
Setelah di tinggal masuk ke kamar oleh sang kakak, Kayo memutuskan pergi menghampiri ayah dan juga ibunya. Dia tersenyum ketika mendapati wajah ibunya yang merona karena sedang di goda oleh sang ayah. Sungguh satu pemandangan yang begitu menghangatkan hati.
"Ekhmm ekhmm," ....
Abigail menoleh ke belakang saat mendengar suara deheman seseorang. Dia lalu tersenyum melihat putrinya yang sedang berdiri menyender ke dinding sembari melipat tangan di atas perut.
"Kenapa, Kay?" tanya Abigail.
"Hanya sedang merasa iri melihat kemesraan Ayah dan Ibu," jawab Kayo jujur. "Ini sudah malam. Kapan kalian akan berhenti beromantisan seperti ini?"
"Bilang saja kalau kau juga ingin melakukan hal seperti ini bersama Jackson. Iya kan?" celetuk Mattheo sambil memilin rambut panjang istrinya.
Kayo mengangguk-anggukkan kepala. Setelah itu dia melangkah menuju sofa, mendudukkan diri di sana sambil menatap layar televisi yang masih menanyangkan sebuah film. Kayo termenung.
"Kay, ada apa? Sepertinya ada sesuatu yang sedang mengganggu pikiranmu," tanya Abigail. Dia memperhatikan raut wajah putrinya yang terlihat tidak biasa.
"Bu, hatiku terus merasa tidak tenang. Kira-kira akan ada apa ya ke depannya nanti? Masalah Kanita sudah beres, dan perusahaan juga baik-baik saja. Tapi kenapa aku terus gelisah? Aku bingung, Bu. Baru kali ini aku merasa tidak tenang dalam jangka waktu berkepanjangan. Ada apa ya?" sahut Kayo yang malah balik bertanya.
Mattheo menatap seksama ke arah putrinya. Firasat putrinya ini tidaklah boleh di remehkan karena yang sudah-sudah setiap kali Kayo gelisah seperti ini biasanya memang akan ada sebuah kejadian yang terjadi di keluarga Eiji. Mattheo waspada, pikirannya langsung melanglang buana untuk mengingat dan mencari tahu masalah besar apa yang kiranya bisa terjadi.
__ADS_1
Kenapa malah wajah Kanita yang muncul di pikiranku ya? Aneh. Masalah ini kan sudah ada jalan penyelesaiannya, masa iya Kanita berani menyebut Fedo sebagai ayah dari bayi itu di saat dia sendiri sudah tahu kalau Fedo memegang kartu asnya. Ah, tidak mungkin. Mustahil itu terjadi, batin Mattheo.
"Jackson apa kabar, Kay?" tanya Abigail yang tiba-tiba teringat dengan calon menantunya.
"Dia baik-baik saja, Bu. Tadi sore aku baru saja menerima telepon darinya," jawab Kayo.
"Apa dia pernah mengatakan sesuatu padamu tentang kendala yang bisa saja terjadi di pernikahan kalian nanti?"
Kayo menggeleng. Dia kemudian memejamkan mata seraya menghela nafas panjang. Semua urusan pernikahan sudah bisa di pastikan aman di tangan Jackson dan bibinya. Dan Kayo sangat amat yakin kalau kegelisahan ini bukan datang dari pernikahannya, melainkan dari hal lain. Tapi apa? Inilah yang menyita perhatian Kayo sampai-sampai dia merasa tidak tenang begini.
"Menurut Ibu mungkin tidak kalau Kanita akan kembali membuat ulah dengan tetap menuduh Kak Fedo sebagai orang yang telah menghamilinya?" tanya Kayo. "Kita bisa saja memegang kartu as di balik kehamilannya itu, tapi Kanita sangat licik dan juga tidak tahu malu. Apalagi dia mempunyai seorang pendukung yang tidak punya otak. Sekali nama Kak Fedo di sebut, aku yakin dia dan ibunya akan langsung menyerang kita melalui media. Kemungkinan seperti ini bisa saja terjadi bukan?"
Mata Kayo terbuka. Sepertinya sang ibu telah mengambil suatu langkah untuk mencegah kejadian seperti ini. Sambil tersenyum penuh arti, Kayo menatap ibunya yang juga tengah menatapnya.
"Apa Ibu sudah berhasil membuka komunikasi dengan em ... siapa nama laki-laki itu, Bu?" tanya Kayo lupa akan nama pria yang telah menghamili Kanita.
"Namanya Andero," jawab Abigail. "Sebenarnya agak sulit, tapi untunglah dia akhirnya bersedia meluangkan waktu untuk berbincang dengan Ibu. Dan Andero dengan jujur mengakui bahwa malam itu dia memang sempat menginap di salah satu kamar hotel bersama Kanita. Akan tetapi pertemuan mereka tidaklah berakhir baik karena begitu Kanita bangun, dia langsung mengusir Andero pergi dari kamarnya. Dan setelah itu mereka tak pernah berhubungan lagi."
