PESONA SI GADIS DESA

PESONA SI GADIS DESA
(FELUR) ~ Ucapan Cinta


__ADS_3

Fedo menarik nafas dalam-dalam setelah membaca pesan yang di kirim oleh Luri. Tadi dia sudah panik setengah mati ketika nomor gadisnya tiba-tiba tak bisa di hubungi lagi setelah panggilan pertamanya di abaikan.


"Nania-Nania, mau sampai kapan sih kau menjahili aku. Sebentar lagi kan kita akan menjadi saudara ipar, masa iya kita akan terus bermusuhan," gumam Fedo sambil menggelengkan kepala.


Sambil berjalan menuju ruangannya, Fedo sesekali membalas sapaan para karyawan. Dia baru saja kembali setelah menghadiri pertemuan penting di luar kantor bersama dengan ayahnya. Dan ketika Fedo hendak memutar knop pintu, tiba-tiba saja wajah Kanita melintas di matanya. Fedo terhenyak, dia kaget dan bingung sendiri mengapa wajah wanita itu bisa muncul di pikirannya.


Pertanda apa ini?


Khawatir ada hal buruk yang akan terjadi antara dia dengan Kanita, secepat kilat Fedo langsung mengirim pesan pada sang ayah. Setelah itu Fedo bergegas masuk ke dalam ruangannya sembari mengusap wajah hingga memerah. Dia merasa tidak tenang.


"Haih, ada-ada saja sih. Masa iya Kanita masih belum puas juga mencari masalah denganku. Dia kan sedang hamil," ucap Fedo sambil berjalan menuju sofa. Setelah itu Fedo duduk, dia diam berpikir sambil menunggu ayahnya datang.


Tak berapa lama kemudian orang yang di tunggu oleh Fedo akhirnya muncul juga. Kedua alis Mattheo saling bertaut ketika melihat Fedo yang tengah menatapnya dengan raut wajah yang begitu serius.


"Ada apa, Fed? Kenapa kau menatap Ayah sampai seperti itu?" tanya Mattheo sembari mendudukkan bokongnya di atas sofa. Dia lalu balas menatap Fedo yang masih belum menjawab pertanyaannya. "Ada apa? Cerita saja."


"Ayah, perasaanku mendadak terasa tidak nyaman setelah wajah Kanita melintas di pikiranku. Menurut Ayah ini pertanda buruk bukan?" sahut Fedo balik bertanya.


"Ya, kau benar. Itu adalah pertanda yang sangat buruk, Fed."


Fedo menelan ludah sambil mengerjapkan mata. Kalau saja yang bicara itu bukan ayahnya, Fedo pasti akan melemparkan jas yang dia pakai ke wajah orang tersebut. Bisa-bisanya ya ayahnya ini malah bercanda di saat dirinya sedang gelisah. Menjengkelkan.


"Hehehe, maaf-maaf. Ayah hanya ingin menghiburmu saja tadi. Wajahmu terlihat sangat tegang, jadi Ayah berinisiatif untuk sedikit melawak supaya kau bisa merasa lebih relaks," ucap Mattheo langsung meminta maaf begitu menyadari kalau putranya sedang tidak ingin bercanda. Dan sedetik kemudian ekpresi di wajah Mattheo langsung berubah dingin. Dia sudah dalam mode serius sekarang. "Minta anak buahmu untuk menyelidiki apa yang sedang dilakukan oleh Kanita. Bisa jadi perasaan gelisah yang kau rasakan memang pertanda kalau Kanita akan kembali menggangu hubunganmu dengan Luri. Jadi sebelum ada sesuatu yang terjadi, akan lebih baik kalau kau membuat langkah pencegahan."


"Aku sudah memerintahkan orang untuk mengawasi gerak-gerik Kanita dan keluarganya, Ayah. Dan mereka tidak melaporkan apapun kepadaku," ucap Fedo sambil menyandarkan tubuh kekarnya ke sofa.

__ADS_1


"Lalu Andero? Dia tidak melarikan diri dari tanggung jawabnya kan?"


"Kalau masalah itu aku kurang tahu, Ayah. Ibu yang mengurusnya."


"Telfon Ibumu sekarang. Tanyakan padanya apakah ada kemungkinan untuk Andero mengabaikan Kanita atau tidak. Jika ada, kita harus secepatnya mengambil tindakan. Paham kau?"


Fedo mengangguk. Segera dia meraih ponsel di atas meja kemudian menghubungi nomor sang ibu. Butuh waktu selama beberapa detik sebelum akhirnya panggilan tersebut di jawab.


"Halo, Fed. Ada apa?"


"Bu, perasaanku mendadak terasa gelisah. Dan sekarang aku dan Ayah sedang membicarakan tentang Andero dan Kanita" jawab Fedo.


Jeda sejenak. Mattheo memperhatikan putranya yang tengah menghela nafas. Tidak di sangka ternyata rasa yang dimiliki Fedo untuk Luri benar-benar sangat besar. Padahal selama ini tak sekalipun Mattheo pernah melihat Fedo yang merasa begitu terusik meski hampir di setiap harinya ada wanita yang datang mengganggu. Namun kali ini pengecualian. Putranya yang kekanakan mulai serius dalam menjaga hubungannya. Dan jujur, itu membuat Mattheo merasa bangga.


"Lalu masalahnya apa? Kau ingin Ibu bagaimana, hm?"


