
📢 JANGAN LUPA BOM KOMENTARNYA BESTIE 💜
"Permisi, Nona Luri. Di luar ada Galang dan juga Jovan. Mereka bilang ingin mengajak Nona berdua berangkat ke sekolah bersama!" lapor salah seorang pelayan.
Nania yang saat itu sedang asik menikmati sarapan pagi langsung mendengus kesal begitu tahu kalau musuh bebuyutannya datang ke rumah. Dia lalu melirik ke arah sang kakak saat mendengarnya yang meminta pelayan agar mempersilahkan mereka untuk masuk.
"Tolong ajak mereka masuk kemari ya, Bi."
"Baik, Nona Luri."
Setelah pelayan pergi, Luri langsung menatap bergantian ke arah ayah dan ibunya. Dia bermaksud meminta persetujuan mereka untuk mengajak kedua temannya sarapan bersama.
"Tidak perlu meminta izin. Ayah malah senang kalau semua makanan ini habis tak bersisa," ucap Luyan tak merasa keberatan jika kedua teman putrinya ikut sarapan bersama keluarganya.
"Terima kasih banyak, Ayah. Aku yakin Galang dan Jovan pasti belum sarapan di rumah mereka," sahut Luri senang.
"Sudah, tidak perlu di bahas lagi. Kita tidak punya hak untuk menggunjingkan urusan keluarga orang. Tidak baik!" tegur Nita pelan.
Luyan dan Luri langsung menutup rapat mulut mereka setelah mendapat teguran. Sedangkan Nania, gadis itu tampak mengerucutkan bibir. Dia terlihat tidak senang dengan kedatangan kedua kakak kelasnya itu.
"Huh, asalnya dari keluarga kaya tapi suka sekali sarapan di rumah orang. Kaya betulan atau hanya kaya mengaku-ngaku saja sih. Heran," gerutu Nania dengan suara yang sangat kecil.
Tak lama kemudian Galang dan Jovan datang ke ruang makan bersama seorang pelayan. Setelah itu mereka dengan sopan menyapa kedua orangtua Luri dan Nania.
"Selamat pagi, Paman Luyan, Bibi Nita."
"Selamat pagi, Galang, Jovan!" sahut Luyan dan Nita berbarengan.
Diam-diam Galang mencuri pandang ke arah Luri yang sedang sibuk menata piring kosong di atas meja. Dia terpana, karena di mata Galang Luri terlihat seperti sosok seorang istri yang sedang melayani suaminya.
Apapun yang terjadi aku harus bisa menjadikan Luri sebagai gadis masa depanku. Dia benar-benar sangat mempesona, ujar Galang dalam hati.
"Apa lihat-lihat!" ucap Nania cetus sambil memelototkan mata pada Jovan yang ketahuan sedang mencuri-curi pandang ke arahnya.
__ADS_1
"Nania, jangan begitu. Tidak sopan!" tegur Nita kaget mendengar putri bungsunya yang tiba-tiba bicara cetus. Setelah itu dia melihat ke arah Jovan. "Jo, jangan dengarkan apa kata Nania. Dia bersikap begitu karena sedang lapar."
"Tidak apa-apa, Bibi Nita. Aku sama sekali tidak merasa tersinggung dengan sikap Nania. Sudah biasa," sahut Jovan santai. Dia lalu mengerlingkan mata ke arah Nania yang kini sudah memasang wajah masam.
"Hmm, kalian ini ya. Ya sudah, kau dan Galang duduklah. Kita sarapan bersama," ucap Nita pasrah setelah mendengar jawaban santai yang keluar dari mulut Jovan.
"Apa tidak apa-apa kami sarapan bersama kalian di sini, Bibi?" tanya Galang sedikit merasa sungkan.
"Tidak apa-apa, Lang. Paman dan Bibi malah merasa senang jika kalian sering-sering sarapan bersama kami. Walaupun hanya dengan lauk sederhana, rasanya pasti akan jauh lebih nikmat jika dimakan bersama dengan banyak orang. Paman dan Bibi memiliki motto untuk tidak pelit dalam hal berbagi, terutama soal makanan. Anggaplah kalau ini adalah cara kami mensyukuri nikmat yang sudah di berikan oleh Tuhan!" jawab Luyan menggantikan istrinya bicara.
"Kalau begitu terima kasih banyak, Paman."
"Sama-sama. Nah, duduklah. Luri, tolong bantu ambilkan sarapan untuk Galang dan Jovan ya?" perintah Luyan dengan senang hati.
"Baik, Ayah,"'sahut Luri patuh.
Jovan memilih duduk tepat di sebelah Nania. Dan ketika dia hendak mengganggu gadis beracun ini, tiba-tiba saja ada benda tajam yang menusuk di bagian pahanya. Sontak saja hal itu membuat Jovan menunduk. Dia penasaran benda apa yang hampir melukai bagian tubuhnya itu.
"Jangan macam-macam kalau kau ingin selamat, Kak Jovan. Rumah ini berada dalam kekuasanku, kau bisa kehilangan sebelah kakimu jika berani mengganggu ketenanganku saat menikmati sarapan buatan Kak Luri. Paham!" ancam Nania dengan suara kecil.
