel mendengar kalimat fulgar yang di lontarkan oleh suaminya.
"Tentu saja aku adalah Ayah yang tampan dan baik hati, darling. Kalau di depan Fedo, kita itu tidak perlu bicara sungkan. Karena otaknya jauh lebih kotor dan mesum daripada otak yang ada di dalam kepalaku. Iya kan, Fed?" sahut Mattheo tanpa merasa berdosa sama sekali.
Alhasil, Abigail yang kesal pun menjitak kepala suaminya. Setelah itu dia beranjak keluar dari sana, meninggalkan suami dan putranya yang tengah menertawakan kemarahannya.
"Bagaimana ini, Ayah. Ibu marah, malam ini Ayah pasti tidak akan mendapat jatah!" ledek Fedo.
"Siapa bilang Ayah tidak mendapat jatah? Yang ada Ibumu malah akan meminta terus saat Ayah akan menghentikan permainan. Lupa ya berguru pada siapa kau sebelum di nobatkan menjadi seorang Casanova?" sahut Mattheo dengan pedenya.
Setelah berkata seperti itu Fedo dan Mattheo tertawa terbahak-bahak. Dalam urusan seperti ini mereka pasti selalu kompak. Biasalah, sesama lelaki pasti tahu isi pikiran masing-masing tanpa harus di jabarkan panjang lebar. Mereka akan langsung paham kemana arah pembicaraan yang sedang mereka bahas. Sungguh sangat membagongkan ya bun?
*****
__ADS_1