
Sekembali dari menemui dokter, Kanita memutuskan untuk pulang ke rumah orangtuanya. Dia benar-benar bingung sekarang. Akibat lupa memakai pengaman, dokter tak bisa menjamin kalau benih yang semalam di tebar oleh Ando tidak akan menjadi seorang anak. Hal ini tentu saja membuat Kanita menjadi kalang kabut sendiri. Bagaimana tidak! Dengan kondisinya yang masih gadis saja Fedo sudah sangat sulit untuk di dapatkan. Apa jadinya nanti jika Kanita sampai mengandung anaknya Ando. Fedo dan keluarganya pasti akan langsung menolak mentah-mentah kehadirannya di keluarga mereka.
"Kanita, akhirnya kau pulang juga, sayang. Ibu sudah menunggumu sejak semalam," ucap Mili heboh ketika melihat putri kesayangannya tengah berjalan masuk ke dalam rumah. Segera dia datang menghampiri kemudian mengajaknya untuk duduk di sofa.
Kening Mili mengerut saat mendapati tatapan kosong di mata putrinya. Saat sedang menerka apa yang kira-kira telah terjadi, Mili langsung teringat kalau semalam Fedo ada di kamar hotel tempat Kanita menginap. Terkenang dengan tingkah brutal yang Fedo lakukan, Mili pun menjadi panik. Dia kemudian menatap dari ujung rambut hingga ujung kaki Kanita untuk memastikan kalau putrinya ini baik-baik saja.
"Apa yang sedang Ibu lakukan?" tanya Kanita bingung melihat ulah sang ibu yang tiba-tiba memutar tubuhnya.
"Ibu hanya ingin memastikan kalau anak kurang ajar itu tidak menyerangmu, Kanita. Kalau sampai Ibu menemukan sedikit saja luka lecet di tubuhmu, Ibu akan langsung memprosesnya lewat jalur hukum. Ibu tidak terima kita di lecehkan oleh anaknya si Abigail. Cihhh!" jawab Mili sambil berdecih sengit.
"Fedo tidak melakukan apa-apa padaku, Bu. Dia itu baik."
"Baik kepalamu. Memangnya kau lupa ya dengan apa yang dia lakukan pada Ibu semalam. Di depan matamu Fedo menyerang Ibu dengan sangat brutal, Kanita. Dia mencekik dan mengancam akan membunuh Ibu. Kau tidak mungkin tidak mendengar apa yang dia katakan bukan?" tanya Mili dongkol.
Kanita menarik nafas dalam-dalam. Sekarang pikirannya sedang tidak fokus ke Fedo, melainkan pada Ando. Ya, pria asing itu sukses mengalihkan pikiran Kanita setelah keteledoran yang mereka lakukan semalam. Bodoh, Kanita benar-benar merasa sangat bodoh sekarang ini. Masa depannya terancam hancur karena dirinya kini tengah berada dalam masa subur. Kanita tidak bisa membayangkan jika seandainya nanti dia benar-benar mengandung anaknya Ando. Entah bagaimana cara dia menjelaskan pada ayah dan ibunya nanti. Termasuk juga pada Fedo.
"Sayang, di tubuhmu tidak ada luka apapun tapi kenapa wajahmu terlihat murung? Aneh?" tanya Mili penuh selidik.
__ADS_1
"Aneh bagaimana sih, Bu? Aku itu tidak apa-apa, hanya ada sedikit masalah pribadi dengan beberapa temanku. Tolong jangan berpikir macam-macam karena ini tidak ada hubungannya dengan Fedo.
Semalam dia sama sekali tidak menyentuh ataupun menyakitiku seperti apa yang Ibu bayangkan. Kalau pun sampai dia melakukan penyerangan seperti tadi malam, pasti ada yang telah memprovokasi kemarahannya. Meskipun brengsek, Fedo itu tidak pernah main-main dengan kekerasan, Bu. Dia pria yang sangat baik!" jawab Kanita cetus. Dia merasa kesal karena sang ibu malah menambah kekacauan di pikirannya.
Mendengar jawaban putrinya yang begitu cetus membuat Mili diam terpaku. Sudah sampai di titik ini saja Kanita masih tetap membela anak kurang ajar itu. Mili tidak terima. Dia harus melakukan sesuatu yang bisa membuat Kanita melupakan Fedo secepatnya. Harus.
Apa aku langsung nikahkan Kanita saja ya dengan salah satu anak dari temanku? Aku sungguh tidak terima melihatnya terus terluka gara-gara anak sialan itu. Tapi jika kupaksakan bagaimana kalau nanti Kanita mengamuk lalu pergi dari rumah? Oh tidak-tidak, ini terlalu beresiko. Lebih baik aku cari jalan keluar lain saja. Aku tidak mau kalau harus di tinggalkan oleh Kanita. Batin Mili.
Di saat yang bersamaan, Dominic terlihat berjalan masuk ke dalam rumah dengan langkah terburu-buru. Namun langkahnya langsung terhenti begitu dia melihat Kanita yang sedang duduk bersama istrinya di ruang tamu. Dadanya terasa sesak seketika.
"Dom, kenapa kau pulang sesiang ini? Apa kau memiliki acara di luar rumah?" tanya Mili ketika menyadari kehadiran suaminya di sana.