"Darling, apa kau sudah memberitahu Andero kalau saat ini Kanita tengah hamil anaknya?" tanya Mattheo penasaran.
__ADS_1
"Belum, dan aku rasa ini bukan saatnya untuk dia mengetahui kabar tersebut. Aku ingin menunggu langkah seperti apa yang akan di ambil oleh Kanita dan juga ibunya. Atau anggaplah kalau ketidaktahuan Andero akan keberadaan bayi itu sebagai bom waktu yang akan meledak di saat yang tepat. Jika Kanita sampai menyebut nama Fedo sebagai orang yang harus bertanggung jawab akan kehamilannya, di saat itulah aku baru akan membuat Andero hadir sebagai dewa penyelamat. Dengan begitu Kanita dan keluarganya akan merasakan rasa malu yang berkali-kali lipat karena sudah dengan sengaja menjatuhkan nama baik seorang putra Eiji. Dan aku berani jamin kalau setelah itu mereka tidak akan berani lagi tinggal di Jepang. Mereka akan pergi akibat kebodohan yang mereka lakukan sendiri."
Setelah mendengar rencana menakjubkan tersebut Mattheo dengan bangga memeluk istrinya. Dia benar-benar di buat terpukau dari setiap detail rencana yang telah tersusun dengan begitu apiknya. Sungguh, Mattheo sangat amat bangga memiliki istri secantik dan sepintar Abigail. Membuat Mattheo jadi semakin tergila-gila padanya.
"Ide Ibu benar-benar sangat luar biasa. Aku sungguh beruntung sudah di lahirkan oleh wanita sehebat Ibu. Sangat menakjubkan!" puji Kayo penuh bangga.
"Semua itu Ibu lakukan karena Ibu sangat menyayangi kakakmu, Kay. Andai pun kau mengalami hal serupa, Ibu juga akan melakukan hal yang sama karena kalian adalah harta paling berharga di hidup Ibu," sahut Abigail seraya tersenyum kecil. "Ibu hanya ingin memastikan kalau hidup kalian benar-benar bahagia. Sebenarnya bukan hanya Ibu saja sih, tapi semua orangtua pasti akan melakukan hal yang sama jika ada orang yang berani mengusik kehidupan anak-anak mereka. Kami semua tidak akan terima begitu saja. Iya kan, Matt?"
"Ibumu benar, Kay. Dan perasaan seperti ini baru akan kau rasakan setelah nanti kau dan Jackson memiliki anak sendiri. Kalian pasti akan tahu alasan kenapa Ayah dan Ibu selalu pasang badan untuk melindungimu dan juga melindungi kakakmu!" imbuh Mattheo. "Kalian lahir dengan nyawa sebagai taruhannya. Sudah pasti kami akan menjaga dan melindungi kalian dari orang-orang yang mempunyai niatan buruk. Terutama Ibu kalian, orang yang memiliki jasa paling besar. Lihatlah, terkadang Ibumu bahkan sampai menjelma bak seorang dewi perang jika ada orang yang ingin macam-macam pada kalian. Sangat luar biasa bukan cinta orangtua pada anak-anaknya?"
"Hmmm, setahuku yang selalu bergerak cepat untuk melindungi kami hanya Ibu saja. Selama ini kan Ayah hanya duduk santai sambil menebar pesona kesana kemari. Masa iya aku dan Kak Fedo harus menganggap Ayah sebagai orangtua yang cinta anak? Apa tidak salah?" sindir Kayo usil.
Mattheo berdecak. Dia melepaskan pelukan kemudian menatap Abigail penuh cinta. Sambil mengelus pipi Abigail, Mattheo mengungkapkan di hadapan Kayo betapa dia sangat bergantung dan juga sangat mencintai wanita ini.
"Kay, memang benar kalau selama ini Ibumu lah yang selalu sigap pasang badan untuk menjaga kalian. Ayah bukannya tidak mampu, tapi Ayah hanya terlalu terpesona melihat kepedulian di diri Ibumu sampai-sampai Ayah lupa dengan tugas Ayah yang harus menjaga keselamatan kalian. Ibumu terlalu sempurna, dia kuat, hebat, tangguh dan juga berhati malaikat. Satu yang harus kalian tahu, Ayah lebih memilih untuk tidak hidup lagi jika Ibumu tidak ada bersama kita. Dia jantung Ayah, dunia Ayah, dan segala-galanya. Ayah tidak bisa jika tidak ada Ibumu."
Kayo terpana mendengar pengakuan cinta sang Ayah. Walaupun bukan yang pertama kali dia mendengarnya, tetap saja pengakuan ini membuat Kayo merasa haru. Rasa cinta sang ayah pada ibunya sangatlah besar. Sangat amat besar sehingga rela mengakui bahwa dirinya lemah tanpa kehadirannya.
Jackson, apakah mungkin kau bisa mencintaiku seperti besarnya cinta Ayah pada Ibu? Semoga saja, batin Kayo penuh harap.
__ADS_1
*****