PESONA SI GADIS DESA

PESONA SI GADIS DESA
(FELUR) ~ Aku ... Hamil


__ADS_3

Seusai makan malam di luar rumah, Galang memutuskan untuk segera datang ke rumah Luri. Hari ini pikirannya benar-benar di buat tidak tenang setelah kemunculan berita itu. Galang berniat meminta penjelasan dari Luri apakah benar dia menjalin hubungan dengan Fedo atau tidak. Karena jika iya, mungkin Galang akan lebih teliti lagi dalam mengambil langkah. Akan tetapi jika tidak itu artinya Galang masih memiliki kesempatan besar untuk bisa menjadikan Luri sebagai kekasihnya. Tinggal trik dan cara mendekatinya saja yang perlu di rubah.


"Huftt, semoga saja kau tidak memiliki hubungan dengan pria itu, Luri," gumam Galang sesaat sebelum keluar dari mobil.


Setelah merapihkan pakaian dan juga mengambil buah tangan di kursi belakang, Galang bergegas menuju pintu lalu mengetuknya. Dia tersenyum ramah ketika seorang pelayan membukakan pintu lalu memintanya untuk masuk ke dalam rumah.


"Silahkan duduk, Galang. Saya akan ke dalam sebentar untuk memanggilkan Nona Luri."


"Terima kasih, Bibi. Oh ya, ini ada sedikit oleh-oleh untuk kalian," sahut Galang sopan.


"Terima kasih banyak."


Galang mengangguk. Sembari menunggu Luri datang, dia membuka-buka akun media sosialnya. Dan seperti tadi siang, berita di internet masih di kuasai oleh seorang gadis misterius yang muncul bersama salah satu kerabat keluarga Ma. Andai saja bisa, ingin sekali Galang men-take down berita ini agar tak lagi muncul laman akun media sosialnya. Terlalu sakit untuknya melihat Luri bersama pria lain. Galang cemburu berat.


"Galang?" panggil Luri begitu sampai di ruang tamu. "Kapan kau datang? Maaf ya, aku baru saja selesai makan malam bersama keluargaku tadi."


"Tidak apa-apa, Luri. Aku juga baru saja sampai di rumahmu," sahut Galang tanpa melepaskan pandangan dari wajah cantiknya Luri.


Dan baru saja Luri duduk menemani Galang, ponsel miliknya sudah berdering. Kening Luri langsung mengerut ketika dia melihat nomor asing yang menghubunginya.


"Siapa yang menelponmu, Luri?" tanya Galang penasaran.


"Em aku tidak tahu, Lang. Nomor ini masih baru di ponselku," jawab Luri. "Tunggu sebentar ya, aku takut ini adalah telpon penting. Tidak apa-apa kan kalau kau menunggu sebentar?"


"Santai saja. Sama sekali bukan masalah untukku menunggu."

__ADS_1


Karena ponselnya tidak berhenti berdering, Luri memutuskan untuk segera pindah ke ruangan lain. Dia lalu menjawab panggilan tersebut dengan penuh rasa penasaran.


"Halo. Siapa ini?" tanya Luri.


"Ini aku, Kanita!"


Jantung Luri seakan berhenti berdetak begitu dia tahu kalau yang sedang menelponnya adalah mantan teman tidur Fedo. Sedetik kemiskinan Luri tampak menggelengkan kepala ketika muncul dugaan yang tidak-tidak tentang wanita ini.


"Ohh, Nona Kanita. Ada apa menelponku malam-malam begini?" tanya Luri lagi.


"Luri, aku tidak akan bertele-tele lagi. Apa benar foto yang beredar luas di internet adalah kau yang sedang bersama Fedo?"


"Ya, benar. Itu kami. Ada apa? Apa kau merasa terganggu dengan foto itu?"


Kedua alis Luri saling bertaut ketika tidak terdengar suara apapun lagi dari dalam telepon. Akan tetapi Luri tahu kalau panggilan tersebut masih terhubung. Dan ketika Luri sedang menunggu Kanita bicara, tiba-tiba saja bayangan mimpi buruk itu melintas di kepalanya. Luri langsung gelisah seketika.


Malam ini tiba-tiba saja dunia seakan runtuh di mata Luri. Tidak sedetik pun Luri terpikir kalau hal semacam ini akan menghampiri hidupnya. Ruh di tubuh Luri seakan berpindah tempat saat tahu kalau Kanita tengah mengandung anaknya Fedo. Seluruh tubuh Luri menjadi sangat lemas, dia sampai tidak bisa berkata apa-apa.


Jadi ini arti dari mimpi buruk yang aku lihat malam itu? Kak Fedo ... kenapa kau mengkhianati aku? batin Luri penuh kekecewaan.


"Luri, aku tahu kabar ini pasti sangat membuatmu terkejut. Tapi aku sudah tidak memiliki cara lain lagi untuk membuat Fedo bersedia bertanggung jawab. Kita ini kan sama-sama wanita, Luri. Tolong mengalahlah demi bayiku. Ya?"


