PESONA SI GADIS DESA

PESONA SI GADIS DESA
(FELUR) ~ Belalai Gajah


__ADS_3

"Ada apa dengan wajahmu?" tanya Gleen heran.


Fedo mendengus. Dia memutuskan datang menemui Gleen karena terus dibuat tak nyaman dengan perkataan nyeleneh Nania. Fedo sangat penasaran dengan istilah belut listrik yang dia dengar pagi tadi. Tapi sekeras apapun dia berusaha mencari tahu, Fedo tetap saja tidak menemukan arti dari kata-kata tersebut. Karena terdesak oleh rasa ingin tahu yang begitu besar, dia akhirnya memilih untuk bertanya pada Gleen dan juga Lusi. Fedo sangat berharap kalau pasangan pengantin baru ini bisa menjawab rasa penasarannya.


"Kau tahu tidak apa itu belut listrik?" tanya Fedo sembari menatap lekat ke arah Gleen yang sedang tersenyum ke arah Lusi. "Cih, dasar pengantin baru, maunya mesra-mesraan saja. Lupa ya kalau di sini sedang ada tamu?"


Merasa tersindir, Gleen akhirnya mengalihkan perhatian dari sang istri. Dia tersenyum miring melihat wajah Fedo yang terlihat sangat tidak bersahabat.


"Iri, bilang bos!" ejek Gleen dengan sengaja.


"Iri kepalamu, Gleen!" sungut Fedo seraya berdecak kesal. "Sekarang kita bisa bicara serius tidak?"


"Bisa-bisa," jawab Gleen sambil tertawa puas. "Ada apa, hah? Gerangan apa yang sudah membuat Tuan Muda Eiji kita terlihat frustasi? Mungkinkah ini ada hubungannya dengan ranjang yang mulai dingin?"


Pertanyaan Gleen sedikit banyak menghibur Fedo yang sedang gundah gulana. Dia tertawa, kemudian mengisi gelasnya dengan Red Wine yang tersedia di atas meja.


"Lusi tidak marah kau menyimpan minuman seperti ini di apartemen?"


"Gadis malaikat sepertinya mana bisa marah, Fed," jawab Gleen santai. "Justru dia malah senang karena aku akan semakin panas jika sudah meminum minuman ini. Biasalah, hentakan Rpm-nya akan semakin kencang jika sudah di panaskan."


Setelah berkata seperti itu, Gleen dan Fedo tertawa terbahak-bahak. Ya, istilah seperti ini tentu saja hanya di ketahui oleh para penikmat ranjang. Meskipun Gleen sendiri tak pernah menyentuh wanita selain istrinya, dia cukup tahu banyak tentang hal-hal seperti ini. Gleen mempunyai seorang guru yang sangat handal dengan berbagai macam jenis istilah ranjang. Siapa lagi kalau bukan Morigan Junio, si penggila wanita cantik yang kini tengah menikmati karma dari buah hatinya dengan Patricia.


"Oh iya, ngomong-ngomong belut listrik apa yang kau tanyakan tadi? Kau ingin memelihara binatang penyengat itu?" tanya Gleen setelah puas tertawa.


"Begini Gleen, kau tahu Luri tidak?" jawab Fedo mulai serius.


Kening Gleen mengerut.


"Luri adik iparku bukan?"


"Iyalah. Memangnya ada Luri lain di sekitar kita?"


"Brengsek kau, Fed. Kalau sudah tahu kenapa kau tanyakan padaku hah? Kurang kerjaan sekali!"


Fedo terkekeh melihat Gleen bersungut-sungut. Rasanya enak juga mengerjai pengantin baru. Sebelum melanjutkan kata-katanya, Fedo terlebih dahulu menyesap habis Red Wine yang ada di gelasnya. Rasa manis yang mengalir di tenggorokannya membuat Fedo terpikir akan hatinya yang selalu terLuri-Luri pada si gadis desa. Sungguh, Fedo seperti tidak bisa memikirkan wanita lain lagi sekarang. Bahkan miliknya tak lagi menegang ketika melihat wanita berdada besar. Segala pikiran Fedo kini hanya terpusat pada Luri, Luri, Luri, dan Luri saja. Karena si Casanova kini benar-benar sudah terjerat oleh PESONA SI GADIS DESA.


"Gleen, kau tahu arti dari belut listrik tidak?" tanya Fedo lagi.


"Sebenarnya apa sih yang sedang kau tanyakan, Fed? Kau tidak mungkin tidak tahu kan kalau belut listrik itu adalah seekor binatang buas yang hobinya menyetrum orang?" jawab Gleen heran.


"Kalau yang itu aku juga tahu, Gleen."


"Lalu?"

__ADS_1


"Masalahnya ini Nania yang bilang. Makanya aku jadi penasaran begini sekarang."


"Nania yang bilang?"


Gleen dan Fedo langsung menoleh ke arah Lusi yang baru saja bergabung sambil membawakan sepiring buah-buahan. Mereka berdua kemudian kompak menganggukkan kepala.


"Tuan Fedo....


"Panggil Fedo saja," sela Fedo sembari mengambil potongan buah melon menggunakan garpu.


Lusi mengangguk. Dia lalu melihat ke arah Gleen yang sedang memilin rambutnya yang basah.


"Nania datang kemari?" tanya Lusi.


"Tidak," jawab Gleen. "Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Fedo dan Nania. Lebih baik kau tanyakan langsung pada orangnya, Sweety."


"Em Fedo, Nania kenapa?" tanya Lusi masih merasa canggung memanggil Fedo tanpa embel-embel tuan.


