
Fedo memainkan kunci mobil sembari bersiul pelan saat melangkah masuk ke dalam rumah. Dia sedang sangat bahagia sekarang. Satu masalah yang selama ini sangat mengganggu hidupnya sudah beres. Dan kini hubungannya dengan Luri sudah benar-benar aman dari gangguan orang lain.
"Yoo, lihatlah siapa yang sedang berbunga-bunga ini!" ejek Kayo seraya menyenderkan bahu ke dinding. Dia kemudian terkekeh melihat kakaknya yang acuh akan ejekan yang baru saja dia lontarkan.
"Ada apa, Kak? Wajahmu terlihat cerah sekali. Menang lotre, hm?"
"Kau ini apa sih, Kay. Memangnya sejak kapan aku bermain lotre?" tanya Fedo santai. "Wajahku terlihat cerah karena aku sedang sangat bahagia kalau kau mau tahu. Ada kabar baik yang tiba-tiba datang di hidup kakakmu ini, Kay."
"Kabar baik? Apa itu, Kak?" tanya Kayo pura-pura tidak mengetahui apapun.
"Ini tentang Kanita," jawab Fedo sembari tersenyum semringah.
"Kanita? Memangnya wanita tidak malu itu kenapa?"
Kayo bertanya sambil melangkah menuju kakaknya yang sedang berdiri menyender pada pegangan tangga. Sebuah seringai samar nampak menghiasi bibir ranum Kayo ketika ide untuk menjahili sang kakak muncul di dalam kepalanya. "Aaa, aku tahu. Jangan-jangan kau menjadi begitu bahagia karena bayi yang di kandung Kanita ternyata adalah anakmu. Benar tidak!"
__ADS_1
"Yakkk! Bicara apa kau, Kay!" pekik Fedo kaget. Segera dia menjewer telinga adiknya yang sudah bicara asal. "Kakakmu ini adalah pria yang sangat berpengalaman dalam hal menebar benih, Kay. Jadi tidak mungkin bayi itu adalah anakku. Selama aku berkelana menjadi seorang Casanova, tidak pernah sekalipun aku menebar benihku ke sembarang wanita. Itu pantangan, karena aku tidak mau anakku lahir dari seorang wanita yang tidak pandai menjaga harga diri. Aku adalah seorang mantan bajingan, dan aku tidak akan membiarkan anak-anakku tumbuh di dalam rahim seseorang yang pernah menyelami dunia yang sama sepertiku. Jadi untuk Kanita dan bayinya, sangat amat mustahil kalau aku adalah bagian dari mereka!"
"Hmmm, kata-katamu terdengar sedikit merendahkan harga diri kaum wanita, Kak. Aku tidak terlalu suka mendengarnya," ucap Kayo sarat akan sebuah peringatan.
Fedo menelan ludah. Dia lupa kalau adik dan juga ibunya adalah wanita yang amat sensitif dengan hal-hal seperti ini. Tak mau ada kesalahpahaman, dengan cepat Fedo meralat kembali perkataannya. Bisa mati dia jika Kayo sampai mengadukan hal ini pada ibu mereka. Di jamin kalau Fedo pasti akan menerima hukuman yang sangat berat.
"Jangan salah paham dulu. Kata itu aku maksudkan hanya untuk para wanita yang pernah kutemui selama menyandang gelar sebagai seorang Casanova. Bayangkan, Kay. Mereka semua rata-rata berasal dari keluarga terpandang. Akan tetapi mereka seperti tidak memiliki batasan dalam menjaga harkat dan martabat mereka sebagai seorang wanita. Memang benar kalau tidak semua wanita memiliki prilaku seperti mereka. Akan tetapi dari seratus wanita, hanya ada dua atau tiga orang saja yang masih menjaga harga diri dengan baik. Terlebih lagi para wanita yang hobi berfoya-foya dan berkecimpung di dunia malam. Aku pribadi memang sudah membuat janji dengan diri sendiri kalau aku tidak akan pernah mau mengambil salah satu dari mereka untuk di jadikan teman hidup. Alasannya ya itu tadi, aku tidak mau anakku terlahir dari wanita yang bahkan tidak mampu menjaga kehormatannya sendiri. Dan ini hanya berlaku untuk wanita-wanita seperti mereka saja ya, Kay. Kau jangan sampai salah mengartikan kata-kataku!"
"Hehee, kau serius sekali sih, Kak. Aku juga tahu kalau kau itu tidak mungkin melawan ajaran yang sudah di terapkan oleh Ibu selama ini. Kehormatan seorang wanita adalah sesuatu hal yang tidak bisa di tawar dengan apapun. Terlepas apakah wanita itu adalah wanita baik-baik atau bukan. Kami semua memiliki hak yang sama, yaitu untuk di jaga dan di lindungi oleh kaum pria. Karenanya, Kak. Hati-hati jika bicara tentang hal seperti ini di hadapan Ibu. Kita sama-sama tahu bukan betapa kelamnya masa lalu wanita hebat itu? Jangan mengecewakannya, karena aku tidak akan segan untuk menghajar orang yang sudah berani membuat Ibu kesayanganku bersedih hati!" sahut Kayo sambil tersenyum penuh arti.
