
Fedo mendengarkan dengan seksama laporan anak buahnya yang tengah menyampaikan informasi tentang apa yang dilakukan Kanita malam itu. Sesekali keningnya tampak mengerut, merasa janggal akan laporan yang sedang dia dengarkan.
"Kalian yakin Kanita hanya pergi ke club saja setelah aku keluar dari kamar hotel?" tanya Fedo penuh selidik.
"Iya, Tuan Muda. Semua CCTV sudah kami cek, dan Nona Kanita hanya pergi ke club sebelum akhirnya kembali lagi ke hotel."
"Dengan siapa dia pulang?"
Tidak ada jawaban. Fedo langsung menyadari di sinilah letak kejanggalan yang mengganggu pikiran sang ibu. Tak ingin kecolongan, dia segera menghubungi anak buahnya yang lain untuk meretas sistem keamanan hotel demi mencari tahu dengan siapa Kanita bersenang-senang malam itu.
"Aku yakin pria yang bersamanya pasti bukan pria sembarangan. Karena jika Kanita pergi bersama pria biasa, mustahil anak buah Ibu bisa sampai melewatkan informasi sepenting ini. Aku harus benar-benar teliti. Masalah ini bisa menjadi boomerang untukku kalau aku sampai lengah," ucap Fedo setelah selesai menghubungi anak buahnya.
Sambil mengetuk-ngetukkan jari ke atas meja, Fedo terus mengira-ngira siapa orang yang malam itu menemani Kanita di club dan di hotel. Dia bisa seyakin ini karena menilik dari kebiasaan Kanita yang akan langsung bermalam dengan seorang pria jika sudah dalam kondisi mabuk. Saking seriusnya Fedo berpikir, dia sampai lupa kalau anak buahnya masih berada di sana. Fedo baru tersadar saat anak buahnya mengeluarkan suara.
"Ekhmm Tuan Muda, apa masih ada perintah lain yang harus kami lakukan?"
"O-oh, kalian masih ada di sini ternyata. Hehe, maaf aku lupa," sahut Fedo sembari mengusap tengkuknya pelan.
__ADS_1
"Anda belum meminta kami untuk pergi. Jadi kami masih berada di sini."
Wajah lawak yang tadi di tunjukkan oleh Fedo langsung berganti menjadi raut wajah serius s
ketika Fedo hendak memberikan perintah lain untuk anak buahnya. Dia yang tadinya duduk di kursi kerja segera beranjak mendekat kemudian menatap wajah keduanya penuh tatapan dingin.
"Kanita adalah batu sandungan yang sangat ingin aku singkirkan keberadaannya karena dia sangat mengganggu hubunganku dengan Luri. Tapi karena Tuan Dominic berlaku sopan dan tidak memihak, aku jadi sedikit sungkan untuk memberikan pelajaran berat kepadanya. Oleh karena itu, mulai sekarang kalian aku tugaskan untuk terus mengawasi Kanita dua puluh empat jam. Tak peduli apa yang dia lakukan, setiap hari kalian harus memberikan laporan padaku. Dan jika sampai terlewat, apalagi kecolongan, kalian sudah tahu bukan ganjaran seperti apa yang akan kalian terima?" ucap Fedo penuh nada ancaman.
"Baik, Tuan Muda."
Kedua anak buah Fedo membungkuk hormat sebelum keluar dari ruangannya. Setelah itu Fedo berbalik, menarik laci meja kemudian mengeluarkan sebuah foto yang terpasang di sebuah bingkai kaca.
"Luri, maafkan aku jika nantinya kau terkejut mengetahui sisi gelapku. Mungkin di balik sikapku yang konyol dan kekanakan, aku adalah seorang pria yang sangat tidak suka kalau urusan pribadiku di usik. Seperti sekarang. Aku sebenarnya sudah sangat lelah menghadapi kegilaan Kanita, dan aku sangat ingin melenyapkannya dari muka bumi ini. Tapi karena ayahnya menunjukkan sikap netral, aku jadi merasa sedikit sungkan untuk melakukan sesuatu yang bisa membuat Kanita merasa jera. Hati nuraniku masih bisa bekerja," ujar Fedo dengan nada suara yang begitu dingin.
