
Dengan langkah gontai Nania berjalan masuk ke dalam rumah. Waktu menunjukkan pukul tujuh malam, dan dia baru saja selesai mengikuti kelas matematika. Otak Nania serasa di panggang setelah diminta untuk mengerjakan soal dadakan oleh guru les. Meski Nania tidak bisa di sebut bodoh, tetap saja dia di buat gila oleh deretan angka-angka yang terus beranak pinak. Membuatnya seperti di paksa mengikuti kerja rodi untuk membangun sebuah jembatan yang menghubungkan dua samudra.
"Sayang, kau sudah pulang?" tanya Nita sambil menatap ke arah putri bungsunya. Dia lalu menyunggingkan senyum ketika Nania langsung rebahan di atas sofa tanpa melepas sepatu dan seragamnya terlebih dahulu.
"Bu, ternyata menjadi orang pintar itu tidak enak ya. Aku jadi menyesal telah mendaftar kelas matematika. Tahu tidak Bu, kelas itu sama sekali tidak ada nikmat-nikmatnya. Pembahasannya membuat otakku masuk angin. Pusing," keluh Nania pada sang ibu.
"Masuk angin bagaimana maksudnya? Ibu jadi bingung."
"Pokoknya masuk anginlah, Bu. Aku malas menjabarkannya."
Tahu kalau putrinya sedang kelelahan, Nita dengan penuh perhatian membuatkan jus buah untuk putrinya itu. Dia juga tahu kalau matematika bukanlah mata pelajaran yang mudah. Jadi dia sangat maklum kalau Nania sampai mengeluh seperti ini.
"Apa aku bolos saja untuk kelas minggu depan ya? Aku merasa lebih bergairah jika mengikuti kelas bela diri daripada kelas berhitung. Memang apa untungnya coba terus-terusan belajar matematika? Yang penting kan aku sudah tahu kalau jawaban dari dua di tambah dua itu empat. Menyebalkan sekali," ucap Nania bermonolog dengan dirinya sendiri.
Sebenarnya tidak ada siapapun di rumah ini yang memaksa Nania untuk mengikuti kelas tersebut. Semua itu murni pilihannya sendiri. Dia mendaftar pada kelas tersebut hanya karena gengsi pada teman-temannya yang sudah lebih dulu mengikuti kelas matematika. Jadi Nania tidak mau kalah, dan dengan percaya dirinya dia mengikuti langkah teman-temannya itu. Dan sekarang dia menyesal. Benar-benar menyesal sejak hari pertamanya masuk ke kelas tersebut.
"Nania-Nania, kau sendiri yang ingin masuk ke kelas itu, sekarang kau juga yang mengomel. Itulah pentingnya untuk berfikir terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan. Menyesal kan kau sekarang!" ledek Luyan yang baru saja datang dengan suster yang mendorong kursi rodanya. "Terima kasih, Sus. Kau silahkan makan malam dulu bersama yang lain."
"Baik, Tuan. Kalau begitu saya permisi."
Luyan mengangguk. Dia lalu melihat ke arah Nania yang sedang merajuk dengan bibir mengerucut. Rasanya seperti mendapat hiburan setiap Luyan melihat putri bungsunya bersikap begini. Manja, nakal, ceroboh, tapi juga menggemaskan.
"Nah Nania sayang, ini Ibu buatkan jus kesukaanmu. Jadi jangan marah-marah lagi ya," ucap Nita yang muncul dengan membawa dua gelas minuman.
"Waaahhh, Ibu memang yang terbaik!" sahut Nania kegirangan. Setelah itu dia segera mencicipi minuman buatan sang ibu. "Uhhh, segarnya."
Nita dan Luyan menggelengkan kepala melihat ulah Nania. Mereka bertiga kemudian saling berbincang, menanyakan tentang apa saja yang dilakukan Nania saat berada di kelas matematika.
__ADS_1
"Ramai sekali. Ada apa ini?" tanya Luri sambil tersenyum ke arah adik dan kedua orangtuanya. Dia baru saja selesai mengulang pelajaran sekolah sembari menunggu adiknya pulang untuk makan malam.
"Ini, adikmu sedang mengeluh, Luri. Dia bilang tidak mau lagi mengikuti kelas yang dia pilih. Menyebalkan katanya," jawab Nita lembut. "Kau sudah selesai belajarnya?"
Luri mengangguk. Dia lalu ikut bergabung bersama yang lain dengan duduk di samping adiknya yang sedang rebahan.
"Apa benar kelas matematika itu menyebalkan, hm?" tanya Luri penasaran. "Kau itu kan pintar, Nania. Masa kalah dengan angka-angka kuadrat."
"Ck, aku tahu aku ini pintar, Kak. Tapi tetap saja aku benci pelajaran itu. Lagipula ya, rumus dasar dari pelajaran matematika aku sudah hafal di luar kepala. Jadi tidak ada gunanya juga untuk terus mengikuti kelas pelajaran itu," jawab Nania malas. "Pokoknya aku tidak mau datang lagi ke sana. Aku tidak mau mati muda, Kak Luri."
"Menuntut ilmu tidak akan membuatmu mati muda, Nania. Manusia mati hanya karena takdir. Paham?"
"Huh, berat urusannya kalau Kakak sudah keluar mode menasehati. Sudahlah, aku mau masuk ke kamar untuk membersihkan badan."
