
Tidak ada percakapan apapun antara Fedo dengan Kanita. Keduanya sama-sama diam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Jika kebungkaman Fedo terjadi karena dia yang sedang berusaha menenangkan diri, lain halnya dengan yang sedang di pikirkan oleh Kanita. Dia diam karena benaknya di penuhi oleh berjuta pertanyaan. Kanita tengah berpikir masalah apa yang ingin di bicarakan oleh Fedo. Jujur saja, dia sedang khawatir dan juga takut kalau Fedo akan membahas tentang kedatangannya ke Shanghai. Karena rasanya sangat mustahil kalau calon suaminya Kayo tidak mengatakan apapun tentang apa yang terjadi di sana.
"Aku rasa kau cukup mengerti dengan maksud kedatanganku kemari, Kanita!" ucap Fedo setelah merasa tenang.
"Maaf Fed, tapi aku tidak tahu maksud dari tujuanmu datang menemuiku di sini. Jika ada masalah katakan saja langsung. Mungkin aku memiliki sepatah kata yang bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi," sahut Kanita to the point.
"Menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi?"
Fedo menyeringai. Satu tangannya dia gunakan untuk menyibak tirai yang menutupi jendela. Seketika angin malam langsung menerpa wajahnya, menyatu dengan amarah yang kembali tersulut. Fedo sungguh tidak habis pikir dengan Kanita. Wanita ini kekeh tak mau mengakui kesalahannya, malah bersikap seolah dia adalah korban yang harus di dengar pembelaannya. Menjijikkan bukan?
"Lalu apa yang akan kau jelaskan jika aku bertanya maksud dari tujuanmu mendatangi Luri? Apa kau akan menjawab kalau itu demi kita berdua?" tanya Fedo sambil menggeretakkan gigi.
"Ya. Itu aku lakukan demi kenyamanan kita berdua. Kenapa memangnya? Salah jika aku menemui gadis ingusan itu dan memberitahukan kalau kita adalah pasangan kekasih?" jawab Kanita tanpa ragu. Dia sedang tidak ingin bersandiwara. Hatinya lelah.
"Tidak salah. Karena itu adalah hakmu untuk membual. Sekarang aku tanya padamu, apa gadisku langsung percaya dengan apa yang kau katakan? Tidak kan?" ejek Fedo. "Kanita-Kanita. Bukankah sudah aku katakan padamu kalau Luri itu adalah wanita yang begitu menjunjung harga dirinya. Dia tahu kalau aku suka bergonta-ganti wanita, tapi dia memakluminya. Karena apa? Karena dia tidak kekanakan sepertimu. Dia lebih mengutamakan logika ketimbang egonya dengan langsung menghakimi aku sebagai orang yang bersalah. Luri sangat tidak sepadan jika harus di bandingkan dengan wanita manja dan bodoh sepertimu, Kanita. Dia memiliki level wanita terhormat meski bukan lahir dari keluarga terpandang sepertimu. Dia mencintaiku, tidak sepertimu yang hanya mengejar karena obsesi semata."
Mata Kanita langsung berkaca-kaca saat dia di bandingkan dengan Luri. Hancur sudah, semuanya hancur. Belum hilang rasa sakit yang dia rasakan, sekarang Fedo dengan begitu kejamnya tega menyiram air garam di atas luka yang masih berdarah. Haruskah Kanita menyerah? Tapi bagaimana dengan hatinya? Dia sangat mencintai pria ini. Benar-benar sangat mencintainya.
"Kanita, aku tidak tahu apakah kau tulus mencintaiku atau tidak. Tapi aku mohon padamu tolong lepaskan aku. Apa kau tidak lelah terus menerus aku abaikan? Kau itu cantik, Kanita. Masih ada ribuan pria baik di luaran sana yang bisa membalas perasaanmu. Aku tidak pernah menyukaimu, dan kau tahu itu. Jadi tolong jangan memaksakan perasaan pada orang yang salah. Kau sendiri yang akan terluka nantinya," ucap Fedo sedikit melunak. Dia hanya berharap jika bicara dengan lembut, Kanita bisa segera menyadari kesalahannya. Karena hanya akan sia-sia saja kalau Fedo menghadapi Kanita dengan kekerasan. Yang ada wanita ini malah kian menjadi.
__ADS_1
"Haruskah seperti ini, Fed? Aku tulus mencintaimu. Kuakui, di awal aku mengenalmu itu hanya sebatas ambisi untuk bisa memenangkan nama di antara para wanita. Tapi setelah kita menghabiskan malam bersama, aku sadar aku menyukaimu. Aku ingin memilikimu, Fed. Aku memimpikan kita bisa hidup bersama dan bahagia selamanya. Tidakkah kau merasakan ketulusan cintaku itu?" ucap Kanita sambil terisak lirih.
Fedo diam tak menjawab. Ada segelintir rasa kasihan ketika mendengar suara Kanita yang bergetar. Tapi tetap saja, Fedo tidak bisa menyukainya. Karena di hati Fedo sekarang hanya ada nama Luri, gadis desanya yang begitu berharga.
"Fed, tolong beri aku kesempatan untuk membuktikan kalau perasaanku itu tulus, bukan karena obsesi semata. Tolonglah, Fed. Kasihani aku sekali ini saja. Ya?" pinta Kanita sambil memegang lengan Fedo. Ingin rasanya dia bersandar di sana, meresapi waktu yang sudah sangat lama dia nantikan.
"Singkirkan tanganmu dari tubuhku, Kanita. Jangan paksa aku untuk berbuat kasar karena aku datang kemari ingin menyelesaikan masalah, bukan menambah masalah!" tegas Fedo.
