
Sepulang dari rumahnya Luri, Fedo tidak henti-hentinya tersenyum senang. Dia terus terbayang percakapannya dengan kedua orangtua Luri yang seolah memberi lampu hijau jika ingin mendekati putri mereka.
"Aku rasa mendekati Paman Luyan dan Bibi Nita adalah keputusan yang sangat tepat. Seperti kata pepatah, jika ingin mendapatkan hati anaknya, maka dapatkan dulu hati orangtuanya. Dengan begini Luri tidak akan bisa menolak lagi jika aku ingin mengajaknya berpacaran. Ckck, kau benar-benar sangat cerdas, Fedo. Dunia perbuayaan pasti akan sangat bangga jika mendengar hal ini," kelakar Fedo sembari berjalan masuk ke dalam rumah.
Saking senangnya Fedo, dia sampai tak menyadari kalau sejak tadi dirinya sedang di perhatikan oleh keluarganya. Ya, saat ini Fedo beserta adik dan kedua orangtuanya sedang berada di kediaman Bibi Liona. Mereka belum sempat kembali ke Jepang karena istri sepupunya masih belum keluar dari rumah sakit. Fedo baru tersadar dari uforianya ketika mendengar celetukan sang adik yang dengan terang-terangan mengatainya.
"Lihatlah Bu, Ayah, mulut buaya itu terus saja tertawa. Aku yakin sekali dia pasti sudah menemukan mangsa yang baru!"
"Biarkan saja, itu haknya untuk berkelana mencari pasangan. Tapi jika Ibu sampai tahu buaya ini menelan korban, barulah Ibu akan membuatnya merasakan apa yang di sebut hidup segan mati tak mau," sahut Abigail penuh penekanan.
Kayo terkikik pelan. Sedangkan buaya yang di maksud oleh mereka kini tengah ternganga kaget. Ya, harus Kayo akui kalau kakaknya ini mempunyai wajah yang sangat tampan. Namun kebiasaannya yang suka bergonta-ganti pasangan membuat Kayo menjadi gemas sendiri. Seringkali dia dan ibunya dibuat kewalahan menghadapi para wanita yang merengek meminta agar di nikahkan dengan si buaya ini. Namun si buaya akan selalu menolak dengan berbagai macam alasan. Entahlah, kakaknya ini seperti tak pernah serius menjalin hubungan dengan wanita. Dia dan keluarganya sudah kehabisan cara untuk membuat buaya ini mau bertobat.
"Ibu ini kenapa lah, tega sekali mengancamku seperti itu. Aku ini kan satu-satunya putra Ibu!" protes Fedo kesal. "Kau juga Kayo. Bukannya membela, kau malah mengatai kakakmu seekor buaya. Dasar adik tak punya akhlak!"
"Tapi kan kau memang buaya, Kak. Buaya darat yang gila wanita," sahut Kayo mengejek.
"Mana ada seperti itu. Fitnah saja kau!" omel Fedo bersungut-sungut.
"Oh ya? Apa aku perlu menyebutkan jenis-jenis wanita yang sudah kau buat kecewa?" tanya Kayo sembari memicingkan mata. "Kalau tidak salah waktu itu ada seorang gadis yang datang ke rumah sambil menangis tersedu-sedu. Dia bilang kau meninggalkannya begitu saja di hotel. Siapa namanya Bu? Aku lupa."
"Namanya Kanita. Dia anak dari salah satu rekan bisnis ayahmu," jawab Abigail seraya mengulum senyum.
Fedo langsung menoleh ke arah lain begitu mata semua orang terarah kepadanya. Bahkan sang ayah yang biasanya berpihak padanya kali ini ikut melayangkan tatapan yang cukup tajam.
"Matilah aku. Kenapa juga Kayo dan Ibu harus membahas tentang Kanita di depan Ayah. Ini sih namanya cari mati," batin Fedo risau.
"Hei Bung, apa benar kau sudah meniduri Kanita?" tanya Mattheo dingin.
"Hanya sekali, Ayah. Itupun dia duluan yang menggodaku," jawab Fedo mencoba untuk membela diri.
__ADS_1
"Jangan percaya kata-kata buaya itu, Ayah. Tidak akan ada wanita yang mau dengannya kalau bukan dia dulu yang bermain mata!" timpal Kayo memanaskan keadaan.
"Hei, apa-apaan kau. Jangan jadi kompor meleduk ya!"
Fedo langsung memelototkan mata ke arah adiknya. Sungguh, ingin rasanya dia menjahit mulut Kayo supaya gadis itu tidak membuat keadaan semakin runyam. Huh, membuat pusing saja.
"Benar hanya sekali?" cecar Mattheo tak percaya.
"Seingatku sih memang hanya satu kali, Ayah. Sungguh!"
"Kau menyebar benih kecebong di dalam rahimnya tidak?" tanya Mattheo memastikan.
Abigail yang sedang menikmati tehnya hampir saja tersedak. Dia lalu menatap tajam ke arah suaminya yang baru saja mengeluarkan kata-kata aneh.
