PESONA SI GADIS DESA

PESONA SI GADIS DESA
(FELUR) ~ Belalai Pendek


__ADS_3

Sekembalinya dari rumah Luri, Fedo bergegas pulang untuk menemui keluarganya. Dia sudah tidak sabar ingin mendengar berbagai macam pujian setelah mereka melihat Luri yang datang dengan penampilan yang sangat wow. Fedo berani jamin kalau semua orang pasti akan setuju jika Luri menjadi bagian dari mereka semua.


"Nah, ini dia orang yang kita tunggu-tunggu sejak tadi!" ucap Mattheo begitu melihat putranya datang. Saat ini dia dan keluarga sepupunya tengah berkumpul di ruang tengah.


"Hmmm, bagaimana, Fed? Apa kau berhasil membawa pulang kabar yang menggembirakan?" tanya Liona sembari tersenyum ke arah keponakannya yang baru saja pulang.


"Bagaimana ya, Bi. Aku itu sebenarnya bukan tidak berhasil lagi, tapi sudah benar-benar sangat berhasil membawa kabar bahagia untuk kalian semua," jawab Fedo dengan begitu percaya diri. "Tadi sebelum aku dan Luri pergi ke pesta, Paman Luyan mengajakku bicara. Beliau bilang sudah merestui hubunganku dengan Luri, tapi masih sedikit mengkhawatirkan perasaan Luri jika nantinya media tahu dari keluarga mana mereka berasal. Mereka takut Luri akan di bully oleh banyak orang, Bibi. Makanya dulu mereka sempat menentang hubungan kami. Begitu."


"Alasannya cukup masuk akal. Dan menurut Bibi calon mertuamu itu adalah seseorang yang sangat tahu bagaimana cara untuk meletakkan diri. Dia tidak langsung tamak dan angkuh saat tahu kalau pria yang akan menjalin hubungan dengan putrinya berasal dari kalangan atas seperti kita. Dengan sikap calon mertuamu itu Bibi bisa menarik kesimpulan kalau Luri adalah bibit yang bagus untuk melahirkan penerus keluargamu kelak. Pertahankan!"


Fedo mengangguk. Dia merasa sangat amat puas mendengar pujian dari bibinya.


"Bibi, harusnya tadi itu Bibi jangan mengatakan sesuatu yang baik-baik pada Kak Fedo. Lihat, sekarang kedua telinganya langsung melebar. Perasaannya pasti sedang terbang melayang-layang ke nirwana," celetuk Kayo mulai menggoda kakaknya.


"Ck, mulai mulai!" ucap Fedo sambil berdecak kesal. "Aku ini baru saja istirahat setelah bertengkar dengan Nania, Kay. Tolong kau jangan mencari masalah dulu denganku. Otakku lelah asal kau mau tahu!"


"Memangnya yang mencari masalah itu siapa si, Kak. Yang aku ajak bicara itu kan Bibi Liona, bukan kau. Kenapa mengeluh!" kilah Kayo semakin gencar menjahili sang kakak. Dia suka sekali melihat Casanova ini frustasi.


"Bu, lihatlah anak Ibu. Aku lelah, aku sedang tidak ingin berdebat dengannya!" ucap Fedo mengadu pada ibunya.


Abigail tersenyum saja melihat pertengkaran kecil antara Fedo dengan Kayo. Sudah bukan hal baru lagi melihat kedua anaknya ini yang selalu saja ribut setiap ada kesempatan. Jadi dia memilih diam saja dan menonton.

__ADS_1


"Oh ya, Fedo. Apa Luri tahu kalau kita semua akan kembali ke Jepang besok pagi?" tanya Mattheo. Dia mengerlingkan mata ke arah putrinya, mengirim kode agar gadis nakal ini berhenti sejenak untuk tidak mengganggu putranya dulu. Mattheo sedang ingin bicara serius sekarang.


"Aku sudah memberitahunya, Ayah. Kenapa memangnya?" jawab Fedo.


"Tidak kenapa-napa sih. Ayah hanya tidak mau saja melihatmu bahagia seperti ayam yang akan di potong jika pulang tanpa berpamitan dulu pada gadis desamu itu. Seperti waktu lalu."


"Apa? Bahagia?" pekik Fedo kesal mendengar perkataan ayahnya. "Ayah, sejak kapan ada orang yang bahagia dalam menghadapi perpisahan? Oh astaga. Aku itu sedih, Ayah. Bukan bahagia. Bagaimana sih!"


Suara gelak tawa langsung terdengar begitu Fedo mengomel gara-gara olokan Mattheo. Mereka sampai menggelengkan kepala melihat Fedo yang merajuk sambil mengerucutkan bibir. Sungguh lucu, benar-benar sangat lucu kelakuan anak satu ini.


"Fedo, bagaimana kabar Kanita sekarang?" tanya Liona penuh maksud.


"Kanita? Kenapa Bibi tiba-tiba menanyakan wanita gila itu padaku?" sahut Fedo bingung.


