
Nita menatap heran ke arah putri bungsunya yang baru saja berlalu dengan wajah masam. Aneh, tidak biasanya Nania bersikap seperti ini setelah pulang dari sekolah. Nita kemudian membatin, jangan-jangan putri bungsunya itu mengalami sesuatu yang tidak baik saat berada di sekolah tadi yang mana membuatnya pulang dengan raut wajah yang tidak mengenakkan mata. Khawatir tebakannya benar, Nita pun bergegas menyusul Luri yang masih berada di luar rumah. Dia panik.
"Ya ampun, Ibu. Hati-hati, nanti Ibu jatuh!" pekik Luri kaget melihat sang ibu yang berjalan dengan sangat cepat di atas lantai yang baru saja di pel oleh pelayan.
"Luri, kemari, Nak. Ada hal penting yang ingin Ibu tanyakan padamu," sahut Nita seraya menghentikan langkah.
Dengan cepat Luri berjalan menghampiri ibunya. Dia kemudian membimbingnya berjalan pelan melewati lantai yang masih sedikit basah. Luri sangat takut ibunya jatuh terpeleset yang mana akan membuat luka bekas operasi di perutnya kembali bermasalah.
"Duduklah, Bu," ucap Luri setelah sampai di dekat kursi.
Nita mengangguk. Dia pun menuruti keinginan putrinya dengan mendudukkan diri di atas kursi. Setelah itu Nita langsung menggenggam tangan Luri kemudian menanyakan apa yang telah terjadi pada putri bungsunya.
"Sayang, adikmu kenapa? Tidak biasanya Nania pulang dengan raut wajah seperti itu. Apa ada sesuatu yang terjadi di sekolah kalian, hm?" cecar Nita sarat akan kekhawatiran.
"Oh, jadi Ibu terburu-buru seperti ini karena mengkhawatirkan Nania?" tanya Luri sambil tersenyum kecil. Dia lega karena bukan laporan buruk yang dia dengar.
"Iya, sayang. Nania tadi hanya mencium tangan Ibu kemudian masuk ke kamarnya. Biasanya kan dia akan menceritakan dulu apa saja yang terjadi di sekolah kalian, tapi tadi tidak. Makanya Ibu khawatir sekali," jawab Nita.
Luri segera menenangkan sang ibu dengan cara mengelus tangannya pelan. Ini adalah dampak dari perkataan Jovan yang menyebut Nania sebagai gadis cabe-cabean. Gara-gara hal itu, sepanjang perjalanan ke rumah mereka sama sekali tidak mengobrol. Sepertinya Nania sangat sakit hati di katai seperti itu oleh Jovan.
"Bu, tidak terjadi apa-apa di sekolah kami. Nania bersikap seperti itu karena Jovan mengejeknya. Hanya bercanda, tapi Nania menganggap serius candaan Jovan. Jadi yang begitu. Di jalan saja tadi dia sangat irit bicara," ucap Luri memberi penjelasan pada sang ibu.
"Benarkah? Memangnya Jovan bercanda seperti apa sampai-sampai membuat Nania merajuk begitu. Tumben sekali dia kalah dari omongan orang. Biasanya kan adikmu selalu menang."
__ADS_1
"Jovan mengatainya gadis cabe-cabean, Bu. Dan Nania tidak terima. Dia marah kemudian pergi meninggalkan kami begitu saja. Saat Jovan ingin meminta maaf, Nania langsung meminta pak sopir untuk segera pergi dari sekolah. Kali ini dia benar-benar merajuk besar."
Nita tertawa setelah mengetahui penyebab putrinya berwajah masam. Lucu sekali.
"Ya ampun, ada-ada saja adikmu itu, Luri. Ibu kira ada sesuatu yang terjadi di sekolah kalian. Ternyata hanya karena cabe-cabean," ucap Nita setelah puas tertawa.
"Sudah Bu jangan tertawa terus. Bisa gawat kalau Nania sampai mendengar percakapan kita. Dia pasti akan semakin merajuk!" sahut Luri seraya menahan tawa.
Saat Luri tengah berbincang dengan ibunya, ponsel di dalam tasnya berdering. Dia kemudian mengambilnya, tertegun sejenak saat membaca nama dari si penelfon. Luri ragu untuk menjawab panggilan tersebut.
"Sayang, kenapa tidak di angkat?" tanya Nita keheranan.
"Em, tidak apa-apa, Bu," jawab Luri bimbang.
"Luri, bukankah malam itu Ibu sudah memberitahu kalau Ayah dan Ibu sudah merestui hubunganmu dengan Fedo? Angkat saja, jangan sungkan hanya karena ada Ibu di sini. Kau berhak untuk bahagia, sayang."
