PESONA SI GADIS DESA

PESONA SI GADIS DESA
(FELUR) ~ Serigala Berbulu Domba


__ADS_3

Galang terus saja cemberut begitu sampai di sekolah. Kalau saja tadi dia tidak terjebak lampu merah, dia pasti bisa berangkat bersama gadis pujaannya. Setengah membanting pintu, Galang melirik kesal ke arah Jovan yang sedang memarkirkan mobil di samping mobil miliknya. Dia iri, sekaligus jengkel karena Luri berada di dalam mobil tersebut.


"Haih. Ada apa dengan wajahmu, Lang? Masam sekali. Aku yakin masamnya jeruk nipis pasti kalah dengan masam wajahmu sekarang," ledek Jovan sambil melongokkan kepala dari dalam mobil.


"Kau benar, Kak Jovan. Dan aku rasa paku pun mental jika di tusukkan ke wajahnya Kak Galang. Lucu sekali," imbuh Nania sambil terkikik kencang.


Melihat Galang yang sedang di olok oleh Jovan dan Nania, Luri pun merasa tidak tega. Dia segera keluar dari dalam mobil kemudian menghampiri teman sekelasnya itu.


"Tidak usah di ambil hati perkataan mereka berdua, Lang. Mereka itu kan memang selalu begitu jika sedang mengolokmu. Biarkan saja, yang penting kau sudah sampai di sekolah."


"Hmmmm ... padahal aku sangat ingin menjemputmu, Luri. Tapi gara-gara lampu merah sialan itu aku jadi kalah taruhan dari Jovan. Menyebalkan!" gerutu Galang sambil menendang batu kecil di tanah.


"Taruhan? Memangnya kalian sedang taruhan apa?" tanya Luri penasaran.


Galang meringis sambil mengusap tengkuk belakangnya saat sadar kalau dia sudah kelepasan bicara. Memang benar kalau dia dan Jovan melakukan taruhan kalau malam ini salah satu dari mereka akan mentraktir semua tim basket bagi yang gagal mengajak kedua gadis desa ini berangkat ke sekolah bersama. Di awal bertaruh Galang sempat merasa sangat yakin kalau dia akan menang karena mobilnya memiliki kecepatan yang jauh lebih tinggi daripada mobil milik Jovan. Tapi Galang benar-benar tidak menyangka kalau dirinya akan di kalahkan oleh si mata merah yang muncul pada saat yang tidak tepat. Lampu merah tersebut menyala tepat di depan zebra cross, yang membuat Galang mau tidak mau harus tertinggal jauh oleh Jovan.


"Lang, kalian berdua taruhan apa? Apa kau dan Jovan bermaksud menjadikan aku dan Nania sebagai pialanya?" desak Luri semakin penasaran.


"Yang benar saja, Luri. Aku dan Jovan awalnya memang bertaruh saat akan menjemput kalian. Tapi bukan kalian yang akan di jadikan sebagai hadiah dari taruhan yang kami lakukan!" jawab Galang kaget mendengar perkataan Luri. "Begini. Karena taruhan ini Jovan yang memenangkan, maka aku wajib mentraktir semua anak basket sebagai bentuk hukumannya. Ini hanya iseng-iseng saja kok. Sungguh!"


Jovan sama sekali tak berani melihat ke arah samping setelah Galang menjelaskan taruhan yang mereka lakukan. Dia takut di cakar Nania.


"Waahhh, hebat sekali, Kak Jovan. Jadi kedatanganmu ke rumah kami itu tidak tulus ya? Tahu begini tadi aku dan Kak Luri naik mobil supir kami saja. Dasar srigala berbulu domba kau, Kak!" omel Nania seraya menatap tajam ke arah Jovan.


"Nania, tolong jangan mengataiku sembarangan. Semua ini idenya Galang, aku hanya mengikutinya saja. Iya kan, Lang? Ide taruhan ini kau yang menyarankan bukan?" tanya Jovan sambil menatap penuh harap ke arah Galang. Dia ketar-ketir sendiri saat temannya itu seperti tak mengindahkan pertanyaannya.

__ADS_1


Sialan. Kalau Galang sampai menjawab tidak, maka matilah aku. Nania pasti akan semakin marah padaku nanti. Ya Tuhan, tolong jangan membelokkan lidah Galang. Jangan biarkan dia mengatakan sesuatu yang bisa membuat hidupku berada dalam bahaya, ucap Jovan dalam hati.


"Itu bukan ideku, tapi ide bersama. Kau jangan coba-coba bersembunyi tangan ya, Jo. Aku hanya bercanda, tapi kau menanggapinya dengan serius. Jadi kau jangan hanya memojokkan aku seolah-olah ide ini hanya aku yang menginginkan. Enak saja!" protes Galang. Dia sengaja mengajak Jovan agar jatuh ke lubang yang sama karena kesal sudah gagal menjemput Luri. Padahal memang benar kalau ide ini dia yang pertama kali mengatakan. Biar sajalah. Sesama pejuang cinta gadis desa, bukankah mereka harus selalu bersama dalam menikmati duka dan luka? Begini adil bukan?


