
"Kak, pesawat kami sudah mau berangkat. Aku pergi dulu ya, tolong jaga kesehatan kalian semua," ucap Luri sambil mengelus kaca pesawat. Suaranya sedikit tercekat saat menyadari kalau sebentar lagi dia akan benar-benar pergi menuju tempat yang jauh dari keluarganya. Termasuk juga akan semakin jauh dari Fedo, laki-laki yang telah membuatnya kecewa.
"Iya, Luri. Kau dan Galang juga berhati-hatilah di sana, jaga kesehatan kalian berdua dan selalu kabari kami. Dan juga kau tidak perlu mengkhawatirkan kami yang ada di sini. Kakak dan Nania pasti akan menjaga Ayah dan Ibu dengan baik," sahut Lusi dari seberang telepon.
"Baik, Kak. Kalau begitu aku matikan dulu ya panggilannya. Dan ... Kakak sudah boleh membaca surat yang aku tinggalkan di laci kamar. Dahhh,"
Luri langsung menarik nafas dalam-dalam setelah panggilan itu terputus. Rasanya masih sama, sakit dan juga sesak. Tak bisa Luri bayangkan akan sesedih apa keluarganya nanti setelah membaca surat itu. Terlebih lagi ayahnya. Dia pasti akan menjadi orang yang paling merasa di kecewakan dalam hal ini.
Sebenarnya Luri tak berniat memberitahu keluarganya tentang apa yang telah dilakukan Fedo pada Kanita. Akan tetapi setelah dia pikir-pikir kembali, nantinya pasti akan sangat mengejutkan jika keluarganya terlambat mengetahui fakta tersebut. Luri khawatir ayah dan ibunya masih menaruh harapan besar pada Fedo di mana hal ini akan membuat Fedo semakin enggan untuk bertanggung jawab atas perbuatannya. Jadi Luri memilih untuk menuliskannya ke dalam surat dan membiarkan keluarganya sakit di awal saja karena dengan begini mereka akan lebih mengerti alasan kenapa Luri mempercepat keberangkatannya ke London.
Maafkan aku Ayah, Ibu. Pilihanku membuat kalian kecewa, ujar Luri dalam hati.
"Luri, kau baik-baik saja?" tanya Galang sambil menepuk pelan bahu Luri. Dia khawatir karena seusai menelpon keluarganya Luri terus melamun dengan tatapan mata yang kosong.
"Aku baik-baik saja, Lang. Hanya merasa sedih karena harus meninggalkan keluargaku," jawab Luri seraya tersenyum kecil. Bukan senyum seperti biasa, melainkan senyum terpaksa.
__ADS_1
"Aku tahu kau sedih bukan hanya karena hal ini saja, Luri. Dan aku juga tahu kalau itu bukan ranahku untuk ikut campur. Tapi sebagai seorang teman aku berharap masalah ini tidak akan mengganggu fokusmu nanti. Kau harus ingat tujuan kita pergi jauh-jauh ke London adalah untuk meraih sebuah kesuksesan!" ucap Galang. "Seberat apapun masalah yang sedang kau hadapi sekarang, anggaplah itu sebagai cobaan untuk tujuan yang ingin kau raih. Oke?"
"Iya. Terima kasih ya Lang karena kau sudah ada di saat susahku. Kau sungguh adalah teman yang sangat baik. Aku beruntung bisa mengenal orang sepertimu," sahut Luri.
"Sama-sama, Luri. Itulah gunanya teman, selalu ada dalam suka maupun duka."
Di saat Luri dan Galang tengah menuju tempat yang baru, di Jepang saat ini keluarga Kanita sedang sibuk mempersiapkan pres conference bersama dengan puluhan wartawan. Dominic, pria itu nampak berdiri diam di dekat jendela ruang tengah rumahnya. Ada sebuah pergolakan besar di dalam benak Dominic di mana dia akan mempertaruhkan reputasi keluarga demi menuntut keadilan untuk putri semata wayangnya. Semalaman Dominic tak bisa memejamkan mata saking syoknya dia mendengar kenyataan bahwa laki-laki yang telah menghamili putrinya ternyata adalah anak dari sahabatnya yang juga adalah orang pertama yang memberitahu Dominic tentang kehamilan Kanita. Fakta ini terlalu lawak bukan? Dan inilah yang membuat Dominic dilanda kegalauan.
"Kalau memang benar Fedo adalah pelakunya, lalu kenapa Mattheo bersikap seolah Fedo tidak bersalah? Juga jika seandainya memang benar Fedo tidak mau bertanggung jawab, lalu kenapa Mattheo memberitahuku tentang kehamilan Kanita? Ini aneh. Mustahil Mattheo mengumpankan diri hanya demi menjaga nama baik Fedo. Dia yang aku kenal tidak seperti itu," gumam Dominic bingung.