Sebelum menjawab Fedo membuka jasnya terlebih dahulu. Setelah itu dia menatap ke arah bibinya dengan seksama. "Bibi tenang saja. Di jamin Kanita tidak akan pernah berani lagi menginjakkan kakinya ke Shanghai karena waktu itu Jackson sudah pernah mengancamnya. Tapi jika dia tetap nekad datang menemui Luri, maka aku tinggal menghubungi Jackson lalu meminta dia mengirim Kanita pergi ke tempat yang sangat jauh. Gampang kan?"


"Woaahh, kau mana boleh begitu, Kak. Susah payah Jackson kembali menjadi orang baik setelah perjalanan hidupnya yang kelam itu. Kau mana boleh memintanya untuk melakukan kejahatan lagi. Tidak-tidak, aku tidak setuju kalau kau memanfaatkan kebaikan calon suamiku untuk membereskan urusanmu. Kanita itu adalah mantan teman tidurmu, jadi harus kau sendiri yang membereskannya. Awas saja ya kalau kau sampai melibatkan Jackson, akan ku gunduli belalai pendekmu itu!" protes Kayo langsung menentang keinginan kakaknya.


Mulut Fedo ternganga lebar begitu mendengar ancaman Kayo. Setelah itu dia membuang nafas, sangat kesal dengan cara Kayo menyebut belalainya.


"Kay, ku beritahu kau satu hal ya. Kalau memang benar belalaiku ini pendek, tidak akan mungkin para wanita itu tergila-gila padaku. Memangnya kau lupa ya kalau mereka itu selalu ketagihan seusai bercinta denganku? Contohnya Kanita. Dia sampai kehilangan rasa malunya demi agar bisa naik ke ranjangku lagi. Belalaiku ini besar, panjang, dan juga kuat. Kau mana boleh meremehkannya!"

__ADS_1


Kayo langsung tersenyum lebar saat mendengar suara teriakan kakaknya yang kesakitan karena terkena lemparan sepatu dari sang ibu. Akhirnya, berhasil juga dia mengerjai kakaknya ini. Dengan bodohnya sang kakak langsung terpancing emosi hingga melupakan kalau ibu mereka juga ada di sana. Benar-benar pekerjaan yang sangat menarik.


"Fedo, perlukah Ibu menjahit mulutmu agar kau tidak sembarangan bicara lagi, hmm?" tanya Abigail seraya menatap tajam ke arah putranya yang tengah mengusap-usap bekas lemparan sepatu di kepalanya.


"Maafkan aku, Ibu. Aku tidak sengaja bicara seperti itu," jawab Fedo langsung menyadari kesalahannya. Setelah itu dia melihat ke arah adiknya yang ternyata tengah tersenyum tanpa dosa. "Bu, semua ini hanya akal-akalan Kayo saja. Dia sengaja mengejek belalaiku agar aku terpancing emosi kemudian bicara kurang ajar di depan Ibu. Tolong turunkan keadilan untukku, Bu. Kayo harus menerima hukuman yang sama seperti yang Ibu berikan padaku. Dia bersalah, dia adalah otak dari semua ini."


"Kau ini bicara apa sih, Kak. Mana ada aku melakukan hal-hal buruk seperti yang kau tuduhkan barusan," sahut Kayo dengan santainya mengelak.


"Sudah-sudah, jangan ribut lagi. Kasihan Ibumu jika harus mengeluarkan tenaga ektra untuk memarahi kalian. Nanti Ayah yang rugi!" timpal Mattheo yang malah ikut bicara ngawur seperti Fedo.


Alhasil, begitu Mattheo bicara dia langsung mendapat cubitan yang sangat kuat di pinggangnya. Dan tentu saja suara teriakan kesakitannya mengundang gelak tawa semua orang yang ada di sana. Sungguh bodoh, sudah tahu kalau Abigail itu sangat tidak suka mendengar kata-kata yang berbau kemesuman, tapi Mattheo tetap saja nekad mengatakan. Padahal baru saja Fedo mendapat teguran, sekarang dia malah ikut-ikutan. Jadi ya sudah, nikmati saja hukuman dari istrinya itu. Benar-benar konyol.


"Darling, sebenarnya jari tanganmu itu terbuat dari apa sih. Kenapa rasanya sangat sakit dan panas sekali?" tanya Mattheo sambil meringis menahan rasa panas di pinggangnya.


"Jari tanganku terbuat dari jari-jari kepiting. Kenapa? Apa kau masih ingin aku mencubit pinggangmu lagi, hm?" jawab Abigail sewot.


"Tidak. Terima kasih," sahut Mattheo dengan cepat.


Setelah itu semua orang kembali lanjut mengobrol. Mereka mengabaikan Mattheo yang masih merasakan sisa hukuman dengan terus mengelus-elus bekas cubitan yang rasanya sangat luar biasa panas. Kali ini Mattheo kapok, dia tidak akan mau lagi bersikap konyol yang mana akan membuatnya menderita dua kali.


Lebih baik sekarang aku diam mendengarkan saja. Bisa tamat riwayatku nanti kalau aku sampai salah bicara, batin Mattheo.

__ADS_1


*****


__ADS_2