
📢 JANGAN LUPA BOM KOMENTARNYA BESTIE💜
"Kay, kau sedang sibuk tidak?" tanya Fedo sembari menempelkan ponsel ke telinganya. Dia menelepon sambil memeriksa berkas pekerjaan.
"Tidak, Kak. Kenapa memangnya?" sahut Kayo dari seberang telepon.
"Bisa temani aku pergi berbelanja tidak? Besok pagi kan kita semua akan pergi ke Shanghai, tapi aku belum memiliki pakaian untuk ke pesta. Akan sangat memalukan jika seorang Fedo Eiji datang dengan hanya mengenakan pakaian seadanya. Bisa-bisa para gadis yang ada di sana tidak mau melirikku lagi. Kan repot nanti."
Fedo tertawa puas saat mendengar Kayo yang langsung mengumpat begitu dia menyebut kata para gadis. Dan untungnya saat ini Kayo sedang tidak ada bersamanya. Bisa pecah gendang telinga Fedo jika sampai mendengar suara teriakannya secara langsung.
"Apa sih, Kay. Memangnya ada yang salah ya kalau aku sedikit memikirkan penampilan demi agar membuat hati para gadis yang ada di pestanya Reinhard menjadi senang?" tanya Fedo saat adiknya tak berhenti mengomel.
"Sedikit kau bilang? Astaga, Kak. Bukankah nanti di pesta itu akan ada Luri dan keluarganya?Apa kau tidak merasa malu dan tidak takut di tinggal Luri jika ketahuan sedang menggoda para gadis? Kau ini benar-benar ya. Lihat saja, akan aku adukan hal ini pada Ibu supaya nanti kau tidak di izinkan ikut pergi ke Shanghai. Sekalian biar nanti kuminta Ibu untuk menghubungi Luri dan mengatakan kalau kau tidak jadi datang karena sedang berduaan dengan banyak wanita seksi. Dasar buaya darat kau!"
Mental Fedo langsung melemah saat mendengar ancaman Kayo. Cepat-cepat dia menjelaskan bahwa apa yang dia katakan barusan hanyalah candaan saja.
"Eih, kau ini kenapa sensitif sekali sih, Kay. Tadi itu aku hanya bercanda, kenapa serius sekali menanggapinya. Kau ini," ucap Fedo sambil meringis getir. Adiknya ini benar-benar ya. Begini saja langsung mengeluarkan ancaman yang membuat Fedo menjadi lemah tak berdaya.
"Masalah seperti ini kau mana bisa di biarkan begitu saja, Kak. Apa kau pikir aku dan Ibu akan diam saja jika Luri sampai di campakkan seperti para wanitamu yang lainnya? Tidak, Kak. Ayah dan Ibu sudah mengklaim Luri sebagai calon menantu mereka, jadi jangan harap kau bisa mempermainkannya. Ingat itu!"
"Iya-iya maaf. Lain kali aku tidak akan bercanda seperti ini lagi," sahut Fedo menyerah. "Ya sudah, sekarang kau bersiaplah. Lima belas menit lagi aku akan sampai di rumah kemudian membawamu pergi berbelanja. Oke?"
__ADS_1
Fedo mendengus saat panggilannya langsung di matikan tanpa Kayo menjawab pertanyaannya terlebih dahulu. Setelah itu Fedo meng*lum senyum, hatinya seakan meledak mengenang perkataan Kayo yang menyebut kalau Luri telah mendapat pengakuan dari kedua orangtuanya sebagai calon menantu di keluarga Eiji. Sungguh, kabar ini membuat Fedo merasa sangat bahagia. Hubungan mereka kini benar-benar sudah mengantongi restu dari kedua belah keluarga.
"Hmm, sayangku. Sepertinya kau tidak perlu repot-repot memantaskan diri lagi karena statusmu sudah di akui oleh Ayah dan Ibuku. Haih, kenapa aku jadi berharap kalau aku dan Luri bisa langsung menikah setelah ini ya? Kan tidak jadi masalah melanjutkan kuliah meskipun sudah berkeluarga. Kira-kira Luri mau tidak ya?"'ujar Fedo berangan-angan.
Tak ingin terlambat, Fedo memutuskan untuk menyudahi pekerjaannya kemudian pergi menjemput sang adik. Dia tak henti-hentinya tersenyum ketika membalas sapaan dari para karyawan. Dan tingkahnya itu ternyata membuat semua karyawan menjadi penasaran. Mereka mulai saling berbisik, menerka-nerka gerangan apa yang sudah terjadi yang mana membuat bos mereka terlihat begitu senang.
Fedo yang menyadari kalau saat ini dirinya tengah menjadi bahan gosipan semua orang nampak acuh tak peduli. Biar saja mereka saling bertanya, toh kenyataannya memang benar kalau Fedo sedang kesenangan. Dia kemudian masuk ke dalam mobil yang sudah terparkir di depan pintu masuk perusahaan.