"Ayah, kalau Ayah merasa ragu untuk melakukan konferensi pers ini maka batalkan saja. Nanti biar aku sendiri yang mencari jalan lain untuk membongkar kebusukan Fedo!" ucap Kanita lirih. "Aku tahu ini sangat berat untuk Ayah lakukan karena bagaimana pun Paman Mattheo adalah sahabat dekat Ayah. Jadi aku bisa mengerti bagaimana perasaan Ayah saat ini!"
"Tidak, Kanita. Seberat apapun beban yang Ayah rasakan, Ayah tetap tidak akan membiarkanmu menanggung semua ini sendirian. Ayah hanya sedang berpikir mengapa ayahnya Fedo bersikap seolah Fedo tidak terlibat dalam hal ini. Padahal jelas-jelas bayi yang sedang kau kandung adalah anaknya Fedo, tapi kenapa mereka tidak merasa takut sedikitpun saat memberitahu Ayah dan Ibu tentang kehamilanmu? Ini sangat aneh, Kanita. Ayah merasa seperti ada yang janggal di sini," ucap Dominic tanpa sadar menunjukkan keraguannya di hadapan Kanita. Dia sejenak lupa kalau Kanita adalah korban dalam kejadian ini. Dominic benar-benar lupa akan hal itu.
Telapak tangan Kanita langsung mengeluarkan keringat dingin begitu mendengar ada nada keraguan di balik perkataan ayahnya. Sudah tentu Paman Mattheo berani bersikap seperti itu karena sebenarnya Fedo memang tidak terlibat dengan kehamilannya. Pada awalnya Kanita sama sekali tidak terpikir untuk melakukan hal ini. Akan tetapi setelah melihat foto Fedo dan Luri terpampang jelas di berbagai media, Kanita memutuskan untuk membawa Fedo hancur bersamanya. Dia tidak rela Fedo jatuh ke pelukan wanita lain, jadi dia memutuskan untuk memberitahu ayah dan ibunya kalau Fedo adalah ayah dari bayi yang sedang dia kandung. Dan sekarang, sepertinya ayahnya mulai menyadari drama yang dia buat. Mungkinkah Kanita harus mengalami kekalahan sebelum sempat berperang? Tidak, Kanita tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Tidak akan.
__ADS_1
"Apa Ayah tidak mempercayaiku?" tanya Kanita dengan suara yang di buat serak. Dia harus bisa meyakinkan sang ayah agar konferensi pers ini bisa tetap berlangsung.
Dominic tersentak kaget mendengar pertanyaan Kanita. Segera dia datang memeluk Kanita sambil menjelaskan maksud di balik perkataannya yang tidak sengaja telah menyinggung perasaannya.
"Bukan, bukan seperti itu maksud Ayah, Kanita. Ayah ... tadi itu hanya sekedar pemikiran bodoh yang singgah di kepala Ayah. Tolong kau jangan berkata seperti itu ya. Kau anak Ayah, sudah pasti Ayah akan jauh lebih percaya padamu ketimbang orang lain. Oke?"
"Ayah, aku juga tidak menginginkan ada kejadian seperti ini. Tapi aku bisa apa. Aku hanya seorang wanita lemah yang tidak berdaya di bawah tekanan pria yang aku cintai. Tolong maafkan aku, Ayah. Kebodohanku membuat Ayah dan Ibu harus menanggung malu. Aku menyesal, aku menyesal pernah mencintai laki-laki yang hanya membawa kehancuran di hidupku. Aku menyesal, Ayah!" ucap Kanita dengan berderai air mata. Drama ini terlalu menyakitkan karena pada kenyataannya Kanita masih mencintai Fedo. Dia masih berharap pria itu akan datang dan mengajaknya untuk menikah.
"Sssttt, sudah-sudah. Lebih baik sekarang kita keluar menemui para wartawan itu. Ayah tak ingin lagi menunda-nunda masalah ini, dan Ayah ingin kau bisa secepatnya mendapat keadilan. Jangan sedih ya, ada Ayah yang akan selalu mendukungmu," sahut Dominic sambil menciumi puncak kepala Kanita. Dadanya sesak sekali melihat putri semata wayangnya harus mengalami kejadian yang begitu menyakitkan.
Dalam pelukan ayahnya Kanita menganggukkan kepala. Setelah itu Kanita mengikuti ayahnya pergi menemui para wartawan yang sudah menunggu mereka sejak pagi tadi. Dan, nasib Fedo akan di pertaruhkan dalam beberapa menit ke depan.
Maafkan aku, Fed. Aku terpaksa membawamu hancur bersamaku, ujar Kanita dalam hati.
*****
__ADS_1