Kayo ikut menghela nafas setelah mendengar perkataan sang kakak yang dengan jujur mengakui keburukan sikapnya. Sebenarnya Kayo juga menyimpan sedikit rasa iba pada Kanita. Pemikirannya hampir sama dengan sang kakak di mana seandainya Kanita bisa bersikap jauh lebih baik, mereka pasti akan berteman akrab. Apalagi ayah Kanita dan ayah mereka adalah rekan bisnis yang cukup dekat. Tapi ya sudahlah, terkadang harapan memang tidak sesuai dengan kenyataan.
"Oh ya, Kay. Ayah dan Ibu kemana?" tanya Fedo yang baru tersadar kalau sejak tadi dia tidak melihat keberadaan orangtuanya.
"Ayah dan Ibu sedang melakukan rutinitas seperti biasanya, Kak. Mereka sedang bernostalgia menonton drama romantis di ruang keluarga," jawab Kayo kemudian tersenyum manis. "Kak, kadang-kadang kau iri tidak melihat kemesraan Ayah dan Ibu? Usia mereka tak lagi muda, tapi cinta mereka masih tetap tumbuh dengan sangat subur. Aku jadi berkhayal apakah nanti hubungan pernikahanku dengan Jackson akan berakhir bahagia seperti hubungan Ayah dan Ibu atau tidak."
__ADS_1
"Kay, Ayah dan Ibu memiliki cerita sendiri hingga membuat cinta mereka bisa tetap hangat sampai sekarang. Kau jangan merasa iri, tapi berusahalah agar kau bisa jauh lebih bahagia dari mereka. Karena sampai kapanpun kau tidak akan pernah bisa menjadi seperti Ibu, dan Jackson juga tidak akan pernah bisa melakukan seperti apa yang sudah Ayah lakukan. Jadilah diri kalian sendiri, karena porsi kebahagiaan setiap pasangan itu berbeda-beda. Satu hal yang harus kau ingat, Kay. Kebahagiaan itu datangnya dari rasa nyaman, bukan dari mencontoh kehidupan orang lain. Paham?"
Dengan penuh sayang Fedo memeluk adiknya yang sebentar lagi akan segera melepas masa lajang. Tidak terasa waktu berlalu dengan begitu cepat, membuat Fedo terkadang lupa kalau adiknya ini sudah dewasa. Kayo adalah bunga di keluarga Eiji, dan dia adalah berlian yang sangat berharga di hidup Fedo. Dalam hati Fedo bersumpah, jika dalam pernikahan adiknya nanti Jackson berani melakukan sesuatu yang salah, dengan tangannya sendiri Fedo akan langsung mengirim mantan penjahat itu pergi ke alam baka. Kayo-nya tidak boleh sampai merasa sedih, Kayo harus hidup dengan sangat bahagia. Harus.
"Em, Kak. Tadi Kak Reinhard menelepon Ibu. Dia bilang lusa resepsi pernikahannya akan di gelar dan kita semua diminta untuk datang ke Shanghai," ucap Kayo seraya mendongak menatap wajah sang kakak. "Ini kabar yang sangat menggembirakan untukmu bukan?"
"Maksudnya bagaimana? Kan yang menikah itu Reinhard dan Levita, kenapa kabar itu harus menjadi kabar yang menggembirakan untukku?" tanya Fedo bingung.
"Astaga, kau ini bodoh atau pikun si, Kak. Bukankah Luri itu tinggal di Shanghai ya? Dengan kita datang ke acaranya Kak Reinhard kalian kan jadi bisa bertemu dan menghabiskan waktu bersama. Memangnya kau tidak rindu pada gadis desamu itu apa? Aneh!" jawab Kayo tak percaya.
Dan begitu Kayo selesai menjawab, tiba-tiba saja sang kakak langsung melepaskan pelukan mereka kemudian berlari masuk ke dalam kamar seraya memekik kesenangan. Kayo yang melihat kelakuan aneh kakaknya pun hanya bisa tertawa geli sambil menggelengkan kepala.
"Dasar bucin. Begitulah efeknya jika berpacaran dengan orang yang berbeda negara. Ah, bukannya aku dan Jackson juga begitu ya? Hmmm, ternyata aku sedang mengejek diriku sendiri," gumam Kayo sambil menggaruk rambutnya yang tak gatal. Dia salah tingkah oleh perkataannya sendiri.
*****
__ADS_1