PESONA SI GADIS DESA

PESONA SI GADIS DESA
(FELUR) ~ Hati Yang Tidak Baik-Baik Saja


__ADS_3

Luri menatap kosong bayangan tubuhnya di depan cermin. Sekarang waktu menunjukkan pukul empat dini hari, masih sangat pagi bukan? Ya, dan ini adalah waktu yang tepat untuk Luri pergi dari negara ini. Semalam setelah Luri menyudahi obrolannya dengan Fedo, Galang menelpon. Dia mengabarkan kalau jam lima pagi ini mereka sudah harus berada di bandara. Sesuai yang Luri minta, Galang benar-benar menyiapkan semua hal agar mereka bisa berangkat ke London lebih awal. Walaupun sedih, Luri harus tetap pergi sesegera mungkin. Dia tidak mau sampai bertemu dengan Fedo yang mana akan membuat pria itu semakin enggan untuk bertanggung jawab atas apa yang di alami oleh Kanita.


"Kenapa sakit? Dan ... dadaku kenapa sesak? Bukankah keputusan ini aku sendiri yang membuat? Tapi kenapa rasanya bisa sesakit ini. Kenapa?" gumam Luri seraya memegangi dadanya yang tiba-tiba terasa begitu sakit dan juga sesak.


Tanpa terasa sebutir cairan bening lolos dari sudut mata Luri. Rupanya rasa sakit yang muncul membuatnya tak tahan untuk tidak meneteskan air mata. Hari ini harusnya menjadi hari di mana Luri akan memberitahu Fedo kalau besok dia akan pergi ke London guna memenuhi tujuannya. Memantaskan diri? Masihkah Luri berhak untuk melakukannya? Tapi untuk apa kalau orang yang dia tuju akan segera memiliki anak dari wanita lain. Sungguh, tak sekalipun Luri pernah berpikir kalau Fedo akan tega mengkhianatinya. Dua bulan lalu Luri pernah di bohongi olehnya di mana Fedo mengaku ingin mendatangi salah satu kolega bisnisnya di sebuah hotel. Luri yang memang tak pernah menyimpan prasangka buruk padanya pun sama sekali tidak merasa curiga meski waktu kunjungan Fedo ke hotel tersebut sedikit aneh. Ya, Fedo datang ke hotel di waktu yang sudah cukup larut. Namun karena Fedo mengatakan kalau kliennya baru saja tiba, Luri percaya-percaya saja pada apa yang Fedo katakan. Tapi siapa yang akan menyangka kalau klien yang di maksud oleh Fedo ternyata adalah Kanita, salah satu mantan teman tidur Fedo yang pernah mendatangi Luri di sekolah. Syok? Itu sudah pasti. Rasanya hati Luri seperti di cabik-cabik saat mendengar pengakuan Kanita yang menyebutkan kalau Fedo menolak untuk bertanggung jawab atas bayi yang kini tengah di kandungnya.


"Kenapa, Kak. Kenapa kau tega membohongiku sampai sejauh ini. Aku sadar kalau selama ini aku tak pernah mengizinkanmu untuk menyentuh di luar batas, tapi bukan berarti kau bisa mencari wanita lain untuk kau jadikan pelampiasan. Lihat sekarang, Kanita hamil dan kau menolak untuk mengakui bayinya sebagai anakmu. Aku juga wanita, Kak Fedo. Sama seperti Kanita. Jadi daripada aku harus melihat seorang bayi lahir tanpa mempunyai orangtua yang lengkap, aku lebih memilih untuk merelakanmu pergi ke pelukan wanita lain. Aku memang mencintaimu, tapi rasa cinta itu tidak akan bisa membutakan hati nuraniku. Maaf, aku terpaksa meninggalkanmu. Semoga dengan kepergianku ini hatimu jadi terbuka dan bersedia untuk bertanggung jawab pada Kanita. Berbahagialah!" ujar Luri sambil menyeka air mata di wajahnya.


Setelah berbicara pada bayangan di depan cermin, Luri tersenyum. Dia buru-buru menghapus air mata di wajahnya ketika ada yang membuka pintu kamar. Kakaknya datang.


"Kau pasti bisa melewati semua kesedihan ini, Luri. Kakak yakin itu," ucap Lusi. Dia menatap sedih ke arah adiknya yang terlihat seperti baru menangis. Mata sembab adiknya membuat Lusi sangat yakin kalau adiknya ini sedang dalam kondisi hati yang tidak baik-baik saja.


"Terima kasih banyak atas dukungannya, Kak. Ada kalian semua bersamaku, maka semuanya pasti akan baik-baik saja," sahut Luri pelan.


