
Di sebuah bandara, terlihat seorang pria yang tengah berdiri sambil terus menatap ke arah pintu keluar penumpang dari balik kaca mata hitam yang di pakainya. Pria tersebut tak henti menghentak-hentakkan kaki ke lantai, sesekali juga terlihat menghembuskan nafasnya yang terdengar berat. Entah karena sedang gugup atau karena tak sabar menantikan kedatangan seseorang, yang jelas mata pria ini tak teralihkan dari arah pintu keluar penumpang.
"Ck, bisa tidak sih kakimu itu diam, Kak. Aku sudah hampir tuli gara-gara mendengar suara hentakannya!" tegur Nania sambil menatap sengit ke arah Fedo, si pria berkaca mata hitam.
"Kalau begitu jangan didengarkan!" sahut Fedo acuh.
"Oh, jadi begitu ya," ucap Nania sambil menyeringai lebar. "Kemarikan kakimu biar aku potong. Supaya adil!"
Luyan dan Nita yang kala itu duduk di kursi roda hanya bisa menghela nafas panjang melihat pertengkaran Fedo dan Nania. Ini sudah hampir lima tahun berlalu sejak Luri pergi ke London, tapi kedua anak ini masih saja bermusuhan sampai sekarang. Baik Fedo maupun Nania, keduanya sama-sama tak ada yang mau mengalah. Fedo dengan keyakinannya merasa tak pernah menyakiti Luri. Sedang Nania, gadis galak yang kini sedang menunggu pengumuman kelulusan sekolah tetap kekeh tak mengizinkan Fedo mendekati kakaknya lagi. Seorang mantan Casanova seperti Fedo tidak layak mendekati kakaknya yang seperti bidadari. Sedikit berlebihan memang, tapi itulah anggapan Nania terhadap permasalahan yang sebelumnya sempat muncul di tengah-tengah kedekatan Fedo dan kakaknya.
"Nania, jangan bersikap seperti itu pada Fedo. Tidak baik, sayang!" tegur Lusi sembari memeluk Reiden, putranya yang berusia hampir lima tahun.
"Kak Lusi, kenapa sih Kakak selalu saja membelanya. Yang menjadi saudara Kakak kan Kak Luri, harusnya Kakak lebih membela dia ketimbang mantan Casanova itu!" tanya Nania sambil melirik sinis ke arah Fedo saat menyebut kata Casanova.
"Karena sebentar lagi Fedo akan menjadi bagian dari keluarga kita," jawab Lusi. Dia lalu beralih menatap Fedo yang sama sekali tidak mempedulikan percakapannya dengan Nania. Pria Jepang ini hanya fokus melihat ke arah pintu keluar penumpang.
Nania mendengus. Dia tak lagi berkata-kata setelah di beritahu kalau Fedo akan segera menjadi bagian dari keluarganya. Sebenarnya Nania itu tidak benar-benar membenci Fedo, dia hanya takut pria ini akan kembali menyakiti hati sang kakak dengan masa lalunya yang buruk bersama para wanita. Nania tidak rela melihat kakaknya kembali bersedih seperti yang pernah terjadi lima tahun lalu.
Sementara itu di dalam bandara, Luri dan Galang masing-masing terlihat mendorong satu troli berisi koper milik mereka. Wajah keduanya nampak begitu semringah karena mereka berhasil pulang dengan membawa kesuksesan. Bukannya sombong, Luri dan Galang hanya sedang menikmati kerja keras mereka setelah hampir lima tahun menuntut ilmu di negeri orang. Jujur, tidak mudah untuk mereka sampai di titik ini mengingat cita-cita mereka yang memiliki banyak sekali ujian. Namun dengan tekad, doa, dan juga kegigihan, mereka akhirnya bisa melewati semua ujian itu dan sekarang hanya tinggal menunggu ujian terakhir, yaitu peresmian gelar mereka sebagai dokter dengan lulusan terbaik di universitas mereka. Sungguh ini adalah pencapaian yang sangat luar biasa sekali bukan? Dan mereka sangat amat menikmati setiap alur yang muncul di setiap harinya.
"Kau siap?" tanya Galang ketika dia dan Luri hendak keluar menemui keluarga yang datang menyambut.
__ADS_1
"Huffttt, kenapa rasanya gugup sekali ya, Lang. Padahal kan yang akan aku temui adalah keluargaku sendiri, tapi kenapa dadaku tidak berhenti berdebar," jawab Luri sambil terus menarik dan membuang nafasnya. Telapak tangannya sangat dingin, dia benar-benar nervous karena akan segera bertemu dengan keluarga yang sudah hampir lima tahun berpisah dengannya.
"Bukan hanya keluarga, tapi juga calon suamimu. Aku yakin di luar pasti Fedo sudah menunggumu," ledek Galang tanpa merasa cemburu sama sekali. Dia sudah sadar akan obsesinya pada gadis desa ini. Bahkan sekarang Galang telah memiliki seorang kekasih yang kebetulan berasal dari negara yang sama juga dengannya. Akan tetapi gadis itu satu tahun lebih muda darinya dan sekarang masih berada di London untuk menyelesaikan kuliahnya.
Luri sedikit tersipu saat Galang menyebut Fedo sebagai calon suaminya. Dia lalu menyelipkan rambutnya yang bergerak-gerak tersapu angin sambil menatap dalam ke arah pintu yang akan mengantarkannya pada Fedo. Bahagia, itu sudah pasti. Lima tahun menunggu, Luri akhirnya berhasil memenangkan satu piala lagi. Piala pertama berasal dari restu kedua orangtuanya, dan piala kedua berasal dari keberhasilannya untuk memantaskan diri agar bisa mengimbangi dan menjaga nama baik Fedo.