"Dia tidak kenapa-napa, Lus. Hanya membuatku hampir mati penasaran saja," jawab Fedo seraya mendesah pelan. "Tadi pagi aku bertemu dengan Luri dan juga Nania yang akan masuk sekolah. Lalu Nania mengatakan padaku agar jangan dekat-dekat dengan Luri karena aku mempunyai belut listrik yang bisa membuat Luri terkena busung lapar. Padahal ya Lus, aku sama sekali tidak memelihara binatang itu. Jangankan memelihara, melihatnya secara langsung saja aku tidak pernah. Hanya dari televisi dan juga dari gambar saja aku bisa tahu seperti apa bentuk belut listrik. Makanya aku bingung sekali kenapa Nania bisa berkata seperti itu padaku. Kau tahu tidak apa maksud ucapannya? Kepalaku sudah mau pecah gara-gara ucapan Nania!"


Mata Lusi mengerjap-ngerjap setelah dia mendengar penjelasan Fedo tentang belut listrik yang di maksud oleh adiknya. Seketika wajahnya memerah. Menahan malu. Lusi sudah pasti tahu ditujukan untuk apa kata-kata belut listrik itu. Karena dia sudah sering mendengarnya setiap kali Nania mengistilahkan tentang kelelakian seorang pria.


"Swety, kau kenapa? Wajahmu merah sekali," tanya Gleen khawatir.


"Apa iya Lusi langsung demam hanya gara-gara mendengar kata belut listrik? Aneh sekali," batin Fedo keheranan.


"Itu Gleen, aku, aku mau ke dapur dulu ya. Aku lupa mematikan kompor," jawab Lusi beralasan.


Gleen langsung menarik tangan Lusi yang ingin pergi dari hadapannya. Dia lalu menatapnya lekat-lekat, mengabaikan Fedo yang terlihat seperti ingin muntah melihatnya duduk memangku Lusi.


"Ada apa? Beritahu aku dulu kenapa wajahmu memerah tiba-tiba!" desak Gleen.


"Gleen, malu. Ada Fedo di sini," bisik Lusi dengan wajah yang semakin memerah.


"Biar saja. Kalau kau tetap tidak mau bicara, aku bahkan tidak keberatan menidurimu di hadapan Fedo."


"Jangan gila, Gleen."


"Aku memang sudah gila, Sweety," sahut Gleen seraya menyeringai lebar.


Lusi mendesah panjang. Sepertinya urusan ini tidak akan selesai jika dia tidak segera menuruti keinginan Gleen. Akhirnya, sambil menahan malu Lusi memberitahu Gleen dan juga Fedo tentang sejarah si belut listrik yang di maksud oleh Nania.


"Itu, sebenarnya... belut listrik itu ya punya kalian berdua. Iya, punya kalian."

__ADS_1


"Punya kami berdua? Maksudnya bagaimana?" tanya Fedo kebingungan.


Lidah Lusi terasa sangat kaku saat ingin menjelaskan lebih rinci. Dia kemudian memilih untuk membisikkan saja di telinga suaminya. Terlalu memalukan bagi Lusi jika harus menjelaskan dengan gamblang kalau si belut listrik adalah jenis benda tumpul yang bisa menebar benih kecebong di dalam rahim wanita.


Gleen baru melepaskan Lusi dari pangkuannya setelah dia mendapat bisikan dari sang istri. Sungguh, Gleen benar-benar tidak menyangka akan ada julukan aneh untuk benda paling penting dalam hidupnya.


"Gleen, apa yang dibisikkan Lusi padamu?" desak Fedo penasaran.


"Fed?"


"Apa?"


"Aku harap kau tidak terkena serangan jantung setelah aku menjelaskan apa yang di maksud belut listrik oleh adik iparku," ucap Gleen dengan ekpresi serius yang di buat-buat.


Tiba-tiba saja perasaan Fedo terasa tidak enak. Dadanya berdetak lebih cepat dari biasanya. Dari raut wajahnya Gleen, Fedo bisa merasakan kalau hal tersebut bukanlah sesuatu yang baik.


"Belut listrik itu maksudnya adalah juniormu. Lusi bilang julukan ini selalu dipakai Nania ketika dia ingin menyebut tentang senjata kita, Fed. Jadi... Nania memintamu menjauhi Luri karena dia takut kalau juniormu akan membuat kakaknya hamil. Ini sangat lucu bukan?"


Untuk seperkian detik Fedo hanya tercengang seperti orang bodoh. Dia tidak menyangka kalau belut listrik yang sudah membuatnya penasaran setengah mati ternyata ada hidup di tubuhnya. Pantas saja ketika bicara Nania selalu melirik ke arah bawah perutnya. Ternyata ini penyebabnya.


"Gleen," panggil Fedo lirih.


"Apalagi?"


Sudut bibir Gleen berkedut.


"Juniorku bukan belut listrik,"


"Lalu?"


"Belalai gajah,"


Setelah itu Gleen dan Fedo tertawa seperti orang gila. Mereka berdua menertawakan kekonyolan Nania yang begitu polos dalam mengartikan kelelakian masing-masing. Sungguh, cara berpikir gadis desa ini membuat mereka berdua menggila. Untung saja hanya Nania yang kelewat polos. Mereka berdua bisa mati muda jika Lusi dan Luri memiliki pemikiran yang sama seperti adiknya.


💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜



✅ Hai gengss, kisah PESONA SI GADIS DESA versi lengkapnya ada di yutup emak ya. Nama chanelnya @Mak Rifani, dan part 31 baru saja up. Jangan lupa mampir dan tinggalkan jejak ya gengss


...💜 Jangan lupa vote, like, dan comment keuwuan mereka ya gengss...


...💜 Ig: rifani_nini...

__ADS_1


...💜 Fb: Rifani...


__ADS_2