PESONA SI GADIS DESA

PESONA SI GADIS DESA
(FELUR) ~ Rasa Rindu


__ADS_3

Fedo terlihat kelelahan setelah keluar dari ruang meeting. Wajah yang biasanya terlihat segar kini begitu lesu, mirip seperti orang yang sedang tersiksa akan sesuatu hal.


"Kenapa juga kita harus berpisah jarak sih. Kalau begini kan aku yang repot," keluh Fedo sambil mendudukkan bokong ke atas sofa yang ada di ruang kerjanya.


Ya, saat ini Fedo tengah merindukan Luri. Dia rasanya seperti akan gila karena sudah beberapa hari tidak bisa melihat wajah cantik dari si gadis desa tersebut. Sebenarnya pagi tadi Fedo berniat menyusul Luri, tapi di cegah oleh ibunya yang mengingatkan kalau hari ini ada rapat penting di perusahaan. Andai saja dia tidak di ancam akan di kurung di pulau terpencil, Fedo pasti akan tetap pergi ke Negara N untuk menemui Luri. Paru-parunya seperti menyempit sejak dia di beritahu tentang kegiatan belajar bersama antara Luri dengan seorang pria bernama Galang. Fedo tentu saja tidak bodoh. Dia sadar betul kalau buaya bernama Galang ini memiliki rasa spesial pada calon kekasihnya yang cantik itu. Fedo dan Galang sama-sama pria, jadi dia langsung tanggap kalau belajar bersama yang di maksud oleh Luri hanya akal-akalan Galang saja supaya bisa mendekatinya.


"Awas saja kau kalau berani menggoda calon kekasihku. Akan kubumi hanguskan kau dari dunia ini, Galang!" geram Fedo sambil mengepalkan tangan.


Tok tok tok


"Masuk!" teriak Fedo dari dalam ruangan.


Pintu ruangan terbuka. Salah satu sekertaris Fedo berjalan masuk kemudian melaporkan sesuatu yang langsung membuat darah Fedo mendidih.


"Selamat siang, Tuan Muda Fedo. Di luar ada Nona Kanita, beliau memaksa ingin bertemu dengan anda."


"Aku tidak mau melihat wajahnya. Usir dia dari sini!" sahut Fedo jengkel.


"Tapi Tuan Muda, Nona Kanita datang bersama dengan Tuan Dominic."


"Lalu? Apa kau pikir dengan dia datang bersama ayahnya aku akan membiarkannya masuk kemari? Usir! Jika perlu seret mereka berdua dengan cara yang paling kasar sekalipun."


Tepat ketika Fedo sedang mengamuk, Kanita masuk bersama dengan dua orang pria yang membuat Fedo semakin bertambah kesal. Sorot matanya memperlihatkan kebencian yang begitu besar ketika wanita tidak tahu malu itu tersenyum ke arahnya.


"Hai Fedo. Apa kabar?" tanya Kanita dengan suara yang dibuat selembut mungkin.


"Fed, kau tidak menyapa Tuan Dominic?" tegur Mattheo tak enak dengan sikap yang di tunjukkan oleh putranya.


Meski enggan, Fedo akhirnya menyapa ayahnya Kanita. Dia berdiri kemudian mengulurkan tangan ke arah Tuan Dominic.


"Selamat siang, Tuan Dominic. Silahkan duduk!"


Kanita menatap Fedo dengan begitu terpesona sambil menunggu gilirannya untuk berjabat tangan. Namun dia harus menelan kekecewaan yang cukup besar karena Fedo langsung memasukkan tangan ke saku celana begitu selesai berjabat tangan dengan ayahnya.

__ADS_1


"Selamat siang kembali, Tuan Muda Fedo."


Ekor mata Dominic melirik ke arah putrinya yang terlihat sendu. Dia sebenarnya tahu kalau Kanita sangat menginginkan pewaris dari tahta keluarga Eiji ini. Namun dia mencoba bersikap netral karena tak ingin membawa masalah pribadi putrinya ke dalam hubungan baik yang sudah dia jalin dengan Mattheo.


"Em Fed, kau memiliki waktu senggang tidak? Aku dan Ayah sengaja datang kemari ingin mengajakmu dan Paman Mattheo untuk makan siang bersama. Kalau kau....


"Aku sibuk!" sela Fedo singkat, padat dan jelas menolak ajakan Kanita. "Maaf Tuan Dominic, jika tidak ada sesuatu hal yang penting aku pamit undur diri. Ada pekerjaan di luar kantor yang harus segera aku selesaikan!"


"Oh, tidak masalah. Kau pergilah urus pekerjaanmu itu. Dan maaf jika kedatangan kami kemari membuatmu merasa tidak nyaman!" sahut Dominic tahu diri.


Jangan di tanya seperti apa wajah Kanita sekarang. Bahkan make-upnya yang tebal tak mampu menutupi wajahnya yang memerah karena menahan rasa malu. Sedangkan Mattheo, dia hanya diam melihat kelakuan putranya yang terlalu terus terang menolak kehadiran anak dari salah satu kolega bisnisnya. Merasa tidak enak itu sudah pasti. Tapi Mattheo juga tidak bisa memaksa Fedo untuk menerima Kanita, salah satu wanita yang menggila setelah menjadi teman ranjang putranya.


"Kalau begitu aku permisi, Tuan Dominic. Ayah, aku pergi dulu!" pamit Fedo kemudian bergegas keluar dari ruangan tersebut.


