PESONA SI GADIS DESA

PESONA SI GADIS DESA
(FELUR) ~ Gila Turunan


__ADS_3

"Kau bicara dengan siapa, darling?" tanya Mattheo sambil menatap curiga ke arah sang istri.


Begitu selesai makan malam, istrinya ini menerima satu panggilan yang Mattheo tidak tahu dari siapa. Dan waktu panggilan tersebut berlangsung cukup lama yang mana membuatnya merasa sangat cemburu. Mattheo takut Abigail selingkuh dengan pria lain.


"Liona yang menelpon, Matt. Buang pikiran burukmu jauh-jauh," jawab Abigail yang langsung paham arti dari pertanyaan suaminya. Dia kemudian duduk di sofa panjang yang ada di ruang keluarga. "Liona menanyakan kabar kita semua di sini dan kapan akan datang berkunjung ke Shanghai."


"Ooh, aku kira siapa yang menelponmu. Jiwa kecemburuanku sudah membakar akal sehatku padahal."


"Ck, jangan berlagak gila, Matt. Kau tahu kalau aku itu hanya akan mencintaimu saja. Jadi jangan berpikiran yang tidak-tidak setiap ada orang yang menghubungiku!" omel Abigail sambil menggelengkan kepala. Tingkat kecemburuan suaminya ini benar-benar sudah melewati level dewa. Tidak ada obat.


Mattheo hanya tertawa lucu mendengar omelan dari wanita yang kini sudah berwajah masam. Setelah itu dia duduk di samping istrinya, di susul oleh Fedo dan Kayo yang ikut bergabung.


"Yoo Ayah Ibu, kalian ini sudah bukan abege lagi. Berhentilah bermesraan di depan anak-anak kalian. Itu bisa membuat aku dan Kayo merasa gagal menjadi anak muda," keluh Fedo menggoda ayah dan ibunya yang terlihat begitu mesra.


"Kak Fedo benar Ayah, Ibu. Kali ini aku sangat setuju dengan keluhannya. Tolonglah jangan membuat kami berdua terlihat seperti keledai dungu yang tidak mampu mencari pasangan!" timpal Kayo ikut melayangkan godaan.


Fedo mengangguk-anggukkan kepala. Meski dia sering bertengkar dengan ayahnya, Fedo sangatlah mengagumi cara sang ayah mencintai ibunya. Kadang memang terkesan konyol dan kekanakan, tapi hal itulah yang membuat Fedo merasa iri setiap kali menyaksikan kemesraan mereka yang terpampang jelas di depan mata. Jujur saja, Fedo sebenarnya memendam cita-cita mulia kalau dia ingin mencintai istrinya jauh lebih gila dari apa yang ayahnya lakukan. Dia adalah sang Casanova, pantang baginya untuk kalah meski yang menjadi rival adalah ayah kandungnya sendiri.


"Darling, coba kau perhatikan wajah kasihan kedua anak tikus ini. Mereka berdua sama-sama menjalin hubungan jarak jauh dengan kekasih masing-masing. Kalau aku yang jadi mereka, aku akan lebih memilih untuk putus saja ketimbang harus mati kering karena menahan rindu!" ejek Mattheo dengan tidak berperasaan.


"Benarkah? Lalu dulu siapa yang tiba-tiba menyusulku ketika aku sedang mengawasi anaknya Aaron? Aaa, orang itu bahkan dengan tidak tahu malunya memaksa untuk menginap dengan alasan lupa membawa uang. Aku rasa kata yang kau ucapkan barusan sangat tidak sesuai dengan fakta yang sebenarnya terjadi. Betul tidak?" sindir Abigail.

__ADS_1


"Ohooo... Jadi dulu Ibu pernah menjalin hubungan dengan orang seperti itu ya? Ckckck, sungguh lucu jika mengingat kata-kata yang baru saja di ucapkan oleh orang tersebut," sambung Kayo sembari mencibirkan bibir ke arah sang ayah. Benar-benar fakta yang menggelitik.


"Berlagak seperti yang paling benar, ternyata dia sendirilah yang menjadi pelakunya. Kau benar-benar luar biasa, Ayah!" sambung Fedo ikut menyindir sang ayah.


Suara gelak tawa memenuhi ruangan tersebut setelah ketiganya menyindir kelakuan Mattheo. Sementara yang di sindir nampak tenang-tenang saja tanpa merasa malu sedikitpun. Walaupun keluarga Eiji di kenal sebagai keluarga yang dingin dan juga bengis, nyatanya hal itu tidak terlihat ketika anggota keluarga ini saling melempar candaan. Justru yang tergambar adalah satu keluarga yang begitu hangat dan juga harmonis. Sangat jauh dari kesan dingin nan bengis yang selama ini membayangi mata orang-orang di Jepang.


"Oh ya Fed, bagaimana kabarnya Luri? Apa keadaannya sudah membaik?" tanya Abigail.


"Sudah, Bu. Hari ini dia juga sudah masuk sekolah seperti biasa," jawab Fedo sambil mengotak-atik layar ponselnya. "Tahu tidak Bu. Luri berhasil masuk tiga besar dalam kompetisi yang di adakan oleh pihak sekolahnya. Dia sangat cerdas bukan?"