"Nona Kanita, hubungan antara aku dan Kak Fedo belum sampai taraf di mana aku tega merebut kebahagiaan seorang anak yang belum lahir. Jujur, aku memang sangat terkejut saat tahu kalau kau sedang mengandung anaknya Kak Fedo. Tapi aku juga tidak sejahat itu dengan membiarkan bayimu lahir tanpa ada sosok ayah di sampingnya. Kau tenang saja, mulai malam ini Kak Fedo bukan lagi milikku. Dan kebetulan besok pagi aku akan berangkat ke London untuk melanjutkan pendidikan, jadi kau bisa menggunakan kesempatan ini untuk kembali merebut perhatiannya. Jangan khawatir, aku pastikan kalau aku tidak akan pernah muncul lagi dalam hubungan kalian. Pegang kata-kataku!" ucap Luri dengan suara yang sedikit tercekat. Ya, ini yang harus dia lakukan. Tidak apa sedikit mengorbankan perasaan karena ini adalah pilihan terbaik daripada harus merebut kebahagiaan calon bayi yang akan segera lahir.


"Terima kasih banyak, Luri. Aku sangat yakin dengan apa yang kau janjikan barusan. Sekali lagi aku minta maaf karena kehadiran bayi ini sudah merusak kebahagiaanmu dengan Fedo. Tolong kau jangan menyimpan dendam pada kami ya? Ini semua di luar kendaliku, dan aku sama sekali tidak pernah merencanakannya. Sungguh!"

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Nona Kanita. Aku bisa memaklumi," sahut Luri dengan mata berkaca-kaca. "Oh ya, Nona Kanita. Aku tidak bisa mengobrol terlalu lama denganmu karena sekarang ada temanku yang sedang menungguku. Tidak apa-apa kan kalau panggilan ini aku matikan?"


"Tidak apa-apa, Luri. Silahkan saja. Lagipula hanya itu yang ingin aku sampaikan. Maaf karena sudah mengganggu waktumu."


"Tidak masalah. Dan ... selamat atas kehamilanmu. Aku doakan semoga kau beserta anakmu selalu sehat sampai hari melahirkan tiba. Selamat malam!"


Dan panggilan pun akhirnya terputus. Untuk beberapa saat Luri hanya diam mematung sambil menatap kosong ke arah depan. Apa ini? Mimpi buruk apa yang baru saja terjadi? Kenapa rasanya sakit sekali?


"Kak Fedo," lirih Luri sambil menyeka air mata yang akhirnya menetes keluar.


Teringat kalau Galang masih menunggunya di ruang tamu, Luri segera menguatkan diri untuk kembali ke sana. Namun ada yang aneh dengan reaksi tubuhnya. Langkahnya terasa begitu ringan seperti tidak memijak bumi. Kenapa? Kenapa di saat perasaannya sedang melambung tinggi tiba-tiba kenyataan memaksa Luri untuk jatuh ke dasar jurang yang paling dalam. Apa salahnya? Kenapa Luri harus sampai mengalami sesuatu yang menyakitkan seperti ini? Kesalahan apa yang telah dia perbuat sampai dia harus menanggung karma yang begitu menyesakkan dada? Apa?


"Luri, kau kenapa?" tanya Galang kaget melihat Luri yang muncul dengan mata sembab. Segera dia datang mendekat lalu membimbingnya untuk duduk di sofa. "Luri, kenapa kau menangis? Siapa yang tadi menelponmu?"


"Lang, bisakah kita berangkat ke London besok pagi? Aku mohon," tanya Luri sambil menahan tangisnya.


"Haa? Kenapa besok pagi? Kita kan di jadwalkan untuk berangkat lusa, kenapa jadi mendadak seperti ini?" jawab Galang kebingungan ketika Luri mengajaknya untuk berangkat ke London besok pagi. "Luri, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kau tiba-tiba jadi begini setelah menerima panggilan itu? Dia siapa? Apa yang dia katakan padamu?"


Tak ada jawaban apapun yang keluar dari mulutnya Luri. Hal ini tentu saja membuat Galang menjadi sangat resah. Tak mau ada penyesalan, Galang akhirnya memutuskan untuk menyetujui keinginan Luri. Biarlah, toh tidak ada bedanya juga mau berangkat besok ataupun lusa. Asalkan tetap bersama Luri, sekalipun malam ini Galang pasti akan tetap menuruti keinginannya.


"Kita berangkat besok pagi, Luri. Sekarang kau masuklah ke dalam. Urusan tiket dan pihak sekolah biar aku yang selesaikan. Kau istirahatlah dan jangan lupa kemasi semua barang yang akan kau bawa ke London. Oke?" ucap Galang sambil mengelus rambut Luri. Sakit sekali hati Galang melihat Luri yang seperti ini.


"Terima kasih, Lang. Kau baik sekali," sahut Luri sambil berusaha untuk tersenyum. "Kalau begitu aku masuk ke dalam dulu ya. Kau berhati-hatilah saat mengemudi nanti."


Galang mengangguk. Dia menatap kepergian Luri dengan benak yang di penuhi banyak pertanyaan. Ingat kalau masih ada banyak hal yang harus dia lakukan, Galang pun pamit pulang pada pelayan. Dia kemudian mengirim pesan pada Jovan dan memintanya agar datang ke rumah.

__ADS_1


"Sebenarnya siapa yang menghubungi Luri? Kenapa orang ini bisa membuat Luri menangis seperti itu?" gumam Galang menebak-nebak sambil menyetir mobilnya.


***


__ADS_2