"Kita keluar sekarang? Kasihan keluarga kita, mereka pasti sudah lelah menunggu kedatangan kita sejak pagi!" ucap Galang kembali mengajak Luri untuk segera keluar dan menemui keluarga mereka.
"Baiklah. Sekarang aku siap!" sahut Luri dengan penuh percaya diri.
"Bagus. Ayo!"
Luri dan Galang berjalan beriringan menuju pintu keluar. Dan keduanya langsung tersenyum lebar ketika mendapati keluarga mereka berjejer rapi sambil membawa papan nama masing-masing.
Fedo? Jangan di tanya lagi. Kakinya seakan sulit di gerakkan saat dia melihat Luri yang sedang tersenyum sambil mendorong troli. Sungguh, penampilan gadis desa itu masih sama elegannya seperti lima tahun lalu. Pesona Luri sama sekali tak luntur meski menetap di negara orang dalam kurun waktu yang cukup lama. Luri-nya masih seorang gadis desa yang sangat sederhana.
"Hai tampan. Apa kabar?" sapa Luri setelah sampai di hadapan Fedo.
"Sayang," sahut Fedo sedikit kaget saat Luri tiba-tiba menyapanya lebih dulu. "Kau ... sangat cantik. Sama seperti dulu."
"Terima kasih atas pujiannya," ucap Luri. Dia lalu memberanikan diri untuk melepas kaca mata yang menghalanginya menatap netra milik Fedo. Luri kemudian tersenyum yang mana menampilkan dua lesung di pipinya. "Kak Fedo, aku sangat merindukanmu. Terima kasih ya untuk lima tahun ini. Kau benar-benar membuktikan diri sebagai pria yang setia dan juga penepat janji. Karena kau sudah begitu manis dengan tetap mencintai dan menungguku, maka ... mari kita menikah!"
__ADS_1
Semua orang tertawa melihat reaksi kaget di wajah Fedo ketika Luri mengajaknya menikah. Bahkan Nania yang tadinya masih begitu kesal pada mantan Casanova ini tak kuasa menahan senyum melihat kebahagiaan di wajah sang kakak.
Terima kasih, Kak Fedo. Kali ini aku akan berdamai dengan kemarahanku karena Kak Luri masih menginginkanmu, ucap Nania dalam hati.
"Kak Fedo, will you marry me?" tanya Luri mengulang perkataanya. Dia merasa sangat lucu melihat ekpresi di wajah Fedo yang begitu syok ketika dia mengajaknya menikah.
"Sayang, apa kau sedang melamarku?" sahut Fedo balik bertanya.
"Ya, aku sedang melamarmu," jawab Luri. "Kenapa memangnya, Kak? Apa kau tidak mau menikah denganku? Kalau iya, ya sudah tidak apa-apa. Masih ada Galang yang akan bersedia menjadi suamiku. Iya kan, Lang?"
"Tentu saja, Luri. Aku akan langsung menikahimu sekarang juga kalau dia menolaknya," sahut Galang sambil menggerakkan dagu ke arah Fedo. Dia tergelitik sekali melihat Fedo yang seperti orang bodoh ketika dilamar oleh Luri.
"Enak saja. Lima tahun aku menunggunya, mana mungkin aku menolak untuk menikah dengan Luri. Mimpi saja kau sana bisa merebutnya dariku!" amuk Fedo tak terima mendengar ucapan Galang. Setelah itu dia langsung menarik Luri ke dalam pelukannya, tak peduli meski Paman Luyan dan Bibi Nita masih ada di sana.
"Hei hei hei. Sadar tempat, Fed!" celetuk Gleen usil.
"Aku tidak peduli," sahut Fedo kemudian menangkup kedua pipi Luri agar menatapnya. "Berani sekali kau ya mengambil alih tugasku. Apa jangan-jangan ini yang kau pelajari selama kuliah di London, hem? Dasar gadis nakal!"
"Aku sudah selesai dengan tugasku untuk memantaskan diri, Kak. Dan aku sudah tidak sabar ingin segera mengumumkan pada semua orang kalau kita itu adalah pasangan yang setara. Walaupun hanya seorang dokter, tapi aku berhasil menjadi lulusan tenaga medis terbaik tahun ini. Dan aku rasa gelar tersebut cukup untuk orang lain mengenal kalau istrinya Fedo Eiji adalah seorang dokter yang lulus dari universitas ternama di London. Benar tidak?" ucap Luri dengan penuh rasa bangga.
"Haaaahh, aku sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi sekarang, sayang. Kau ... memang yang terbaik dari yang paling baik. Aku mencintaimu," sahut Fedo terharu. "Dan sebagai hadiah atas keberhasilanmu memantaskan diri untukku, aku akan membawa kalian semua ke sebuah tempat di mana keluargaku telah menunggu. Ingat ya, sayang. Yang boleh melamar hanyalah laki-laki, bukan perempuan. Jadi maaf, lamaranmu tadi terpaksa aku tolak karena itu tidak sesuai dengan rencanaku. Dan sebagai gantinya, akulah yang akan melamarmu. Oke?"
__ADS_1
Luri tak kuasa untuk tidak meneteskan air mata haru karena ternyata Fedo telah menyiapkan acara untuk melamarnya sebagai hadiah atas keberhasilannya. Sungguh, takdir ini sangatlah indah bukan? Dan ini adalah buah dari ketulusan atas nama cinta mereka.
******