Kayo, Abigail dan Mattheo mendengarkan dengan seksama ketika Fedo menceritakan tentang keberhasilan gadisnya. Mereka bertiga terkesima. Bukan karena kemenangan yang di raih oleh Luri, melainkan karena ekpresi Fedo yang terlihat begitu bahagia ketika menyanjung nama gadis yang di sukainya itu. Lucu, konyol, dan juga sedikit menyebalkan karena sekarang Fedo terlihat seperti anak remaja yang sedang di mabuk cinta. Jika saja ada mantan teman tidurnya yang melihat hal ini, mereka semua pasti tidak akan percaya. Fedo Eiji yang selama ini di kenal sebagai Casanova ganas penguasa ranjang mendadak berubah seperti anak kecil yang sedang mengalami cinta monyet. Sangat berbanding terbalik dengan kelakuannya selama ini.


"Fed, Ayah jadi penasaran sebenarnya Luri itu sedang mengikuti kompetisi apa. Tidak mungkin kan hanya kompetisi biasa saja?" tanya Mattheo penasaran.


"Kak, jangan-jangan Luri mengikuti kompetisi untuk mendapatkan beasiswa kuliah di luar negeri. Dulu saat kita masih sekolah kan pihak sekolah juga sering mengadakan kompetisi semacam ini. Lebih baik kau tanyakan dengan pasti untuk apa tujuannya mengikuti kompetisi tersebut," celetuk Kayo yang juga merasa penasaran.


Fedo menelan ludah. Otaknya mendadak tidak bisa bekerja dengan baik saat Kayo berkata seperti itu. Andai jika benar kalau tujuan Luri mengikuti kompetisi adalah untuk mendapatkan beasiswa ke luar negeri, maka matilah dia. Di Shanghai saja Fedo sudah di buat tidak karu-karuan. Lalu apa kabar dengan hatinya nanti jika dia dan Luri sampai terpisah dengan jarak yang semakin jauh? Fedo rasa dia tidak akan sanggup.


"Kalian jangan berpikiran yang tidak-tidak dulu. Ayah dan ibunya Luri itu tidak dalam kondisi yang baik, Ibu tidak yakin Luri tega meninggalkan mereka," ucap Abigail meredam kecemasan di diri putranya.


"Kita sependapat, darling. Ibunya Luri kan pernah sakit parah, rasanya sedikit mustahil kalau Luri akan nekad meninggalkan mereka hanya untuk kuliah di luar negeri. Lagipula di Shanghai ada banyak sekali universitas terbaik, Ayah yakin bukan itu tujuannya mengikuti kompetisi," imbuh Mattheo ikut memberi tanggapan.

__ADS_1


"Tadi itu kan hanya perumpamaan saja Ayah, Ibu. Jadi tebakanku belum tentu benar. Akan tetapi jika seandainya memang benar Luri mengincar beasiswa itu, apa yang akan kau lakukan, Kak? Kau tidak mungkin menghalanginya pergi kan?" sahut Kayo memberikan satu pertanyaan yang cukup sulit untuk kakaknya.


"Tentu saja aku akan menghalanginya, Kay. Enak saja. Terpisah dari Jepang ke Shanghai saja sudah membuatku hampir mati depresi, aku tidak bisa membayangkan akan seperti apa nasibku ke depannya nanti jika aku dan Luri sampai harus terpisah jarak yang begitu jauh. Tidak-tidak. Apapun yang terjadi aku tidak akan membiarkannya pergi jauh dariku. Atau jika perlu nanti setamatnya dia dari sekolah aku akan langsung datang melamar. Akan kumanjakan dia dengan hujan uang dan juga hujan cinta supaya tidak terpikir untuk melarikan diri dariku. Aku tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi!" jawab Fedo menggila sendiri.


Setelah berkata seperti itu Fedo langsung kembali masuk ke kamarnya. Dia jadi gelisah sendiri membayangkan jika seandainya ucapan Kayo benar-benar menjadi kenyataan.


"Bu, kenapa aku bisa memiliki saudara yang tidak waras seperti Kak Fedo ya?" tanya Kayo mengeluhkan sikap aneh sang kakak.


"Ibu sih tidak merasa heran kalau kakakmu menjadi tidak waras saat jatuh cinta pada seorang gadis. Memangnya kau lupa ya kalau kakakmu itu mempunyai seorang Ayah yang sama gilanya seperti dia?" jawab Abigail kembali melayangkan sindiran halus untuk suaminya.


"Ei darling, kenapa aku jadi di bawa-bawa ke permasalahannya Fedo sih. Dia ya dia, aku ya aku. Mana bisa kau menggabungkan sikap kami menjadi satu!" protes Mattheo tak terima ketika di sindir seperti itu.


"Oh, jadi kau menolak untuk mengakui kalau kegilaan Fedo adalah hasil turunan darimu, iya? Ingat ya Matt, sampai detik ini aku masih belum lupa dengan segala kegilaan yang kau lakukan demi agar aku bersedia menikah denganmu. Apa perlu aku menjabarkannya satu-persatu di hadapan Kayo?"


Mattheo langsung mencium bibir Abigail ketika atmosfer di sana mulai berubah. Dia lalu meringis pelan saat tindakannya itu malah berbuah cubitan kuat di pinggangnya.


"Haiisshhh, sebaiknya aku memaksa Jackson untuk segera menikahiku secepat mungkin. Aku tidak sanggup kalau harus menjadi obat nyamuk dari orang-orang yang suka mengumbar kebucinan tanpa memandang tempat," gumam Kayo sambil berjalan meninggalkan ayah dan ibunya yang sedang kasmaran.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


...πŸ’œJangan lupa vote, like dan comment untuk pasangan felur kita ya gengss...

__ADS_1


...πŸ’œIg: rifani_nini...


...πŸ’œFb: Rifani...


__ADS_2