"Luri pasti cantik sekali jika memakai baju khas Jepang saat pernikahan kami nanti. Tidak berdandan saja kecantikannya sudah sangat keterlaluan, apalagi nanti jika penampilannya di tangani oleh perias profesional. Aku yakin semua pria pasti akan langsung mimisan setelah melihatnya. Hehehe," ucap Fedo sembari menyalakan mesin mobil.
Sambil bernyanyi kecil, Fedo melajukan mobilnya membelah jalanan. Dia terus saja membayangkan tentang pernikahannya dengan Luri hingga tak terasa mobilnya sudah memasuki pekarangan rumah. Terlihat di sana ada dua orang wanita cantik yang sedang duduk sambil membaca majalah di tangan masing-masing.
"Kau kenapa, Kay? Memangnya ada yang salah ya kalau aku pulang?" tanya Fedo bingung. Dia kemudian berjalan menghampiri sang ibu kemudian memeluknya erat. "Ibu cantik sekali hari ini."
"Kenapa tiba-tiba memuji Ibu, hm?" tanya Abigail seraya mengelus lengan putranya yang melingkar di leher. Abigail sudah mendengar aduan dari putrinya yang mengatakan kalau putranya ini ingin kembali main mata dengan para gadis ketika mereka sampai di Shanghai nanti.
Fedo berdecak. Dia yakin sekali kalau Kayo pasti sudah mengadukan yang tidak-tidak pada ibu mereka. Sambil melepaskan pelukan, Fedo menjelaskan pada ibunya kalau semua itu hanyalah candaan semata. Dia tidak benar-benar ingin melirik gadis lain seperti yang dia katakan ketika di telepon tadi.
"Bu, Kayo itu sudah salah dalam menanggapi perkataanku. Aku hanya bercanda, tapi dia menganggapnya serius. Lagipula aku sudah benar-benar tobat dari dunia perbuayaan setelah mengenal Luri. Bahkan untuk sekedar merasa terangsang pada wanita lain saja aku sudah tidak mampu lagi. Karena sekarang juniorku hanya bisa bereaksi ketika mendengar nama Luri dan juga saat sedang berada di dekatnya saja. Sungguh!"
Abigail dan Kayo terhenyak kaget. Setelah itu mereka menatap datar ke arah pria yang baru saja bicara dengan begitu vulgarnya. Memang benar-benar keturunan seorang Mattheo Eiji. Mesum dan tidak memandang tempat jika ingin bicara tentang hal yang berhubungan dengan itu.
__ADS_1
"Haih, semoga saja nanti Luri kuat menghadapi sikap calon suaminya yang sangat frontal ini ya, Bu. Aku jadi iba memikirkan nasibnya," ucap Kayo berusaha untuk tidak heran dengan sikap kakaknya.
"Kalau kakakmu masih mempunyai urat malu, harusnya dia tidak berani berkata seperti itu di hadapan gadis sepolos Luri," sahut Abigail menyindir putranya secara halus.
"Bu, Luri itu memancarkan aura yang sangat positif. Pikiranku benar-benar sangat bersih setiap kali berada di dekatnya. Dia mempunyai daya tarik yang sangat unik. Sederhana, tertutup, tenang, tapi mampu membuatku berfantasi sedikit liar tentangnya. Pokoknya pesona gadis desa itu tidak ada tandingannya," timpal Fedo yang dengan bahagianya membanggakan kelebihan yang ada di diri Luri.
"Ckckckck, sepertinya tadi ada yang bilang kalau juniornya bisa langsung menengang hanya dengan mendengar nama seorang gadis saja. Tapi kenapa sekarang orang ini mengaku kalau pikirannya sangat bersih setiap kali berada di dekat gadis tersebut? Apakah dunia sudah akan kiamat?"
Kayo memekik kaget saat pipinya di tangkup oleh pria yang sedang dia sindir. Dia kemudian tertawa terbahak-bahak karena menahan geli ketika perutnya di gelitik.
"Dasar adik nakal kau, Kay. Kakak sendiri kau nistakan, rasakan ini!" ucap Fedo terus menggelitik pinggang adiknya.
"Sudah, Kak. Perutku sudah kaku, jangan di gelitik lagi!" teriak Kayo tak berdaya.
"Biar saja. Aku tidak akan berhenti sampai kau mau berjanji untuk tidak menyindirku lagi. Tidak ada tawar menawar, harus sampai kau meminta maaf dan berjanji padaku. Oke!"
Abigail tersenyum kecil sambil menggelengkan kepala melihat kelakuan kedua anaknya. Meski sudah sama-sama dewasa, Fedo masih sering memperlakukan Kayo layaknya anak kecil. Seperti sekarang ini. Tidak mau melepaskan adiknya meski sudah berteriak meminta maaf dan mengucapkan janji yang dia mau.
Tidak terasa sebentar lagi mereka sudah akan membangun rumah tangga mereka sendiri. Hmmm, aku jadi rindu masa-masa Kayo dan Fedo ketika masih kecil dulu, batin Abigail mengenang masa tumbuh kembang kedua anaknya.
*****
__ADS_1