"Galang sudah menunggumu di bawah. Dia bilang sebaiknya kalian datang lebih awal supaya bisa memiliki waktu untuk mengurus yang lain. Turunlah, Ayah dan yang lainnya juga sudah menunggu di sana," ucap Lusi sembari mengelus pelan pipi adiknya. "Jangan pikirkan apapun lagi di sini, Luri. Fokus, dan pulanglah dengan membawa gelar impianmu. Buktikan pada Fedo kalau kau bisa tanpa ada dia di hidupmu. Oke?"


Luri mengangguk. Setelah itu dia memeluk sang kakak dengan cukup erat. Jujur, saat ini Luri begitu ingin menangis sekuat-kuatnya. Hatinya lemah di patah hati pertamanya. Namun karena tak mau membuat kakaknya merasa khawatir, semampu mungkin Luri menahan air matanya agar tidak menetes keluar. Dia harus tegar karena keputusan ini dia sendiri yang memilih.

__ADS_1


"Sudah siap?" tanya Lusi sambil mengurai pelukan adiknya.


"Sudah, Kak," jawab Luri sembari tersenyum manis.


"Kalau begitu mari kita turun."


Luri mengangguk. Karena sebagian kopernya sudah berada di lantai bawah, sekarang Luri hanya membawa satu tas selempang yang berisi beberapa barang miliknya. Sambil berpegangan tangan dengan kakaknya Luri berjalan menuruni anak tangga. Nafasnya sedikit tercekat melihat ayah dan ibunya yang tengah menatapnya dengan wajah sendu. Ini terlalu sakit.


"Selamat pagi, Ayah. Selamat pagi, Ibu," sapa Luri. Dia kemudian berjalan menghampiri mereka. "Ayah, Ibu. Hari ini aku dan Galang akan berangkat ke London, tolong do'akan agar perjalanan kami berdua lancar ya? Dan tolong berikan restu kalian agar kami berdua bisa kembali pulang dengan membawa kesuksesan besar yang bisa membuat kalian semua merasa bangga. Ya?"


Nita tak kuasa menahan air matanya ketika Luri berpamitan. Sambil menangis terisak-isak, Nita memberikan restu pada putri keduanya ini. Sungguh sedih hatinya, tapi Nita tidak boleh egois karena ini adalah demi cita-cita mulia putrinya.


"Aku dengar semua yang di katakan oleh Ibu. Akan tetapi seperti yang sudah aku janjikan, aku pasti pulang dengan membawa sesuatu yang bisa membuat kalian semua merasa bangga. Ibu jangan khawatir. Di sana nanti aku pasti akan selalu menjaga kesehatan, begitu juga dengan kalian di sini. Teruslah sehat sampai aku kembali pulang ke rumah ini," sahut Luri.


Setelah itu Luri berganti memeluk ayahnya yang duduk di kursi roda. Di pelukan sang ayah Luri sama sekali tidak mengatakan apa-apa. Dia kecewa pada dirinya sendiri karena di awal ayahnya berharap pada pria yang dia suka, harapan tersebut sekarang malah kandas dengan cara yang sangat menyakitkan. Ayahnya pasti akan sangat kecewa sekali jika tahu kalau laki-laki yang di percayainya sebentar lagi akan segera mempunyai anak dari wanita lain.


"Luri, waktunya sudah semakin mepet. Bisakah di persingkat saja? Bukannya apa, aku takut kita ketinggalan pesawat," ucap Galang dengan tak enak hati meminta Luri untuk segera menyudahi perpisahan dengan keluarganya.

__ADS_1


"Tunggu, Kak Galang. Aku belum memeluk Kak Luri!" teriak Nania. Dia langsung menghambur ke pelukan kakaknya begitu sang ayah melepaskan pelukan mereka.


"Nania, Kakak titip Ayah dan Ibu padamu. Tolong jangan nakal, dan patuhlah pada mereka. Ya?" ucap Luri.


"Kau tenang saja, Kak. Selama kau berada di London, aku berjanji akan menjadi gadis yang baik. Jangan khawatir. Oke?"


"Baiklah. Kakak percaya padamu."


Luri melepaskan pelukan pada Nania kemudian beralih memeluk kakak iparnya. Dia berpamitan singkat padanya, kemudian untuk yang terakhir Luri kembali memeluk kakaknya. Sebelum melepaskan pelukan itu, Luri memberitahu kakaknya kalau dia menyimpan sebuah surat di laci meja kamarnya.


"Kak, tolong baca surat itu setelah pesawat yang membawa aku dan Galang lepas landas dari negara ini ya," bisik Luri.


"Baiklah. Hati-hati, hubungi Kakak kalau kalian sudah mau berangkat," sahut Lusi.


"Iya. Pasti nanti aku akan mengabari Kakak. Kalau begitu aku berangkat dulu ya?"


Galang segera membantu memindahkan semua barang-barang milik Luri ke dalam mobil. Setelah itu mereka berdua berpamitan pada semua orang untuk yang terakhir kali. Dan ... mereka berdua akhirnya berangkat ke bandara.

__ADS_1


****


__ADS_2