
Fedo mendengarkan dengan seksama omelan dari seorang gadis yang sedang berteriak melalui telepon. Ya, gadis itu adalah Nania. Pawang yang menjaga Luri saat ini tengah meluapkan segala emosi setelah pertemuannya dengan Kanita. Untung saja Tuhan mengabulkan doa Fedo yang berharap kalau Kanita akan bertemu dengan Nania, bukan Luri. Jika tidak, malam ini dia akan kembali di buat kelimpungan karena Luri pasti akan langsung menghilang begitu menjadi korban lidah buruk Kanita.
"Kak Fedo, kenapa kau itu mudah sekali bercabang sih. Bilangnya kau hanya mencintai kakakku saja, tapi kenyatannya apa. Kau malah mengumbar belut listrikmu pada nenek peyot yang berpakaian kurang bahan itu. Dasar genit. Kau parah sekali, Kak!"
"Nania, aku ini pria dewasa. Benar kalau nenek peyot yang kau temui siang tadi adalah mantan teman tidurku. Tapi itu dulu, jauh sebelum aku mengenal Luri. Dan setelah aku mengenal kakakmu, aku tak pernah lagi berhubungan dengan perempuan lain. Jangankan berhubungan, berkeinginan untuk menyentuh mereka pun tidak. Kau tahu kan kalau aku ini sudah terLuri-Luri pada kakakmu?" sahut Fedo dengan santai.
Beruntunglah Fedo karena siang tadi Kayo memberitahunya tentang kedatangan Kanita ke Shanghai. Jadi sekarang dia sudah mempersiapkan diri untuk menyambut amukan Nania. Akan tetapi sepertinya itu juga tidak mudah untuk Fedo melewati amarah si gadis beracun ini karena sekarang Nania mengeluarkan garis pembatas yang mana membuat Fedo langsung menelan ludah. Dia panik seketika.
"Oh, jadi sebelum bertemu dengan kakakku kau adalah laki-laki seperti itu ya, Kak? Heh, tahu begini aku tidak akan pernah mau membantu hubunganmu dengan Kak Luri. Biar saja kakakku bersedih hati karena tidak bisa berpacaran denganmu. Aku lebih memilih melihat Kak Luri menangis siang malam daripada harus membiarkannya berhubungan dengan laki-laki yang sudah menjadi bekas wanita lain. Mulai sekarang aku tidak akan membiarkanmu mendekati kakakku lagi, Kak Fedo. Tidak akan!"
Baru saja Fedo hendak membujuk Nania, gadis itu sudah lebih dulu memutuskan panggilan. Panik kalau Nania akan mengadukan kedatangan Kanita pada Luri, Fedo pun dengan sigap mengambil langkah pencegahan. Dia segera menghubungi nomornya Luri sambil terus menggumamkan doa semoga dia lebih cepat dari Nania.
"Halo Kak, ada apa?"
Tulang di kaki Fedo bagai meleleh begitu mendengar suara lembut gadisnya. Dia yang tadinya sedang duduk di sofa langsung berbaring tertelungkup sembari menarik nafas dalam-dalam. Selamat selamat, batin Fedo lega.
"Kak Fedo, ada apa? Kenapa suara nafasmu seperti itu? Apa yang sedang terjadi di sana? Kau baik-baik saja kan?"
"Aku tidak apa-apa, sayang. Hanya sedang lega saja setelah berhasil menyingkirkan tikus dari ruang kerjaku. Hufftt, tikus itu benar-benar sangat mengerikan, sayang. Aku hampir pingsan di buatnya," jawab Fedo berkilah dengan menyebut Nania seekor tikus ketika di cecar pertanyaan oleh Luri.
Tidak ada suara apapun lagi dari dalam telepon setelah Fedo bicara seperti itu. Fedo yang penasaran kenapa tiba-tiba hening pun segera melihat ke layar ponsel. Keningnya mengerut, panggilan masih terhubung tapi kenapa terasa begitu sunyi.
"Sayang, kau masih di sana kan?" tanya Fedo memastikan.
__ADS_1
"Iya, aku masih disini, Kak. Kenapa memangnya?"
"Kenapa diam saja, hm. Apa kau sedang menertawakan aku gara-gara ulah tikus nakal itu?"
Kedua sudut bibir Fedo terangkat ke atas saat mendengar suara tawa renyah dari dalam telepon. Dia membayangkan betapa Luri yang terlihat sangat manis ketika tertawa seperti ini, belum lagi dengan kedua lesung pipinya. Membuat Fedo jadi di dera perasaan rindu yang sangat besar.
"Sayang, sudahlah jangan tertawa terus. Nanti Ayah dan Ibumu salah paham dengan mengira kau sedang kerasukan," celetuk Fedo sambil memainkan dasi di lehernya. Sungguh, dia begitu gemas dengan Luri. Sayang, mereka sedang berjauhan. Andai mereka dekat, Fedo pasti akan memberinya hukuman kecil karena sudah berani mentertawakannya.
"Aduuhh, kau ini ada-ada saja si, Kak. Orang dewasa dengan tubuh kekar sepertimu masa takut dengan binatang kecil seperti tikus? Aneh sekali."
"Itu hal yang wajar, sayang. Meskipun aku sudah dewasa, aku tetaplah manusia biasa yang memiliki rasa takut. Tapi kau jangan salah, sayang. Tikus di Jepang ukurannya sangat besar. Malah terkadang ada yang ukurannya sama besarnya dengan kucing. Memangnya kau tidak takut jika melihat binatang semengerikan itu, hmm?"