Jeda sejenak. Fedo kemudian mengusap foto Luri yang tengah tersenyum menggunakan jari telunjuknya. Dia terkekeh, merasa gila karena telah mencintai seorang gadis sampai seperti ini. Namun kekehan yang keluar dari mulut Fedo tidak berlangsung lama. Sedetik kemudian muncul sebuah seringai yang begitu mengerikan di bibir Fedo. Andai ada orang lain yang melihat seringai itu, di jamin orang tersebut pasti akan langsung kabur ketakutan.
"Tapi sayang, untuk kali ini aku tidak akan mempertimbangkan apapun lagi jika sampai terbukti Kanita ingin menjebakku. Masa bodo dengan Tuan Dominic. Aku akan membuat hidup Kanita hancur berantakan sampai dia tidak berani lagi menampakkan wajahnya di negara ini. Aku tidak akan mau mengampuninya meski dia adalah seorang wanita. Kanita harus tahu kalau Fedo bukanlah orang yang bisa seenaknya dia permainkan. Dan jika saat seperti ini benar-benar tiba, aku hanya berharap kau akan paham kalau apa yang aku lakukan adalah demi cinta kita. Aku sangat mencintaimu, Luri. Dan aku tidak akan membiarkan siapapun merusak kebahagiaan kita. Aku pastikan itu!" ucap Fedo di barengi dengan smirk lebar di bibir tipisnya.
__ADS_1
Kurang lebih satu jam lamanya Fedo menunggu kabar dari anak buahnya yang dia tugaskan meretas keamanan hotel tempat Kanita menginap. Sungguh, sejak tadi hatinya terasa seperti di bakar api menantikan kabar permainan apalagi yang coba di mainkan oleh wanita tidak tahu diri itu. Hingga tak lama berselang, kabar yang begitu dia nantikan akhirnya terdengar juga. Ponselnya berdering dengan begitu kuat, yang membuatnya jadi tak sabaran ingin segera mendengar kabar yang sudah sangat dia nanti-nantikan sejak tadi.
"Bagaimana? Apa kalian menemukan sesuatu?" tanya Fedo dengan sangat antusias.
"Iya, Tuan Muda. Tapi kami sedikit kesulitan mengenali wajah pria yang pulang bersama Nona Kanita ke hotel ini. Entah ini benar atau tidak, pria ini seperti sengaja menghindari kamera CCTV. Wajahnya sama sekali tidak terekam, seakan pria ini sudah tahu di mana letak kamera yang bisa menyorot wajahnya. Apa kami perlu menyelidiki identitas pria tersebut, Tuan Muda?"
Fedo tak langsung menjawab pertanyaan anak buahnya. Dia terdiam lama sambil menatap lurus ke arah depan. Seorang pria yang begitu mahir menghindari sorotan kamera yang terpasang di hotel? Kabar ini semakin menguatkan perkiraan Fedo yang menebak kalau pria tersebut bukanlah pria biasa. Fedo yakin betul kalau pria ini memiliki latar belakang yang sangat berpengaruh. Memikirkan hal tersebut membuat Fedo tanpa sadar tersenyum. Ya, dia tersenyum karena tahu kalau pria tersebut bisa melepaskannya dari jerat cinta buta seorang Kanita.
"Kalian tidak usah mencari tahu identitas pria itu. Biarkan saja," ucap Fedo santai.
"Apa anda yakin, Tuan Muda? Pria ini menghapus semua rekaman CCTV yang merekam aktivitasnya, termasuk juga rekaman saat dia masuk dan keluar dari kamar Nona Kanita malam itu. Saya khawatir kedua orang ini diam-diam sedang merencanakan niat jahat di belakang anda, Tuan Muda."
"Tidak apa-apa. Percaya padaku, pria itu tidak mungkin melakukan hal rendah seperti yang kalian pikirkan. Aku yakin dia melakukan semua itu bukan untuk mencari gara-gara denganku, melainkan untuk menutupi identitasnya yang tidak boleh di ketahui publik. Sudahlah, masalah ini kita tutup saja. Kalian juga tidak perlu melaporkannya pada Ibu. Semuanya selesai sampai di sini," jawab Fedo kemudian memutuskan panggilan.
Karena tidak ada masalah yang serius, Fedo akhirnya bisa menarik nafas lega. Tak lupa dia memanjatkan doa terbaik untuk Kanita dan juga untuk pria misterius tersebut agar nantinya mereka bisa menjadi pasangan bahagia. Setelah itu Fedo kembali bekerja sambil di temani oleh foto gadis cantik yang tengah tersenyum menampilkan kedua lesung di pipinya. Luri, gadis desanya yang begitu mempesona.
*****
__ADS_1