"Apa benar Ibu tidak apa-apa kalau aku mengangkat panggilan ini?" tanya Luri memastikan. Dia sangat takut jika sikapnya bisa membuat sang ibu merasa kecewa.
"Memangnya apa urusan Ibu, hm? Kan yang menjalin hubungan kalian berdua, kalian bebas melakukan apapun selagi masih di batas wajar. Lagipula inikan hanya telefon, kenapa Ibu harus kenapa-napa. Sudah sana angkat, kasihan Fedo. Nanti dia panik kalau kau terlalu lama merespon panggilannya. Dia itukan sangat posesif padamu," jawab Nita sembari meledek putrinya. Dia terkekeh melihat pipi putrinya bersemu merah jambu.
Dengan pipi yang merona Luri akhirnya menjawab panggilan Fedo. Sebelum menyapa Fedo dia menatap ke arah ibunya terlebih dahulu. Masih ingin memastikan kalau semuanya akan baik-baik saja.
"Halo, Kak. Kau sedang apa?" tanya Luri.
__ADS_1
"Sedang memikirkan kekasihku yang lama sekali menjawab panggilan dariku. Sayang ... kau tadi sedang apa? Aku hampir mati berdiri karena kau membiarkanku menunggu selama satu menit lamanya. Kau sedang apa, hm?"
Luri langsung melirik ke arah samping saat mendengar suara tawa tertahan ibunya. Malu, itu sudah pasti.
"Maaf ya sudah membuatmu menunggu lama. Aku sedang mengobrol dengan Ibu tadi, Kak."
"Ibu? Astaga, jangan bilang sekarang Bibi Nita sedang duduk di sampingmu, sayang."
"Iya, sekarang Ibu sedang duduk di sebelahku. Apa Kakak ingin mengobrol dulu dengan Ibu?" tanya Luri seraya menahan senyum saat mendengar antusias Fedo ketika tahu kalau ibunya sedang duduk bersamanya.
"Luri, Ibu tidak mau mengganggu pembicaraan kalian. Sudah ya, lebih baik Ibu masuk ke dalam untuk membujuk Nania saja. Katakan pada Fedo kalau Ayah dan Ibu sudah memberikan lampu hijau untuk hubungan kalian berdua. Ibu pergi dulu," bisik Nita sesaat sebelum beranjak pergi. Dia tidak mau mengganggu kebahagiaan putrinya yang tengah berbunga-bunga.
Luri menatap kepergian sang ibu dengan hati yang begitu lega. Kini semua rasa khawatir yang sebelumnya dia rasakan hilang semua.
"Sayang, mana Bibi Nita? Aku ingin menyapanya sebentar," tanya Fedo dari seberang telepon.
"Ibu sudah pergi ke kamarnya Nania, Kak. Ibu bilang dia tidak mau mengganggu pembicaraan kita," jawab Luri. Setelah itu Luri kembali melanjutkan perkataannya, memberitahu Fedo tentang pesan yang tadi di ucapkan oleh ibunya. "Sebelum pergi Ibu berpesan untuk memberitahu Kakak kalau Ayah dan Ibu sudah memberikan lampu hijau. Mereka merestui hubungan kita."
Luri menggigit bibir bawahnya pelan saat mendengar suara teriak memekakan dari dalam telepon. Sedetik kemudian dia tertawa, ikut merasakan kebahagiaan yang tengah di rasakan oleh Fedo. Wajarlah, sebelum ini kan ayah Luri menolak hubungan mereka secara terang-terangan. Jadi begitu Fedo tahu kalau orangtua Luri telah luluh dan bahkan sudah memberikan restu untuk hubungan mereka, dia mengalami sebuah euforia yang cukup histeris. Dari seberang telepon Luri terus mendengar suara Fedo yang tak henti meneriakan kata terima kasih pada Tuhan yang telah melembutkan hati kedua orangtuanya. Sebenarnya Luri juga sama, tapi dia memilih untuk mengucap syukur dari dalam hati saja. Karena jika di luapkan dengan kata-kata, sangat sulit untuk mencari gambaran tepat yang bisa menjelaskan betapa bahagianya dia saat ini.
Terima kasih banyak, Tuhan. Berkat kebaikan hati-Mu sekarang hubunganku dan Kak Fedo bisa selangkah lebih maju. Meskipun kami masih belum bisa menjalin hubungan sebagai pasangan kekasih, tapi setidaknya kami sudah mengantongi restu dari Ayah dan Ibu. Dengan begini aku tidak perlu lagi sembunyi-sembunyi menutupi kedekatan kami berdua dari mereka. Sekali lagi terima kasih banyak, Tuhan, ujar Luri penuh kelegaan.
*****
__ADS_1