Sedikit berlebihan, tapi Fedo tidak peduli. Biar saja kalau ucapannya melenceng dari fakta yang ada. Yang terpenting sekarang dia bisa mendengar suara merdu gadisnya ketika sedang tertawa meski tak bisa melihatnya secara langsung.
"Oh ya sayang, bagaimana sekolahmu hari ini? Apakah ada sesuatu yang tidak berjalan seperti yang kau inginkan?" tanya Fedo mencoba untuk mengulik apakah Luri mengetahui pertemuan antara Kanita dengan Nania atau tidak.
Jantung Fedo seperti berhenti berdetak saat Luri menggantungkan ucapannya. Dia resah, jangan-jangan gadis beracun itu sudah memberi tahu Luri tentang siapa Kanita. Jika sudah, maka matilah Fedo. Entah bagaimana caranya dia akan menjelaskan pada Luri kalau Kanita bukanlah kekasihnya. Wanita itu hanyalah nenek sihir yang gila akan kekayaan yang dia miliki.
"Akan tetapi apa, sayang? Kenapa bicaramu setengah-setengah sih. Aku kan jadi penasaran," desak Fedo dengan dada berdebar kuat.
"Em, sebenarnya tidak ada apa-apa si, Kak. Akan tetapi tadi Nania menanyakan hal yang sedikit aneh padaku. Dia tiba-tiba membahas tentang laki-laki yang menjalin hubungan dengan dua wanita sekaligus di mana salah satu wanitanya mengaku pernah tidur bersama dengan pria tersebut. Sementara si pria dengan wanita yang satunya lagi baru mulai dekat, mereka belum menjadi sepasang kekasih. Nania bilang sih itu hanya adegan di dalam sebuah drama yang dia tonton di ponsel milik temannya. Tapi entah kenapa hatiku berkata kalau itu bukanlah sebuah drama. Karena saat Nania bicara, raut wajahnya terlihat sangat serius. Dia juga terkesan menutup-nutupi. Aneh kan, Kak?"
Selamat-selamat. Meskipun polos, gadis beracun itu ternyata masih bisa berpikir untuk tidak mengatakan sesuatu yang bisa menyakiti hati kakaknya. Kali ini Fedo benar-benar sangat berterima kasih pada Nania karena secara tidak langsung gadis itu telah menyelamatkan hubungannya dengan Luri. Fedo kemudian terpikir untuk mengirim hadiah pada gadis beracun itu. Ya, hitung-hitung sebagai balas budi kecil-kecilan.
__ADS_1
"Tidak usah terlalu di tanggapi juga lah, sayang. Siapa tahu itu memang benar-benar drama yang dia tonton. Lagipula Nania itu masih kecil, dia belum paham tentang hubungan seperti itu. Kalau aku menebak, mungkin Nania hanya merasa penasaran saja kenapa bisa seorang laki-laki menjalin hubungan dengan dua orang wanita di saat yang bersamaan. Biasalah, jiwa ingin tahu seorang remaja sepertinya pasti sangat besar," ucap Fedo berusaha mematahkan pemikiran Luri tentang drama karangan yang di buat Nania.
"Oh, jadi begitu menurutmu ya, Kak? Hah, ya sudahlah. Mungkin aku yang terlalu berpikir berlebihan."
Meski tak bisa melihat, Fedo tetap mengangguk menyetujui kepasrahan Luri. Terbayang wajah tengik Kanita, seketika emosi Fedo melonjak. Dia menggeretakkan gigi sambil mengepalkan kedua tangannya. Fedo tak ingin Luri sampai salah paham. Jadi dia memutuskan untuk membentengi Luri kalau di hatinya hanya ada dia seorang.
"Sayang, jika suatu hari nanti ada wanita asing yang tiba-tiba mendatangimu lalu berkata kalau aku dan dia memiliki hubungan spesial, tolong kau jangan percaya. Jangan pernah dengarkan apapun yang dia katakan karena itu sangat tidak benar. Aku hanya mencintaimu. Jikapun aku memiliki mantan kekasih, itu terjadi sebelum kita saling mengenal. Tolong ingat pesanku ini baik-baik ya. Aku tidak mau ada salah paham di antara kita berdua."
"Kenapa tiba-tiba kau bicara seperti ini, Kak? Atau jangan-jangan wanita yang di maksud oleh Nania adalah mantan kekasihmu?"
"Bukan, sayang. Sebenarnya sejak dulu aku tidak pernah menjalin hubungan dengan wanita manapun. Akan tetapi dengan statusku yang sekarang, ada banyak wanita yang mengaku sebagai kekasihku. Jadi aku harap kau bisa menyiapkan mental terlebih dahulu jika seandainya salah satu dari mereka ada yang datang mencari tahu tentangmu. Aku harap kau hanya akan percaya padaku saja. Bisa?"
Fedo sedikit ketar ketir saat Luri tak kunjung memberi jawaban. Dia resah, takut kalau Luri akan mengucapkan kata yang tidak dia harapkan.
"Baiklah, Kak. Aku berjanji hanya akan percaya dengan apa yang kau katakan. Tapi jika seandainya nanti ada wanita yang datang dengan membawa bukti-bukti tentang hubungan kalian, maka aku akan mundur. Aku tidak mau bersaing dengan para wanita yang pernah ada di hidupmu. Karena rasanya pasti akan sangat menyakitkan jika aku harus menjalin hubungan dengan pria yang belum selesai dengan masa lalunya."
"Terima kasih untuk kepercayaanmu, sayang. Aku mencintaimu," sahut Fedo lega selega-leganya.
πππππππππππππππππ
...πJangan lupa vote, like dan comment...
...ya gengss...
__ADS_1
...πIg: rifani_nini...
...πFb: Rifani...