PESONA SI GADIS DESA

PESONA SI GADIS DESA
(FELUR) ~ Hanya Manis Di Mulut


__ADS_3

Luri diam termangu di dekat jendela setelah membersihkan diri di kamar mandi. Dia terpikir akan perkataan Fedo yang menyebutkan kalau lusa pria itu beserta keluarga besarnya akan bertandang ke Shanghai. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan kedatangan mereka ke negara ini. Akan tetapi Luri merasa khawatir kalau-kalau ada seseorang yang memberitahu Fedo tentang keberangkatannya ke luar negeri. Karena kebetulan dia dan Galang akan berangkat tiga hari setelah kedatangannya.


"Apa besok sekalian saja ya aku beritahu Kak Fedo tentang semua ini. Tapi kalau Kak Fedo marah lalu memaksaku untuk jangan pergi bagaimana? Dia kan orangnya nekad. Aku khawatir dia malah akan meminta keluarganya untuk melamarku. Lalu langkah apa yang harus aku ambil agar semuanya tidak keluar jalur?" ujar Luri meragu.


Saat Luri tengah sibuk menimang keputusan, tiba-tiba saja bayangan mimpi buruk itu kembali singgah di pikirannya. Luri tersentak, dia kembali di buat tidak tenang karenanya.


Ya Tuhan, jika mimpi itu adalah pertanda buruk untuk keluargaku, tolong jauhkanlah. Lindungi kami semua dari segala musibah apapun itu. Dan jika mimpi itu adalah pertanda kalau aku akan mengalami kendala dalam mengejar tujuanku, tolong kuatkan dan beri aku kesabaran yang sangat banyak. Aku berserah padamu, Tuhan, doa Luri dalam hati.


Kegelisahan Luri lenyap seketika saat ada seseorang membuka pintu kamarnya. Dia kemudian menoleh, tersenyum ke arah orang yang kini sedang berjalan ke arahnya.


"Kenapa kau lama sekali, sayang? Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Nita seraya menatap deretan koper yang tersusun rapi di lantai. Dia menarik nafas dalam.


"Maaf membuat Ibu dan yang lainnya menunggu. Aku tidak sedang melakukan apa-apa, Bu. Hanya tengah berpikir kira-kira barang apa yang belum aku persiapkan," jawab Luri beralasan.


Paham kalau perhatian sang ibu tersita oleh koper-koper miliknya, Luri pun berinisiatif untuk memeluknya. Dia tersenyum kecil ketika sang ibu membalas pelukannya dengan sangat erat.


"Tidak apa-apa, Bu. Semuanya pasti akan berjalan seperti yang kita harapkan. Aku hanya pergi sebentar, dan aku janji akan segera pulang dengan membawa kabar menggembirakan untuk kalian semua di sini. Jangan sedih, ya?" hibur Luri dengan suara yang begitu lembut.

__ADS_1


"Hmmmm, bagaimana mungkin seorang ibu yang akan segera berpisah dengan anaknya tidak merasa sedih, Luri. Kau putri kesayangan Ibu, sudah pasti Ibu akan merasa sangat kehilangan meskipun kau hanya pergi untuk sementara. Selama ini kan kita selalu bersama-sama. Jadi rasanya sangat aneh ketika Ibu melihat kau menyusun pakaianmu di koper-koper itu," sahut Nita lirih.


"Apa Ibu mau ikut pergi bersamaku saja? Aku tidak keberatan merawat Ibu sambil belajar di sana," canda Luri sembari mengendurkan pelukan.


Nita menghembuskan nafas berat kemudian menggelengkan kepala. Sebenarnya Nita mau-mau saja ikut pergi bersama Luri ke luar negeri. Akan tetapi Nita tidak mungkin melakukannya karena dia sadar kalau di sana nanti dia hanya akan menambah beban putrinya yang sedang fokus mengejar cita-cita sebagai seorang dokter. Lagipula Nita juga tidak mungkin meninggalkan suami dan juga putri bungsunya berdua di negara ini. Dia cukup tahu diri dengan tidak melupakan kewajibannya sebagai seorang istri dan juga seorang ibu bagi Nania. Jadi biarlah. Mau tidak mau dia harus mau untuk berpisah sementara waktu dengan putri kebanggaannya ini.


"Bu, lusa Kak Fedo dan keluarganya akan datang menghadiri pernikahannya dokter Reinhard dan Nona Levita. Menurut pendapat Ibu haruskah aku memberitahukan hal ini padanya besok?" tanya Luri meminta pendapat dari sang ibu.