Astaga, kenapa Nania bar-bar sekali sih. Tapi tenang saja, di sini kan ada Luri dan kedua orangtuanya. Kalau Nania nekad menusuk pahaku, aku tinggal menjerit meminta pertolongan dari mereka semua. Hehehe, batin Jovan antara takut dan juga nekat. Demi cinta, begitu pikirnya.
"Cihhh, dasar tukang mengadu. Awas saja kau, Kak. Urusan kita belum selesai ya," ucap Nania kecewa karena gagal mengerjai kakak kelasnya.
Luri langsung melihat ke arah Nania saat mendengar suara dengusan nafasnya yang cukup kuat. Setelah itu Luri berganti melihat ke arah Jovan, merasa aneh karena temannya itu sedang tersenyum-senyum tidak jelas.
"Nania, ada apa? Kenapa sarapanmu tidak di habiskan?" tanya Nita heran melihat putrinya hanya mengaduk-aduk makanan yang ada di dalam piring. Dan keheranan Nita kian bertambah saat menyadari kalau wajah putrinya terlihat begitu masam. Mirip ekpresi seseorang yang sedang merajuk.
"Aku mendadak merasa kenyang, Bu. Sepertinya lambungku membengkak," jawab Nania asal. Padahal dia sedang sangat kesal gara-gara Jovan.
"Ei kau ini. Bicara yang benar, Nania. Ingat, ucapan adalah doa. Mau kau kalau lambungmu benar-benar membengkak?" tegur Nita.
"Memangnya lambung itu benar bisa menjadi bengkak ya, Bu?"
__ADS_1
"Tentu saja bisa, sayang."
Nania membulatkan mulutnya sambil mengangguk-anggukkan kepala. Setelah itu dia melirik ke arah Galang yang terus saja memperhatikan kakaknya.
"Kak Galang, sarapanmu kan ada di atas piring, bukan di wajahnya Kak Luri. Perutmu tidak akan kenyang jika hanya memandang wajah kakakku saja. Cepat habiskan makananmu!"
Wajah Galang berubah merah padam saat Nania menegurnya secara terang-terangan. Ingin rasanya dia masuk ke dalam perut bumi saking malunya dia karena ketahuan sedang memperhatikan Luri. Sungguh, mulut gadis beracun ini sangat tidak beradap. Teguran yang di ucapkan Nania barusan seperti melucuti semua pakaian yang melekat di tubuh Galang. Sangat amat memalukan.
Luri yang paham kalau Galang sedang menahan malu segera mengalihkan pembicaraan dengan membahas tentang hal lain. Adiknya ini benar-benar ya. Selalu saja meledakkan ranjau di saat yang tidak tepat. Membuat orang lain jantungan saja.
"Oh ya, Jo. Bagaimana dengan persiapanmu untuk ke luar negeri nanti? Apa semuanya sudah beres?"
"Sudah, Luri. Tapi aku tidak bisa berangkat bersama kalian berdua. Mungkin nanti setelah semua urusan di sekolah beres aku baru akan menyusul," jawab Jovan sambil mengunyah makanan. Padahal yang sebenarnya Jovan itu sedang mati-matian menahan diri agar tidak tertawa setelah melihat Galang menjadi korban ketajaman mulut Nania. Dia prihatin, tapi juga senang melihat ketidakberdayaan temannya itu.
"Jovan, jadi kau juga akan kuliah di tempat yang sama dengan Luri dan Galang?" tanya Luyan kaget.
"Iya, Paman. Untuk menjaga agar persahabatan kami tetap terjalin baik, jadi aku memutuskan untuk kuliah di tempat yang sama dengan mereka," jawab Jovan jujur.
"Oh, begitu. Kalau Paman boleh tahu kau akan mengambil jurusan apa di sana?"
"Karena nanti aku akan melanjutkan perusahaan milik orangtuaku jadi aku mengambil jurusan bisnis management, Paman. Dan kemungkinan besar aku juga akan langsung lanjut S2 sebelum kembali ke negara ini untuk memimpin perusahaan."
Raut masam di wajah Nania seketika sirna saat dia tahu kalau anak laki-laki yang duduk di sebelahnya adalah calon sugar daddy yang dia cari. Sambil tersenyum semringah, Nania memastikan apakah benar kalau Jovan adalah calon bos besar di masa depan atau bukan.
"Kak Jovan, apa ini artinya kau akan menjadi pria kaya raya nantinya?"
"Tentu saja iya. Kenapa memangnya? Apa kau berniat menjadikan aku sebagai suamimu?" tanya Jovan iseng.
"Iya. Kau akan menjadi kandidat utama yang akan aku pilih sebagai calon suami," jawab Nania dengan begitu bersemangat.
Dan jawaban frontal Nania sukses membuat semua orang terkaget-kaget. Bahkan Luyan sampai menelan makanan yang belum sempat dia kunyah saking syoknya mendengar kejujuran di diri putrinya ini.
Ya Tuhan, kenapa aku bisa mempunyai anak seperti Nania? keluh Luyan dalam hati.
__ADS_1
*****