Di saat yang bersamaan, seorang pelayan datang melapor kalau Galang datang berkunjung. Luri yang tahu maksud dari kedatangan teman sekelasnya itupun segera meminta izin pada orangtuanya untuk keluar menemui Galang.
"Ayah, Ibu, aku keluar menemui Galang dulu ya. Dia pasti datang untuk memberitahukan kabar tentang Jovan."
"Hari ini dia tidak masuk sekolah, Bu. Juga tidak ada kabar apapun darinya. Tadi sebelum pulang Galang bilang padaku kalau dia akan menghampiri Jovan ke rumahnya. Begitu," jawab Luri menjelaskan pada sang ibu.
"Oh, begitu. Ya sudah sana temui Galang. Sekalian tanyakan padanya ingin ikut makan malam bersama kita apa tidak. Siapa tahu dia belum makan."
"Baik, Bu."
Setelah itu Luri bergegas keluar menemui Galang. Dia tersenyum melihatnya yang sedang duduk di ruang tamu rumahnya.
"Lang, bagaimana? Jovan tidak apa-apa kan?" tanya Luri sembari mendudukkan bokongnya di atas sofa.
__ADS_1
Galang menatap lama ke arah Luri sebelum menjawab. Dia sengaja tidak mengabarinya lewat telepon karena ingin langsung mengajaknya pergi menjenguk Jovan di rumah sakit.
"Aku tadi sudah mendatangi rumahnya Jovan, Luri. Dan pelayannya bilang dia sedang di rawat di rumah sakit. Jovan tidak baik-baik saja."
"Ya ampun, jadi benar kalau dia tidak masuk sekolah karena sakit?" ucap Luri kaget begitu mendengar kabar yang di sampaikan oleh Galang. "Dia sakit apa, Lang? Di rumah sakit mana Jovan di rawat?"
Galang kemudian memberitahu Luri di mana Jovan dirawat. Tak lupa juga dia mengatakan penyebab Jovan bisa sampai masuk ke rumah sakit. Entahlah, Galang tidak tahu harus bersyukur atau bagaimana. Karena ternyata nasibnya Jovan jauh lebih menyedihkan dari hidupnya. Ya, penyebab Jovan masuk ke rumah sakit adalah karena overdosis setelah menelan pil tidur dalam jumlah yang sangat banyak. Tanpa di ketahui oleh siapapun sebenarnya Jovan sedang mengalami tekanan batin setelah tahu kalau kedua orangtuanya ingin bercerai. Dia depresi, hingga akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hidup. Untung saja saat itu ada pelayan yang datang ke kamarnya. Jika tidak, mungkin nyawa Jovan tidak akan selamat.
"Astaga Jovan, kenapa kau nekad berbuat sejauh ini?" gumam Luri syok setelah mendengar kebenarannya.
"Luri, kedatanganku kemari adalah ingin mengajakmu dan Nania pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Jovan. Aku kasihan padanya, dia pasti sedang sangat terpukul sekarang," ucap Galang mengutarakan maksud kedatangannya ke rumah ini.
"Kau benar, Lang. Jovan sedang membutuhkan seseorang untuk menjadi teman bicara. Pikirannya sedang kacau, dia tidak boleh di biarkan sendirian," sahut Luri. "Kalau begitu tunggu sebentar ya. Aku akan meminta izin dulu pada Ayah dan Ibu. Nania baru saja pulang, kita juga perlu menunggunya untuk bersiap."
"Ya sudah kalau begitu. Jangan lama-lama ya, aku khawatir pada Jovan."
Luri mengangguk. Setelah itu dia langsung berlari masuk ke dalam kemudian menghampiri orangtuanya. Tanpa basa basi lagi Luri langsung memberitahukan keadaan Jovan sekaligus meminta izin untuk pergi ke rumah sakit. Nita dan Luyan sangat kaget mendengar kabar buruk tersebut. Mereka lalu memberikan izin untuk Luri pergi menjenguk temannya yang sedang tertimpa musibah.
"Bu, aku ke atas dulu untuk memanggil Nania, ya. Dia dan Jovan cukup dekat. Siapa tahu kedatangannya bisa membuat Jovan merasa sedikit terhibur," ucap Luri.
"Iya. Kalian bergegaslah," sahut Nita ikut merasa khawatir memikirkan nasib dari teman putri-putrinya.
Tanpa membuang waktu lagi Luri segera pergi ke kamar adiknya. Dan kebetulan Nania sudah selesai mandi saat Luri sampai di sana.
"APA? Kak Jovan overdosis? Waahhh, dia sudah tidak waras atau bagaimana, Kak!?" pekik Nania dengan suara yang sangat kuat.
"Ssttt, pelankan suaramu, Nania. Sekarang kau cepat bersiap karena Galang sudah menunggu kita di bawah. Cepatlah."
__ADS_1
"Iya-iya. Huhh, kau ini kurang kerjaan sekali si, Kak Jovan. Apa enaknya coba menyakiti diri sendiri? Selain di benci oleh Tuhan, perbuatanmu itu sangatlah rendah. Awas saja. Saat aku tiba di sana aku akan langsung memukul kepalamu. Percuma Tuhan memberimu otak yang cerdas kalau kau tidak bisa menggunakannya dengan baik. Dasar bodoh!" gerutu Nania sembari mengambil pakaian dari dalam lemari.
*****