"Em bagaimana ya. Sebenarnya tidak boleh kalau kita menunda ataupun menutupi sesuatu dengan tujuan yang baik. Akan tetapi jika hal itu perlu untuk dilakukan, Ibu rasa tidak ada salahnya kalau kau tidak memberitahu Fedo dulu. Dia orang kaya, Luri. Bukan hal yang sulit untuknya membuatmu gagal berangkat ke luar negeri," jawab Nita penuh pertimbangan. "Bukannya Ibu sedang berpikiran buruk tentang Fedo. Tapi melihat dari kenekatan dan juga kekuasaan keluarganya, Ibu yakin kalau Fedo pasti tidak akan membiarkanmu pergi jauh. Seratus persen Ibu berani menjamin kalau Fedo akan menghalalkan segala cara untuk menghambat kepergianmu ke sana."


Suasana kamar terasa begitu hening setelah Nita menyatakan pendapatnya. Luri yang mendengar hal itupun sama sekali tak ada niatan untuk membantah. Toh yang di katakan oleh ibunya memang benar. Fedo nekat, juga gila dalam mengutamakan perasaannya.


"Kalau memang benar seperti itu bukankah sebaiknya aku memberitahu Kak Fedo sedari sekarang ya, Bu? Dia bilang dia akan selalu ada untuk mendukungku. Harusnya dia tidak melakukan sesuatu yang nekat jika aku mengatakan hal ini kan?" tanya Luri memastikan. Dia takut salah mengambil keputusan.


Nita tersenyum. Ternyata gadis ini sedang dilema. Pantas saja Luri tiba-tiba membahas sesuatu yang sudah dari awal dia sepakati sendiri. Tak mau putrinya merasa gundah, Nita dengan sabar kembali memberi pengertian.


"Sayang, terkadang ucapan seorang pria itu hanya manis di mulut saja. Sekarang begini. Saat Fedo mendengar kalau kau akan berangkat bersama Galang, kira-kira dia akan tetap menerimanya tidak? Kau sendiri kan yang bilang kalau anak itu sangat membenci kedekatanmu dengan Galang? Dari sini saja kita sudah bisa mengambil kesimpulan akan seperti apa reaksinya nanti saat tahu kalau kalian akan menempuh pendidikan di universitas dan juga negara yang sama. Ibu yakin Fedo pasti akan langsung kebakaran jenggot karena cemburu. Benar tidak?"

__ADS_1


Kali ini Luri tak bisa mengelak lagi. Dia sedikit lupa kalau Galang adalah orang pertama yang paling di musuhi oleh Fedo.


"Ya sudah, kalau begitu nanti saja aku memberitahu Kak Fedo. Bisa gawat nanti kalau dia tahu aku akan pergi bersama Galang," ucap Luri seraya tersenyum malu.


"Nah, sekarang sudah tidak galau lagi kan?" ledek Nita ketika mendapati raut merona di pipi Luri. Lucu sekali bisa menyaksikan putrinya yang sedang di mabuk asmara karena mengkhawatirkan perasaan seorang pria. Nita serasa tengah bernostalgia akan kenangannya dulu bersama sang suami.


"Maaf ya Bu kalau aku terlihat begitu agresif memikirkan Kak Fedo. Aku hanya takut dia merasa kecewa saja. Juga karena aku khawatir ada orang lain yang memberitahunya dulu sebelum aku," sahut Luri.


"Justru memikirkan hal-hal kecil seperti ini sangat di butuhkan dalam suatu hubungan, sayang. Karena ini adalah salah satu cara untuk menghargai perasaan pasangan kita. Kau khawatir Fedo merasa kecewa, dan itu tidak ada yang salah. Ibu malah senang melihatnya. Sungguh!"


"Tolong di ralat, Bu. Aku dan Kak Fedo belum menjadi pasangan. Kami hanya teman dekat."


"Iya teman dekat yang saling khawatir dan juga saling memendam rindu. Ibu benar tidak?"


Nita tak kuasa untuk tidak tertawa melihat pipi putrinya yang semakin memerah setelah dia goda. Sudah sampai di tahap seperti inipun Luri masih enggan untuk mengakui kalau Fedo adalah pasangannya. Padahal jelas-jelas putrinya ini begitu menyayangi pria itu. Sungguh manis melihat cinta para remaja seperti mereka.


"Nah, karena sekarang putri Ibu sudah tidak galau lagi, bagaimana kalau kita turun ke bawah untuk sarapan. Nania dan Ayahmu pasti sudah mengomel karena terlalu lama menunggu kedatangan kita di sana. Ayo!" ajak Nita setelah puas tertawa.

__ADS_1


"Baiklah, Bu. Ayo!"'sahut Luri kemudian mengikuti langkah sang ibu keluar dari dalam kamar. Perasaan Luri sekarang sudah jauh lebih tenang meski bayangan mimpi itu masih bergelayut di dalam pikirannya.


*****


__ADS_2