"Matt, jadilah ayah yang baik untuk kedua anak kita. Sekali lagi aku mendengar kau dan Fedo membicarakan hal yang tidak masuk akal, maka bersiaplah untuk tidur di jalanan. Aku sungguh tidak keberatan menjadi seorang janda karena di luar sana ada banyak pria yang mengantri untuk menikahiku!" gertak Abigail kesal. Dia lalu melihat ke arah putrinya. "Kayo, kau tidak keberatan bukan jika mempunyai ayah tiri?"
Sudut bibir Kayo berkedut. Dia suka sekali jika ibunya sudah mengeluarkan ancaman yang membuat ayahnya tidak bisa berkutik lagi. Dengan tampang polos yang di buat-buat, Kayo akhirnya menganggukkan kepala.
Mattheo menelan ludah. Cepat-cepat dia meraih tangan istrinya kemudian menggenggamnya dengan sangat erat. Sungguh, Mattheo tidak bisa jika harus kehilangan wanita dingin ini. Dia lebih memilih kehilangan putranya yang gila wanita itu daripada harus di tinggal oleh Abigail.
"Darling, kau ini bicara apa sih. Aku itu sangat mencintaimu, aku mana mungkin tega mempermainkan perasaanmu. Kau ingat kan bagaimana dulu aku mengejarmu? Aku mendaki ratusan bukit dan juga menyelami lautan hanya agar bisa bersatu denganmu. Tolong jangan bicara seperti itu lagi padaku. Oke?"
Kayo dan Fedo kompak memasang wajah seperti ingin muntah ketika mendengar bualan ayah mereka. Sungguh, pria tua ini sangat tidak tahu malu. Di usianya yang tak lagi muda masih saja menebar rayuan palsu pada seorang wanita. Memangnya manusia mana yang mampu mendaki ratusan bukit dan juga menyelami lautan yang tidak memiliki ujung? Hanya pria tua ini sajalah yang mampu berkata tidak masuk akal seperti itu. Dan sialnya, pria tua tersebut adalah ayah mereka.
"Omong kosong!" ucap Abigail dengan pipi bersemu.
Abigail tentu tidak akan bisa melupakan cara gila Mattheo saat ingin menaklukkan hatinya. Jika pria lain mendekati wanita dengan membawakan bunga dan juga mengajaknya makan malam romantis, maka Mattheo tidak seperti itu. Pria ini dengan gaya arogannya memaksa Abigail untuk menjadi pasangannya. Bahkan tak jarang Abigail dibuat malu saat Mattheo dengan gilanya memarahi Liona karena dia yang tak mau menemuinya. Tapi meski begitu, Abigail sangat mencintai Mattheo. Karena ayah dari kedua anaknya ini bersedia menerima Abigail tanpa memandang masalalu kelam yang pernah di lewatinya.
"Aku serius, darling. Di dunia ini hanya kau satu-satunya wanita yang aku cintai. Bahkan jika Tuhan menurunkan bidadari dari surga aku hanya akan meliriknya saja. Sungguh!" ucap Mattheo terus meyakinkan sang istri.
__ADS_1
"Kayo, rasa-rasanya aku seperti ingin muntah. Kau merasakan hal yang sama tidak?" tanya Fedo dengan sengaja menyindir ayahnya.
"Iya, Kak. Perutku sudah bergejolak sejak tadi. Apa kau tahu penyebabnya?" jawab Kayo ikut menyindir sang ayah.
Fedo menyeringai.
"Ada seorang pria tua yang dengan tidak tahu malunya menebar virus cinta di ruangan ini. Itulah kenapa kita berdua merasa sangat mual."
"Oh, pantas saja."
Mattheo sama sekali tidak menggubris sindiran yang di layangkan oleh kedua anaknya. Dia malah asik memandangi wajah istrinya yang tetap cantik meski kini usia mereka tak lagi muda. Sungguh, Mattheo benar-benar sangat mencintai Abigail. Hidupnya akan terasa sangat hampa jika wanita ini sampai pergi meninggalkannya.
"Berhenti menatapku, Matt!" tegur Abigail mulai salah tingkah.
"Tidak mau."
"Ada anak-anak di sini."
"Biar saja," sahut Mattheo cuek.
"Kelakuanmu bisa mencemari otak mereka."
"Otak mereka memang sudah tercemar, darling. Apalagi Fedo. Aku yakin sekali kedua bola matanya pasti sudah sering melihat dua bola kristal yang sangat lembut yang juga kenyal. Seperti milikmu," goda Mattheo sembari melirik ke arah dada istrinya.
Plaaaaakkkk
"Menyingkir kau dari hadapanku!"
Fedo dan Kayo tertawa terbahak-bahak melihat ayah mereka menjadi korban kebrutalan dari tangan ibu mereka. Dan tawa mereka kian pecah ketika mendengar suara teriakan frustasi dari lantai atas. Ayah mereka tak di izinkan masuk ke kamar.
__ADS_1
****