"Kenapa kau kejam sekali padaku, Fedo. Apa salahku!" teriak Kanita yang tiba-tiba terpancing emosi. Dia sangat marah melihat Fedo yang seperti jijik ketika dia sentuh.
"Jangan memulai, Kanita!" geram Fedo yang ikut terpancing emosi mendengar teriakan Kanita.
Fedo yang tidak menyangka Kanita akan berbuat segila ini nampak terkejut saat bibirnya tiba-tiba di cium. Dia dengan kasar menarik rambut Kanita hingga kepalanya terdongak ke belakang. Tatapan Fedo nyalang, dia terlihat seperti binatang buas kelaparan yang ingin menerkam mangsa.
"Oh, jadi kau ingin main-main denganku ya?" tanya Fedo sambil menggeram marah. "Aku sudah berbaik hati dengan sedikit melunak padamu, Kanita. Tapi kau malah dengan tidak tahu dirinya menyentuh tanpa seizinku. Percaya tidak kalau aku akan melemparkanmu ke bawah dari jendela kamar hotel ini. Percaya tidak! Hah!"
"Lakukan, Fed. Lakukan saja kalau itu bisa membuatmu merasa puas. Aku lelah, aku frustasi untuk meyakinkan kalau aku sangat mencintaimu. Kenapa kau sulit sekali hanya untuk mempercayaiku saja? Aku sudah gila, Fedo. Aku tak memiliki harga diri lagi karena mencintaimu. Tidak bisakah kau menerimaku?" sahut Kanita tak berdaya. Matanya yang basah air mata terus menatap wajah pria yang sedang memperlakukannya dengan sangat kasar.
Fedo tertegun melihat tatapan sendu di mata Kanita. Kasihan, dia benar-benar sangat kasihan padanya. Sedetik kemudian Fedo terfikir kalau dia mempunyai seorang adik perempuan di rumah. Fedo tidak bisa membayangkan kalau seandainya Kayo yang berada di posisi Kanita sekarang. Sebagai seorang kakak, Fedo pasti akan merasa sangat amat hancur. Dia tidak akan mungkin sanggup melihat adiknya mengemis sampai seperti ini.
__ADS_1
"Aku mungkin memang tidak seberharga Luri di matamu, Fed. Aku sadar itu. Tapi apa salahnya jika aku ingin memperbaiki diri dengan bersamamu? Aku ini hanya wanita lemah, Fed. Aku selalu di biarkan mendapat apapun yang aku mau dengan segala cara. Aku minta maaf kalau kedatanganku ke Shanghai membuatku kecewa. Aku minta maaf. Tolong jangan benci aku, Fedo. Jangan!"
"Sssttt, sudah, jangan menangis lagi," sahut Fedo mengalah. Dia kemudian melepaskan tarikan tangan di rambut Kanita kemudian memeluknya. Fedo tidak sekejam itu untuk merendahkan Kanita. Dia sadar kalau di setiap perbuatan pasti ada karmanya. Dan Fedo rela mengalah karena takut Kayo yang akan menerima timbal baliknya. Dia tidak mau itu terjadi.
Kanita memeluk tubuh kekar Fedo dengan sangat erat. Dia menangis sejadi-jadinya di sana, membiarkan air mata membasahi kemeja yang di pakai oleh pria ini.
"Kanita, kau tidak salah karena menyukaiku. Itu hakmu dan aku tidak bisa melarang. Tapi di sini kau harus tahu kalau perasaan itu tidak bisa di paksakan. Aku tidak bisa mencintaimu, karena yang aku cintai hanyalah Luri seorang. Tolong mengertilah, berhenti memaksakan perasaanmu padaku. Aku minta maaf karena tidak bisa membalas cintamu. Aku minta maaf," ucap Fedo pelan. Dia mencoba untuk bicara dari hati ke hati dengan wanita yang sedang terisak di pelukannya.
Tangis Kanita kian menjadi setelah Fedo berkata seperti itu. Dia tidak tahu lagi harus bagaimana. Satu-satunya yang bisa Kanita lakukan hanyalah memeluk Fedo seerat mungkin. Dia sangat takut kalau pria ini akan pergi meninggalkannya.
"Urusan kita sudah selesai, sekarang aku harus pulang. Dan tolong katakan pada Ibumu agar jangan mengusik keluargaku lagi. Kita akhiri semuanya malam ini juga, Kanita. Kau harus bisa menerimanya."
"Tidak Fed, tidak. Tolong jangan pergi, aku ingin kita tetap bersama seperti ini. Jangan pergi, Fed!" ucap Kanita panik saat Fedo mulai merenggangkan pelukan tangannya.
Meski tak tega, Fedo akhirnya berhasil melepaskan diri dari pelukan Kanita. Dia menarik nafas dalam saat Kanita tiba-tiba memeluk kedua kakinya. Tak ingin emosinya kembali tersulut, Fedo dengan paksa melepas tangan Kanita kemudian mendorongnya ke belakang. Dia lalu melangkah pergi dari sana. Mengabaikan teriakan Kanita yang terus menjerit memintanya agar tetap tinggal.
Maafkan aku, Kanita. Ini adalah yang terbaik untuk kita berdua. Aku harap setelah malam ini kau akan sadar kalau kita tidak akan mungkin bisa bersama. Aku dengan tulus mendoakan agar nanti kau bertemu dengan pria yang mau mencintaimu. Kau sebenarnya adalah wanita yang baik, hanya caramu saja yang salah. Tolong lupakan aku, anggap kalau aku adalah pria yang tidak sengaja singgah di salah satu malammu, batin Fedo sambil berjalan keluar dari hotel.
*****
__ADS_1