"Sudah-sudah, jangan bertengkar. Mau kau ataupun Jovan, lain kali jangan begini lagi. Kalau ingin menjemputku dan Nania kan kalian bisa mengirim pesan dulu atau langsung menjemput kami di rumah. Bukannya apa. Kalau saja saat kalian berlomba mengejar kemenangan itu lalu kalian mengalami kecelakaan di jalan bagaimana? Kalian berdua pasti kebut-kebutan kan tadi?" tegur Luri seraya menatap bergantian ke arah Galang dan Jovan. Luri tidak marah, dia hanya mengkhawatirkan keselamatan dari kedua temannya ini.


"Huh, biarkan saja kalau mereka ingin kebut-kebutan, Kak. Kalau nanti kaki mereka patah kan mereka sendiri yang merugi. Tidak ada gunanya juga menasehati orang-orang bebal seperti mereka. Capek hati nanti kau, Kak!" imbuh Nania cetus.


"Nania, jangan bicara begitu. Setiap ucapan itu ada pertanggungjawabannya. Jadi jangan sembarangan mendoakan orang. Paham?" ucap Luri kaget mendengar perkataan adiknya.


Kesal karena sang kakak tak membelanya, Nania segera keluar dari dalam mobil kemudian melangkah menuju kelasnya sambil menghentak-hentakkan kaki. Sedangkan Jovan, dia terlihat sedih karena di tinggal pergi oleh kekasih hatinya.


"Biasa saja mukamu itu, Jo. Nania itu kan hanya pergi ke kelasnya saja, bukan pindah negara!" ejek Galang yang akhirnya memiliki kesempatan mambalas ejekan yang tadi di lontarkan oleh Jovan.


"Tidak akan!" sahut Galang seraya berjalan mendekat ke arah Jovan. Setelah itu dia berbisik di telinganya. "Aku dan Luri akan menempuh pendidikan di universitas yang sama, Jo. Jadi mustahil dia pergi meninggalkanku. Kau tahu kenapa?"


Jovan menggelengkan kepala. Dia jadi penasaran lanjutan dari perkataan Galang.


"Karena aku tidak akan pernah melepaskannya. Luri milikku, dan aku akan memperjuangkannya sampai titik darah penghabisan!" lanjut Galang kemudian menoleh ke arah Luri. Dia tersenyum.


Sadar kalau Galang dan Jovan tengah membicarakannya, Luri pun mencoba bersikap biasa saja. Dia tentu tahu kalau teman sekelasnya ini masih memendam rasa. Bahkan tak jarang Luri mendengar gumaman Galang yang diam-diam memujinya. Padahal dulu Luri sudah pernah menolak pernyataan cinta yang di ucapkan Galang, tapi entah kenapa anak ini masih saja mendekatinya. Jadi ya sudah, Luri biarkan saja. Yang penting dia tetap menjaga jarak karena dia tidak mau menyakiti perasaan Fedo.


"Nah, belnya sudah berbunyi. Ayo kita masuk kelas!" ajak Luri sambil menatap Galang dan Jovan yang masih berbisik-bisik.


"Kau ingat, Lang. Jangan lupa dengan hukuman yang harus kau lakukan malam ini. Nanti aku akan mengabari semua anak-anak basket!" ucap Jovan seraya menepuk pelan pundaknya Galang.

__ADS_1


"Terserah kau saja. Kabari di mana aku harus membuat perut kalian semua membuncit!"


Jovan mengacungkan jempol ke arah Galang sebelum akhirnya berlari masuk ke dalam kelas. Meninggalkan Galang yang tengah sibuk mencuri pandang ke arah Luri.


"Meski aku tidak menoleh tapi aku tahu sejak tadi kau terus menatapku. Ada apa, Lang? Apa ada yang aneh di wajahku?" tanya Luri yang mulai merasa risih.


Galang tergagap saat di tanya seperti itu oleh Luri. Dia mengusap tengkuknya pelan kemudian menoleh ke arah lain. Malu, itu sudah pasti.


"Bel sudah berbunyi sejak tadi, sebaiknya kita segera masuk ke kelas saja, Lang. Siapa tahu wali kelas kita ingin memberitahukan hal penting pada kita berdua!" ucap Luri memecah kecanggungan. Dia kemudian berjalan mendahului Galang yang masih terlihat kikuk karena pertanyannya barusan.


"Maaf, Luri. Aku tidak bermaksud tidak baik padamu. Kau cantik, dan itu menyita perhatianku," ucap Galang sambil berjalan cepat menyusul Luri. "Maaf kalau kau tersinggung, tapi yang kukatakan barusan adalah jujur. Tolong kau jangan marah padaku ya?"


"Ya ampun, Lang. Untuk apa aku marah padamu hanya gara-gara hal sepele begitu. Kau ini!" sahut Luri seraya terkekeh pelan.


"Benar kau tidak marah padaku?" tanya Galang memastikan.


"Jadi kau ingin agar aku marah padamu ya?"


"Tidaklah!" sahut Galang dengan cepat.


Setelah itu Galang dan Luri berjalan beriringan menuju kelas mereka. Mengabaikan kecanggungan dan juga rasa risih yang tadi sempat di rasakan oleh mereka.


Maaf, Lang. Sampai kapanpun perasaanmu padaku tidak akan pernah terbalas karena aku sudah mempunyai seseorang di hatiku. Kuharap kau bisa segera menyadari hal ini sebelum perasaanmu semakin dalam, ucap Luri dalam hati.


*****

__ADS_1


__ADS_2