PESONA SI GADIS DESA

PESONA SI GADIS DESA
(FELUR) ~ Perasaan Dilema


__ADS_3

Luyan dan Nita nampak murung setelah di beritahu oleh Luri kalau jadwal keberangkatannya ke London akan di percepat. Jujur, bukannya mereka tidak mendukung akan maksud dari tujuan Luri meninggalkan rumah, tapi di tinggal pergi jauh oleh anak sendiri orangtua manalah yang tidak akan merasa sedih. Terlebih lagi tempat yang akan di tuju oleh putri mereka berada sangat jauh hingga berkilo-kilo meter dari tempat mereka tinggal sekarang. Membuat keduanya kian merasa tak rela.


"Ayah, Ibu, kalian jangan sedih. Aku pergi kan untuk tujuan yang mulia. Jadi tolong tersenyumlah supaya nanti aku tidak merasa berat saat menuntut ilmu di sana," ucap Luri berusaha menghibur kesedihan di hati kedua orangtuanya.


"Luri, kenapa keberangkatannya tiba-tiba di percepat? Ibu masih belum puas menghabiskan waktu bersamamu, Nak. Ibu belum siap jika harus tinggal berjauhan denganmu?" tanya Nita dengan mata berkaca-kaca.


Sebagai seorang ibu, Nita sangatlah berat jika harus hidup berjauhan dengan putrinya. Namun dia juga tak kuasa untuk menahan karena putrinya sedang berjuang mengejar cita-citanya. Setengah hati Nita berkata untuk tegar dan terus mendukung, tapi setengah hatinya lagi berujar untuk meminta Luri agar tetap tinggal. Sungguh, ini adalah suatu perasaan dilema yang sangat amat berat. Dada Nita sampai sesak sendiri memikirkannya.


"Pihak sekolah mengatakan ada sesuatu yang perlu kami urus di sana, Bu. Dan kami berdua harus stay lebih dulu sebelum tahun ajaran baru di buka. Tolong jangan menangis ya, Bu. Atau jika tidak bagaimana kalau aku batalkan saja untuk kuliah di sana. Aku tidak mau Ayah dan Ibu banyak pikiran setelah aku berangkat nanti!" jawab Luri sembari mengelus-elus tangan ibunya. Dia benar-benar sangat tidak tega melihat kesedihan di mata kedua orangtuanya sekarang.


Biji mata Nania hampir melompat keluar saat mendengar keinginan sang kakak yang ingin membatalkan keberangkatannya hanya gara-gara melihat ayah dan ibu mereka bersedih hati. Tak mau kesempatan emas ini hilang di depan mata, Nania pun segera mengambil tindakan dengan cara membujuk orangtuanya agar berhenti merengek.


"Ayah, Ibu, kenapa kalian jadi cengeng begini sih. Kak Luri itu pergi untuk mengejar cita-citanya yang ingin menjadi dokter, bukan ingin pergi ke alam lain. Harusnya Ayah dan Ibu itu memberikan dukungan, bukan malah merengek seperti ini. Sedih boleh-boleh saja, tapi jangan sampai menjadi penghalang masa depannya Kak Luri. Aku tidak mau ya kalau Kak Luri sampai gagal menjadi dokter. Karena kalau sampai gagal, itu artinya aku tidak akan bisa berobat gratis di rumah sakit. Itu rugi namanya!"

__ADS_1


"Astaga, Nania. Kau ini bicara apa sih. Ayah dan Ibu sedang sedih, kenapa kau malah melawak. Jangan begitu!" tegur Luri kaget mendengar perkataan adiknya.


"Justru karena itulah aku melawak, Kak. Dengan begitu kan Ayah dan Ibu jadi merasa terhibur. Lihat, mereka tersenyum," sahut Nania seraya menunjuk ke arah orangtuanya.


Sebenarnya Luyan dan Nita tadi itu sedang syok setelah mendengar perkataan Nania yang menyebut kalau Luri bukan ingin pergi ke alam lain. Namun setelah Nania berkata kalau hal itu sengaja dilakukannya dengan tujuan menghibur, Luyan dan Nita tak kuasa untuk tidak tersenyum. Mereka kemudian meminta Nania untuk mendekat, lalu mengelus kepalanya dengan penuh sayang.


"Nania, Ayah dan Ibu bukan sedang merengek meminta agar kakakmu tidak jadi berangkat ke luar negeri. Akan tetapi kami berdua hanya sedang merasa sedih karena setelah ini kakakmu akan tinggal jauh dari kita semua. Perasaan seperti ini lumrah di rasakan oleh kami para orangtua. Nanti setelah kau menikah dan mempunyai anak, kau pasti juga akan merasakan hal yang sama seperti apa yang sedang Ayah dan Ibu rasakan sekarang. Jadi jangan salah paham ya?" jelas Nita dengan sabar.