"Oh, begitu. Perlu aku ambilkan tidak?" tanya Mili menawarkan bantuan. Dia tentu sangat tahu kalau suaminya masih menyimpan kekesalan pada Kanita akibat ulahnya yang tega berkata bohong.
Dominic menggeleng. Setelah itu dia melanjutkan langkah menuju ruang kerjanya. Namun baru selangkah Dominic berjalan, dia di buat kaget oleh ucapan putrinya.
"Ayah, aku minta maaf. Aku tahu aku salah karena sudah berbohong padamu. Tolong maafkan aku, Ayah!" ucap Kanita lirih. Dia langsung sadar kalau sang ayah telah mengetahui kebohongan yang dia lakukan hanya dengan melihat tatapan dan reaksi ketika melihat keberadaannya di rumah ini.
__ADS_1
"Apa kau merasa senang setelah mempermainkan kepercayaan yang Ayah berikan? Sudah puas membuat harga diri orangtuamu di pandang rendah oleh keluarganya Fedo, hah?!" tanya Dominic dengan nada suara yang cukup tinggi. "Kanita, Ayah benar-benar tidak paham dengan caramu berpikir. Sangat amat tidak pantas seorang wanita yang terlahir dari keluarga terpandang sepertimu bertingkah layaknya wanita murahan yang tidak pernah mendapat didikan dari orangtua. Apa yang sebenarnya sedang kau cari, hm? Cinta? Apa kau pikir dengan berprilaku rendah seperti ini Fedo akan tertarik untuk berhubungan denganmu? Tidak, Kanita. Yang ada dia malah akan merasa muak dan juga jijik. Jangankan Fedo dan keluarganya, Ayah saja muak melihat kelakuanmu sekarang. Kau rela menghalalkan segala macam cara hanya untuk mengejar sesuatu yang bukan menjadi milikmu. Berbohong dengan mengatakan ingin pergi jalan-jalan dengan temanmu, tapi nyatanya kau malah menggunakan uang yang Ayah berikan untuk membayar penjahat demi agar kau bisa mendapatkan informasi tentang gadis yang nyata-nyata telah di akui posisinya oleh seluruh keluarga Eiji. Ayah malu, Kanita. Malu!"
Kanita hanya bisa diam seribu bahasa ketika semua kesalahannya di ungkit oleh sang ayah. Dia tidak bisa berkutik. Karena apa yang di ucapkan oleh ayahnya adalah suatu kebenaran yang nyata.
"Sudahi kegilaan ini, Kanita. Ayah benar-benar sudah kehilangan muka di hadapan ayahnya Fedo. Tolong mengertilah!" ucap Dominic dengan suara menghiba.
"Ayah ingin aku bagaimana sekarang?" tanya Kanita dengan suara tercekat. "Aku tahu aku salah, Ayah. Aku melakukan ini semua karena terlalu mencintai Fedo. Aku sama sekali tidak ada niat untuk mempermalukan Ayah dan Ibu di hadapan Paman Mattheo dan Bibi Abigail. Sungguh, aku benar-benar tidak ada niat untuk melakukan semua itu, Ayah. Tolong maafkan aku!"
"Sayang, sudahlah. Berhenti meminta maaf pada Ayah dan Ibu karena kau itu tidak salah apa-apa. Di sini yang salah itu Fedo, dia yang telah memberimu harapan palsu hingga pada akhirnya kau menggila seperti ini. Sudah, jangan bersedih lagi ya?" ucap Mili tak terima mendengar putrinya menyalahkan dirinya sendiri.
"Teruslah kau bela kesalahan anakmu, Mili. Kau sama sekali tidak sadar kalau apa yang kau lakukan hanya akan membuat hidup Kanita semakin hancur. Putri kita jadi seperti ini karena ulahmu yang terlalu memanjakannya. Lihat sekarang, dia jadi bodoh dan keras kepala!" teriak Dominic kembali emosi melihat istrinya yang malah membela kesalahan Kanita. Dia benar-benar tak habis pikir melihat kelakuan istrinya ini.
"Dom, aku ini ibunya Kanita. Kalau bukan aku yang membelanya lalu siapa lagi? Kau? Huh, kau bahkan lebih membela anak dari rekan bisnismu itu ketimbang membela putrimu sendiri. Kau itu yang bodoh, bukan aku!" sahut Mili balas berteriak.
Malas meladeni, Dominic memilih melanjutkan langkahnya pergi ke ruang kerja untuk mengambil berkas pekerjaan. Tidak akan ada gunanya terus berdebat dengan istrinya itu jika sudah menyangkut nama Kanita. Karena apapun yang terjadi, Mili akan tetap membela Kanita tak peduli meski putrinya yang bersalah sekalipun.
Di ruang tamu, wajah Kanita terlihat sedih setelah ayahnya pergi dari sana. Dia tahu kalau apa yang di ucapkan oleh ayahnya barusan adalah benar. Sedetik kemudian Kanita kembali terkenang dengan ucapan dokter. Seketika moodnya langsung memburuk. Dia kemudian berpamitan pada sang ibu untuk beristirahat di kamar. Sedang lelah, begitu dia beralasan saat sang ibu bertanya.
__ADS_1
Semoga saja apa yang aku takutkan tidak terjadi. Aku tidak mau mengandung anaknya Ando, Tuhan. Aku tidak mau, batin Kanita kalut.
*****