Kanita duduk dengan sangat gelisah setelah Fedo pergi dari sana. Dia sadar kalau Fedo sebenarnya bukan ingin melakukan pekerjaan, melainkan hanya ingin menghindarinya saja.


"Ayah, Paman Mattheo, aku pamit ke toilet sebentar ya. Tiba-tiba perutku terasa tidak nyaman," ucap Kanita beralasan. Padahal yang ingin dia lakukan adalah mengejar Fedo keluar.


"Iya Ayah. Aku baik-baik saja. Hanya sedikit mulas,"


Setelah itu Kanita buru-buru meninggalkan ruangan. Dia sudah tak sabar ingin segera menemui pria pujaannya itu.


"Aku menemukanmu, Fed," gumam Kanita sambil tersenyum senang.


Fedo yang tidak menyangka kalau Kanita akan datang menyusul terperanjat kaget saat ada sepasang tangan yang melingkar di pinggangnya. Dan begitu dia melihat ke arah pantulan kaca yang ada di sebelahnya, emosi Fedo langsung memuncak. Dia dengan kasar melepaskan rengkuhan tangan Kanita kemudian mendorongnya hingga jatuh terduduk di lantai. Sambil memasang wajah yang sangat sinis, Fedo memaki Kanita di hadapan karyawannya yang mulai berkerumun.


"Sudah aku katakan kalau aku tak mau lagi melihat wajahmu, Kanita. Kau tuli atau bagaimana hah!"


"Fed, aku merindukanmu. Sungguh. Tolong jangan begini, sayang. Jangan mengabaikan aku," ucap Kanita mendayu-dayu. Dia mencoba beralih peran agar tidak di cap buruk oleh para karyawan.


Fedo tertawa sumbang mendengar ucapan Kanita yang begitu menjijikkan. Ingin rasanya dia melenyapkan wanita ini dari depan matanya sekarang juga. Fedo sedang sangat lelah, di tambah lagi sekarang ada gangguan dari sampah bekas yang tidak tahu malu. Sontak saja hal ini membuat benih-benih psikopat langsung mencuat di benak Fedo.


"Mungkin kau bisa mengelabui mata para bawahanku, Kanita. Tapi tidak denganku. Kau pikir aku tidak tahu kalau sekarang kau sedang bermain peran sebagai wanita yang tersakiti? Kau tahu tidak, Kanita. Di mataku, kau terlihat sangat menjijikkan. Benar-benar sangat men-ji-ji-kan. Kau dengar itu?! Menjijikkan Kanita!" teriak Fedo dengan sangat kuat.

__ADS_1


Di teriaki seperti itu membuat Kanita menjadi sangat malu. Dia bahkan bisa mendengar bisik-bisik para karyawan Fedo yang menyebut jika dirinya adalah salah satu wanita panggilan yang pernah di bayar oleh bos mereka. Hatinya hancur, tapi dia tetap menginginkan pria kejam ini. Kanita kekeh ingin terus mengejar Fedo sampai dia bisa memilikinya. Tak peduli meski dia harus kehilangan harga dirinya sekalipun.


"Enyahlah! Pergi sejauh mungkin sebelum aku melakukan sesuatu yang lebih buruk daripada ini. Pergi!" usir Fedo mencoba melunak.


"Aku baru akan pergi setelah kau memberitahu siapa gadis yang sedang kau kencani sekarang!" sahut Kanita sambil berusaha untuk berdiri.


"Kalau aku tidak mau?"


"Maka aku akan terus mengikutimu setiap saat!" jawab Kanita sungguh-sungguh. "Tolonglah, Fed. Aku sangat mencintaimu, tolong hargailah perasaanku meski hanya sedikit!"


Di ancam seperti itu membuat darah Fedo kian bergejolak. Dia kemudian berteriak memanggil penjaga lalu meminta mereka untuk menyeret Kanita keluar dari perusahaan. Fedo menulikan telinga saat Kanita berteriak seperti orang gila dan terus berontak agar bisa melepaskan diri dari cengkeraman tangan para penjaga.


Sementara itu, dari kejauhan Dominic dan Mattheo tampak memperhatikan kejadian tersebut. Mereka berdua hanya bisa menghela nafas menyaksikan pertengkaran antara Fedo dan Kanita.


"Apa kau akan memutuskan hubungan kerjasama perusahaan kita setelah melihat kejadian ini?" tanya Mattheo tak enak hati.


"Ini tidak ada urusannya dengan pekerjaan kita, Mattheo. Biar saja, mereka itu masih muda. Kita tidak usah mencampuri urusan mereka," jawab Dominic santai.


"Baiklah. Itu pemikiran yang sangat bagus."


"Tentu saja. Bagaimana kalau sekarang kita pergi makan siang. Perutku sudah berbunyi sejak tadi."


"Aku akan mentraktirmu makan sampai puas. Ayo!" ucap Mattheo kemudian mengajak Dominic untuk pergi dari sana.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


βœ…Gengss... PESONA SI GADIS DESA versi lengkapnya ada di yutub ya. Nama Chanelnya β–ΆMak Rifani. Di sana baru saja up part 49.Jangan lupa mampir dan tinggalkan jejak ya


πŸ’œJangan lupa vote, like, dan comment keuwuan felur kita ya gengss


πŸ’œIg: rifani_nini


πŸ’œFb: Rifani

__ADS_1


__ADS_2