Luri beserta ayah dan ibunya langsung melongo begitu mendengar perkataan konyol Nania. Yang benar saja. Menikahi pria kaya kemudian meminta untuk di bangunkan sekolah khusus hanya demi agar tidak tinggal terpisah dengan anak-anaknya. Tidakkah pemikiran seperti ini hanya akan muncul di kepala seorang Nania saja? Luar biasa.


"Ekhm, Nania. Kau jangan sampai salah presepsi dalam mengartikan kekayaan seseorang. Apalagi jika benar seseorang tersebut adalah suamimu. Menjadi anak yang berasal dari orangtua yang kaya raya belum tentu mudah, sayang. Anak-anak seperti mereka justru akan menanggung beban yang jauh lebih berat ketimbang kita yang hidup sederhana. Kau tahu kenapa?" tanya Luyan dengan bijak memberi pengertian pada putri bungsunya yang suka berpikir sembarangan.


Nania menggeleng. Dia menatap wajah ayahnya dengan tatapan yang begitu serius.

__ADS_1


"Karena anak-anak seperti mereka akan di tuntut agar memiliki gaya hidup yang jauh lebih baik daripada teman seumurannya. Mulai dari penampilan, tata bicara, lingkup pertemanan, attitude kesopanan, juga dalam hal pendidikan. Dari yang Ayah tahu, rata-rata dari mereka akan di kirim ke luar negeri agar hidup mandiri oleh orangtua masing-masing dengan cara menuntut ilmu di negara orang hanya dengan bertemankan penjaga dan juga pelayan saja. Orangtua mereka akan sibuk dengan pekerjaan, jadi menuntut mereka agar tampil sempurna sehingga mampu membuat bangga di hadapan khalayak ramai. Berbeda denganmu dan juga kedua kakakmu, Nania. Meski kalian bukan berasal dari orangtua yang kaya raya, tapi Ayah tidak akan pernah rela hidup terpisah dengan kalian jika bukan karena terpaksa. Itulah kenapa sekarang Ayah merasa sedih karena kakakmu sudah akan pergi jauh. Bukan karena cengeng ataupun tidak mendukung, tapi lebih ke perasaan khawatir. Karena bagi Ayah menjadi siapapun kalian nanti, hasil akhirnya akan sama saja. Kalian akan tetap menjadi anak-anak Ayah yang paling membanggakan," ucap Luyan dengan tulus.


Luri dan Nania langsung menghambur memeluk ayah mereka yang duduk di kursi roda. Begitu tulus perasaan pria ini, hingga mampu membuat hati mereka bergetar mendengarnya. Bahkan Nania yang sangat jarang menitikkan air mata sampai menangis terisak saat menyadari betapa sang ayah sangat menyayangi dia dan kedua kakaknya. Dia langsung tersadar kalau harta kekayaan bukanlah segalanya meski tak memungkiri jika kebahagiaan bisa di beli dengan harta.


"Hiksss, Ayah. Kalau begitu besok aku menikah dengan orang miskin saja seperti Ayah. Setelah aku pikir-pikir, menjadi orang kaya itu ternyata mengerikan juga. Mereka terlihat bahagia di luar, tapi di dalam mereka rapuh karena tidak mendapat kasih sayang yang cukup dan juga mendapat ruang untuk bergerak bebas. Aku tidak mau anak-anakku nanti merasa tertekan, Ayah. Aku ingin mereka bisa bebas menikmati hidup seperti bagaimana yang aku lakukan sekarang!" ucap Nania sambil menangis sesenggukan.


"Ya tidak begitu juga konsepnya, Nania. Kau tidak harus menikah dengan orang miskin seperti Ayah. Kalau memang kau mampu melewati hidup ini dengan cara yang benar, Ayah yakin suatu saat nanti kau pasti akan mendapat suami yang hangat dan juga kaya raya. Yang terpenting dalam hidup ini jangan pernah berpatokan pada harta saja. Karena kebahagiaan yang sebenarnya itu datang dari hati dan juga rasa nyaman, bukan berasal dari kertas yang di sebut uang. Paham?" sahut Luyan sambil menahan tawa mendengar keinginan konyol Nania.


"Haduhhh, kenapa kalian malah sibuk membahas suaminya Nania sih. Ingat, sebentar lagi Luri akan pergi meninggalkan kita dalam waktu yang lama. Harusnya kita itu menghabiskan waktu untuk mengobrol dengannya, bukan malah membicarakan sesuatu yang bayangannya saja masih sangat semu. Kalian ini ya!" omel Nita sambil menyeka cairan bening di sudut matanya. Ada-ada saja. Di saat putri keduanya akan pergi jauh, suami dan anak bungsunya malah sibuk membahas tentang harta dan juga pernikahan. Benar-benar ya mereka.


Luyan, Luri, dan Nania tertawa bersama. Mereka kemudian menuruti keinginan si nyonya rumah untuk tidak lagi membahas hal lain selain tentang Luri. Mereka berbincang, bersenda gurau, bahkan sempat memekik kesal saat mendengar celotehan Nania yang sedikit tak masuk akal.


*****

__ADS_1


__ADS_2