"Aku dan Ayah ingin tahu apakah laki-laki itu akan mengkhianati janjinya untuk tetap bertanggung jawab pada kehamilan Kanita atau tidak. Anggaplah ini adalah langkah pencegahan jika seandainya firasat yang aku rasakan menjadi kenyataan. Aku khawatir Kanita akan mengambil keputusan dengan menyebutku sebagai orang yang harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada hidupnya, Bu. Jadi aku ingin memastikan kalau Andero ... ada di pihak kita!"


"Hmmm, untuk masalah itu kau tidak perlu takut. Tidak ada yang tidak bisa Ibu lakukan jika sudah menyangkut tentang kebahagiaanmu dan Kayo. Kalau memang benar dia berani melarikan diri dari masalah ini, sekuat apapun latar belakang keluarganya Ibu tidak akan pernah melepaskannya begitu saja. Dia yang berbuat, jadi harus dia yang bertanggung jawab. Dan apapun caranya, Ibu akan pastikan kalau Andero lah yang akan menikah dengan Kanita. Jadi kau jangan khawatir ya. Percaya pada Ibu, semuanya pasti baik-baik saja dan akan berjalan seperti yang kita mau. Oke?"


Fedo langsung menarik nafas lega setelah mendapat kepastian dari wanita yang begitu dia hormati. Aman, semua masalah pasti beres jika wanita luar biasa ini sudah turun tangan.


"Ya sudah kalau begitu, Bu. Terima kasih untuk semua perhatian yang Ibu berikan untukku. Aku mencintaimu, Ibuku sayang," ucap Fedo sembari mengedipkan mata ke arah sang ayah. Fedo ingin sedikit menggoda pria posesif ini dengan cara mengumbar kata cinta pada ibunya. Hehehe, biasalah.


"Kau lebih baik tidak mencari gara-gara dengan ayahmu, Fed. Ibu tidak mau emosi ayahmu sampai terbawa ke rumah. Ingat itu!"

__ADS_1


Awalnya Mattheo sangat ingin menerkam putranya, tapi setelah dia mendengar pembelaan istrinya mendadak kekesalan Mattheo langsung musnah. Dia malah terkekeh senang melihat Fedo yang kalah telak sebelum sempat mereka beradu mulut.


"Hehehe. Sudah tahu kalau Ibumu itu cinta mati pada Ayah, berani sekali kau mengumbar cinta padanya. Rasakan, pasti rasanya sedih sekali bukan karena ucapan cintamu tak di balas," olok Mattheo sambil tersenyum penuh kemenangan.


"Jangan senang dulu, Ayah. Oke kali ini aku mengaku kalah. Akan tetapi di lain waktu aku pastikan kalau Ibu akan membalas ucapan cinta dariku!" sahut Fedo penuh percaya diri.


"Cihh, dasar tidak tahu malu kau. Ibumu itu istriku, dan dia hanya akan membalas pernyataan cinta dari Ayah seorang."


Fedo terkekeh. Rasanya sungguh melegakan setiap kali dia bisa membuat ayahnya kesal seperti ini. Setelah itu Fedo memainkan ponsel yang ada di tangannya. Pikirannya berkelana.


"Kali ini apalagi?" tanya Mattheo penasaran. "Masalah Kanita sudah beres. Apalagi yang mengganggu pikiranmu?"


"Ayah, kenapa saat di rumah Luri Ayah tidak langsung melamarnya di hadapan Paman Luyan saja? Kan tadi di sana Ayah memiliki banyak kesempatan untuk membahas hal ini. Kenapa tidak dilakukan?" sahut Fedo balik bertanya.


"Ck, dasar tidak sopan. Harusnya kau itu menjawab pertanyaan Ayah terlebih dahulu, baru setelahnya kau boleh balik bertanya. Bagaimana sih!"


"Sudahlah, Ayah. Protesnya nanti saja. Sekarang jelaskan kenapa Ayah tidak melamarkan Luri untukku ketika sedang mengobrol dengan Paman Luyan dan Bibi Nita. Ayah tahu tidak kalau sepanjang perjalanan menuju Jepang hatiku tidak berhenti berdenyut nyeri karena tidak bisa membawa Luri pulang kemari. Aku itu tidak bisa hidup tanpanya, Ayah. Aku ingin terus melihatnya setiap hari!" keluh Fedo setengah merengek pada ayahnya.


Mattheo bergidik jijik melihat putranya yang merengek sambil menggeliat seperti bayi Anaconda. Jujur, ini sangat menggelikan. Ingin rasanya Mattheo mencopot sepatu kemudian melemparkannya ke wajah Fedo agar dia berhenti melakukan hal menjijikkan seperti ini. Julukan Casanova penakluk ranjang kini sudah tidak cocok lagi untuk Fedo. Karena sekarang putranya lebih cocok di sebut sebagai pria idiot yang tergila-gila pada seorang wanita. Menggelikan.


"Menyesal Ayah datang ke ruangan ini, Fed. Huh!" omel Mattheo sebelum akhirnya beranjak pergi dari sana. Dia sudah sangat tidak tahan melihat kelakuan Fedo. Membuatnya ingin muntah saja.


Melihat ayahnya pergi sambil bersungut-sungut membuat Fedo tak kuasa untuk tidak tertawa. Dia bahkan sampai jatuh terbaring saking lucunya melihat ekpresi jijik di wajah sang ayah ketika Fedo dengan sengaja menggeliat di depannya tadi. Benar-benar hiburan yang sangat menyenangkan.


***

__ADS_1


__ADS_2